Rabu, 10 Februari 2021
One
Day One “PaS PuCer” di Sekolahku
Oleh
: Nur Rakhmat
Semakin
deras gelombang globalisasi salah satunya dengan ditandai adanya kemajuan iptek
yang diikuti dengan derasnya budaya asing yang masuk ke negara kita serta
kurang siapnya mental generasi penerus bangsa dalam menyaring budaya tersebut,
seolah menggerakkan semua komponen bangsa untuk ikut serta membantu generasi
muda dalam menyikapi masuknya aneka budaya yang kadang kala tidak sesuai dengan
nilai luhur budaya bangsa kita.
Negara
sebagai pengambil kebijakan mempunyai kewajiban utama untuk membantu generasi
muda utamanya dalam menyikapi adanya budaya negatif yang masuk ke negara kita.
Salah satunya dengan mengeluarkan Permendikbud
nomor 23 tahun 2015 tentang penanaman budi pekerti yang salah satu poinnya
adalah mewajibkan membaca selama +/- 10 sampai 15 menit di sekolah sebelum
pelajaran dimulai.
Dan
sekolah sebagai ujung tombak negara tentu wajib mematuhi Permendikbud tersebut.
Oleh karena itu, SDN Kalibanteng Kidul 01 Semarang, sejak mendapatkan sosialisai
kewajiban membaca selama kurang lebih 10-15 menit, langsung menerapkan Permendikbud
nomor 23 tahun 2015 tersebut kepada siswa dan tentunya kepada guru dan karyawan
di sekolah kami.
Namun
untuk melaksanakan kewajiban membaca selama kurang lebih 15 menit di sekolah
tidaklah semudah yang kita kira. Ada beberapa permasalahan yang kami temui
diantaranya. Yang pertama adalah, saat bapak ibu guru menghimbau siswa untuk
membaca, masih banyak siswa yang hanya sekedar membaca dan justru ada juga
siswa yang hanya bercanda dengan teman di samping kanan kirinya.
Selain
itu, referensi yang digunakan siswa untuk membaca buku juga masih minim.
Walaupun di sekolah kami sudah ada perpustakaan, namun animo siswa untuk
membaca dan meminjam buku masih kurang. Siswa cenderung lebih menyukai waktu
istirahatnya untuk jajan dan mengobrol saja dengan teman. Kalau ditinjau dari
segi budaya literasinya, sekolah kami tentu masih sangat kurang dan masih
merugi.
Yang
ketiga, saat kami tanyakan kepada siswa apakah di rumah mereka mempunyai buku
selain buku pelajaran, banyak siswa yang menggelengkan kepala. Artinya banyak siswa
yang tidak mempunyai referensi bahan bacaan untuk sekedar dibaca di rumah kala
senggang. Seperti buku cerita pendek, novel anak, dongeng, puisi, pantun, dll.
bahkan saat kami tanyakan apakah anak-anak sering membaca surat kabar seperti
koran, majalah, dll jarang ada yang membaca.
Kemudian
faktor lain yang menghambat kemauan siswa untuk membaca selama kurang lebih 15
menit di awal pelajaran adalah kebiasaan siswa yang asyik berselancar di media
sosialnya, seperti Facebook, Line, WA, Instagram, dll. Karena siswa modern
cenderung lebih suka beraktifitas di dunia maya dan jarang dari mereka yang menggunakan
waktu senggangnya di rumah untuk bermain dengan teman sebagai bentuk aktifitas
fisik dan sosialisasi dengan teman.
Faktor
kelima yang menjadi permasalahan di awal penerapan aturan ini di sekolah kami adalah
kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar siswa. Artinya budaya positif atau
lingkungan yang mendukung siswa di sekolah kami, yaitu SDN Kalibanteng Kidul 01
untuk berliterasi masih sangat minim. Baik dari lingkungan sekolah, keluarga,
maupun masyarakat.
Pengaruh
faktor lingkungan tersebut sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Slameto
dimana faktor eksteren yang berpengaruh terhadap belajar dapat dikelompokkan
menjadi 3, yaitu faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat. (Slameto,
2010:60).
Setelah
kami menemukan berbagai permasalahan yang ada, kemudian kami membuat rencana
atau progam untuk menggalakkan budaya membaca dan menumbuhkan budaya menulis di
sekolah kami. Dan sebagai pilot pelaksanaan adalah siswa yang duduk di jenjang
kelas V. Dan kami menyebut progam tersebut dengan One Day One “PaS PuCer” (Satu Hari Satu Pantun, Syair, Puisi, Cerita).
Namun
sebelum melangkah ke progam tersebut kami mengawali dengan menyesuaikan jadwal
pelajaran yang ada di sekolah. Selain menyesuaikan jadwal pelajaran kami juga men-setting
bel otomatis di sekolah dengan memasukkan rekaman suara “waktu membaca dimulai”
setelah bel masuk dan setelah bel menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Dan
memasukan suara “waktu membaca selesai” jika membaca selama 15 menit selesai.
Sehingga
dengan pembiasaan tersebut, pembiasaan membaca buku nonteks pelajaran semakin
masif dilaksanakan oleh siswa. Tentu hal ini bisa digunakan siswa sebagai
sarana belajar untuk belajar mengenal dan mempelajari karakter orang lain
melalui tokoh-tokoh dalam cerita yang dibaca siswa.
Sehingga
siswa bisa menerapkan dan mencontoh karakter posiif yang ada dalam cerita
tersebut. Dan secara tidak langsung siswa juga sudah melakukan aktivitas
belajar yang menghasilkan perubahan tingkah laku, yang didapat dari pengalaman
belajar dan latihan.( Baharudin; Wahyuni, Esa Nur, 2007:34).
Selain
dengan menyesuaikan jadwal pelajaran dan memodifikasi suara bel. Di sekolah
kami juga terdapat duta membaca yang tugasnya adalah memberi contoh dan
mengingatkan temannya agar selalu membiasakan membaca dan menulis baik di
sekolah maupun di rumah. Duta membaca di sekolah kami diseleksi dengan
mengambil siswa tergiat dan terajin dalam membaca buku. Ini bisa dibuktikan
dengan buku jurnal membaca yang ada pada siswa. Jika dalam jurnal membaca catatan
salah satu siswa lebih banyak daripada yang lain, maka siswa tersebut sudah
barang tentu mempunyai jam terbang membaca lebih banyak daripada temannya. Maka
siswa tersebut masuk kandidat sebagai duta baca.
Bahkan
pada tanggal 8-10 November 2016 kemarin, setelah melalui seleksi ribuan naskah
dari seluruh Indonesia, salah satu duta baca SDN Kalibanteng Kidul 01 menjadi salah
satu finalis dalam Lomba Apresiasi Sastra Siswa Sekolah Dasar kategori cerpen
untuk pemula yang diselenggarakan oleh Dirjen Dikdas kemendikbud bersama salah
satu penerbit mayor tanah air di Hotel Royal Safari Garden Cisarua Bogor Jawa
Barat.
Langkah
selanjutnya untuk mewujudkan progam “One
Day One PaS PuCer” adalah kami juga memberikan contoh kepada siswa 15 menit
setelah membaca untuk membuat karya misalnya puisi, pantun, dll. Jadi selain
siswa yang berkarya, guru juga menghasilkan karya. Jadi tidak hanya menyuruh
siswa saja, tetapi juga ikut berkarya bersama siswa.
Contoh
yang kami berikan sifatnya sebagai gambaran bagaimana bentuk karya cerpen,
puisi, pantun dan syair yang dibuat, bukan harus sesuai dengan yang kami buat.
Artinya siswa kami beri kebebasan untuk mengaduk
aduk kata sesuai dengan imajinasi siswa, sesuai dengan yang siswa pahami.
Karena dengan kemampuan siswa menganalisis, memahami, dan mengolah kata sesuai
dengan kemampuanya ini bisa menumbuhkan kemampuan berpikir logis dan
perkembangan sosial emosional siswa antara lain yang berkaitan dengan perkembangan
diri, perkembangan jender dan moral serta berujung pada harga diri (self esteem) dan konsep diri (self concept).(Fawzi A. H, 2012 : 101)
Tentu
jika konsep diri tersebut sudah terbentuk, kita sebagai guru akan lebih mudah menguatkan
karakter positif siswa sebagai salah satu bekal dalam bimbingan karir yang
dapat menunjang masa depan siswa untuk mengarungi kehidupan saat mereka dewasa
kelak.
Langkah
kami setelah membiasakan membuat pantun, syair, puisi dan cerita (PaS PuCer), kami juga membuat buletin
sekolah “Sukses Selalu” yang tim redaksinya terdiri dari siswa dan guru sebagai
salah satu sarana untuk mengakomodir dan mengapresiasi karya siswa. Dan bagaimana
tanggapan siswa setelah buletin itu terbit. Bisa kita tebak, siswapun antusias
untuk mengirimkan karyanya ke buletin sekolah kami!
Selain
dengan buletin, karya siswa yang layak juga dipasang di majalah dinding sekolah.
Agar apa? Tentu agar dengan buletin dan mading tersebut siswa bisa termotivasi
untuk ikut berkarya seperti temannya yang karyanya dimuat di mading dan buletin
sekolah.
Bahkan
sekolah kami juga mempunyai kereta baca yang kami letakkan di dekat gerbang
sekolah. Dengan tujuan agar orang tua murid saat menjemput putranya bisa diisi
dengan kegiatan membaca buku yang ada di kereta baca tersebut.
Dan
untuk lebih memotivasi siswa dalam berliterasi, kami juga mengikutkan siswa
untuk mengikuti lomba menulis dan mengirimkan karya siswa ke media massa lokal
yang ada di daerah kami.
Memang
agak berat jika kita tidak menikmati tahapan demi tahapan berbagai proses untuk
membudayakan literasi di sekolah. Namun kami berprinsip bahwa tugas guru bukan
hanya mentransfer ilmu atau mengajar saja. Tetapi prinsip kami sama seperti
yang tertera dalam UU No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen bahwa guru adalah
pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,
melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik dalam pendidikan anak usia
dini jalur pendidikan formal, dasar, dan menengah.
Maka,
dengan tahapan yang kami lalui dalam membudayakan budaya literasi di sekolah, otomatis
kami juga melatih, membimbing, mengarahkan sampai menilai hasil karya siswa
tersebut. Terlebih karya siswa yang masuk akan kami bukukan agar menjadi
minimal satu buku antologi karya siswa.
Memang,
agar semua progam literasi yang kami rencanakan dan jalankan di SDN Kalibanteng
Kidul 01 bisa berkesinambungan dan membuahkan hasil, diperlukan kesadaran dan
komitmen diri dari kami sebagai guru di satuan pendidikan tersebut.
Karena,
hemat kami, dengan kita mengembangkan literasi di sekolah, khususnya di SD, hal
tersebut bisa kita gunakan sebagai media untuk lebih mengetahui bakat dan minat
anak sejak dini. Sehingga secara tidak langsung kita juga bertindak sebagai
penyelam yang baik dalam mengidenifikasi bakat dan minat siswa.
Sehingga
ke depannya, dalam mendidik siswa kita bisa menyadari bahwa kecerdasan siswa
itu beragam, seperti menurut Howard Gardner dengan teori Multiple Intellegience
nya atau kecerdasan majemuk yang meliputi, kecerdasan linguistik,
matematis-logis, visual-spasial, musikal, kinestetis, intrapersonal,
interpersonal, dan naturalis.(Munif Chatib, 2013:56).
Daftar
Pustaka
Tim
Redaksi Nuansa Mulia. Himpunan
Perundang-Undangan RI Tentang Guru dan Dosen, Undang-Undang No. 14 Tahun 2005
Beserta Penjelasannya. Bandung: Nuansa Aulia. 2006.
Baharudin
& Wahyuni, Esa Nur. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jogjakarta: Ar-Ruzz
Media.2008.
Slameto.
Belajar dan Faktor –Fakor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. 2010.
Aswin
Hadist, Fawzia. Kreatif menulis Cerita Anak: Psikologi Perkembangan Anak
Sekolah Dasar. Bandung: Nuansa.2012.
Minggu, 07 Februari 2021
Prestasi
(Bukan) Hanya Inteligensi
Nur Rakhmat
Guru
SDN Kalibanteng Kidul 01 Kota Semarang
Pernyataan
itulah yang tepat kita renungkan bersama terkait bagaimana cara menanamkan dan
menumbuhkan pemahaman serta merubah mindset bahwa prestasi itu tidak hanya
pandai dengan mata pelajaran atau kemampuan kognitif saja, melainkan pandai
pada sisi afektif dan motorik juga dikatakan sebagai pandai dan memiliki prestasi.
Mengapa
demikian? Karena selama ini masih ada dari kita baik guru, orang tua, dan
masyarakat yang mengedepankan bahwa pintar mata pelajaran adalah segala
galanya. Padahal sejatinya anak yang taat pada orang tua, guru dan saling
menghormati adalah anak yang pintar juga. Anak yang rajin beribadah dan suka
menolong juga termasuk katagori anak yang berprestasi.
Selain
itu anak dengan kemampuan di bidang olahraga misalnya juara badminton, senam,
voli juga termasuk anak yang berprestasi. Anak pandai bermain instrumen musik,
menyanyi serta mengaji juga dikatakan sebagai anak yang berprestasi. Sehingga
sudah sangat tepat sekali jika dalam Penerimaan Peserta Didik Baru di beberapa
daerah selama masa pandemi ini tidak hanya mengakomodir prestasi dari nilai
akademis yang bersumber dari raport saja, tetapi semua piagam prestasi siswa di
berbagai kejuaraan baik akademis maupun non akademis menjadi salah satu
pertimbangan yang digunakan dalam menentukan diterima atau tidaknya siswa di
sekolah yang dituju.
Semua Anak Berprestasi,
Semua Sekolah Favorit
Anak berprestasi ataupun anak yang
pintar adalah anak yang mampu mencapai tahap yang ditentukan dalam kompetensi
tertentu. Sebagaimana dikatakan oleh Nana Sujana bahwa prestasi adalah suatu keberhasilan
yang telah dicapai oleh siswa setelah mengikuti atau menjalani program
pengajaran dalam jumlah waktu tertentu yang ditentukan sesuai dengan tujuan
yang diinginkan.
Sehingga dengan anak dikatakan
sebagai anak yang berprestasi, tentu mereka juga ingin masuk di sekolah
favorit, misal lulusan sekolah dasar, sekolah yang ingin dituju anak berprestasi
ini adalah SMP Favorit, dan begitu juga di lulusan SMP, maka yang ingin dituju
adalah SMA favorit atau yang dalam pandangan umum adalah sekolah yang sering
menang dalam lomba lomba kejuaraan tertentu serta memiliki output nilai
kognitif tertinggi daripada sekolah lainnya.
Namun, PPDB 2020 yang dilaksanakan
di era pandemi ini di beberapa daerah seolah menjadi penyengat kembali bahwa
nilai raport akademik bukan satu satunya jalan masuk ke sekolah favorit yang
diinginkan masyarakat. Adanya anak dengan nilai raport hanya rata rata dan
bahkan minim tetapi memiliki piagam prestasi dan bisa masuk di sekolah favorit
menjadi bukti bahwa kemampuan lain atau kompetensi siswa jika diasah atau
dilatih terus menerus juga bisa menjadikan anak sebagai anak juara dan
berprestasi.
Hal ini sesuai bahwa kepintaran,
kecerdasan atau prestasi anak bukan hanya dari sisi anak dengan nilai pelajaran
bagus saja atau anak dengan sisi kognitif saja, tetapi seperti yang dikatakan
oleh Howard Gardner, bahwa pintar atau cerdasnya anak itu sangatlah majemuk,
meliputi kecerdasan linguistik, matematis-logis, visual, musikal, kinestetik,
interpersonal, intrapersonal, naturalistik dan kecerdasa spiritual.
Sehingga, sesuai teori tersebut
seharusnya menjadikan kita tidak risau dan gelisah jika anak kita tidak diterima
di sekolah yang diinginkan. Akan tetapi, marilah kita tumbuhkan sisi
positifnya, dengan ungkapan penuh syukur dan keyakinan diri bahwa anak sudah
diterima di sekolah favorit lain, karena dengan adanya sistem zonasi semua
sekolah adalah sekolah favorit. Dan anak juga bisa belajar dengan optimal
sesuai dengan target dan kompetensi yang akan dicapai.
Seperti apa yang diungkapkan oleh
George F. Kneller dalam buku Arif Rohman yaitu Memahami Ilmu Pendidikan,
dikatakan bahwa pendidikan meliputi tiga cakupan yaitu luas, teknis, dan hasil
yang semuanya terkait dengan pikiran, karakter, kemampuan fisik, masyarakat dan
ilmu pengetahuan serta keterampilan. Maka, jika semua sudah memahami konsep
terkait prestasi dan pendidikan tersebut, harapannya pendidikan benar benar
bisa maju dan berkembang serta bisa menjadi dasar kuat bahwa semua anak
berprestasi dan semua sekolah adalah sekolah favorit.
Minggu, 11 Oktober 2020
“Sepeda Lipat” dan Adaptasi Kebiasaan Baru Pendidikan di
Era New Normal
Karya :
Nur Rakhmat
Guru
SDN Kalibanteng Kidul 01 Kota Semarang
Pendidikan
adalah usaha sadar yang berjalan terus menerus. Dalam Undang Undang No. 20
tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dikatakan bahwa pendidikan adalah
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suatu suasana belajar dan suatu
proses pembelajaran agar peserta didik bisa secara aktif mengembangkan segala
potensi dirinya guna memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh
dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Sehingga
dari keterangan di atas dapat dikatakan bahwa pendidikan tersebut harus direncanakan,
proses sesuai rencana, dan hasil pendidikan juga harus sesuai rencana. Selain itu,
berdasarkan UU Sisdiknas tersebut juga bisa dikatakan bahwa pendidikan hendaknya
bisa menumbuhkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang baik.
Selain
itu, ditemukan pula dalam UU Sisdiknas tersebut pendidikan bertujuan untuk
mengembangkan potensi siswa agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalaian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan keterampilan yang
dibutuhkan siswa untuk bertahan hidup dan berdaya guna demi kepentingan diri,
masyarakat, bangsa dan negara.
Namun,
saat ini di tengan pandemi korona, di tengah wabah yang semakin merambah semua
lini kehidupan termasuk pendidikan, proses pendidikan mulai dari perencanaan,
proses, dan hasil ikut berubah pelaksanaanya seiring dengan mulainya kebiasaan baru
sebagai salah satu dampak adanya wabah.
Kita bisa
melihat dengan jelas, dalam skala makro kehidupan ekonomi dunia dilanda resesi,
selain itu dalam kehidupan sosial budaya juga mulai tumbuh kesadaran selalu menjaga
kebersihan, ada pula physical distancing, dan perubahan bentuk budaya lainnya.
Dalam skala
ranah pendidikan di tanah air, tentu adanya lonjakan perubahan pola pendidikan,
yang tadinya ada tatap muka di kelas, seiring dengan adanya korona, pola proses
pendidikan di sekolah berubah menjadi berlangsung daring atau dalam jaringan.
Semua perubahan
tersebut tentu memberikan dampak yang signifikan dalam berbagai bidang,
khususnya pendidikan. Kita tidak bisa memungkiri, akibat wabah korona ini guru
dipaksa bisa menjalankan piranti atau perangkat pembelajaran berbasis teknologi
informasi dari yang sebelum adanya korona masih hanya sebatas wacana.
Kita juga
tidak bisa memungkiri, bahwa pendidikan tanpa kertas juga bisa terwujud dengan
adanya wabah korona ini. Namun, kita juga tidak bisa menafikan pula, dengan adanya
korona ini, ada salah satu tahapan pendidikan yang hilang dan tereduksi secara massif,
yaitu keteladanan langsung atau pendidikan langsung khususnya dari bapak ibu
guru di sekolah dan jika tidak segera diambil tindakan preventif yang tepat,
justru bisa menjadi bumerang bagi pendidikan Indonesia di masa mendatang.
Dan yang
lebih berbahaya lagi, jika tidak segera ditemukan formula yang tepat, hal
tersebut bisa memberikan dampak negative atau memunculkan sikap negative bagi
kehidupan berbangsa mulai dari degradasi moral, lunturnya cinta tanah air,
serta tereduksinya berbagai karakter dan moral positif generasi mendatang.
Maka di
sinilah peran stake holder pendidikan bergotong royong, bahu membahu dan bersatu
padu untuk tetap menjunjung nilai nilai karakter bangsa yang terangkum dalam
nilai moral karakter Pancasila agar lebih bisa menjadi benteng kokoh bagi bangsa
Indoneseia, khususnya bagi generasi penerus bangsa.
Sebagaimana
kita ketahuai bersama bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang plural, bangsa
Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Maka Pancasila sebagai landasan idiil
bangsa memiliki peran penting dalam tatanan kehidupan bangsa Indonesia guna
menyatukan kebhinekaan itu dalam tatanan kehidupan yang berjiwa dan berpijak
pada Pancasila.
Bahkan
tokoh nasional Prof. DR. Siti Musdah Mulia, MA dalam bukunya yang ditulis
bersama Ira D Aini mengatakan Pancasila adalah suatu falsafah bangsa yang harus
diketahui segenap warga negara Indonesia sehingga semua warga negara Indonesia
mampu menghargai, menghormati, menjaga semua nilai dan karakter dalam Pancasila
yang sudah diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa. Sehingga baik golongan muda
alias golongan milenial dan golongan old atau orang tua bisa
tetap menjaga dan menjalankan kehidupan Pancasila tanpa ada keraguan dan tanpa ada
kebimbangan. ( Siti Musdah Mulia, Ira D A, 2013 : 75).
Lalu bagaimana
langkah yang bisa dilakukan agar seluruh komponen bangsa, utamanya siswa bisa
menjadi generasi Pancasila dan tetap menjunjung profil siswa Pancasila yang
berkarakter utuh dalam proses pendidikan dan pembelajaran serta kehidupan?
“SePeDa
LiPaT”
Ya, “Sepeda
Lipat” hemat kami adalah salah satu usaha yang dapat dilakukan dan dibiasakan
serta diterapkan dalam proses pembelajaran baik di sekolah maupun di rumah. Tentunya
pelaksanaannya di sini harus tetap mengedepankan penanaman nilai nilai pencasila
dalam kehidupan keseharian.
Kemudian,
apa yang dimaksud dengan “Sepeda Lipat”? Sepeda Lipat adalah bentuk akronim
dari kata Sebarkan Pesan Damai Literasi
Pancasila Terpadu. Akronim ini mengandung pengertian
bahwa dalam menerapkan dan kemudian menumbuhkan nilai nilai Pancasila di
keseharian pada era new normal atau kebiasaan baru pada era pandemic ini adalah
dengan cara menyebarkan pesan damai menggunakan model pendekatan literasi Pancasila
terpadu.
Pesan damai
yang dimaksud di sini bisa berupa kalimat ajakan atau kalimat himbauan, bisa
berupa kalimat yang berupa contoh pengamalan 5 sila dalam keseharian serta kata
mutiara atau bentuk kalimat lainnya yang dikemas menggunakan media poster, status
pada media sosial, atau pesan broadcast melalui media sosial lainnya.
Selanjutnya
adalah literasi Pancasila. Mengapa literasi? Hemat kami literasi sangat efektif
untuk menanamkan, menumbuhkan nilai nilai Pancasila dalam keseharian baik di
sekolah, maupun dalam keseharian siswa dalam dunia permainan mereka di lingkungan
sekitar. Karena dengan literasi, siswa tidak hanya membaca atau tahu saja,
tetapi dengan literasi siswa juga belajar untuk menerapkan apa yang sudah dipelajarinya
sebagai bentuk pemahaman lanjut proses belajar.
Seperti
yang disampaikan oleh Najeela Shihab bahwa literasi membutuhkan yang namanya aplikasi
sebagai wujud dari proses belajar yang diramu dengan kreatifias dan berkreasi
untuk menghasilkan karya, dengan tetap dibutuhkan guru atau orang tua yang mau
mengupgrade kemampuan literasinya agar lebih mampu menumbuhkan siswa dalam
berliterasi dan berkreasi. ( Najeela Shihab, 2019: 16).
Adapun
bentuk literasi Pancasila yang yang dapat ditumbuhkan dan dibudayakan oleh siswa
dan dari serta kepada siswa melalui sistem Sepeda Lipat ini adalah nilai nilai
yang berkaitan dengan erat dengan pengamalan Pancasila sesuai dengan sila sila dalam
Pancasila, mulai dari Ketuhanan yang Maha Esa Sampai Keadilan Sosial bagi
Seluruh Rakyat Indonesia.
Selain
itu, hendaknya siswa juga lebih sering menerima pesan keseharian terkait profil
pelajar pancasila seperti yang disampaikan Mas Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan, Nadiem Makarim dalam https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/view&id=249900852,
bahwa profil pelajar Pancasila adalah pelajar yang memiliki indikator pertama
beriman, bertakwa kepada Tuhan YME serta berakhlak mulia, kedua berkebhinekaan
global, ketiga gotong royong, keempat mandiri, kelima bernalar kritis, dan
keenam kreatif.
Kembali
kepada butir utama indikator Pancasila, nilai nilai Pancasila yang sebaiknya
dibiasakan dengan penanaman butir Pancasila dalam keseharian mereka,guna menumbuhkan
dan menegaskan pentingnya sikap pancasilais di era new normal ini adalah
berbentuk pesan yang berisikan nilai pesan teladan atau ajakan dan kata Mutiara
atau semboyan yang mencerminkan sila dalam Pancasila.
Contoh
sila pertama bentuk pengamalan atau nilai nilai yang dibuat pesan dan bisa dibiasakan
oleh siswa adalah beribadah tepat waktu, yuk beribadah, dan hormati orang yang
sedang beribadah. Kemudian dalam sila ke dua bentuk kalimat bijak yang bisa
dibuat pesan ke siswa antara lain ayo kita peduli lingkungan sekitar, mari kita
hormati orang lain, mari kita tumbuhkan sikap tenggang rasa dan tolong
menolong.
Kemudian
pengamalan dalam sila ketiga adalah ayo beli produk dalam negeri, Cinta tanah
air adalah sebagian dari iman, gunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar,
dan lain sebagainya. Kemudian dalam sila keempat adalah jangan paksakan pendapatmu,
yuk kita musyawarah, musyawarah membawa berkah, dan musyawarah harus bis akita pertanggungjawabkan.
Selanjutnya
untuk bentuk pesan dalam sila kelima Pancasila yang dapat digunakan adalah tujuan
rakyat Indonesia adalah adil dan makmur, hormati hak orang lain, ayo dukung
pembangunan bangsa, dan kalimat bijaksana lainnya. Harapannya, dengan adanya
kalimat ajakan, kata kata Mutiara siswa semakin paham dan tahu, serta bisa
membiasakan bentuk penerapan dari nilai nilai positif tersebut.
Prinsip
berikutnya adalah terpadu, artinya literasi Pancasila butuh keterpaduan, butuh
chemistry, butuh adanya ikatan batin, kolaborasi dan gotong royong utamanya
oleh stake holder dalam skala makro pendidikan mulai sekolah, guru dan
pemerintah. Ataupun dalam skala sekolah, guru, dan orang tua serta siswa. Sehingga
dengan adanya sifat terpadu ini, semua bisa mengakses dan bisa memantau satu sama
lain untuk saling membangun dan saling membimbing demi kebaikan bangsa,
khususnya generasi pnerus bangsa, serta terpenuhinya tujuan nasional bangsa
Indonesia yang salah satunya mencakup pada mencerdaskan kehidupan bangsa.
Cerdas
dalam artian mampu dan bisa serta cerdas dalam berbagai bidang. Seperti yang
Munif Chatib sampaikan dalam buku yang berjudul Sekolahnya Manusia, dikatakan cerdas
itu ada beberapa kelompok yaitu cerdas linguistic, cerdas matematik logic,
cerdas visual-spasia, cerdas musical, cerdas kinestetik, cerdas intrapersonal,
cerdas interpersonal, dan cerdas naturalis ( Munif Chatib, 2013 ; 56 ).
Sehingga
dengan adanya keterpaduan yang didukung oleh sumber daya mumpuni dari sistem sepeda
lipat ini, penanaman dan usaha membumikan nilai Pancasila dalam kehidupan
keseharian siswa khususnya bisa berjalan baik sesuai dengan tujuan dan proses
perencanaannya. Dan alasan berikutnya prinsip terpadu adalah ada kolaborasi
atau Kerjasama bahkan gotong royong oleh semua unsur pendidikan. Mulai dari
sekolah, masyarakat dan pemerintah. Mulai dari siswa, guru dan orang tua. Artinya
ada keterikatan batin dari semua unsur untuk saling menebar pesan kebaikan, ada
ikatan batin untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan tentunya ada kemauan
bersama untuk berbuat baik, khususnya demi masa depan generasi penerus bangsa.
Adapun alasan kami menggunakan konsep “Sepeda lipat”
ini diantaranya adalah belum maksimalnya ajakan terus menerus dalam penerapan
penanaman nilai Pancasila di keseharian. Memang benar, sudah banyak usaha dilakukan,
namun ternyata masih dibutuhkan inovasi lebih guna mengoptimalkan penanaman
nilai Pancasila, khususnya di era adaptasi new normal ini.
Selain
itu alasan berikutnya adalah konsep sepeda lipat ini mudah dilakukan oleh semua
orang. Artinya, penanaman nilai Pancasila di era adaptasi new normal dengan
menggunakan sepeda lipat ini sangat mudah diterapkan dan dilakukan oleh siswa,
guru, orang tua, dan semua elemen masyarakat. Mengapa sangat mudah, karena
prinsip awal, semua orang bisa mengirim pesan, baik menggunakan media maupun
secara langsung, tetap pada prinsip semua bisa saling mengirim pesan.
Adapun
teknis pelaksanaan “Sepeda Lipat” pertama adalah memetakan masalah. Misalnya
dalam lingkup kecil ada siswa yang masih belum beribadah tepat waktu. Nah, di
sinilah peran guru untuk saling berkordinasi dengan orang tua khususnya kemudian
menindaklanjuti dengan tindakan prinsip “sepeda lipat” ini bersama orang tua
dan lingkungan atau pemerintah.
Tindak
lanjut tersebut bisa berupa pengiriman pesan secara terus menerus dan frontal
kepada siswa ataupun guru. Sehingga dengan adanya sikap istiqomah atau
konsekwen dari guru, orang tua dan siswa serta sekolah. sikap positif siswa
akan terbentuk dan tumbuh menjadi sikap positif yang mumpuni termasuk di era pandemi
ini.
Kemudian
lamgkah ke dua adalah sebarkan dari contoh kasus di atas, maka seorang guru segera
bertindak dengan menyebarkan pesan damai, pesan positif yang berkaitan dengan
pemasalah siswa tersebut. Pesannya sekali lagi, bukan kalimat yang menunjukkan vonis
atau pelabelan kepada siswa, namun berupa kalimat ajakan atau himbauan atau
pernyataan dalam bentuk poster, pesan singkat ataupun lainnya.
Sehingga
dengan adanya pesan positif tersebut, asupan rohani yang diterima oleh siswa adalah
pesan bermoral, pesan dengan nilai nilai kebaikan Pancasila dan nilai nilai
yang sesuai dengan budaya etika bangsa yang berbudi luhur.
Langkah
yang ketiga adalah dengan refleksi artinya setelah pesan dan kalimat bijak disampaikan
ke siswa oleh guru dan orang tua sesuai dengan peran dan tugasnya masing masing,
orang tua, guru, siswa bahkan pemangku kepentingan juga hendaknya melakukan refleksi
diri. Mengapa demikian? Karena dengan refleksi diri maka akan terbentuk pula
sikap keteladanan dari pendamping siswa tersebut.
Artinya
siswa juga mendapat contoh teladan langsung yang didapatkan dari guru, orang
tua, lingkungan bahkan pemangku kepentingan. Sehingga proses pendidikan yang
ada bisa berjalan dari hati ke hati atau istilahnya ada chemistry antara semua
pihak. Karena proses pendidikan walaupun masih dalam pandemi tetap memegang
teguh nilai asah, asih, asuh dari Ki Hajar Dewantara serta selalu berpegang teguh
pada totalitas tanpa batas dengan menggerakkan hati, kepala dan tangan alias totalitas
dengan mencurahkan pikiran, jiwa, raga bagi keberhasilan proses pendidikan
karakter Pancasila siswa.
Dan juga,
dengan adanya uswatun khasanah atau teladan baik dari praktik baik dari
guru, orang tua, dan lingkungan sekitar yang sudah tumbuh dan membudaya dengan
baik ini, fase yang hilang dari siswa selama masa korona, bisa tergantikan dan justru
bisa kembangkan dengan teladan langsung dari pendamping siswa khususnya di
rumah, dan lingkungan sekitar serta berbagai sumber daya yang ada yang berdaya
guna untuk tetap membumikan nilai nilai Pancasila dalam keseharian.
Kemudian
langkah terakhir dari teknik penerapan konsep “Sepeda Lipat” dalam penerapan nilai
nilai Pancasila di era adaptasi normal baru adalah dengan melakukan tindak
lanjut tahap terpadu. Artinya setelah semua melakukan refleksi maka siswa
secara otomatis sudah mendapat ilmu, sudah belajar dan diharapkan siswa juga
menerapkan konsep sepeda lipat ini kepada teman teman di lingkungannya. Sehingga
jika ini berlangsung terus menerus dan berkelanjutan, siswa sebagai agen
perubahan arah posisitf bangsa benar benar bisa terbentuk dan terwujud serta
Indonesia yang berperadaban serta bermoral karakter positif selalu terjaga
sesuai dengan terjaganya siswa dengan pijakan nilai nilai Pancasila dalam
keseharian mereka.
Tentunya
untuk bisa mewujudkan kondisi ideal di era normal baru ini dibutuhkan kompetensi
adaptasi yang baik dari semua pihak, termasuk guru dengan kompetensi pedagogik,
kepribadian, sosial dan profesionalnya diharapkan mampu beradaptasi menyesuaikan
perkembangan zaman agar bisa bersama sama dengan siswa membangun bangsa
berdasarkan Pancasila sehingga siswa bisa mengamalkan indikator pelajar Pancasila
dan guru bisa menjadi teladan dan model bagi siswa dalam pendidikan dan
keseharian.
Dan sistem
konsep “Sepeda Lipat” sebagai salah satu usaha membumikan nilai nilai Pancasila
di era adaptasi normal baru ini benar benar bisa mejadi salah satu terobosan
sederhana tetapi efektif dalam aplikasi keseharian, baik dalam pembelajaran
ataupun di luar pembelajaran. Sehingga Pancasila di era normal baru ini benar
benar bisa menjadi pegangan pokok, menjadi dasar pokok setiap siswa dan individu
lainnya untuk berpijak dan bersikap positif dalam perannya sebagai warga negara
dengan tetap berpegang teguh pada nilai nilai Pancasila sebagai landasan idiil
bangsa Indonesia.
Berikut salah satu contoh Pesan damainya ...
Selasa, 29 September 2020
Guru Solutip ( Refleksi Diri Guru yang Berusaha Menjadi Guru)
Nur Rakhmat
Guru SDN Kalibanteng Kidul 01 Semarang
“
Jadi orang yang solutip gitu loh!” itulah petikan dialog Bu Tedjo yang sedang
viral beberapa waktu lalu. Guru sebagai subjek pendidikan di era pandemic dan
era digital ini, hendaknya juga memiliki sikap solutip yang bisa membawa
kebermanfaatan dalam proses belajar mengajar di sekolah maupun di luar sekolah.
Bentuk
guru solutip di era pandemi hemat penulis diantaranya adalah memanfaatkan
sumber daya yang ada. Artinya bisa memaksimalkan potensi yang dimilikinya untuk
berkembang dan bertumbuh bersama mengikuti perkembangan zaman. Karena dengan
mengikuti perkembangan zaman, sikap professional sebagai salah satu satu bentuk
kompetensi yang dimiliki guru selain kompetensi social, pedagogic, dan kepribadian
bisa berperan dalam pendidikan di era kini dan masa depan.
Kemudian,
bentuk guru solutip berikutnya adalah selalu menanamkan, menumbuhkan dan
membiasakan serta membudayakan merdeka belajar. Seperti yang disampaikan oleh Mas
Menteri Nadiem Makarim, bahwa merdeka belajar adalah suatu kemerdekaan berpikir
yang bentuk esensi utamanya berasal dari guru terlebih dahulu kemudian menuju
ke siswa. Maka dari itu, kemerdekaan guru ada mutlak dan harus diutamakan,
termasuk kemerdekaan saat mendidik siswa, kemerdekaan dalam finansial dan
kemerdekaan dalam berkreasi serta menginspirasi serta kemerdekaan berorganisasi.
Bentuk
ketiga dari guru solutip adalah memiliki kompetensi abad 21. Artinya kemampuan
berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreatif harus dimiliki mutlak oleh
guru. Karena dengan guru memiliki kemampuan 4C di era modern 4.0 ini, guru
tidak akan kesulitan dalam proses belajar bersama siswa.
Misal
dalam sikap kreatif, guru bisa membuat media pembelajaran yang menunjang keberhasilan
proses pembelajaran siswa sesuai dengan kondisi yang dihadapainya, bisa yang berbasis
IT ataupun non IT. Dengan kolaborasi, seorang guru bisa dengan mudah berkerja
sama dengan rekan saling belajar dan gotong royong memiliki tujuan untuk
mencerdaskan generasi bangsa.
Bentuk
guru solutip berikutnya adalah guru memiliki karya alias berkarya. Karya
dalam bentuk apa saja? Hemat penulis ada beberapa karya yang bisa dijadikan
sebagai bentuk sikap solutif guru di era pandemic ini, yaitu karya berupa media
pembelajaran dan karya dalam pola pendidikan ke siswa.
Karya
media pembelajaran sangat penting bagi guru, karena mempermudah guru memberikan
materi ajar kepada siswa. Seperti yang dikatakan oleh Sudjana dan Rivai (1992 :
2) bahwa manfaat media dalam proses belajar mengajar, di antaranya yaitu proses
pembelajaran akan lebih menarik perhatian peserta didik, sehingga dapat
menumbuhkan motivasi belajar bagi peserta didik.
Sedangkan
karya dalam pola pendidikan diantaranya guru bisa membangun komunikasi dengan
siswa, tidak hanya sebagai guru namun lebih cenderung menjadi orang tua dan
teman teladan yang baik bagi siswa, karena dengan cara keteladanan inilah guru
bisa mendampingi dengan baik proses pendidikan dan pola asih, asah, asuh guru di
sekolah memberikan bekah untuk generasi penerus bangsa yang semakin cerah.
Namun,
agar guru solutip benar benar bisa memberikan solusi, dibutuhkan sikap moral
positif atau akhlakul karimah, keteladanan, dan sikap istiqomah dari
masing masing guru sehingga guru benar benar bisa menjadi teladan, diguru
lan ditiru serta bermutu dan berdedikasi tinggi demi pendidikan Indonesia yang
lebih maju serta unggul, cerdas, bermoral dan berkarakter.
Nama : Nur Rakhmat,S.Pd.
Guru SDN Kalibanteng Kidul 01. Kota Semarang. Hp. 081542557038. Email : nurrakhmatcahayakasihsayang@yahoo.com. Jln. Candi Intan V No.1129 Rt.07 Rw.09 Kelurahan Kalipancur Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang 50183
Sabtu, 22 Agustus 2020
Maju Tak Gentar Menggapai Merdeka Belajar
Oleh
: Nur Rakhmat
Merdeka
belajar !
Itulah
harapan semua insan pendidikan agar pendidikan benar benar bisa membawa peruahan
ke arah yang lebih baik. Namun demikian, guna mewujudkan merdeka belajar yang konsep
pokok dan teknisnya masih dalam taraf pembahasan seputar Ujian Sekolah
Berstandar nasioanl, Ujian Nasional, RPP dan penerimaan siswa baru tentu tidaklah
mudah. Dibutuhkan inovasi lebih agar merdeka belajar benar benar bisa terwujud.
Lebih lebih saat ini bangsa kita sedang terdampak virus covid 19. Tentu dibutuhkan
sebuah terobosan penting agar kondisi merdeka belajar bisa dirasakan oleh semua
pihak.
Dan
hemat kami terobosan yang tepat saat ini guna mewujudkan merdeka belajar adalah
dengan gotong royong memerdekakan guru, orang tua dan siswa dari segala factor yang
menghalanginya. Ini penting karena guru, orang tua dan siswa adalah satu kesatuan
alias sebuah tri tunggal yang harus diperlakukan sama agar bisa mencapai
kondisi merdeka belajar yang diharapkan.
Bergotong
royong
Benar,
gotong royong hemat kami adalah Langkah tepat guna membawa unsur tri tunggal
tersebut dalam kondisi merdeka. Mengapa demikian? Saat ini bangsa kita masih
dalam kondisi pandemic. Dan mau tidak mau proses pembelajaran dan hasil
belajarpun tentu tidak akan sesuai target atau tidak akan lebih baik daripada
saat pembelajaran di luar pandemic yang berlangsung tatap muka dan bisa
berinteraksi langsung antara guru, orang tua dan siswa.
Sehingga
dengan kondisi itu menuntut guru, orang tua dan siswa untuk bertindak lebih
agar tujuan dan target pembelajaran bisa tercapai lebih optimal, termasuk dalam
penyediaan sarana prasarana untuk pembelajaran daring maupun pembelajaran jarak
jauh ini. Nah, di sinilah gotong royong semua unsur dibutuhkan agar proses
pembelajaran khususnya dan proses pendidikan pada umumnya bisa tercapai lebih
optimal.
Bentuk
gotong royongnya yang pertama adalah mendukung progam pemerintah, khususnya
terkait pembelajaran di era pandemic. Penerapannya antara lain guru mengajar
secara optimal namun tetap memperhatikan kondisi siswa dan keluarganya. Orang tua
mendukung apa yang dilakukan guru dan siswa tetap belajar sesuai dengan kebutuhan
dan tahapannya.
Artinya
adalah ada kondisi saling support dan saling memahami antara unsur guru oang
tua dan siswa serta masyarakat. Sehingga dengan adanya unsur saling memahami
kondisi saat ini satu sama lain, proses Pendidikan bisa berjalan tenang untuk
tetap dalam menggapai kondisi merdeka belajar.
Yang
kedua adalah adanya memaksimalkan potensi yang ada. Artinya Pendidikan tetap
berproses dan berjalan sesuai dengan pola yang ada. Sehingga, dengan system tersebut
Pendidikan benar benar bisa membawa dan merubah kondisi pandemic menjadi asset unggulan
bangsa untuk tetap bertahan dan mencapai kondisi merdeka belajar serta mampu mewujudkan
tujuan nasional bangsa yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa yang didasari pada
kesadaran kritis untuk tetap bertindak guna mencapai kondisi tersebut.
Dan
yang ketiga adalah kolaborasi Bersama untuk merdeka belajar. Artinya ada
kolaborasi antara guru, orang tua, dan siswa serta pihak lainya yang peduli Pendidikan.
Sehinnga dengan adanya kolaborasi ini harapannya semua unsur masyarakat
terlibat guna membentuk merdeka belajar yang baik.
Namun
demikian, konsistensi dan komitmen semua pihak sangat dibutuhkan agar merdeka
belajar bisa menjamin Pendidikan tetap mampu mewujudkan peserta didik berkahlak
mulia dan memiliki kecerdasan serta kekuata spiritual agama seperti yang diamanatkan
dalam undang undang system Pendidikan nasional. Merdeka !
Nama : Nur
Rakhmat,S.Pd.
Guru SDN Kalibanteng Kidul 01. Kota Semarang.
Kamis, 28 Mei 2020
Balada
Buku di Era Modern
Oleh
: Nur Rakhmat
Banyak
yang lupa, jika tanggal 17 Mei merupakan hari Buku Nasional. Buku sebagai
jendela dunia dan cakrawala pengetahuan, tentu banyak mengalami perkembangan. Apalagi
semenjak teknologi komunikasi semakin meningkat, di satu sisi buku, tetap di
hati pencintanya, namun di sisi lain buku semakin tertelan maraknya media
sosial dan segala bentuk informasi digital yang ada.
Padahal
dengan buku kita bisa tahu hal yang belum kita ketahui, kita bisa menjelajah
dunia yang belum pernah kita rambah, kita juga dapat melakukan perjalanan ke
ruang angkasa menelusuri bintang-bintang dan menyusuri dalamnya samudra serta mensyukuri
segala karunia Tuhan dengan buku. Serta kita bisa bangkit dari keterpurukan dan
mejadi lebih kuat dari sebelumnya juga dengan buku.
Momentum
Hari Buku Nasional
Buku
sebagai salah satu sarana mencapai tingkatan tertinggi ilmu pengetahuan dan sebagai
penyalur budaya untuk membentuk karakter positif tentu sangat penting perannya
dalam pembentukan karakter pembacanya, khususnya bagi siswa sebagai generasi
bangsa. Terlebih buku sangat erat kaitannya dengan pembentukan karakter positif
siswa melalui membaca dan menulis sebagai bentuk literasi siswa.
Maka,
hemat penulis, ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendorong siswa semakin
tertarik membaca buku. Pertama, optimalkan komunitas cinta buku dengan kegiatan
bedah buku dan diskusi buku. Hemat penulis, hal ini sangat efektif, karena bisa
menumbuhkan sikap ilmiah dan kritis di antara mereka, sehingga dengan sikap
kritis tersebut, bisa muncul pemikiran baru yang berdampak positif dalam
pembangunan fisik maupun mental bangsa.
Kedua,
wujudkan perpustakaan atau taman baca yang representatif dan nyaman untuk
membaca disertai fasilitas internet. Selain bisa menambah animo siswa untuk
membaca, fasilitas internet bisa semakin menambah khasanah ilmu pengetahuan
yang didapat. Misalnya, siswa bisa mengakses infromasi digital bahkan e-book untuk melengkapi apa yang belum
mereka temukan di buku fisik.
Ketiga,
mengefektifkan perpustakaan digital. Hal ini bisa dilakukan dengan cara membuka
akses luas kepada siswa dan masyarakat untuk bisa berkunjung ke perpustakaan
digital yang disediakan oleh instansi atau lembaga tertentu. Sehingga dengan
adanya perpustakaan digital ini, pengetahuan yang mereka dapat bisa semakin
luas.
Keempat,
budayakan gemar membaca sejak dini. Salah satu usaha yang bisa dilakukan adalah
keteladanan dari guru maupun orang tua dalam bentuk komunikasi antara orang tua
dan guru. Misalnya di sekolah siswa melakukan kegiatan Tadarus Buku bersama, maka di rumah orang tua mempunya kewajiban
mengecek buku apa yang sudah dibaca, amanatnya apa dan lain sebagainya.
Dan
yang terakhir adalah menggalakkan progam “Bisa
Lisku” atau progam Bisa Menulis Buku. Artinya dengan progam ini semua
elemen masyarakat, termasuk siswa bisa menulis buku sebagai sarana menggerakan
literasi baca tulis sekaligus barter pengetahuan antar penulis buku. Sehingga
diharapkan adanya progam ini khasanah keilmuan meningkat dan buku di era modern
ini masih bisa eksis membersamai pembacanya.
Namun,
agar semua bisa berjalan lancar, dibutuhkan komitmen dan sikap istiqomah dari
semua elemen masyarakat untuk tanpa lelah menghasilkan buku yang berkualitas
dan berkarakter positif. Sehingga buku sebagai wadah dwi tunggal literasi yaitu membaca dan menulis bisa selalu bisa
menjadi penerang kalbu bagi para pencari dan pencinta ilmu. Serta Indonesia benar benar bisa menjadi
negara yang bermoral serta berkarakter akhlakul karimah.
Sabtu, 28 Maret 2020
Alhamdulillah artikel ini pernah muat di harian Jawa Pos Radar Semarang 24 April 2016.
http://radarsemarang.com/v1/2016/04/24/dafa-dan-teladan-keberanian/
Monggo Selamat membaca ...
Selasa, 24 Maret 2020
Search
Video
Kurtilas





