Minggu, 07 Februari 2021
Teks pidato ini pernah dilombakan dalam lomba pidato tingkat kota Semarang ...
Assalamualaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh
Salam
sejahter untuk kita semua
Om
swastiastu
Namo
budhaya
Salam
kebajikan
Yang
terhormat Bapak Walikota Semarang beserta jajarannya.
yang
saya hormati bapak ibu dewan juri serta seluruh warga masyarakat Kota Semarang
yang saya banggakan.
Puji
syukur mari, kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala karunianya sehingga
kita semua dalam kondisi prima untuk selalu berbuat baik bagi kebermanfaatan
sesama.
Bapak, ibu yang saya hormati
Pendidikan
adalah modal utama pembangunan, baik dalam pembangunan fisik maupun pembangunan
mental. Pendidikan adalah jalan terang untuk mengubah kehidupan menuju ke arah
yang lebih baik. Bahkan Darmaningtyas mengatakan bahwa pendidikan adalah usaha
sadar dan sistematis untuk mencapai taraf hidup dan kemajuan yang lebih baik.
Maka
dari itu sudah menjadi kewajiban kita mendukung progam pemerintah, khususnya di
bidang pendidikan agar pendidikan benar benar bisa membawa kebermanfaatan dan
kebaikan bagi masyarakat, khususnya di Kota Semarang.
Bapak ibu yang saya hormati
Kota
Semarang, sebagai dengan berbagai penghargaan yang dimilikinya, tentu tidak
lepas dari peran pendidikan di dalamnya. Bapak Hendi selaku Walikota Semarang,
sangat penting perannya dalam mewujudkan hal tersebut. Segala progam pemerintah
di bidang pendidikan yang pro rakyat sangat gencar disosialisasikan kepada
warga masyarakat Kota Semarang. Mulai dari progam wajib belajar, sekolah
gratis, sampai pembangunan dan renovasi sarana prasarana pendidikan.
Bahkan
yang sangat membanggakan, di bawah komanda Bapak hendrar Prihadi SE MM kota
Semarang mendapat penghargaan di tahun 2019 yaitu Anugerah Ki Hajar 2019
sebagai apresiasi dari kemendikbud melalui Pustekkom atas prestasi kota
Semarang dalam pendayagunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam
pendidikan.
Selain
itu, karena kesungguhan dan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pelayana
pendidikan, kota Semarang mendapat penghargaan Dwija Praja Nugraha dari
pemerintah pusat yang diserahkan langsung oleh Menteri Pendidikan pada perayaan
hari Guru yang ke 74 di Bekasi Jawa Barat.
Bapak ibu yang terhormat
Sebagai
warga kota Semarang, berbagai penghargaan yang diterima Bapak Hendi tentu
sangat membanggakan. Maka dari itu, sudah menjadi kewajiban kita sebagai pelajar,
untuk mendukung segala progam pembangunan fisik maupun mental di kota Semarang
ini, khususnya pendidikan.
Dengan
harapan, optimalnya merdeka pendidikan di kota Semarang, benar benar mampu
memerdekakan warganya mencapai kemakmuran dan kesejahteraan di berbagai bidang.
Dan
kita sebagai pelajar wajib memiliki tekad dan motivasi kuat untuk selalu
belajar merdeka dan merdeka belajar, berliterasi positif serta berakhlak mulia
demi terciptanya pendidikan yang berkeadilan dan memerdekakan. Tentu demi
semarang yang hebat dan Indonesia yang lebih bermartabat.
Demikian
yang dapat saya sampaikan, bila ada tutur kata atau sikap yang kurang berkenan,
saya mohon maaf yang sebesar besarnya.
Wassalamualaikum.Wr.Wb.
Sabtu, 06 Februari 2021
Berikut adalah karya penulis dalam kaitannya dengan pengembangan media pembelajaran dengan bahan kaos kaki bekas dan dibuat boneka dengan karakter murni ciptaan siswa sesuai dengan imaginasi siswa.
Tulisan ini sudah pernah dimuat di Kompasiana.com ...
https://www.kompasiana.com/mas91295/5f45276cd541df3037780053/tilik-sekolah
Selamat membaca dan salam literasi
Tilik
Sekolah
Kaanggit
dening Kang Rakhmat
Wes suwe
rasane kahanan kaya ngene
Wes
suwe rasane ati iki nyimpen kangen tandang gawe
Wes suwe
jamane krasa owah amarga wabah nyang kene
Wes suwe
ati iki lungkrah kangen sekolah apa maneh bocah
Sedulur
…
Iku kabeh
rasa kang tumanja ana dhadha
Iku kabeh
rasa yen dirasa tambah krasa lara
Iku kabeh
rasa yen dipeksa isa ambyar nerak sengkala
Iku kabeh
rasa yen ditata mesti ora marakke kuciwa
Sedulur
…
Tilik
sekolah …
Apa isa
marakke bubrah?
Tilik
sekolah …
Apa isa
marakke sapa wae kena wabah?
Tilik sekolah
…
Sing pesthi
pancen dadi ancase manah nggladhi bocah
Tilik sekolah
…
Kabeh mau
kanggo kaya tandha isa padha uga isa beda
Tandha
yen disengaja marakke lara nanging ora gawe kuciwa
Nanging
sedulur …
Tilik
sekolah …
Aja nganti
padha nggladrah
Nanging
kabeh mau kudu manut pamarintah
Supados
wabah ndang pindah
Saha kareben
ati isa bungah amarga ketemu bocah
Tilik sekolah
…
Pancen
endah wondene ana wabah
Pasadena,
25/8/20.0901
Alhamdulillah buku Gurit Sendika sudah selesai dan bisa dinikmati oleh pembaca di manapun berada
Silakan sebagai salah satu referensi untuk selalu berkarya dan membaca asa pada suatu masa
Sabtu Pagi di Pasadena
Karya : kang.rakhmat
Pagi di Pasadena kota
lumpia
Aku terbangun dari
mimpi anugerah Sang Esa
Kubuka pintu dan
kupandang langit
Ah … hari masih gelap
Sepertinya matahari
enggan menyapaku di pagi itu
Sunyi tiada bertepi
Deru brompit dan
kuda besi Pak Tua musnah hilang ditelan tangis langit nan peri
Kubuka gawai dan kotak
bersuara dalam rumahku
Air berontak!
Angin menari tiada
henti
Bukit seolah bertutur “Jangan
Kau injak kaki kakiku! Jangan kau halangi aku!”
Aku terpaku
Kulihat status
pengelana maya dikepung air berontak langit tak bertepi
Seolah bukan ilusi
dalam kabut simpati
Bukan pula fatamorgana
dalam ghibah bencana hati
Ah … jangan Kau
hiraukan itu, itu hanya omongan lathi yang tersakiti
Bukan kalam bijak
pengelana maya hakiki
Namun, jangan anggap
aku waskita bagai penguasa
Aku hanya bercerita Sabtu
pagi di Pasadena
Tentang asa yang
terbendung tangis langit kota lumpia
Pasadena,06022021
Minggu, 11 Oktober 2020
“Sepeda Lipat” dan Adaptasi Kebiasaan Baru Pendidikan di
Era New Normal
Karya :
Nur Rakhmat
Guru
SDN Kalibanteng Kidul 01 Kota Semarang
Pendidikan
adalah usaha sadar yang berjalan terus menerus. Dalam Undang Undang No. 20
tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dikatakan bahwa pendidikan adalah
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suatu suasana belajar dan suatu
proses pembelajaran agar peserta didik bisa secara aktif mengembangkan segala
potensi dirinya guna memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh
dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Sehingga
dari keterangan di atas dapat dikatakan bahwa pendidikan tersebut harus direncanakan,
proses sesuai rencana, dan hasil pendidikan juga harus sesuai rencana. Selain itu,
berdasarkan UU Sisdiknas tersebut juga bisa dikatakan bahwa pendidikan hendaknya
bisa menumbuhkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang baik.
Selain
itu, ditemukan pula dalam UU Sisdiknas tersebut pendidikan bertujuan untuk
mengembangkan potensi siswa agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalaian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan keterampilan yang
dibutuhkan siswa untuk bertahan hidup dan berdaya guna demi kepentingan diri,
masyarakat, bangsa dan negara.
Namun,
saat ini di tengan pandemi korona, di tengah wabah yang semakin merambah semua
lini kehidupan termasuk pendidikan, proses pendidikan mulai dari perencanaan,
proses, dan hasil ikut berubah pelaksanaanya seiring dengan mulainya kebiasaan baru
sebagai salah satu dampak adanya wabah.
Kita bisa
melihat dengan jelas, dalam skala makro kehidupan ekonomi dunia dilanda resesi,
selain itu dalam kehidupan sosial budaya juga mulai tumbuh kesadaran selalu menjaga
kebersihan, ada pula physical distancing, dan perubahan bentuk budaya lainnya.
Dalam skala
ranah pendidikan di tanah air, tentu adanya lonjakan perubahan pola pendidikan,
yang tadinya ada tatap muka di kelas, seiring dengan adanya korona, pola proses
pendidikan di sekolah berubah menjadi berlangsung daring atau dalam jaringan.
Semua perubahan
tersebut tentu memberikan dampak yang signifikan dalam berbagai bidang,
khususnya pendidikan. Kita tidak bisa memungkiri, akibat wabah korona ini guru
dipaksa bisa menjalankan piranti atau perangkat pembelajaran berbasis teknologi
informasi dari yang sebelum adanya korona masih hanya sebatas wacana.
Kita juga
tidak bisa memungkiri, bahwa pendidikan tanpa kertas juga bisa terwujud dengan
adanya wabah korona ini. Namun, kita juga tidak bisa menafikan pula, dengan adanya
korona ini, ada salah satu tahapan pendidikan yang hilang dan tereduksi secara massif,
yaitu keteladanan langsung atau pendidikan langsung khususnya dari bapak ibu
guru di sekolah dan jika tidak segera diambil tindakan preventif yang tepat,
justru bisa menjadi bumerang bagi pendidikan Indonesia di masa mendatang.
Dan yang
lebih berbahaya lagi, jika tidak segera ditemukan formula yang tepat, hal
tersebut bisa memberikan dampak negative atau memunculkan sikap negative bagi
kehidupan berbangsa mulai dari degradasi moral, lunturnya cinta tanah air,
serta tereduksinya berbagai karakter dan moral positif generasi mendatang.
Maka di
sinilah peran stake holder pendidikan bergotong royong, bahu membahu dan bersatu
padu untuk tetap menjunjung nilai nilai karakter bangsa yang terangkum dalam
nilai moral karakter Pancasila agar lebih bisa menjadi benteng kokoh bagi bangsa
Indoneseia, khususnya bagi generasi penerus bangsa.
Sebagaimana
kita ketahuai bersama bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang plural, bangsa
Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Maka Pancasila sebagai landasan idiil
bangsa memiliki peran penting dalam tatanan kehidupan bangsa Indonesia guna
menyatukan kebhinekaan itu dalam tatanan kehidupan yang berjiwa dan berpijak
pada Pancasila.
Bahkan
tokoh nasional Prof. DR. Siti Musdah Mulia, MA dalam bukunya yang ditulis
bersama Ira D Aini mengatakan Pancasila adalah suatu falsafah bangsa yang harus
diketahui segenap warga negara Indonesia sehingga semua warga negara Indonesia
mampu menghargai, menghormati, menjaga semua nilai dan karakter dalam Pancasila
yang sudah diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa. Sehingga baik golongan muda
alias golongan milenial dan golongan old atau orang tua bisa
tetap menjaga dan menjalankan kehidupan Pancasila tanpa ada keraguan dan tanpa ada
kebimbangan. ( Siti Musdah Mulia, Ira D A, 2013 : 75).
Lalu bagaimana
langkah yang bisa dilakukan agar seluruh komponen bangsa, utamanya siswa bisa
menjadi generasi Pancasila dan tetap menjunjung profil siswa Pancasila yang
berkarakter utuh dalam proses pendidikan dan pembelajaran serta kehidupan?
“SePeDa
LiPaT”
Ya, “Sepeda
Lipat” hemat kami adalah salah satu usaha yang dapat dilakukan dan dibiasakan
serta diterapkan dalam proses pembelajaran baik di sekolah maupun di rumah. Tentunya
pelaksanaannya di sini harus tetap mengedepankan penanaman nilai nilai pencasila
dalam kehidupan keseharian.
Kemudian,
apa yang dimaksud dengan “Sepeda Lipat”? Sepeda Lipat adalah bentuk akronim
dari kata Sebarkan Pesan Damai Literasi
Pancasila Terpadu. Akronim ini mengandung pengertian
bahwa dalam menerapkan dan kemudian menumbuhkan nilai nilai Pancasila di
keseharian pada era new normal atau kebiasaan baru pada era pandemic ini adalah
dengan cara menyebarkan pesan damai menggunakan model pendekatan literasi Pancasila
terpadu.
Pesan damai
yang dimaksud di sini bisa berupa kalimat ajakan atau kalimat himbauan, bisa
berupa kalimat yang berupa contoh pengamalan 5 sila dalam keseharian serta kata
mutiara atau bentuk kalimat lainnya yang dikemas menggunakan media poster, status
pada media sosial, atau pesan broadcast melalui media sosial lainnya.
Selanjutnya
adalah literasi Pancasila. Mengapa literasi? Hemat kami literasi sangat efektif
untuk menanamkan, menumbuhkan nilai nilai Pancasila dalam keseharian baik di
sekolah, maupun dalam keseharian siswa dalam dunia permainan mereka di lingkungan
sekitar. Karena dengan literasi, siswa tidak hanya membaca atau tahu saja,
tetapi dengan literasi siswa juga belajar untuk menerapkan apa yang sudah dipelajarinya
sebagai bentuk pemahaman lanjut proses belajar.
Seperti
yang disampaikan oleh Najeela Shihab bahwa literasi membutuhkan yang namanya aplikasi
sebagai wujud dari proses belajar yang diramu dengan kreatifias dan berkreasi
untuk menghasilkan karya, dengan tetap dibutuhkan guru atau orang tua yang mau
mengupgrade kemampuan literasinya agar lebih mampu menumbuhkan siswa dalam
berliterasi dan berkreasi. ( Najeela Shihab, 2019: 16).
Adapun
bentuk literasi Pancasila yang yang dapat ditumbuhkan dan dibudayakan oleh siswa
dan dari serta kepada siswa melalui sistem Sepeda Lipat ini adalah nilai nilai
yang berkaitan dengan erat dengan pengamalan Pancasila sesuai dengan sila sila dalam
Pancasila, mulai dari Ketuhanan yang Maha Esa Sampai Keadilan Sosial bagi
Seluruh Rakyat Indonesia.
Selain
itu, hendaknya siswa juga lebih sering menerima pesan keseharian terkait profil
pelajar pancasila seperti yang disampaikan Mas Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan, Nadiem Makarim dalam https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/view&id=249900852,
bahwa profil pelajar Pancasila adalah pelajar yang memiliki indikator pertama
beriman, bertakwa kepada Tuhan YME serta berakhlak mulia, kedua berkebhinekaan
global, ketiga gotong royong, keempat mandiri, kelima bernalar kritis, dan
keenam kreatif.
Kembali
kepada butir utama indikator Pancasila, nilai nilai Pancasila yang sebaiknya
dibiasakan dengan penanaman butir Pancasila dalam keseharian mereka,guna menumbuhkan
dan menegaskan pentingnya sikap pancasilais di era new normal ini adalah
berbentuk pesan yang berisikan nilai pesan teladan atau ajakan dan kata Mutiara
atau semboyan yang mencerminkan sila dalam Pancasila.
Contoh
sila pertama bentuk pengamalan atau nilai nilai yang dibuat pesan dan bisa dibiasakan
oleh siswa adalah beribadah tepat waktu, yuk beribadah, dan hormati orang yang
sedang beribadah. Kemudian dalam sila ke dua bentuk kalimat bijak yang bisa
dibuat pesan ke siswa antara lain ayo kita peduli lingkungan sekitar, mari kita
hormati orang lain, mari kita tumbuhkan sikap tenggang rasa dan tolong
menolong.
Kemudian
pengamalan dalam sila ketiga adalah ayo beli produk dalam negeri, Cinta tanah
air adalah sebagian dari iman, gunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar,
dan lain sebagainya. Kemudian dalam sila keempat adalah jangan paksakan pendapatmu,
yuk kita musyawarah, musyawarah membawa berkah, dan musyawarah harus bis akita pertanggungjawabkan.
Selanjutnya
untuk bentuk pesan dalam sila kelima Pancasila yang dapat digunakan adalah tujuan
rakyat Indonesia adalah adil dan makmur, hormati hak orang lain, ayo dukung
pembangunan bangsa, dan kalimat bijaksana lainnya. Harapannya, dengan adanya
kalimat ajakan, kata kata Mutiara siswa semakin paham dan tahu, serta bisa
membiasakan bentuk penerapan dari nilai nilai positif tersebut.
Prinsip
berikutnya adalah terpadu, artinya literasi Pancasila butuh keterpaduan, butuh
chemistry, butuh adanya ikatan batin, kolaborasi dan gotong royong utamanya
oleh stake holder dalam skala makro pendidikan mulai sekolah, guru dan
pemerintah. Ataupun dalam skala sekolah, guru, dan orang tua serta siswa. Sehingga
dengan adanya sifat terpadu ini, semua bisa mengakses dan bisa memantau satu sama
lain untuk saling membangun dan saling membimbing demi kebaikan bangsa,
khususnya generasi pnerus bangsa, serta terpenuhinya tujuan nasional bangsa
Indonesia yang salah satunya mencakup pada mencerdaskan kehidupan bangsa.
Cerdas
dalam artian mampu dan bisa serta cerdas dalam berbagai bidang. Seperti yang
Munif Chatib sampaikan dalam buku yang berjudul Sekolahnya Manusia, dikatakan cerdas
itu ada beberapa kelompok yaitu cerdas linguistic, cerdas matematik logic,
cerdas visual-spasia, cerdas musical, cerdas kinestetik, cerdas intrapersonal,
cerdas interpersonal, dan cerdas naturalis ( Munif Chatib, 2013 ; 56 ).
Sehingga
dengan adanya keterpaduan yang didukung oleh sumber daya mumpuni dari sistem sepeda
lipat ini, penanaman dan usaha membumikan nilai Pancasila dalam kehidupan
keseharian siswa khususnya bisa berjalan baik sesuai dengan tujuan dan proses
perencanaannya. Dan alasan berikutnya prinsip terpadu adalah ada kolaborasi
atau Kerjasama bahkan gotong royong oleh semua unsur pendidikan. Mulai dari
sekolah, masyarakat dan pemerintah. Mulai dari siswa, guru dan orang tua. Artinya
ada keterikatan batin dari semua unsur untuk saling menebar pesan kebaikan, ada
ikatan batin untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan tentunya ada kemauan
bersama untuk berbuat baik, khususnya demi masa depan generasi penerus bangsa.
Adapun alasan kami menggunakan konsep “Sepeda lipat”
ini diantaranya adalah belum maksimalnya ajakan terus menerus dalam penerapan
penanaman nilai Pancasila di keseharian. Memang benar, sudah banyak usaha dilakukan,
namun ternyata masih dibutuhkan inovasi lebih guna mengoptimalkan penanaman
nilai Pancasila, khususnya di era adaptasi new normal ini.
Selain
itu alasan berikutnya adalah konsep sepeda lipat ini mudah dilakukan oleh semua
orang. Artinya, penanaman nilai Pancasila di era adaptasi new normal dengan
menggunakan sepeda lipat ini sangat mudah diterapkan dan dilakukan oleh siswa,
guru, orang tua, dan semua elemen masyarakat. Mengapa sangat mudah, karena
prinsip awal, semua orang bisa mengirim pesan, baik menggunakan media maupun
secara langsung, tetap pada prinsip semua bisa saling mengirim pesan.
Adapun
teknis pelaksanaan “Sepeda Lipat” pertama adalah memetakan masalah. Misalnya
dalam lingkup kecil ada siswa yang masih belum beribadah tepat waktu. Nah, di
sinilah peran guru untuk saling berkordinasi dengan orang tua khususnya kemudian
menindaklanjuti dengan tindakan prinsip “sepeda lipat” ini bersama orang tua
dan lingkungan atau pemerintah.
Tindak
lanjut tersebut bisa berupa pengiriman pesan secara terus menerus dan frontal
kepada siswa ataupun guru. Sehingga dengan adanya sikap istiqomah atau
konsekwen dari guru, orang tua dan siswa serta sekolah. sikap positif siswa
akan terbentuk dan tumbuh menjadi sikap positif yang mumpuni termasuk di era pandemi
ini.
Kemudian
lamgkah ke dua adalah sebarkan dari contoh kasus di atas, maka seorang guru segera
bertindak dengan menyebarkan pesan damai, pesan positif yang berkaitan dengan
pemasalah siswa tersebut. Pesannya sekali lagi, bukan kalimat yang menunjukkan vonis
atau pelabelan kepada siswa, namun berupa kalimat ajakan atau himbauan atau
pernyataan dalam bentuk poster, pesan singkat ataupun lainnya.
Sehingga
dengan adanya pesan positif tersebut, asupan rohani yang diterima oleh siswa adalah
pesan bermoral, pesan dengan nilai nilai kebaikan Pancasila dan nilai nilai
yang sesuai dengan budaya etika bangsa yang berbudi luhur.
Langkah
yang ketiga adalah dengan refleksi artinya setelah pesan dan kalimat bijak disampaikan
ke siswa oleh guru dan orang tua sesuai dengan peran dan tugasnya masing masing,
orang tua, guru, siswa bahkan pemangku kepentingan juga hendaknya melakukan refleksi
diri. Mengapa demikian? Karena dengan refleksi diri maka akan terbentuk pula
sikap keteladanan dari pendamping siswa tersebut.
Artinya
siswa juga mendapat contoh teladan langsung yang didapatkan dari guru, orang
tua, lingkungan bahkan pemangku kepentingan. Sehingga proses pendidikan yang
ada bisa berjalan dari hati ke hati atau istilahnya ada chemistry antara semua
pihak. Karena proses pendidikan walaupun masih dalam pandemi tetap memegang
teguh nilai asah, asih, asuh dari Ki Hajar Dewantara serta selalu berpegang teguh
pada totalitas tanpa batas dengan menggerakkan hati, kepala dan tangan alias totalitas
dengan mencurahkan pikiran, jiwa, raga bagi keberhasilan proses pendidikan
karakter Pancasila siswa.
Dan juga,
dengan adanya uswatun khasanah atau teladan baik dari praktik baik dari
guru, orang tua, dan lingkungan sekitar yang sudah tumbuh dan membudaya dengan
baik ini, fase yang hilang dari siswa selama masa korona, bisa tergantikan dan justru
bisa kembangkan dengan teladan langsung dari pendamping siswa khususnya di
rumah, dan lingkungan sekitar serta berbagai sumber daya yang ada yang berdaya
guna untuk tetap membumikan nilai nilai Pancasila dalam keseharian.
Kemudian
langkah terakhir dari teknik penerapan konsep “Sepeda Lipat” dalam penerapan nilai
nilai Pancasila di era adaptasi normal baru adalah dengan melakukan tindak
lanjut tahap terpadu. Artinya setelah semua melakukan refleksi maka siswa
secara otomatis sudah mendapat ilmu, sudah belajar dan diharapkan siswa juga
menerapkan konsep sepeda lipat ini kepada teman teman di lingkungannya. Sehingga
jika ini berlangsung terus menerus dan berkelanjutan, siswa sebagai agen
perubahan arah posisitf bangsa benar benar bisa terbentuk dan terwujud serta
Indonesia yang berperadaban serta bermoral karakter positif selalu terjaga
sesuai dengan terjaganya siswa dengan pijakan nilai nilai Pancasila dalam
keseharian mereka.
Tentunya
untuk bisa mewujudkan kondisi ideal di era normal baru ini dibutuhkan kompetensi
adaptasi yang baik dari semua pihak, termasuk guru dengan kompetensi pedagogik,
kepribadian, sosial dan profesionalnya diharapkan mampu beradaptasi menyesuaikan
perkembangan zaman agar bisa bersama sama dengan siswa membangun bangsa
berdasarkan Pancasila sehingga siswa bisa mengamalkan indikator pelajar Pancasila
dan guru bisa menjadi teladan dan model bagi siswa dalam pendidikan dan
keseharian.
Dan sistem
konsep “Sepeda Lipat” sebagai salah satu usaha membumikan nilai nilai Pancasila
di era adaptasi normal baru ini benar benar bisa mejadi salah satu terobosan
sederhana tetapi efektif dalam aplikasi keseharian, baik dalam pembelajaran
ataupun di luar pembelajaran. Sehingga Pancasila di era normal baru ini benar
benar bisa menjadi pegangan pokok, menjadi dasar pokok setiap siswa dan individu
lainnya untuk berpijak dan bersikap positif dalam perannya sebagai warga negara
dengan tetap berpegang teguh pada nilai nilai Pancasila sebagai landasan idiil
bangsa Indonesia.
Berikut salah satu contoh Pesan damainya ...
Search
Video
Kurtilas




