Oleh: Nur Rakhmat, S.Pd

Tampilkan postingan dengan label Artikel Ilmiah Populer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Ilmiah Populer. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Februari 2021

On 01.01 by Nur Rakhmat in    No comments

 

One Day One “PaS PuCer” di Sekolahku

Oleh : Nur Rakhmat

Semakin deras gelombang globalisasi salah satunya dengan ditandai adanya kemajuan iptek yang diikuti dengan derasnya budaya asing yang masuk ke negara kita serta kurang siapnya mental generasi penerus bangsa dalam menyaring budaya tersebut, seolah menggerakkan semua komponen bangsa untuk ikut serta membantu generasi muda dalam menyikapi masuknya aneka budaya yang kadang kala tidak sesuai dengan nilai luhur budaya bangsa kita.

Negara sebagai pengambil kebijakan mempunyai kewajiban utama untuk membantu generasi muda utamanya dalam menyikapi adanya budaya negatif yang masuk ke negara kita. Salah satunya dengan mengeluarkan Permendikbud  nomor 23 tahun 2015 tentang penanaman budi pekerti yang salah satu poinnya adalah mewajibkan membaca selama +/- 10 sampai 15 menit di sekolah sebelum pelajaran dimulai.

Dan sekolah sebagai ujung tombak negara tentu wajib mematuhi Permendikbud tersebut. Oleh karena itu, SDN Kalibanteng Kidul 01 Semarang, sejak mendapatkan sosialisai kewajiban membaca selama kurang lebih 10-15 menit, langsung menerapkan Permendikbud nomor 23 tahun 2015 tersebut kepada siswa dan tentunya kepada guru dan karyawan di sekolah kami.

Namun untuk melaksanakan kewajiban membaca selama kurang lebih 15 menit di sekolah tidaklah semudah yang kita kira. Ada beberapa permasalahan yang kami temui diantaranya. Yang pertama adalah, saat bapak ibu guru menghimbau siswa untuk membaca, masih banyak siswa yang hanya sekedar membaca dan justru ada juga siswa yang hanya bercanda dengan teman di samping kanan kirinya.

Selain itu, referensi yang digunakan siswa untuk membaca buku juga masih minim. Walaupun di sekolah kami sudah ada perpustakaan, namun animo siswa untuk membaca dan meminjam buku masih kurang. Siswa cenderung lebih menyukai waktu istirahatnya untuk jajan dan mengobrol saja dengan teman. Kalau ditinjau dari segi budaya literasinya, sekolah kami tentu masih sangat kurang dan masih merugi.

Yang ketiga, saat kami tanyakan kepada siswa apakah di rumah mereka mempunyai buku selain buku pelajaran, banyak siswa yang menggelengkan kepala. Artinya banyak siswa yang tidak mempunyai referensi bahan bacaan untuk sekedar dibaca di rumah kala senggang. Seperti buku cerita pendek, novel anak, dongeng, puisi, pantun, dll. bahkan saat kami tanyakan apakah anak-anak sering membaca surat kabar seperti koran, majalah, dll jarang ada yang membaca.

Kemudian faktor lain yang menghambat kemauan siswa untuk membaca selama kurang lebih 15 menit di awal pelajaran adalah kebiasaan siswa yang asyik berselancar di media sosialnya, seperti Facebook, Line, WA, Instagram, dll. Karena siswa modern cenderung lebih suka beraktifitas di dunia maya dan jarang dari mereka yang menggunakan waktu senggangnya di rumah untuk bermain dengan teman sebagai bentuk aktifitas fisik dan sosialisasi dengan teman.

Faktor kelima yang menjadi permasalahan di awal penerapan aturan ini di sekolah kami adalah kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar siswa. Artinya budaya positif atau lingkungan yang mendukung siswa di sekolah kami, yaitu SDN Kalibanteng Kidul 01 untuk berliterasi masih sangat minim. Baik dari lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.

Pengaruh faktor lingkungan tersebut sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Slameto dimana faktor eksteren yang berpengaruh terhadap belajar dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat. (Slameto, 2010:60).  

Setelah kami menemukan berbagai permasalahan yang ada, kemudian kami membuat rencana atau progam untuk menggalakkan budaya membaca dan menumbuhkan budaya menulis di sekolah kami. Dan sebagai pilot pelaksanaan adalah siswa yang duduk di jenjang kelas V. Dan kami menyebut progam tersebut dengan One Day One “PaS PuCer” (Satu Hari Satu Pantun, Syair, Puisi, Cerita).

Namun sebelum melangkah ke progam tersebut kami mengawali dengan menyesuaikan jadwal pelajaran yang ada di sekolah. Selain menyesuaikan jadwal pelajaran kami juga men-setting bel otomatis di sekolah dengan memasukkan rekaman suara “waktu membaca dimulai” setelah bel masuk dan setelah bel menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Dan memasukan suara “waktu membaca selesai” jika membaca selama 15 menit selesai.

Sehingga dengan pembiasaan tersebut, pembiasaan membaca buku nonteks pelajaran semakin masif dilaksanakan oleh siswa. Tentu hal ini bisa digunakan siswa sebagai sarana belajar untuk belajar mengenal dan mempelajari karakter orang lain melalui tokoh-tokoh dalam cerita yang dibaca siswa.

Sehingga siswa bisa menerapkan dan mencontoh karakter posiif yang ada dalam cerita tersebut. Dan secara tidak langsung siswa juga sudah melakukan aktivitas belajar yang menghasilkan perubahan tingkah laku, yang didapat dari pengalaman belajar dan latihan.( Baharudin; Wahyuni, Esa Nur, 2007:34).

Selain dengan menyesuaikan jadwal pelajaran dan memodifikasi suara bel. Di sekolah kami juga terdapat duta membaca yang tugasnya adalah memberi contoh dan mengingatkan temannya agar selalu membiasakan membaca dan menulis baik di sekolah maupun di rumah. Duta membaca di sekolah kami diseleksi dengan mengambil siswa tergiat dan terajin dalam membaca buku. Ini bisa dibuktikan dengan buku jurnal membaca yang ada pada siswa. Jika dalam jurnal membaca catatan salah satu siswa lebih banyak daripada yang lain, maka siswa tersebut sudah barang tentu mempunyai jam terbang membaca lebih banyak daripada temannya. Maka siswa tersebut masuk kandidat sebagai duta baca.

Bahkan pada tanggal 8-10 November 2016 kemarin, setelah melalui seleksi ribuan naskah dari seluruh Indonesia, salah satu duta baca SDN Kalibanteng Kidul 01 menjadi salah satu finalis dalam Lomba Apresiasi Sastra Siswa Sekolah Dasar kategori cerpen untuk pemula yang diselenggarakan oleh Dirjen Dikdas kemendikbud bersama salah satu penerbit mayor tanah air di Hotel Royal Safari Garden Cisarua Bogor Jawa Barat.

Langkah selanjutnya untuk mewujudkan progam “One Day One PaS PuCer” adalah kami juga memberikan contoh kepada siswa 15 menit setelah membaca untuk membuat karya misalnya puisi, pantun, dll. Jadi selain siswa yang berkarya, guru juga menghasilkan karya. Jadi tidak hanya menyuruh siswa saja, tetapi juga ikut berkarya bersama siswa.

Contoh yang kami berikan sifatnya sebagai gambaran bagaimana bentuk karya cerpen, puisi, pantun dan syair yang dibuat, bukan harus sesuai dengan yang kami buat. Artinya siswa kami beri kebebasan untuk mengaduk aduk kata sesuai dengan imajinasi siswa, sesuai dengan yang siswa pahami. Karena dengan kemampuan siswa menganalisis, memahami, dan mengolah kata sesuai dengan kemampuanya ini bisa menumbuhkan kemampuan berpikir logis dan perkembangan sosial emosional siswa antara lain yang berkaitan dengan perkembangan diri, perkembangan jender dan moral serta berujung pada harga diri (self esteem) dan konsep diri (self concept).(Fawzi A. H, 2012 : 101)

Tentu jika konsep diri tersebut sudah terbentuk, kita sebagai guru akan lebih mudah menguatkan karakter positif siswa sebagai salah satu bekal dalam bimbingan karir yang dapat menunjang masa depan siswa untuk mengarungi kehidupan saat mereka dewasa kelak.

Langkah kami setelah membiasakan membuat pantun, syair, puisi dan cerita (PaS PuCer), kami juga membuat buletin sekolah “Sukses Selalu” yang tim redaksinya terdiri dari siswa dan guru sebagai salah satu sarana untuk mengakomodir dan mengapresiasi karya siswa. Dan bagaimana tanggapan siswa setelah buletin itu terbit. Bisa kita tebak, siswapun antusias untuk mengirimkan karyanya ke buletin sekolah kami!

Selain dengan buletin, karya siswa yang layak juga dipasang di majalah dinding sekolah. Agar apa? Tentu agar dengan buletin dan mading tersebut siswa bisa termotivasi untuk ikut berkarya seperti temannya yang karyanya dimuat di mading dan buletin sekolah.

Bahkan sekolah kami juga mempunyai kereta baca yang kami letakkan di dekat gerbang sekolah. Dengan tujuan agar orang tua murid saat menjemput putranya bisa diisi dengan kegiatan membaca buku yang ada di kereta baca tersebut.

Dan untuk lebih memotivasi siswa dalam berliterasi, kami juga mengikutkan siswa untuk mengikuti lomba menulis dan mengirimkan karya siswa ke media massa lokal yang ada di daerah kami.  

Memang agak berat jika kita tidak menikmati tahapan demi tahapan berbagai proses untuk membudayakan literasi di sekolah. Namun kami berprinsip bahwa tugas guru bukan hanya mentransfer ilmu atau mengajar saja. Tetapi prinsip kami sama seperti yang tertera dalam UU No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik dalam pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, dasar, dan menengah.

Maka, dengan tahapan yang kami lalui dalam membudayakan budaya literasi di sekolah, otomatis kami juga melatih, membimbing, mengarahkan sampai menilai hasil karya siswa tersebut. Terlebih karya siswa yang masuk akan kami bukukan agar menjadi minimal satu buku antologi karya siswa.

Memang, agar semua progam literasi yang kami rencanakan dan jalankan di SDN Kalibanteng Kidul 01 bisa berkesinambungan dan membuahkan hasil, diperlukan kesadaran dan komitmen diri dari kami sebagai guru di satuan pendidikan tersebut.

Karena, hemat kami, dengan kita mengembangkan literasi di sekolah, khususnya di SD, hal tersebut bisa kita gunakan sebagai media untuk lebih mengetahui bakat dan minat anak sejak dini. Sehingga secara tidak langsung kita juga bertindak sebagai penyelam yang baik dalam mengidenifikasi bakat dan minat siswa.

Sehingga ke depannya, dalam mendidik siswa kita bisa menyadari bahwa kecerdasan siswa itu beragam, seperti menurut Howard Gardner dengan teori Multiple Intellegience nya atau kecerdasan majemuk yang meliputi, kecerdasan linguistik, matematis-logis, visual-spasial, musikal, kinestetis, intrapersonal, interpersonal, dan naturalis.(Munif Chatib, 2013:56).

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Tim Redaksi Nuansa Mulia. Himpunan Perundang-Undangan RI Tentang Guru dan Dosen, Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 Beserta Penjelasannya. Bandung: Nuansa Aulia. 2006.

Baharudin & Wahyuni, Esa Nur. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.2008.

Slameto. Belajar dan Faktor –Fakor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. 2010.

Aswin Hadist, Fawzia. Kreatif menulis Cerita Anak: Psikologi Perkembangan Anak Sekolah Dasar. Bandung: Nuansa.2012.

 

 

 

 

 

 

 

 

Minggu, 07 Februari 2021

On 19.35 by Nur Rakhmat in    No comments

 

Prestasi (Bukan) Hanya Inteligensi

Nur Rakhmat

Guru SDN Kalibanteng Kidul 01 Kota Semarang

Pernyataan itulah yang tepat kita renungkan bersama terkait bagaimana cara menanamkan dan menumbuhkan pemahaman serta merubah mindset bahwa prestasi itu tidak hanya pandai dengan mata pelajaran atau kemampuan kognitif saja, melainkan pandai pada sisi afektif dan motorik juga dikatakan sebagai pandai dan memiliki prestasi.

Mengapa demikian? Karena selama ini masih ada dari kita baik guru, orang tua, dan masyarakat yang mengedepankan bahwa pintar mata pelajaran adalah segala galanya. Padahal sejatinya anak yang taat pada orang tua, guru dan saling menghormati adalah anak yang pintar juga. Anak yang rajin beribadah dan suka menolong juga termasuk katagori anak yang berprestasi.

Selain itu anak dengan kemampuan di bidang olahraga misalnya juara badminton, senam, voli juga termasuk anak yang berprestasi. Anak pandai bermain instrumen musik, menyanyi serta mengaji juga dikatakan sebagai anak yang berprestasi. Sehingga sudah sangat tepat sekali jika dalam Penerimaan Peserta Didik Baru di beberapa daerah selama masa pandemi ini tidak hanya mengakomodir prestasi dari nilai akademis yang bersumber dari raport saja, tetapi semua piagam prestasi siswa di berbagai kejuaraan baik akademis maupun non akademis menjadi salah satu pertimbangan yang digunakan dalam menentukan diterima atau tidaknya siswa di sekolah yang dituju.

Semua Anak Berprestasi, Semua Sekolah Favorit

            Anak berprestasi ataupun anak yang pintar adalah anak yang mampu mencapai tahap yang ditentukan dalam kompetensi tertentu. Sebagaimana dikatakan oleh Nana Sujana bahwa prestasi adalah suatu keberhasilan yang telah dicapai oleh siswa setelah mengikuti atau menjalani program pengajaran dalam jumlah waktu tertentu yang ditentukan sesuai dengan tujuan yang diinginkan.

            Sehingga dengan anak dikatakan sebagai anak yang berprestasi, tentu mereka juga ingin masuk di sekolah favorit, misal lulusan sekolah dasar, sekolah yang ingin dituju anak berprestasi ini adalah SMP Favorit, dan begitu juga di lulusan SMP, maka yang ingin dituju adalah SMA favorit atau yang dalam pandangan umum adalah sekolah yang sering menang dalam lomba lomba kejuaraan tertentu serta memiliki output nilai kognitif tertinggi daripada sekolah lainnya.

            Namun, PPDB 2020 yang dilaksanakan di era pandemi ini di beberapa daerah seolah menjadi penyengat kembali bahwa nilai raport akademik bukan satu satunya jalan masuk ke sekolah favorit yang diinginkan masyarakat. Adanya anak dengan nilai raport hanya rata rata dan bahkan minim tetapi memiliki piagam prestasi dan bisa masuk di sekolah favorit menjadi bukti bahwa kemampuan lain atau kompetensi siswa jika diasah atau dilatih terus menerus juga bisa menjadikan anak sebagai anak juara dan berprestasi.

            Hal ini sesuai bahwa kepintaran, kecerdasan atau prestasi anak bukan hanya dari sisi anak dengan nilai pelajaran bagus saja atau anak dengan sisi kognitif saja, tetapi seperti yang dikatakan oleh Howard Gardner, bahwa pintar atau cerdasnya anak itu sangatlah majemuk, meliputi kecerdasan linguistik, matematis-logis, visual, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, naturalistik dan kecerdasa spiritual.

            Sehingga, sesuai teori tersebut seharusnya menjadikan kita tidak risau dan gelisah jika anak kita tidak diterima di sekolah yang diinginkan. Akan tetapi, marilah kita tumbuhkan sisi positifnya, dengan ungkapan penuh syukur dan keyakinan diri bahwa anak sudah diterima di sekolah favorit lain, karena dengan adanya sistem zonasi semua sekolah adalah sekolah favorit. Dan anak juga bisa belajar dengan optimal sesuai dengan target dan kompetensi yang akan dicapai.

            Seperti apa yang diungkapkan oleh George F. Kneller dalam buku Arif Rohman yaitu Memahami Ilmu Pendidikan, dikatakan bahwa pendidikan meliputi tiga cakupan yaitu luas, teknis, dan hasil yang semuanya terkait dengan pikiran, karakter, kemampuan fisik, masyarakat dan ilmu pengetahuan serta keterampilan. Maka, jika semua sudah memahami konsep terkait prestasi dan pendidikan tersebut, harapannya pendidikan benar benar bisa maju dan berkembang serta bisa menjadi dasar kuat bahwa semua anak berprestasi dan semua sekolah adalah sekolah favorit.

Minggu, 11 Oktober 2020

On 18.21 by Nur Rakhmat in    4 comments

 

“Sepeda Lipat” dan Adaptasi Kebiasaan Baru Pendidikan di Era New Normal

Karya : Nur Rakhmat

Guru SDN Kalibanteng Kidul 01 Kota Semarang

Pendidikan adalah usaha sadar yang berjalan terus menerus. Dalam Undang Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dikatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suatu suasana belajar dan suatu proses pembelajaran agar peserta didik bisa secara aktif mengembangkan segala potensi dirinya guna memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Sehingga dari keterangan di atas dapat dikatakan bahwa pendidikan tersebut harus direncanakan, proses sesuai rencana, dan hasil pendidikan juga harus sesuai rencana. Selain itu, berdasarkan UU Sisdiknas tersebut juga bisa dikatakan bahwa pendidikan hendaknya bisa menumbuhkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang baik.

Selain itu, ditemukan pula dalam UU Sisdiknas tersebut pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi siswa agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalaian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan keterampilan yang dibutuhkan siswa untuk bertahan hidup dan berdaya guna demi kepentingan diri, masyarakat, bangsa dan negara.

Namun, saat ini di tengan pandemi korona, di tengah wabah yang semakin merambah semua lini kehidupan termasuk pendidikan, proses pendidikan mulai dari perencanaan, proses, dan hasil ikut berubah pelaksanaanya seiring dengan mulainya kebiasaan baru sebagai salah satu dampak adanya wabah.

Kita bisa melihat dengan jelas, dalam skala makro kehidupan ekonomi dunia dilanda resesi, selain itu dalam kehidupan sosial budaya juga mulai tumbuh kesadaran selalu menjaga kebersihan, ada pula physical distancing, dan perubahan bentuk budaya lainnya.

Dalam skala ranah pendidikan di tanah air, tentu adanya lonjakan perubahan pola pendidikan, yang tadinya ada tatap muka di kelas, seiring dengan adanya korona, pola proses pendidikan di sekolah berubah menjadi berlangsung daring atau dalam jaringan.

Semua perubahan tersebut tentu memberikan dampak yang signifikan dalam berbagai bidang, khususnya pendidikan. Kita tidak bisa memungkiri, akibat wabah korona ini guru dipaksa bisa menjalankan piranti atau perangkat pembelajaran berbasis teknologi informasi dari yang sebelum adanya korona masih hanya sebatas wacana.

Kita juga tidak bisa memungkiri, bahwa pendidikan tanpa kertas juga bisa terwujud dengan adanya wabah korona ini. Namun, kita juga tidak bisa menafikan pula, dengan adanya korona ini, ada salah satu tahapan pendidikan yang hilang dan tereduksi secara massif, yaitu keteladanan langsung atau pendidikan langsung khususnya dari bapak ibu guru di sekolah dan jika tidak segera diambil tindakan preventif yang tepat, justru bisa menjadi bumerang bagi pendidikan Indonesia di masa mendatang.

Dan yang lebih berbahaya lagi, jika tidak segera ditemukan formula yang tepat, hal tersebut bisa memberikan dampak negative atau memunculkan sikap negative bagi kehidupan berbangsa mulai dari degradasi moral, lunturnya cinta tanah air, serta tereduksinya berbagai karakter dan moral positif generasi mendatang.

Maka di sinilah peran stake holder pendidikan bergotong royong, bahu membahu dan bersatu padu untuk tetap menjunjung nilai nilai karakter bangsa yang terangkum dalam nilai moral karakter Pancasila agar lebih bisa menjadi benteng kokoh bagi bangsa Indoneseia, khususnya bagi generasi penerus bangsa.

Sebagaimana kita ketahuai bersama bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang plural, bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Maka Pancasila sebagai landasan idiil bangsa memiliki peran penting dalam tatanan kehidupan bangsa Indonesia guna menyatukan kebhinekaan itu dalam tatanan kehidupan yang berjiwa dan berpijak pada Pancasila.

Bahkan tokoh nasional Prof. DR. Siti Musdah Mulia, MA dalam bukunya yang ditulis bersama Ira D Aini mengatakan Pancasila adalah suatu falsafah bangsa yang harus diketahui segenap warga negara Indonesia sehingga semua warga negara Indonesia mampu menghargai, menghormati, menjaga semua nilai dan karakter dalam Pancasila yang sudah diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa. Sehingga baik golongan muda alias golongan milenial dan golongan old atau orang tua bisa tetap menjaga dan menjalankan kehidupan Pancasila tanpa ada keraguan dan tanpa ada kebimbangan. ( Siti Musdah Mulia, Ira D A, 2013 : 75).

Lalu bagaimana langkah yang bisa dilakukan agar seluruh komponen bangsa, utamanya siswa bisa menjadi generasi Pancasila dan tetap menjunjung profil siswa Pancasila yang berkarakter utuh dalam proses pendidikan dan pembelajaran serta kehidupan?

“SePeDa LiPaT”

Ya, “Sepeda Lipat” hemat kami adalah salah satu usaha yang dapat dilakukan dan dibiasakan serta diterapkan dalam proses pembelajaran baik di sekolah maupun di rumah. Tentunya pelaksanaannya di sini harus tetap mengedepankan penanaman nilai nilai pencasila dalam kehidupan keseharian.

Kemudian, apa yang dimaksud dengan “Sepeda Lipat”? Sepeda Lipat adalah bentuk akronim dari kata Sebarkan Pesan Damai Literasi Pancasila Terpadu. Akronim ini mengandung pengertian bahwa dalam menerapkan dan kemudian menumbuhkan nilai nilai Pancasila di keseharian pada era new normal atau kebiasaan baru pada era pandemic ini adalah dengan cara menyebarkan pesan damai menggunakan model pendekatan literasi Pancasila terpadu.

Pesan damai yang dimaksud di sini bisa berupa kalimat ajakan atau kalimat himbauan, bisa berupa kalimat yang berupa contoh pengamalan 5 sila dalam keseharian serta kata mutiara atau bentuk kalimat lainnya yang dikemas menggunakan media poster, status pada media sosial, atau pesan broadcast melalui media sosial lainnya.

Selanjutnya adalah literasi Pancasila. Mengapa literasi? Hemat kami literasi sangat efektif untuk menanamkan, menumbuhkan nilai nilai Pancasila dalam keseharian baik di sekolah, maupun dalam keseharian siswa dalam dunia permainan mereka di lingkungan sekitar. Karena dengan literasi, siswa tidak hanya membaca atau tahu saja, tetapi dengan literasi siswa juga belajar untuk menerapkan apa yang sudah dipelajarinya sebagai bentuk pemahaman lanjut proses belajar.

Seperti yang disampaikan oleh Najeela Shihab bahwa literasi membutuhkan yang namanya aplikasi sebagai wujud dari proses belajar yang diramu dengan kreatifias dan berkreasi untuk menghasilkan karya, dengan tetap dibutuhkan guru atau orang tua yang mau mengupgrade kemampuan literasinya agar lebih mampu menumbuhkan siswa dalam berliterasi dan berkreasi. ( Najeela Shihab, 2019: 16).

Adapun bentuk literasi Pancasila yang yang dapat ditumbuhkan dan dibudayakan oleh siswa dan dari serta kepada siswa melalui sistem Sepeda Lipat ini adalah nilai nilai yang berkaitan dengan erat dengan pengamalan Pancasila sesuai dengan sila sila dalam Pancasila, mulai dari Ketuhanan yang Maha Esa Sampai Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Selain itu, hendaknya siswa juga lebih sering menerima pesan keseharian terkait profil pelajar pancasila seperti yang disampaikan Mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim dalam https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/view&id=249900852, bahwa profil pelajar Pancasila adalah pelajar yang memiliki indikator pertama beriman, bertakwa kepada Tuhan YME serta berakhlak mulia, kedua berkebhinekaan global, ketiga gotong royong, keempat mandiri, kelima bernalar kritis, dan keenam kreatif.

Kembali kepada butir utama indikator Pancasila, nilai nilai Pancasila yang sebaiknya dibiasakan dengan penanaman butir Pancasila dalam keseharian mereka,guna menumbuhkan dan menegaskan pentingnya sikap pancasilais di era new normal ini adalah berbentuk pesan yang berisikan nilai pesan teladan atau ajakan dan kata Mutiara atau semboyan yang mencerminkan sila dalam Pancasila.

Contoh sila pertama bentuk pengamalan atau nilai nilai yang dibuat pesan dan bisa dibiasakan oleh siswa adalah beribadah tepat waktu, yuk beribadah, dan hormati orang yang sedang beribadah. Kemudian dalam sila ke dua bentuk kalimat bijak yang bisa dibuat pesan ke siswa antara lain ayo kita peduli lingkungan sekitar, mari kita hormati orang lain, mari kita tumbuhkan sikap tenggang rasa dan tolong menolong.

Kemudian pengamalan dalam sila ketiga adalah ayo beli produk dalam negeri, Cinta tanah air adalah sebagian dari iman, gunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dan lain sebagainya. Kemudian dalam sila keempat adalah jangan paksakan pendapatmu, yuk kita musyawarah, musyawarah membawa berkah, dan musyawarah harus bis akita pertanggungjawabkan.

Selanjutnya untuk bentuk pesan dalam sila kelima Pancasila yang dapat digunakan adalah tujuan rakyat Indonesia adalah adil dan makmur, hormati hak orang lain, ayo dukung pembangunan bangsa, dan kalimat bijaksana lainnya. Harapannya, dengan adanya kalimat ajakan, kata kata Mutiara siswa semakin paham dan tahu, serta bisa membiasakan bentuk penerapan dari nilai nilai positif tersebut.

Prinsip berikutnya adalah terpadu, artinya literasi Pancasila butuh keterpaduan, butuh chemistry, butuh adanya ikatan batin, kolaborasi dan gotong royong utamanya oleh stake holder dalam skala makro pendidikan mulai sekolah, guru dan pemerintah. Ataupun dalam skala sekolah, guru, dan orang tua serta siswa. Sehingga dengan adanya sifat terpadu ini, semua bisa mengakses dan bisa memantau satu sama lain untuk saling membangun dan saling membimbing demi kebaikan bangsa, khususnya generasi pnerus bangsa, serta terpenuhinya tujuan nasional bangsa Indonesia yang salah satunya mencakup pada mencerdaskan kehidupan bangsa.

Cerdas dalam artian mampu dan bisa serta cerdas dalam berbagai bidang. Seperti yang Munif Chatib sampaikan dalam buku yang berjudul Sekolahnya Manusia, dikatakan cerdas itu ada beberapa kelompok yaitu cerdas linguistic, cerdas matematik logic, cerdas visual-spasia, cerdas musical, cerdas kinestetik, cerdas intrapersonal, cerdas interpersonal, dan cerdas naturalis ( Munif Chatib, 2013 ; 56 ).

Sehingga dengan adanya keterpaduan yang didukung oleh sumber daya mumpuni dari sistem sepeda lipat ini, penanaman dan usaha membumikan nilai Pancasila dalam kehidupan keseharian siswa khususnya bisa berjalan baik sesuai dengan tujuan dan proses perencanaannya. Dan alasan berikutnya prinsip terpadu adalah ada kolaborasi atau Kerjasama bahkan gotong royong oleh semua unsur pendidikan. Mulai dari sekolah, masyarakat dan pemerintah. Mulai dari siswa, guru dan orang tua. Artinya ada keterikatan batin dari semua unsur untuk saling menebar pesan kebaikan, ada ikatan batin untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan tentunya ada kemauan bersama untuk berbuat baik, khususnya demi masa depan generasi penerus bangsa.

 Adapun alasan kami menggunakan konsep “Sepeda lipat” ini diantaranya adalah belum maksimalnya ajakan terus menerus dalam penerapan penanaman nilai Pancasila di keseharian. Memang benar, sudah banyak usaha dilakukan, namun ternyata masih dibutuhkan inovasi lebih guna mengoptimalkan penanaman nilai Pancasila, khususnya di era adaptasi new normal ini.

Selain itu alasan berikutnya adalah konsep sepeda lipat ini mudah dilakukan oleh semua orang. Artinya, penanaman nilai Pancasila di era adaptasi new normal dengan menggunakan sepeda lipat ini sangat mudah diterapkan dan dilakukan oleh siswa, guru, orang tua, dan semua elemen masyarakat. Mengapa sangat mudah, karena prinsip awal, semua orang bisa mengirim pesan, baik menggunakan media maupun secara langsung, tetap pada prinsip semua bisa saling mengirim pesan.

Adapun teknis pelaksanaan “Sepeda Lipat” pertama adalah memetakan masalah. Misalnya dalam lingkup kecil ada siswa yang masih belum beribadah tepat waktu. Nah, di sinilah peran guru untuk saling berkordinasi dengan orang tua khususnya kemudian menindaklanjuti dengan tindakan prinsip “sepeda lipat” ini bersama orang tua dan lingkungan atau pemerintah.

Tindak lanjut tersebut bisa berupa pengiriman pesan secara terus menerus dan frontal kepada siswa ataupun guru. Sehingga dengan adanya sikap istiqomah atau konsekwen dari guru, orang tua dan siswa serta sekolah. sikap positif siswa akan terbentuk dan tumbuh menjadi sikap positif yang mumpuni termasuk di era pandemi ini.

Kemudian lamgkah ke dua adalah sebarkan dari contoh kasus di atas, maka seorang guru segera bertindak dengan menyebarkan pesan damai, pesan positif yang berkaitan dengan pemasalah siswa tersebut. Pesannya sekali lagi, bukan kalimat yang menunjukkan vonis atau pelabelan kepada siswa, namun berupa kalimat ajakan atau himbauan atau pernyataan dalam bentuk poster, pesan singkat ataupun lainnya.

Sehingga dengan adanya pesan positif tersebut, asupan rohani yang diterima oleh siswa adalah pesan bermoral, pesan dengan nilai nilai kebaikan Pancasila dan nilai nilai yang sesuai dengan budaya etika bangsa yang berbudi luhur.

Langkah yang ketiga adalah dengan refleksi artinya setelah pesan dan kalimat bijak disampaikan ke siswa oleh guru dan orang tua sesuai dengan peran dan tugasnya masing masing, orang tua, guru, siswa bahkan pemangku kepentingan juga hendaknya melakukan refleksi diri. Mengapa demikian? Karena dengan refleksi diri maka akan terbentuk pula sikap keteladanan dari pendamping siswa tersebut.

Artinya siswa juga mendapat contoh teladan langsung yang didapatkan dari guru, orang tua, lingkungan bahkan pemangku kepentingan. Sehingga proses pendidikan yang ada bisa berjalan dari hati ke hati atau istilahnya ada chemistry antara semua pihak. Karena proses pendidikan walaupun masih dalam pandemi tetap memegang teguh nilai asah, asih, asuh dari Ki Hajar Dewantara serta selalu berpegang teguh pada totalitas tanpa batas dengan menggerakkan hati, kepala dan tangan alias totalitas dengan mencurahkan pikiran, jiwa, raga bagi keberhasilan proses pendidikan karakter Pancasila siswa.

Dan juga, dengan adanya uswatun khasanah atau teladan baik dari praktik baik dari guru, orang tua, dan lingkungan sekitar yang sudah tumbuh dan membudaya dengan baik ini, fase yang hilang dari siswa selama masa korona, bisa tergantikan dan justru bisa kembangkan dengan teladan langsung dari pendamping siswa khususnya di rumah, dan lingkungan sekitar serta berbagai sumber daya yang ada yang berdaya guna untuk tetap membumikan nilai nilai Pancasila dalam keseharian.

Kemudian langkah terakhir dari teknik penerapan konsep “Sepeda Lipat” dalam penerapan nilai nilai Pancasila di era adaptasi normal baru adalah dengan melakukan tindak lanjut tahap terpadu. Artinya setelah semua melakukan refleksi maka siswa secara otomatis sudah mendapat ilmu, sudah belajar dan diharapkan siswa juga menerapkan konsep sepeda lipat ini kepada teman teman di lingkungannya. Sehingga jika ini berlangsung terus menerus dan berkelanjutan, siswa sebagai agen perubahan arah posisitf bangsa benar benar bisa terbentuk dan terwujud serta Indonesia yang berperadaban serta bermoral karakter positif selalu terjaga sesuai dengan terjaganya siswa dengan pijakan nilai nilai Pancasila dalam keseharian mereka.

Tentunya untuk bisa mewujudkan kondisi ideal di era normal baru ini dibutuhkan kompetensi adaptasi yang baik dari semua pihak, termasuk guru dengan kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesionalnya diharapkan mampu beradaptasi menyesuaikan perkembangan zaman agar bisa bersama sama dengan siswa membangun bangsa berdasarkan Pancasila sehingga siswa bisa mengamalkan indikator pelajar Pancasila dan guru bisa menjadi teladan dan model bagi siswa dalam pendidikan dan keseharian.

Dan sistem konsep “Sepeda Lipat” sebagai salah satu usaha membumikan nilai nilai Pancasila di era adaptasi normal baru ini benar benar bisa mejadi salah satu terobosan sederhana tetapi efektif dalam aplikasi keseharian, baik dalam pembelajaran ataupun di luar pembelajaran. Sehingga Pancasila di era normal baru ini benar benar bisa menjadi pegangan pokok, menjadi dasar pokok setiap siswa dan individu lainnya untuk berpijak dan bersikap positif dalam perannya sebagai warga negara dengan tetap berpegang teguh pada nilai nilai Pancasila sebagai landasan idiil bangsa Indonesia.

Berikut salah satu contoh Pesan damainya ...




 


 

Selasa, 29 September 2020

On 06.39 by Nur Rakhmat in    4 comments

 

Guru Solutip ( Refleksi Diri Guru yang Berusaha Menjadi Guru)

Nur Rakhmat

Guru SDN Kalibanteng Kidul 01 Semarang

“ Jadi orang yang solutip gitu loh!” itulah petikan dialog Bu Tedjo yang sedang viral beberapa waktu lalu. Guru sebagai subjek pendidikan di era pandemic dan era digital ini, hendaknya juga memiliki sikap solutip yang bisa membawa kebermanfaatan dalam proses belajar mengajar di sekolah maupun di luar sekolah.

Bentuk guru solutip di era pandemi hemat penulis diantaranya adalah memanfaatkan sumber daya yang ada. Artinya bisa memaksimalkan potensi yang dimilikinya untuk berkembang dan bertumbuh bersama mengikuti perkembangan zaman. Karena dengan mengikuti perkembangan zaman, sikap professional sebagai salah satu satu bentuk kompetensi yang dimiliki guru selain kompetensi social, pedagogic, dan kepribadian bisa berperan dalam pendidikan di era kini dan masa depan.

Kemudian, bentuk guru solutip berikutnya adalah selalu menanamkan, menumbuhkan dan membiasakan serta membudayakan merdeka belajar. Seperti yang disampaikan oleh Mas Menteri Nadiem Makarim, bahwa merdeka belajar adalah suatu kemerdekaan berpikir yang bentuk esensi utamanya berasal dari guru terlebih dahulu kemudian menuju ke siswa. Maka dari itu, kemerdekaan guru ada mutlak dan harus diutamakan, termasuk kemerdekaan saat mendidik siswa, kemerdekaan dalam finansial dan kemerdekaan dalam berkreasi serta menginspirasi serta kemerdekaan berorganisasi.

Bentuk ketiga dari guru solutip adalah memiliki kompetensi abad 21. Artinya kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreatif harus dimiliki mutlak oleh guru. Karena dengan guru memiliki kemampuan 4C di era modern 4.0 ini, guru tidak akan kesulitan dalam proses belajar bersama siswa.

Misal dalam sikap kreatif, guru bisa membuat media pembelajaran yang menunjang keberhasilan proses pembelajaran siswa sesuai dengan kondisi yang dihadapainya, bisa yang berbasis IT ataupun non IT. Dengan kolaborasi, seorang guru bisa dengan mudah berkerja sama dengan rekan saling belajar dan gotong royong memiliki tujuan untuk mencerdaskan generasi bangsa.

Bentuk guru solutip berikutnya adalah guru memiliki karya alias berkarya. Karya dalam bentuk apa saja? Hemat penulis ada beberapa karya yang bisa dijadikan sebagai bentuk sikap solutif guru di era pandemic ini, yaitu karya berupa media pembelajaran dan karya dalam pola pendidikan ke siswa.

Karya media pembelajaran sangat penting bagi guru, karena mempermudah guru memberikan materi ajar kepada siswa. Seperti yang dikatakan oleh Sudjana dan Rivai (1992 : 2) bahwa manfaat media dalam proses belajar mengajar, di antaranya yaitu proses pembelajaran akan lebih menarik perhatian peserta didik, sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar bagi peserta didik.

Sedangkan karya dalam pola pendidikan diantaranya guru bisa membangun komunikasi dengan siswa, tidak hanya sebagai guru namun lebih cenderung menjadi orang tua dan teman teladan yang baik bagi siswa, karena dengan cara keteladanan inilah guru bisa mendampingi dengan baik proses pendidikan dan pola asih, asah, asuh guru di sekolah memberikan bekah untuk generasi penerus bangsa yang semakin cerah.

Namun, agar guru solutip benar benar bisa memberikan solusi, dibutuhkan sikap moral positif atau akhlakul karimah, keteladanan, dan sikap istiqomah dari masing masing guru sehingga guru benar benar bisa menjadi teladan, diguru lan ditiru serta bermutu dan berdedikasi tinggi demi pendidikan Indonesia yang lebih maju serta unggul, cerdas, bermoral dan berkarakter.

Nama   :  Nur Rakhmat,S.Pd.

Guru SDN Kalibanteng Kidul 01. Kota Semarang. Hp. 081542557038. Email : nurrakhmatcahayakasihsayang@yahoo.com. Jln. Candi Intan V No.1129 Rt.07 Rw.09 Kelurahan Kalipancur Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang 50183


Sabtu, 22 Agustus 2020

On 10.06 by Nur Rakhmat in ,    5 comments

 

Maju Tak Gentar Menggapai Merdeka Belajar

Oleh : Nur Rakhmat

Merdeka belajar !

Itulah harapan semua insan pendidikan agar pendidikan benar benar bisa membawa peruahan ke arah yang lebih baik. Namun demikian, guna mewujudkan merdeka belajar yang konsep pokok dan teknisnya masih dalam taraf pembahasan seputar Ujian Sekolah Berstandar nasioanl, Ujian Nasional, RPP dan penerimaan siswa baru tentu tidaklah mudah. Dibutuhkan inovasi lebih agar merdeka belajar benar benar bisa terwujud. Lebih lebih saat ini bangsa kita sedang terdampak virus covid 19. Tentu dibutuhkan sebuah terobosan penting agar kondisi merdeka belajar bisa dirasakan oleh semua pihak.

Dan hemat kami terobosan yang tepat saat ini guna mewujudkan merdeka belajar adalah dengan gotong royong memerdekakan guru, orang tua dan siswa dari segala factor yang menghalanginya. Ini penting karena guru, orang tua dan siswa adalah satu kesatuan alias sebuah tri tunggal yang harus diperlakukan sama agar bisa mencapai kondisi merdeka belajar yang diharapkan.

Bergotong royong

Benar, gotong royong hemat kami adalah Langkah tepat guna membawa unsur tri tunggal tersebut dalam kondisi merdeka. Mengapa demikian? Saat ini bangsa kita masih dalam kondisi pandemic. Dan mau tidak mau proses pembelajaran dan hasil belajarpun tentu tidak akan sesuai target atau tidak akan lebih baik daripada saat pembelajaran di luar pandemic yang berlangsung tatap muka dan bisa berinteraksi langsung antara guru, orang tua dan siswa.

Sehingga dengan kondisi itu menuntut guru, orang tua dan siswa untuk bertindak lebih agar tujuan dan target pembelajaran bisa tercapai lebih optimal, termasuk dalam penyediaan sarana prasarana untuk pembelajaran daring maupun pembelajaran jarak jauh ini. Nah, di sinilah gotong royong semua unsur dibutuhkan agar proses pembelajaran khususnya dan proses pendidikan pada umumnya bisa tercapai lebih optimal.

Bentuk gotong royongnya yang pertama adalah mendukung progam pemerintah, khususnya terkait pembelajaran di era pandemic. Penerapannya antara lain guru mengajar secara optimal namun tetap memperhatikan kondisi siswa dan keluarganya. Orang tua mendukung apa yang dilakukan guru dan siswa tetap belajar sesuai dengan kebutuhan dan tahapannya.

Artinya adalah ada kondisi saling support dan saling memahami antara unsur guru oang tua dan siswa serta masyarakat. Sehingga dengan adanya unsur saling memahami kondisi saat ini satu sama lain, proses Pendidikan bisa berjalan tenang untuk tetap dalam menggapai kondisi merdeka belajar.

Yang kedua adalah adanya memaksimalkan potensi yang ada. Artinya Pendidikan tetap berproses dan berjalan sesuai dengan pola yang ada. Sehingga, dengan system tersebut Pendidikan benar benar bisa membawa dan merubah kondisi pandemic menjadi asset unggulan bangsa untuk tetap bertahan dan mencapai kondisi merdeka belajar serta mampu mewujudkan tujuan nasional bangsa yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa yang didasari pada kesadaran kritis untuk tetap bertindak guna mencapai kondisi tersebut.

Dan yang ketiga adalah kolaborasi Bersama untuk merdeka belajar. Artinya ada kolaborasi antara guru, orang tua, dan siswa serta pihak lainya yang peduli Pendidikan. Sehinnga dengan adanya kolaborasi ini harapannya semua unsur masyarakat terlibat guna membentuk merdeka belajar yang baik.

Namun demikian, konsistensi dan komitmen semua pihak sangat dibutuhkan agar merdeka belajar bisa menjamin Pendidikan tetap mampu mewujudkan peserta didik berkahlak mulia dan memiliki kecerdasan serta kekuata spiritual agama seperti yang diamanatkan dalam undang undang system Pendidikan nasional. Merdeka !

 

Nama   :  Nur Rakhmat,S.Pd.

Guru SDN Kalibanteng Kidul 01. Kota Semarang. 

 

 

 

 

Kamis, 28 Mei 2020

On 05.22 by Nur Rakhmat in    7 comments

Balada Buku di Era Modern

Oleh : Nur Rakhmat

Banyak yang lupa, jika tanggal 17 Mei merupakan hari Buku Nasional. Buku sebagai jendela dunia dan cakrawala pengetahuan, tentu banyak mengalami perkembangan. Apalagi semenjak teknologi komunikasi semakin meningkat, di satu sisi buku, tetap di hati pencintanya, namun di sisi lain buku semakin tertelan maraknya media sosial dan segala bentuk informasi digital yang ada.

Padahal dengan buku kita bisa tahu hal yang belum kita ketahui, kita bisa menjelajah dunia yang belum pernah kita rambah, kita juga dapat melakukan perjalanan ke ruang angkasa menelusuri bintang-bintang dan menyusuri dalamnya samudra serta mensyukuri segala karunia Tuhan dengan buku. Serta kita bisa bangkit dari keterpurukan dan mejadi lebih kuat dari sebelumnya juga dengan buku.

Momentum Hari Buku Nasional

Buku sebagai salah satu sarana mencapai tingkatan tertinggi ilmu pengetahuan dan sebagai penyalur budaya untuk membentuk karakter positif tentu sangat penting perannya dalam pembentukan karakter pembacanya, khususnya bagi siswa sebagai generasi bangsa. Terlebih buku sangat erat kaitannya dengan pembentukan karakter positif siswa melalui membaca dan menulis sebagai bentuk literasi siswa.

Maka, hemat penulis, ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendorong siswa semakin tertarik membaca buku. Pertama, optimalkan komunitas cinta buku dengan kegiatan bedah buku dan diskusi buku. Hemat penulis, hal ini sangat efektif, karena bisa menumbuhkan sikap ilmiah dan kritis di antara mereka, sehingga dengan sikap kritis tersebut, bisa muncul pemikiran baru yang berdampak positif dalam pembangunan fisik maupun mental bangsa.

Kedua, wujudkan perpustakaan atau taman baca yang representatif dan nyaman untuk membaca disertai fasilitas internet. Selain bisa menambah animo siswa untuk membaca, fasilitas internet bisa semakin menambah khasanah ilmu pengetahuan yang didapat. Misalnya, siswa bisa mengakses infromasi digital bahkan e-book untuk melengkapi apa yang belum mereka temukan di buku fisik.

Ketiga, mengefektifkan perpustakaan digital. Hal ini bisa dilakukan dengan cara membuka akses luas kepada siswa dan masyarakat untuk bisa berkunjung ke perpustakaan digital yang disediakan oleh instansi atau lembaga tertentu. Sehingga dengan adanya perpustakaan digital ini, pengetahuan yang mereka dapat bisa semakin luas.

Keempat, budayakan gemar membaca sejak dini. Salah satu usaha yang bisa dilakukan adalah keteladanan dari guru maupun orang tua dalam bentuk komunikasi antara orang tua dan guru. Misalnya di sekolah siswa melakukan kegiatan Tadarus Buku bersama, maka di rumah orang tua mempunya kewajiban mengecek buku apa yang sudah dibaca, amanatnya apa dan lain sebagainya.

Dan yang terakhir adalah menggalakkan progam “Bisa Lisku” atau progam Bisa Menulis Buku. Artinya dengan progam ini semua elemen masyarakat, termasuk siswa bisa menulis buku sebagai sarana menggerakan literasi baca tulis sekaligus barter pengetahuan antar penulis buku. Sehingga diharapkan adanya progam ini khasanah keilmuan meningkat dan buku di era modern ini masih bisa eksis membersamai pembacanya.

Namun, agar semua bisa berjalan lancar, dibutuhkan komitmen dan sikap istiqomah dari semua elemen masyarakat untuk tanpa lelah menghasilkan buku yang berkualitas dan berkarakter positif. Sehingga buku sebagai wadah dwi tunggal literasi yaitu membaca dan menulis bisa selalu bisa menjadi penerang kalbu bagi para pencari dan pencinta ilmu.  Serta Indonesia benar benar bisa menjadi negara yang bermoral serta berkarakter akhlakul karimah.  



 

 

 

 


Sabtu, 28 Maret 2020

On 04.02 by Nur Rakhmat in    3 comments

Salam sukses selalu ...
Silahkan artikel pendidikan yang terkait dengan teknik menumbuhkan keberanian positif siswa. Alhamdulillah sudah terbit di tahun 2016, dan semoga masih relevan di era sekarang.
Selamat menikmati ...

Dafa dan Teladan Keberanian
Oleh : Nur Rakhmat
Dalam seminggu terakhir media digemparkan oleh seorang anak kelas IV Sekolah Dasar bernama Dafa yang dengan beraninya mencegat para pengendara sepeda motor nekat untuk melewati trotoar guna menghindari kemcetan di jalan sekitar area bundaran kalibanteng kota semarang.
Aksi heroik nan berani yang dilakukan oleh seorang anak berusia sekolah dasar memang jarang adanya. Sehingga aksi berani Dafa mencegat para pemotor yang nekat melewai trotoar tersebut jelas mendapat pujian dan tentunya reaksi positif dari masyarakat luas.
Selain itu, aksi Dafa tersebut tentunya juga tidak lepas dari proses pembelajaran yang ada pada diri Dafa dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan tempat tinggal ataupun lingkungan pergaulannya di sekolah.
Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran! Itulah istilah yang paling tepat digunakan dalam sikap keteladanan dalam diri Dafa. Hal tersebut bisa kita lihat dari argumen Dafa bahwa dia melakukan aksinya karena melihat tayangan TV dan spanduk yang menyatakan bahwa trotoar adalah milik pejalan kaki bukan untuk dilalui kendaraan bermotor.
Bahkan dalam lain kesempatan, penulis mendapat informasi bahwa diantara hal lain yang mendorong Dafa melakukan aksi berani tersebut adalah saat Dafa mendapat pelajaran dari ibu gurunya di kelas I terkait dengan tertib berlalu lintas. Tentu tidak dengan contoh untuk mencegat pesepeda motor lewat trotoar, tetapi dengan edukasi lainnya.
Melihat pernyataan tersebut, sebagai guru kita patut bangga bahwa tidakan positif yang dilakukan Dafa ada peran guru di dalamnya. Untuk itu, sebagai seorang guru yang dibekali dengan empat kompetensi dasar pendidik, yaitu kompetensi kepribadian, pedagogik, sosial dan profesional seyogyanya selalu bisa memberikan pelayanan kepada peserta didik agar bisa menerapkan hasil pembelajaran positif dari sekolah di lingkungan tempat tinggalnya.
Benar memang, hasil dalam proses pembelajaran tidak bisa sepenuhnya diklaim bahwa gurulah yang berhasil, orang tualah yang berhasil. Tetapi tugas kita semuanyalah sebagai guru, sebagai orang tua dll yang sangat berkewajiban untuk selalu membina dan membentuk karakter positif dari peserta didik kita.
Tentunya sebagai guru kita harus bisa membentuk peserta didik kita menjadi peserta didik (baca: siswa) yang berkarakter dan berbudi mulia. Langkah tersebut bisa dimulai dari hal terkecil yang ada pada diri siswa. Misalnya dengan selalu membiasakan senyum salam sapa saat bertemu bapak ibu guru baik di sekolaha ataupun di rumah, dll.
Dibudayakan
Selain itu langkah yang dapat dilakukan guru untuk membentuk karakter positif pada diri siswa selain membentuk karakter positifnya, adalah dengan membasakan karakter positif yang ada pada diri siswa tersebut.
Seperti contohnya pada aksi Dafa tersebut, dia melakukan aksi tersebut karena sudah menjadi kebiasaannya untuk selalu bersikap positif, utamanya dalam menegakkan ketertiban di lingkungan pergaulannya. Misalnya, jika melihat temannya membuang sampah sembarangan dia pasti akan menegur dan juga melaporkan ke bapak ibu guru, manakala dia sudah merasa kesulitan menegur teman-temannya yang melanggar aturan.
Lalu langkah apa yang bisa dilakukan untuk membiasakan budaya positif tersebut? Hemat penulis, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan guru untuk membiasakan sikap dan karakter positif tersebut.
Pertama dengan cara membudayakan sikap positif. Membudayakan sikap positif tidaklah sama dengan membiasakan. Maksud membudayakan disini maknanya lebih dalam, bukan hanya suatu rutinitas untuk berbuat baik. Namun lebih condong kearah kesadaran diri untuk berbuat baik kepada sesama.
Misalnya saat interaksi guru dan siswa dalam pembelajaran. Siswa hendaknya dididik untuk berlaku sopan, menghormati, dan menghargai sesama teman dengan tidak ramai, dan lain sebagainya. Dan dalam proses pembelajaran, guru juga sebaiknya lebih mengayomi siswa, bukan justru membuat takut siswa.
Yang kedua dengan memberikan keteladan. Guru sebagai orang tua siswa di sekolah tentunya berkewajiban mendidik siswanya dengan keteladanan, bukan menghardik siswa dengan bentakan. Seyogyanya guru juga memuji, menghargai dan memberi apresiasi atas keberhasilan siswa bukan justru mencaci maki karya siswa, dll.
Oleh sebab itu, guru dalam proses pembelajaran terkait muatan sikap, akhlak, pengetahuan harus seimbang. Jangan sampai karena tuntutan prestasi, nilai sikap dan kepribadian siswa dikesampingkan hanya karena untuk mengejar nilai UN menjadi lebih baik.
            Dan langkah ketiga untuk membiasakan karakter positif adalah dengan konsisten dalam membudayakan kebiasaan positif tersebut. Konsisten atau istiqomah sangat penting perannya dalam membentuk karakter siswa. Sehingga dalam penerapannya, selain bapak/ibu guru harus terlibat langsung, guru juga harus mengawal kebiasaan positif tersebut  agar lebih membudaya.
Memang diperlukan waktu yang lama dan proses yang benar dalam pelaksanaanya, tetapi jika dibarengi dengan istiqomah, keteladanan dari semua pihak, dan sikap sungguh-sungguh dalam tindakannya, bukan tidak mungkin pendidikan karakter dan sikap positif lebih cepat membudaya dan bisa berperan dalam menopang tegaknya budaya bangsa.
Sehingga harapannya, Dafa - Dafa lain yang berkarakter pemberani dalam melawan ketidakteraturan bermunculan. Tidak hanya dalam bidang ketertiban lalu lintas, tetapi dalam keberanian melawan korupsi, melawan KKN, dll bisa muncul dan menunjukkan aksinya. Sehingga segala dekadensi moral bangsa, seperti budaya korupsi, dll bisa hilang dari Negeri tercinta kita ini. Dan Indonesia yang hebat, bermoral serta bermartabat masih tetap eksis di dunia internasional. Amin...





Alhamdulillah artikel ini pernah muat di harian Jawa Pos Radar Semarang 24 April 2016.

http://radarsemarang.com/v1/2016/04/24/dafa-dan-teladan-keberanian/

Monggo Selamat membaca ...

Selasa, 24 Maret 2020

On 20.43 by Nur Rakhmat in    No comments

Alhamdulillah ... 
Karya Ini sudah terbit di media massa Jateng yaitu Harian Tribun Jateng. 
Selamat membaca dan semoga kita selalu saling memotivasi demi kebaikan negeri


Sekolah Itu Bernama Rumah
Oleh : Nur Rakhmat
Belajar di rumah, itulah salah satu maklumat dari Presiden RI sebagai upaya melindungi rakyat Indonesia utamanya siswa generasi penerus bangsa dari paparan Covid 19. Akibatnya, guru sebagai pendidik di sekolah mempunyai kewajiban memberikan tugas ke siswa untuk menjaga pemahaman siswa agar tetap dalam kondisi prima.
Dan orang tua sebagai penanggungjawab utama siswa, mau tidak mau harus menyiapkan diri untuk membekali siswa selama proses belajar di rumah, utamanya dalam perannya menjadi “guru” bagi siswa di sekolah yang bernama rumah.
Rumah Sebagai Sekolah
Rumah sebagai sekolah sebenarnya bukanlah hal baru dalam pendidikan. Mengapa demikian? Karena sebelum pemerintah mengeluarkan himbauan agar sekolah mengalihkan pembelajarannya di rumah masing masing siswa, sudah ada terlebih dahulu home scholing dan bentuk teknik pendidikan lainnya.
Namun, yang menjadi perhatian saat ini adalah pendidikan yang seharusnya dilaksanakan di sekolah, dialihkan untuk dilaksanakan di rumah. Tentu hal ini menjadi tantangan bahkan bisa menjadi beban bagi orang tua siswa. Menjadi tantangan karena mungkin orang tua sudah tahu kondisi anak dan kurang puas dengan hasil pembelajaran di sekolah. Dan orang tua berusaha mampu merubah kondisi tersebut.
Menjadi beban bagi orang tua, karena tidak semua orang tua tidak siap menjadi guru bagi putra putrinya di rumah yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti tuntutan pekerjaan, kesibukan sosial, ataupun kurangnya kemampuan orang tua dalam memahami materi ajar siswa yang sudah berbeda jauh dengan masa saat orang tua sekolah.
Oleh sebab itu, jika perbedaan penerimaan konsep kebijakan tersebut dibiarkan berlarut larut, maka yang paling terkena dampaknya adalah siswa. Siswa akan berada dalam kondisi bingung dan tidak siap menerima kondisi yang dihadapi saat ini.
Nah, hemat kami ada beberapa trik jitu agar siswa tetap dalam kondisi prima dan tidak merasa bingung mengerjakan tugas serta tidak juga merasa keberatan karena tingkat beban tugas siswa semakin banyak. Yang pertama adalah selalu berkomunikasi dengan guru sekolah. Sebagai guru di rumah, komunikasi dengan guru di sekolah wajib dilakukan. Hal ini bertujuan, agar tujuan pendidikan dan pembelajaran bisa tercapai optimal.
Kemudian yang kedua adalah memiliki shadow teacher. Shadow teacher atau guru bayangan bagi orang tua di rumah adalah bisa kakak, nenek, kakek, paman dan lain sebagainya. Hal ini juga dimaksudkan agar siswa terpantau saat belajar dan orang tua sebagai guru di rumah juga lebih mudah mendidik “siswanya”.
Dan yang ketiga adalah berinovasi. Inovasi yang bisa dilakukan orang tua di rumah saat berperan sebagai guru adalah dengan menginovasi tugas guru yang dari sekolah ataupun bisa juga mengkreasi tugas baru untuk diberikan ke anak didiknya. Bahkan orang tua juga bisa juga menggunakan berbagai fitur layanan pendidikan di dunia maya seperti rumah belajar, ruang guru, edmodo, sekolahku, quizzez, dan lain sebagainya.
Hemat penulis, ketiga hal tersebut, selain menghilangkan kebosanan anak, bentuk inovasi, variasi, tugas yang diberikan orang tua akan bisa menumbuhkan sikap senang, rasa suka terhadap tugas sehingga memupuk bakat anak tumbuh dan berkembang sebagai bekal masa depan anak. Hal ini dikarenakan rasa suka adalah salah satu unsur utama keberhasilan dalam proses belajar mengajar.
Bahkan Munif Chatib dalam buku “Orangtuanya Manusia” mengatakan, rasa suka terhadap aktivitas haruslah selalu dipupuk. Ibarat tunas, rasa suka akan tumbuh banyak sekali. Itulah bakat anak, sayangnya banyak orang tua mencabut tunas itu dengan berbagai alasan.
Maka dari itu, mari jadikan rumah sebagai sekolah dan kita sebagai guru serta orang tua bagi anak, janganlah kita menjadi mesin penghancur bakat anak. Namun, mari di kondisi seperti ini, teruslah belajar, tumbuhkan bakat dan potensi anak, agar sekolah yang bernama rumah, benar benar bisa menjadi kolaborator bagi sekolah dan tetaplah tenang, jangan meremehkan, serta lakukanlah perlindungan diri untuk menjaga dan mengawal tunas tunas generasi muda masa depan bangsa menjadi generasi yang bermoral dan berkarakter.


Alhamdulillah ...
Karya ini terbit pada hari Selasa, 24 Maret 2020 di harian Tribun Jateng.
Selamat membaca