Oleh: Nur Rakhmat, S.Pd

Tampilkan postingan dengan label Artikel Populer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Populer. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Agustus 2020

On 10.06 by Nur Rakhmat in ,    5 comments

 

Maju Tak Gentar Menggapai Merdeka Belajar

Oleh : Nur Rakhmat

Merdeka belajar !

Itulah harapan semua insan pendidikan agar pendidikan benar benar bisa membawa peruahan ke arah yang lebih baik. Namun demikian, guna mewujudkan merdeka belajar yang konsep pokok dan teknisnya masih dalam taraf pembahasan seputar Ujian Sekolah Berstandar nasioanl, Ujian Nasional, RPP dan penerimaan siswa baru tentu tidaklah mudah. Dibutuhkan inovasi lebih agar merdeka belajar benar benar bisa terwujud. Lebih lebih saat ini bangsa kita sedang terdampak virus covid 19. Tentu dibutuhkan sebuah terobosan penting agar kondisi merdeka belajar bisa dirasakan oleh semua pihak.

Dan hemat kami terobosan yang tepat saat ini guna mewujudkan merdeka belajar adalah dengan gotong royong memerdekakan guru, orang tua dan siswa dari segala factor yang menghalanginya. Ini penting karena guru, orang tua dan siswa adalah satu kesatuan alias sebuah tri tunggal yang harus diperlakukan sama agar bisa mencapai kondisi merdeka belajar yang diharapkan.

Bergotong royong

Benar, gotong royong hemat kami adalah Langkah tepat guna membawa unsur tri tunggal tersebut dalam kondisi merdeka. Mengapa demikian? Saat ini bangsa kita masih dalam kondisi pandemic. Dan mau tidak mau proses pembelajaran dan hasil belajarpun tentu tidak akan sesuai target atau tidak akan lebih baik daripada saat pembelajaran di luar pandemic yang berlangsung tatap muka dan bisa berinteraksi langsung antara guru, orang tua dan siswa.

Sehingga dengan kondisi itu menuntut guru, orang tua dan siswa untuk bertindak lebih agar tujuan dan target pembelajaran bisa tercapai lebih optimal, termasuk dalam penyediaan sarana prasarana untuk pembelajaran daring maupun pembelajaran jarak jauh ini. Nah, di sinilah gotong royong semua unsur dibutuhkan agar proses pembelajaran khususnya dan proses pendidikan pada umumnya bisa tercapai lebih optimal.

Bentuk gotong royongnya yang pertama adalah mendukung progam pemerintah, khususnya terkait pembelajaran di era pandemic. Penerapannya antara lain guru mengajar secara optimal namun tetap memperhatikan kondisi siswa dan keluarganya. Orang tua mendukung apa yang dilakukan guru dan siswa tetap belajar sesuai dengan kebutuhan dan tahapannya.

Artinya adalah ada kondisi saling support dan saling memahami antara unsur guru oang tua dan siswa serta masyarakat. Sehingga dengan adanya unsur saling memahami kondisi saat ini satu sama lain, proses Pendidikan bisa berjalan tenang untuk tetap dalam menggapai kondisi merdeka belajar.

Yang kedua adalah adanya memaksimalkan potensi yang ada. Artinya Pendidikan tetap berproses dan berjalan sesuai dengan pola yang ada. Sehingga, dengan system tersebut Pendidikan benar benar bisa membawa dan merubah kondisi pandemic menjadi asset unggulan bangsa untuk tetap bertahan dan mencapai kondisi merdeka belajar serta mampu mewujudkan tujuan nasional bangsa yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa yang didasari pada kesadaran kritis untuk tetap bertindak guna mencapai kondisi tersebut.

Dan yang ketiga adalah kolaborasi Bersama untuk merdeka belajar. Artinya ada kolaborasi antara guru, orang tua, dan siswa serta pihak lainya yang peduli Pendidikan. Sehinnga dengan adanya kolaborasi ini harapannya semua unsur masyarakat terlibat guna membentuk merdeka belajar yang baik.

Namun demikian, konsistensi dan komitmen semua pihak sangat dibutuhkan agar merdeka belajar bisa menjamin Pendidikan tetap mampu mewujudkan peserta didik berkahlak mulia dan memiliki kecerdasan serta kekuata spiritual agama seperti yang diamanatkan dalam undang undang system Pendidikan nasional. Merdeka !

 

Nama   :  Nur Rakhmat,S.Pd.

Guru SDN Kalibanteng Kidul 01. Kota Semarang. 

 

 

 

 

Rabu, 03 Juni 2020

On 16.31 by Nur Rakhmat in    No comments

Hadapi Corona Dengan Pancasila

Oleh : Nur Rakhmat

Pancasila adalah dasar negara yang mutlak bagi seluruh masyarakat Indonesia di manapun dan sampai kapanpun. Sehingga bersama dengan momentum peringatan hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni, sudah saatnya Pancasila sebagai dasar negara tidak hanya dikenal secara simbolis dengan seremonial atau gebyar semata. Namun, Pancasila juga bisa diwujudkan dan diterapkan serta dirasakan manfaatnya dalam keseharian oleh seluruh elemen bangsa, termasuk siswa sebagau generasi penerus bangsa.

Nilai Luhur Pancasila

Sekolah sebagai kawah candradimuka siswa hendaknya bisa menjadi pelopor dan teladan yang baik penerapan nilai Pancasila di tengah kondisi bangsa yang sedang terguncang pandemi global virus korona yang bukan tidak mungkin bisa menimbulkan disintregasi bangsa

Dan hemat penulis nilai nilai dan karakter luhur Pancasila sangat tepat dan efektif dibudayakan guna menumbuhkan karakter dan mental positif seluruh elemen bangsa di tengah pandemi global ini. Pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam sila pertama nilai karakter utama yang wajib dibudayakan adalah Iman dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Bentuknya diantaranya adalah tidak ikut terbawa arus negatif dengan hilang harapan putus asa akan karunia Tuhan YME. Akan tetapi, tetap yakin, terus berdoa, berusaha serta husnudzon dan tawakkal bahwa segala penyakit pasti ada obat dan harapan pasti selalu ada bagi setiap manusia yang mau berusaha.

Berikutnya adalah Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Bentuk karakter positifnya adalah berbudi luhur menghormati orang lain. Artinya dengan menghormati orang lain berarti kita juga mengakui dan peduli keberadaan orang tersebut. Bentuk nyatanya antara lain, menghormati orang lain dengan memakai masker, cuci tangan pakai sabun, serta bentuk pencegahan penularan covid 19 lainnya sesuai dengan protokol yang ditetapkan pemerintah.

Selanjutnya adalah Persatuan Indonesia. Nilai positif yang sesuai dengan sila ketiga ini adalah bersatu mencegah penularan corona dan dampak lainnya seperti kemiskinan dan kemunduran ekonomi dengan cara bersatu melaksanakan anjuran pemerintah dan bergotong royong, saling memotivasi, saling membantu sebagai bentuk kepedulian bersama seperti dengan melakukan jogo tonggo, membeli produk dalam negeri, gerakan donasi bersama dan lain sebagainya.

Sila berikutnya adalah Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Pewakilan. Bentuk nilai karakternya diantaranya adalah amanah dan bertanggungjawab melaksanakan ketetapan pemerintah sebagai hasil musyawarah di tengah pandemi dan era milenial ini serta melaksanakan dengan penuh kesadaran dan keimanan.

Dan yang terahir adalah Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Nilai karakter yang hendaknya dibudayakan adalah adil terhadap sesama. Artinya sebagai bagian bangsa Indonesia kita hendaknya memiliki sikap yang adil ketika mendapat amanah serta bersikap positif menghadapi pandemi ini. Sehingga dengan sikap adil ini imunitas bangsa bisa terjamin dan kelangsungan hidup bangsa bisa diteruskan.

Namun, agar nilai karakter Pancasil tersebut dapat diterapkan dan dibudayakan sebagai benteng kehidupan bangsa, dibutuhkan kerjasama, komitmen semua stake holder bangsa  termasuk pendidikan di dalamnya. Sehingga di tengah era global ini, peran Pancasila bisa dirasakan dan membawa kebermanfaatan bersama demi Indonesia yang lebih kuat dan berkarakter.

 

Alhamdulillah sudah muat di halaman Tribun Jateng, silahkan bisa klik link berikut :

https://jateng.tribunnews.com/2020/06/02/forum-guru-nur-rakhmat-hadapi-corona-dengan-pancasila


 


Selasa, 02 Juni 2020

On 19.53 by Nur Rakhmat in    No comments

Nanti Kita Cerita Tentang Pramuka

Oleh : Nur Rakhmat

Guru SDN Kalibanteng Kidul 01 dan Andalan Ranting Kwaran Semarang Barat

Tepat sebelum Baden Powell Day pada , Sabtu 22 Februari 2020, Pramuka Indonesia berduka. Sebagai insan pendidikan, tentu berita tersebut sangat menggemparkan dan disayangkan, terlebih kegiatan tersebut bertujuan melatih ketahanan mental dan ketahanan fisik siswa melalui Pramuka sebagai ekstrakurikuler wajib di sekolah. Namun, dengan adanya kejadian tersebut. Apakah ada masalah dengan sistem pembinaan yang ada?

Kode Etik Pramuka dan APE

Pendidikan dengan berbagai prosesnya, tentu membutuhkan daya dukung kuat dari semua stake holder pendidikan tersebut. Mulai masyarakat, guru, sekolah, dan siswa. Kejadian yang menimpa salah satu sekolah di Sleman tersebut bisa dijadikan pelajaran bagi kita untuk lebih berhati-hati, waspada dan lebih mempertimbangkan berbagai aspek dalam setiap progam kegiatan.

Pramuka berdasar Permen No. 63 tahun 2014 adalah ekstrakurikuler wajib jenjang pendidikan dasar dan menengah, juga berperan penting dalam pembentukan karakter dan moral siswa. Pendidikan kepramukaan dengan segala nilai dan kode etik kepramukaan yang dimilikinya juga berperan dalam proses kecakapan hidup, pembentukan kepribadian, dan akhlak mulia pramuka melalui nilai nilai kepramukaan.

Namun, hemat penulis, agar pelaksanaan pendidikan kepramukaan mencapai tujuan yang diharapkan, dibutuhkan APE di dalamnya. APE yang pertama adalah analisis. Analisis yang dimaksud diantaranya yaitu apa tujuan kegiatan, siapa pesertanya, adakah risiko yang muncul, bagaimana daya dukung kegiatan, apa metodenya, bagaimana pelaksanaannya, di mana tempatnya sampai berapa biaya yang dibutuhkan.

Hal tersebut sangatlah penting, mengingat berdasar informasi yang penulis serap dari berbagai media, kegiatan susur sungai tersebut tidak ada alat pengaman diri seperti tali untuk pegangan, hanya menggunakan tongkat pramuka, usia masih 12 sampai 13 tahunan. Dengan kejadian yang ada, tentu ini menandakan masih kurang jelinya analisis kebutuhan dan risiko dari kegiatan tersebut.

APE yang kedua, pelaksanaan. Pendidikan kepramukaan hendaknya dilaksanakan berdasar tujuan dan analis yang baik, sehingga dampak negatif yang ditimbulkan juga bisa minim. Misalnya di dalam Undang Undang No. 12 tahun 2010 pasal 7 atay 3 D tentang Gerakan Pramuka dikatakan bahwa metode belajar interaktif dan progesif dalam pendidikan kepramukaan adalah dengan kegiatan yang menantang.

Namun yang dimaksud kegiatan menantang di sini bukanlah kegiatan yang membahayakan dan berisiko tinggi timbul korban. Tetapi, kegiatan atau aktivitas yang menggugah tekad dan motivasi kuat siswa dalam mengatasi masalah yang dihadapinya.

Kemudian APE yang terakhir adalah Evaluasi. Evaluasi sangat penting, mengingat evaluasi yang dilanjutkan refleksi adalah penilaian diri untuk mengukur sejauh mana ketercapaian tujuan yang diinginkan.

Maka dari itu, sudah menjadi kewajiban bersama untuk peduli terhadap proses pendidikan, termasuk pendidikan kepramukaan, agar pendidikan pendidikan kepramukaan sebagai bagian proses pendidikan nasional mampu membentuk budaya karakter positif siswa dalam kehidupan keseharian mereka. Sehingga Pramuka dengan segala ketahanannya bisa lebih berdaya guna dalam keseharian. 

Dibutuhkan kemampuan literasi, komitmen dan kesungguhan dari stake holder terkait, agar pendidikan kepramukaan bisa benar benar membawa perubahan ke arah yang lebih baik dalam sikap, moral, dan akhlak siswa. Tentu demi pendidikan yang berkarakter dan generasi yang cerdas serta bermoral.

Salam Pramuka !


 


Sabtu, 30 November 2019

On 02.09 by Nur Rakhmat in    No comments

Maju Bersama “Masdi”
Oleh : Nur Rakhmat
Tahukan anda? Penyerapan tenaga kerja per Februari 2016 di Provinsi Jawa Tengah masih didominasi oleh penduduk yang berpendidikan rendah yaitu mulai dari pendidikan setara SD ke bawah sebesar 8,92 juta orang atau sekitar 51, 97% dari jumlah penduduk di Provinsi Jawa Tengah.(Berita Resmi Statistik, diakses pada 17/11/2017 pukul 05.39).
Artinya, dengan tenaga kerja yang mayoritas lulusan Sekolah Dasar, tingkat pendapatan dan kesejahteraan masyarakat Jawa Tengah masih jauh dari kata ideal. Walaupun sudah kita ketahui bersama, bahwa upah minimum tingkat provinsi Jawa Tengah pada tahun 2018 adalah Rp. 1.486.065 atau mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp. 1.367.000. ( Kompas.com/17/11/17).
Lalu bagaimana usaha yang dapat dilakukan agar tingkat kesejahteraan masyarakat meningkat sehingga Jawa Tengah semakin maju?
“Masdi”
            Indeks Pembangunan Manusia (IPM)/Human Development Index (HDI) sebagaimana dikutip dari Wikipedia.org adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan, dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia.
            Sehingga pendidikan sebagai salah satu indikator dalam IPM mempunyai peran penting di dalamnya. Pendidikan sebagaimana dikatakan dalam Undang-undang No. 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional, adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat dan negara.
            Dan kita ketahui bersama bahwa salah satu tujuan nasional bangsa Indonesia yang tertera dalam alinea ke empat pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah mencerdasakan kehidupan bangsa. Sehingga jika kita melihat tujuan tersebut, kondisi yang diharapkan dalam masyarakat Indonesia khususnya Jawa Tengah adalah masyarakat yang cerdas.
            Lalu bagaimana mewujudkan masyarakat Jawa Tengah yang lebih maju via pendidikan? Membudayakan Masyarakat Pendidikan (Masdi). Ya, “Masdi” atau masyarakat pendidikan hemat kami adalah salah satu solusi yang tepat yang dapat digunakan untk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jawa Tengah khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.
            “Masdi” sebagai sebuah konsep pembentukan dan penguatan karakter adalah suatu sistem yang menyeluruh yang mampu tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat. Dan sebagai sebuah sistem, “Masdi” juga sudah sesuai dengan dengan ciri-ciri sistem yang pada dasarnya antar satu dengan yang lainnya saling melengkapi.
            Sebagaimana dikatakan, bahwa ciri-ciri sistem adalah mempunyai tujuan, mempunyai batas yang jelas, terbuka, tersusun dari subsistem yang ada, ada saling keterikatan dan saling ketergantungan, merupakan kebulatan yang utuh, melakukan kegiatan transformasi dan memiliki kemampuan menyesuaikan diri. (Tatang Amin, 2003:19).
            Lalu bagaimana konsep “Masdi” tersebut? Kita tahu, pendidikan tidak hanya sebatas pendidikan di sekolah atau pendidikan di madrasah saja. Pendidikan ada di mana-mana, di sekolah, di kampung, di kota, di sawah, di kantor, dan lain sebagainya.
            Hal ini sesuai dengan apa yang sudah dituliskan dalam Undang-Undang Sisdiknas pasal 26 yaitu, bahwa bentuk pendidikan nonformal diantaranya adalah pendidikan kecakapan hidup, keterampilan, dll. Namun, dalam undang-undang tersebut masih ditujukan untuk pengembangan peserta didik semata. Belum dikatakan secara jelas untuk mengembangkan masyarakat.
            Di sinilah tugas dan fungsi “ Masdi” untuk mengembangkan pola pendidikan lebih lanjut agar semua unsur masyarakat terlibat, bisa berbuat, dan bisa mengajak masyarakat bertransformasi ke arah lebih baik bersama masyarakat pendidikan.
            Lalu untuk mengembangkan “Masdi” langkah pertama adalah bisa dengan cara mengindentifikasi tujuan yang ingin diharapakan dari masyarakat pendidikan tersebut. Menentukan tujuan sangat penting diutamakan agar dalam konsep “Masdi” ini mempunyai alur, mekanisme, dan sistem yang jelas.
            Setelah merusmuskan tujuan langkah selanjutnya adalah dengan membuat kerangka acuan atau petunjuk teknis konsep masyarakat pendidikan yang diinginkan. Apakah melibatkan unsur pendidikan formal atau tidak? Ataukah dengan menggandeng semua unsur pendidikan. Setelah itu, baru mengidentifikasi elemen penting yang ada dalam konsep “Masdi”.
            Elemen penting tersebut merupakan elemen yang penting segera diberlakukan proyek perubahan di dalamnya. Dan hemat kami, unsur pertama tersebut adalah generasi muda. Mengapa generasi muda? Karena generasi muda adalah pelaku utama kehidupan di masa mendatang. Yang bisa dilakukan oleh masyarakat pendidikan kepada generasi muda adalah membantu generasi muda untuk mengembangkan ekonomi kreatif.
            Mengapa di Jawa Tengah perlu dikembangkan ekonomi kreatif bagi generasi muda? Selain agar generasi muda merasa diajak bekerjasama demi kemajuan daerahnya, hal ini juga sebagai wujud eksistensi generasi muda di zaman milenial ini.
            Setelah generasi muda, adalah pelaku usaha. Ini penting, dengan adanya sinergi antara generasi muda dengan pelaku usaha, generasi muda bisa meneladani kesuksesan pelaku usaha kemudian memodifikasi apa yang telah diteladani, sehingga harapannya generasi muda bisa lebih mengembangkan apa yang telah dilakukan oleh pelaku usaha saat ini.  Untuk kemajuan Jawa tengah khususnya dan Indonesia pada umumnya.
            Bentuk kegiatan selanjutnya yang bisa dilakukan masyarakat pendidikan adalah dengan adalah dengan melakukan proyek “Masyarakat Menginspirasi”. Bentuknya, antar elemen masyarakat saling tukar pengalaman untuk kemajuan masing-masing dan kemajuan bersama. Sehingga, dengan kegiatan masyarakat menginspirasi proses belajar bersama antar elemen masyarakat bisa berjalan dengan baik.
            Akhirnya, mari kita dukung gerakan masyarakat pendidikan sebagai salah satu upaya pembangunan Jawa Tengah menjadi lebih baik. Tentu dengan diiringi komitmen semua elemen agar proyek perubahan ini bisa berlangsung dengan baik.
           
           



Senin, 18 Desember 2017

On 22.35 by Nur Rakhmat in    No comments
Alhamdulillah dimuat di Harian Tribun Jateng, 19/12/2017 ...

Semoga bisa memotivasi diri dan pembaca untuk selalu istiqomah dalam kebaikan mendidik siswa.  Amin y rabbal alamin ..
Sukses Selalu ...

Guru dan Keteladanan Nabi Muhammad SAW

Oleh : Nur Rakhmat
Presiden Joko Widodo berharap peringatan Hari Guru nasional dan HUT Ke-72 PGRI menjadi momentum berbenah untuk menyiapkan generasi yang tangguh. Namun, untuk membentuk generasi tangguh diperlukan juga guru yang berjiwa tangguh. Artinya guru yang mau menempa diri, mau meningkatkan kompetensi diri, dan mau belajar untuk kemudian mau menularkan dan membaktikan dirinya untuk kepentingan perserta didik khususunya dan pendidikan pada umumnya.
Selain itu, dibutuhkan pula guru tangguh yang mempunyai jiwa keteladanan pada diri guru tersebut. Lalu, jiwa keteladanan bagaimana yang dibutuhkan guru agar bisa membentuk generasi tangguh di masa mendatang?
Keteladanan Nabi Muhammad SAW
Nabi Muhammad SAW, sebagai nabi dan rosul yang diutus oleh Allah SWT di jazirah arab, tentu sudah dibekali dengan ilmu dan pengetahuan akan kondisi masyarakat arab dan sebagainya yang manfaatnya untuk memudahkan Nabi Muhammad SAW dalam mendidik kaumnya dari zaman jahiliah atau zaman kebodohan ke zaman yang lebih beradab.
Sebagaimana kita ketahui bersama, Nabi Muhammad SAW memiliki empat sifat utama, di mana sifat tersebut sudah terbukti kebenarannya membentuk generasi tangguh yang mampu menjadi penerus Nabi Muhammad SAW dalam mendidik kaum arab jahiliah setelah beliau wafat.
Adanya generasi khulafaur rasyidin, dengan sahabat Abu Bakar Ash shidiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abu Thalib sebagai penerus nabi, adalah salah satu bukti generasi tangguh hasil didikan Nabi Muhammad SAW yang mampu menjadi penerus nabi dalam dakwah memerangi segala bentuk kejahiliyahan atau kebodohan masyarakat arab waktu tersebut.
Guru, sebagai pendidik yang berperan penting dalam membangun jiwa generasi penerus bangsa hendaknya juga bisa meneladani nilai-nilai positif sifat keteladanan Nabi Muhammad SAW tersebut.
Apalagi dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dikatakan, bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Oleh karena itu, sudah menjadi ketentuan wajib bagi guru untuk menjadi guru profesional yang kompeten dan tangguh serta memiliki jiwa keteladanan sifat-sifat utama nabi Muhammad SAW, yang meliputi sifat shidiq, amanah, tabligh, dan fatonah.
Sifat yang pertama adalah Shidiq atau benar. Seorang guru, jika menginginkan peserta didiknya menjadi generasi yang tangguh dan tahan banting terhadap segala bentuk paparan karakter negatif, guru hendaknya juga memiliki sifat dan karakter shidiq di dalamnya.
Artinya, apa yang diajarkan oleh guru hendaknya hal yang sifatnya benar atau bukan salah atau bahkan hoaks di dalamnya. Sehingga dengan guru memiliki sifat Shidiq secara langsung maupun tidak langsung, guru juga berkarakter benar dan jujur, yang oleh Mahatma Gandhi dikatakan bahwa inti dari moralitas adalah kejujuran.
Sifat keteladanan Nabi Muhammad SAW selanjutnya yang patut diteladani guru adalah sifat amanah atau sifat dapat dipercaya. Mengapa sifat amanah sangat penting bagi guru? Sesuai dengan tupoksi guru dalam undang-undang, yaitu mendidik dan mengajar siswa, tidak mungkin seorang guru dalam mendidik siswanya asal didik, atau melakukan malpraktik dalam pendidikan. Tidak mungkin pula, seorang guru dalam mendidik siswanya hanya asal masuk (asma) ataupun bentuk kelalaian lainnya.
Oleh sebab itu, sikap amanah penting bagi guru. Karena dengan guru memiliki amanah yang baik, guru dalam mendidik siswa pasti akan mengeluarkan kemampuan terbaiknya, guru juga akan memberikan pelayanan prima kepada siswa. Selain itu, guru juga sadar bahwa siswa adalah mendidik siswa adalah salah satu jalan untuk menggapai ridho Allah SWT sebagai bentuk menjalankan amanah dari orang tua untuk mendidik siswa menjadi generasi yang unggul dan bermoral.
Sifat selanjutnya adalah tabligh atau menyampaikan. Sebagaimana Nabi Muhammad dalam mendidik kaumnya menjadi generasi bermoral, guru hendaknya juga menyampaikan atau mendidik kebaikan terhadap anak didiknya. Guru hendaknya juga menjadi teladan bagi siswanya.
Apalagi tidak semua siswa mempunyai latar belakang sama antara satu dengan yang lainnya. Sehingga sudah menjadi kewajiban bagi guru untuk menjadi teladan keberagaman siswa. mulai dari kecerdasan yang beragam, sampai latar belakang keluarga yang beragam pula. Di sinilah peran guru dalam membentuk jiwa tangguh siswa dengan cara menyampaikan kebenaran dan menunjukkan keteladanan kepada siswa. Dengan harapan, di masa mendatang siswa bisa lebih percaya diri dan yakin akan manfaatnya terhadap sesama.
Sifat keteladanan Nabi Muhammad SAW selanjutnya yang wajib diteladani guru adalah fatonah atau cerdas. Ya, guru harus cerdas! Artinya seorang guru harus cerdas dalam mengenali karakter siswa. Dengan sikap cerdas, guru juga akan lebih bijak, dan hati-hati dalam mendidik siswanya. Dengan cerdas pula, guru juga akan mampu meningkatkan kompetensi yang dimilikinya untuk kemudian disampaikan kepada siswanya.
Selain itu, dengan sikap cerdas, guru juga bisa menjadi penyelam yang baik bagi siswa. Guru juga sadar, bahwa kecerdasan siswa juga beragam atau siswa tidak hanya cerdas intelektual saja. Tetapi guru sadar bahwa siswa juga memiliki kecerdasan majemuk, mulai dari kecerdasan matematic logic, linguistik, spacial, intrapersonal, interpersonal sampai kecerdasan naturalis.
Banyak manfaat positif yang diperoleh guru jika guru bisa meneladani sifat wajib Nabi Muhammad SAW tersebut. Diantaranya adalah guru lebih mudah dalam membentuk siswa menjadi generasi tangguh karena guru sudah memiliki model yang tepat dalam mendidik siswa.
Manfaat kedua, guru mampu menginspirasi siswa untuk selalu menjadi teladan bagi diri, keluarga dan temannya lingkungannya. Sehingga, dengan adanya dampak saling teladan berketaladanan ini harapannya karakter tangguh siswa  terbentuk dan siswa mampu menjadi inspirasi bagi siswa lainnya.
Manfaat yang ketiga adalah tujuan nasional bangsa Indonesia akan tercapai. Mengapa demikian? Ini dikarenakan dengan adanya dampak langsung yang ditimbulkan dari sikap keteladanan guru dan siswa, budaya positif bangsa terbentuk. Sehingga suasana kondusif dalam bernegara dan bermasyarakat juga tercapai.
Dibutuhkan keseriusan dan komitmen dari guru dan stake holder terkait agar keteladanan positif tersebut agar bisa menjadi budaya luhur tiap elemen masyarakat. Dan sesuai dengan tema HGN “Membangun Pendidikan Karakter Melalui Keteladanan Guru”  tahun ini, guru benar-benar bisa menjadi teladan bagi sesama dengan pemodelan dan praktik yang baik dalam kesehariannya.
Dan dengan momentum Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Guru Nasional yang hampir bersamaan. Mari kita tingkatkan karakter saling memberi ketedalanan dalam bersikap, bertutur kata dan berperilaku, sehingga antara satu komponen dengan komponen lain saling menguatkan dan saling menginspirasi untuk menjadi generasi tangguh dan bermoral. Tentu demi Indonesia yang semakin beradab.

Nur Rakhmat, S.Pd.
Guru SDN Kalibanteng Kidul 01  Kota Semarang. HP. 081542557038
Alamat : Jalan Candi Intan V/1129 Rt.7/9 Kelurahan Kalipancur Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang





Senin, 13 November 2017

On 17.56 by Nur Rakhmat in    2 comments
Alhamdulillah ...

Setelah kurang lebih tiga minggu kirim dan belum dimuat, alhamdulillah, Jawa Pos Radar Semarang, 12/11/17...

Semoga berkenan ...


http://radarsemarang.com/2017/11/12/mendidik-siswa-zaman-now/



Mendidik Siswa Zaman Now
Oleh : Nur Rakhmat
“Murid sekarang berbeda dengan waktu sekolah saya dulu ya pak”, itulah kalimat yang diucapkan salah seorang Staf Kementerian Keuangan yang melaksanakan Gerakan Kemenkeu mengajar di Sekolah kami, SDN Kalibanteng Kidul 01 Kota Semarang minggu lalu. Lebih lanjut staf tersebut mengatakan, kalau siswa SD pada zamannya anaknya manut-manut dan cenderung lebih pendiam. Berbeda dengan yang apa yang ditemukannya saat mengajar siswa SD saat ini, mereka siswa SD saat ini cenderung aktif dan atraktif.
Sebagai guru, kami kemudian memberikan gambaran dan penjelasan mengapa siswa zaman dulu berbeda dengan zaman sekarang. diantaranya adalah bahwa, siswa zaman sekarang lahir dan tumbuh di era digital, era yang serba cepat, serba instan dan lain sebagainya. Sedangkan siswa zaman dahulu, mereka cenderung tumbuh dalam lingkungan yang menerima kondisi dengan apa adanya dan selalu bekerja keras untuk mendapat sesuatu.
Maka dari itu, dengan lingkungan yang berbeda tersebut, pasti karakter dan sikap yang tumbuh dan berkembang pada diri siswa juga berbeda pula. Sehingga cara mengekspresikan diri, dan mengaktualisasikan diri siswa dahulu dengan siswa sekarangpun juga berbeda pula.
Fenomena Kids Zaman Now  
            Para pakar bersepakat, bahwa adanya perubahan sikap dan karakter antara siswa zaman dahulu dengan siswa zaman sekarang salah satu penyebab utamanya adalah adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju pesat. Oleh karena itu, adanya keakraban interaksi antara siswa dengan piranti teknologi yang ada saat ini, kita semua tidak bisa memungkiri bahwa siswa saat ini adalah termasuk golongan kids zaman now.
Ya, kids zaman now! Istilah itu akhir-akhir ini menjadi viral di dunia kekinian. Istilah unik yang memadukan dua bahasa menjadi satu istilah ini seolah menggambarkan bahwa kondisi siswa saat ini merupakan salah satu contoh sikap dan perilaku kids zaman now juga.
            Adanya perilaku yang tidak wajar dilakukan siswa, atau perilaku yang seharusnya tidak dilakukan siswa, adalah contoh perilaku kids zaman now yang semakin jauh dari nilai – nilai kesopanan, dan nilai luhur budaya bangsa. Selain itu, siswa yang berani dengan orang tua dan guru, dan suka melakukan hal iseng yang mereka sendiri tidak tahu untuk apa dan apa akibatnya juga adalah beberapa contoh perilaku negative anak zaman now yang dilakukan siswa di sekolah.
            Yang menjadi pertanyaan, mengapa siswa sampai ikut fenomena kids zaman now yang negative tersebut? Sigmun Freud mengatakan bahwa dalam diri manusia terdapat yang namanya “insting kematian” atau kecenderungan-kecenderungan yang bersifat destruktif atau merusak, baik ditujukan bagi orang lain ataupun bagi diri sendiri.(Sugiyarto, 2010: 47)
Oleh karena itu, guru sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap perkembangan siswa di sekolah hendaknya juga bisa lebih menginstrospeksi diri ke arah lebih baik dan menjadi penyelam yang baik bagi siswa. Agar apa? Tentu agar segala polutan atau ancaman  degradasi moral yang semakin besar menyerang siswa tersebut bisa teratasi dengan baik dan benar.
Selain itu, orang tua juga diharapkan bisa menginstrospeksi diri untuk semakin menjadi lebih baik, bisa mendidik anaknya dengan baik, serta menjalin komunikasi yang baik dengan anaknya di rumah. Salah satunya dengan cara mengefektifkan quality time antara anak dengan keluarga di rumah anak merasa lebih diperhatikan dan lebih bisa merasakan kenyamanan bersama dengan keluarga.
Lalu bagaimana langkah efektif mendidik siswa zaman now yang serba kekinian tersebut?
Menjadi Guru Zaman Now
Untuk mendidik siswa zaman now, guru juga hendaknya menjadi guru zaman now. Namun, jangan salah, guru zaman now di sini bukanlah guru yang sukanya berdandan-dandan saja, mengikuti trend mode, ataupun guru yang hanya asal masuk kelas saja dan lain sebagainya.
Namun, guru zaman now di sini adalah guru yang mampu menginspirasi siswanya, guru yang mengenali siswanya tidak hanya nama, namun tahu karakter siswanya masing-masing, dan guru yang memiliki kemampuan dan keterampilan yang bisa diajarkan ke siswa dan bisa digunakan di masyarakat, dan banyak contoh positif lainnya.
Lalu bagaiman menjadi guru zaman now yang baik? Pertama kenali potensi siswa. Hal ini sangatlah penting, karena dengan guru mengenali potensi siswa kesenjangan antara guru dengan siswa bisa diminimalisir. Sehingga, guru dalam mendidik siswa zaman now bisa lebih efektif dan lancar.
Kedua, guru harus selalu mengupdate ilmu pengetahuan. Artinya, guru harus selalu belajar untuk lebih baik lagi, guru harus belajar ilmu pengetahuan baru. Selain memberi teladan siswa untuk selalu belajar, guru yang mau belajar mengupdate ilmu pengetahuan, pasti bisa menginspirasi guru lainnya untuk menjad lebih baik.
Yang ketiga, guru hendaknya memahami bahwa kecerdasan siswa tidaklah sama. Ada yang cerdas matematis, linguistic, logika, intrapersonal, naturalis dan lain sebagainya. Seperti yang disampaikan DR. Howard Gardner, tokoh Multiple Intellegience, bahwa kecerdasan  manusia itu adalah lingusitik, mathematic logic, visual spasial, musical, kinestetis, intrapersonal, interpersonal, dan naturalis. (Munif Chatib, 2013:56).
Sehingga dengan guru mengetahui beragamnya kecerdasan siswa, guru tentu bisa lebih efektif dalam mendidik siswa zaman now, tidak ada lagi berat sebelah dalam pembelajaran, siswa merasa terpenuhi kebutuhan akan kasihsayang seorang guru karena guru tahu apa yang siswa mau.
Keempat adalah bisa berkomunikasi dengan siswa. Artinya, guru bisa berkomunikasi tidak hanya dengan komunikasi verbal saja, tetapi bisa dengan hati, isyarat, dll. Sehingga dengan demikian, jika komunikasi tersebut lancar, siswa pasti bisa menangkap makna atau intisari atau rangkuman diinginkan gurunya.
Yang terakhir untuk menjadi guru zaman now adalah mendidik siswa dengan hati nurani. Artinya, guru haruslah menjadi guru kalbu, guru yang berkarakter dan guru yang mau mendampingi anak-anak menjadi lebih baik lagi.
Akhirnya, perlu keteladanan dan contoh yang baik dari guru, masyarakat dan stake holder lainnya untuk membentuk siswa zaman now menjadi siswa yang positif, berpikiran maju dan kreatif dan mampu diberi tanggungjawab untuk bisa berperan dalam pembangunan nasional.
 Tidak hanya itu, dengan praktik yang baik tersebut, harapannya karakter kids zaman now bisa selalu mengarah ke hal positif dan bisa membudayakan progam penguatan pendidikan karakter di sekolah masing-masing. Tentu demi Indonesia yang lebih hebat dan lebih berkarakter.
Nama   :  Nur Rakhmat,S.Pd. 
Guru  SDN Kalibanteng Kidul 01. UPTD Pendidikan Kecamatan Semarang Barat. Kota Semarang. Hp. 081542557038.
Email : nurrakhmatcahayakasihsayang@yahoo.com
Alamat: Jln. Candi Intan V No.1129 Rt.07 Rw.09 Pasadena Kelurahan Kalipancur Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang


Jumat, 10 November 2017

On 08.39 by Nur Rakhmat in    No comments
“TEBAR PESONA”, Langkah Cerdas Tumpas Hoaks
Oleh : Nur Rakhmat
            Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini semakin maju pesat, termasuk teknologi informasi di dalamnya. Tidak adanya sekat jarak ruang dan waktu serta Informasi yang semakin mudah didapat adalah beberapa contoh semakin majunya teknologi informasi dan komunikasi di era modern ini.
Namun sangat disayangkan, ada oknum yang tidak bertanggungjawab menyalahgunakan dampak positif globalisasi tersebut, tepatnya menyalahgunakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi dengan menyebarkan informasi palsu yang tidak sesuai dengan aslinya, atau disebut juga hoaks.
Hoaks sebagaimana dikutip dari kbbi.kemdikbud.go.id dalam versi daring adalah berita bohong. ( https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/Hoaks, diakses 09 November 2017, pukul 04.30 WIB ). Oleh karena itu, berdasarkan makna tersebut, sudah seharusnya kita tidak termakan berita hoaks apalagi menyebarkan hoaks dengan tujuan menyesatkan informasi yang sudah ada.
Namun kenyataan saat ini, informasi yang benar dan informasi yang sifatnya hoaks, sangatlah sulit untuk kita bedakan. Sehingga, banyak dari kita yang termakan berita hoaks tersebut, dan ikut membagikan informasi tersebut melalui media sosial yang kita miliki.
Diantara contoh berita hoaks yang beberapa waktu lalu menjadi viral diantaranya adalah adanya kandungan berbahaya dalam minuman serbuk yang bisa menyebabkan batuk dan pengerasan otak, kandungan berbahaya pada nasi yang berubah warna menjadi biru setelah ditetesi obat antiseptik tertentu adalah contoh berita hoaks yang sangat meresahkan dan menyesatkan kita semua.
Dan jika tidak segera diantisipasi dengan melakukan kajian mendalam, dan pelurusan informasi, bukan tidak mungkin hoaks tersebut menjadi benar dan tidak menjadi berita hoaks. Selain itu, jika hoaks dibiarkan merajalela, bukan tidak mungkin kerusakan moral akibat malinformasi dan perpecahan bangsa atau disintegrasi bangsa terjadi, mengingat peredaran berita hoaks sangat masif dan masuk ke semua lini kehidupan masyarakat.
Pendidikan sebagai pilar utama mencerdaskan kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat berperan penting dalam mencegah beredarnya berita hoaks. Terlebih dikatakan dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke empat bahwa salah satu tujuan nasional Bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.
Oleh karena itu, agar masyarakat bisa mencapai titik puncak kecerdasan dan bangsa ini bisa dikatakan cerdas, pendidikan haruslah bisa menjadi protektor atau pelindung masyarakat dan generasi bangsa ini dari seluruh ancaman yang mengancam eksistensi dan kredibilitas bangsa, termasuk mencegah tersebarnya hoaks di seluruh elemen masyarakat.
Mengapa pendidikan penting menjadi protektor? Hal ini dikarenakan pendidikan bersifat terus menerus, pendidikan juga bersifat membentuk daya nalar dan pendidikan juga menjadi modal utama dalam pembentukan karakter masyarakat utamanya generasi mudanya.
Bahkan dalam Bab II pasal 3 Undang Undang Nomor 20 tahun 2003, tentang sistem pendidikan nasional, dikatakan, bahwa tujuan nasional pendidikan adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengenmbangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Selain itu, dalam pendapat lain dikatakan, bahwa adulthood ( kedewasaan ) adalah tujuan umum pendidikan, tujuan esensial dari pendidikan, tujuan lengkap, dan tujuan akhir pendidikan. ( Waini R, 2104 : 99 ).
Oleh karena itu, guna menangkal berita hoaks, pendidikan dengan kecerdasan yang ada di dalamnya menjadi syarat utama dalam memberantas hoaks sampai ke akar-akarnya. Sehingga, mutlak bagi seluruh elemen masyarakat bersikap dewasa dan cerdas dalam berkomunikasi, cerdas dalam bersosialisasi, dan cerdas dalam memberantas hoaks di dalamnya.
Lalu langkah cerdas apa yang bisa dilakukan generasi yang hidup di era modern ini dan generasi zaman now dalam memberantas hoaks? “TEBAR PESONA”. Ya, “TEBAR PESONA” hemat kami adalah langkah cerdas guna menangkal maraknya berita hoaks yang ada di masyarakat.
Kemudian, apa yang dimaksud “TEBAR PESONA” tersebut? “TEBAR PESONA” merupakan sebuah akronim dari kata terima, baca, resapi, pelajari, sosialisasikan dan nyatakan. Artinya, jika ada berita hoaks langkah langkah yang hendaknya kita ambil sebagai bentuk identifikasi dan antisipasi adalah dengan sikap “TEBAR PESONA”.
Dan langkah “TEBAR PESONA” yang pertama adalah terima. Artinya jika ada informasi atau berita, baik itu berita hoaks atau bukan, langkah kita pertama kali adalah menerima berita tersebut dengan baik. Dengan tujuan, setelah kita menerima kita bisa menelaah dan menindaklanjuti, kemudian mengambil langkah apa yang seharusnya dilakukan.
Yang kedua adalah baca. Setelah kita menerima, otomatis kita juga membaca berita tersebut. Bentuk membaca berita atau informasi tersebut bukan hanya membaca dalam arti harfiah saja. Tetapi baca di sini mempunyai arti kedewasaan diri dalam menyikapi informasi yang kita terima. Dengan harapan, bilamana informasi tersebut benar, bisa dimanfaatkan dan bilamana informasi tersebut salah atau kurang tepat bisa diluruskan dengan mengkaji dan menggali informasi tersebut lebih jauh.
Kemudian yang ketiga adalah resapi. Setelah kita menerima informasi, kemudian membaca, langkah selanjutnya adalah meresapi. Artinya, setelah kita membaca dengan seksama diikuti dengan pertimbangan yang matang, hendaknya kita juga meresapi dan menghayati apakah informasi tersebut baik atau tidak? Apakah informasi tersebut benar atau tidak?
Lalu jika informasi sudah benar, informasi tersebut mau diapakan? Dan jikalau informasi tersebut juga belum benar mau diapakan? Apakah diabaikan? Atau ditelaah lebih lanjut? Nah, di sinilah peran penting penghayatan sebagai bagian kepribadian tiap individu dalam menerima setiap informasi yang diterima oleh masing-masing individu tersebut.
Langkah cerdas berikutnya adalah pelajari. Langkah ini merupakan langkah nyata dalam menerima setiap informasi yang diterima. Baik itu hoaks ataupun info yang benar. namun, dalam kaitannya dengan hoaks, langkah pelajari ini merupakan langkah utama dalam menerima informasi.
Mengapa demikian? Dengan mempelajari berita yang ada, secara tidak langsung kita juga belajar memecahkan masalah berbasis CTL (Contextual Teaching and Learning). Atau belajar dengan sistem yang menyeluruh dan terjalin jaringan antara bagian satu dengan bagian yang lain. Bahkan Elaine B Johnson, PH.D. dalam bukunya Contextual Teaching & Learning, menyatakan bahwa dengan CTL pendidikan akan lebih bermakna dan mampu memberikan pengalaman baru yang meransang otak menemukan makna baru dalam pembelajaran.(Elaine B. Johnson, 2006: 65).
Langkah cerdas selanjutnya setelah kita pelajari adalah sosialisasikan. Artinya, setelah semua fase sudah dilalui, sosialisasi atau penyampaian informasi hasil mempelajari informasi benar tidaknya informasi sangatlah ditunggu oleh semua elemen masyarakat. Agar apa? tentu agar masyarakat mengetahui benar tidaknya informasi yang mereka dapatkan.
Dan setelah masyarakat tahu benar tidaknya informasi yang diterima, langkah cerdas yang pamungkas atau terakhir adalah NyAtakan. Ya, menyatakan berita tersebut benar atau tidak. Fase manyatakan kebenaran informasi ini sangatlah penting, agar apa? Tentu agar semua elemen masyarakat sadar dan tahu akan benar tidaknya informasi yang mereka terima.
Sehingga, dengan semua elemen masyarakat sadar dan tahu benar tidaknya informasi yang diterima. Masyarakat akan lebih cerdas dan lebih tajam sikap kritis dan kreatifitasnya, utamanya dalam menangkal informasi yang sifatnya hoaks.
Selain itu, langkah “TEBAR PESONA” dalam menangkal hoaks tersebut tidak hanya semata-mata menangkal hoaks saja. Tetapi sekaligus sebagai respon bahwa tidak selamanya berita hoaks mengakibatkan dampak negatif bagi yang menerimanya. Artinya, dalam berita hoaks, kalau kita mau menelaah lebih dalam, ada nilai karakter di dalamnya. Seperti, karakter pembelajar dalam wujud mencari kebenaran informasi dan karakter nasionalis dalam usaha mencegah perpecahan bangsa yang diakibatkan oleh hoaks.
Bahkan karakter positif sebagai wujud pendidikan karakter dalam menerima informasi hoaks seperti sikap pantang menyerah, religius, sabar, cermat, nasionalisme, menyikapi hoaks dengan bijak, dewasa, bersikap kreatif dan karakter positif lainnya juga ada dalam usaha kita mencari kebenaran informasi apakah hoaks atau bukan hoaks.( Nur Rakhmat. Jawa Pos Radar Semarang. Hoax dan Pendidikan Karakter Bangsa, 16/04/17)
Kemudian, untuk menindaklanjuti adanya nilai karakter dalam berita atau informasi hoaks itu benar adanya adalah kami buktikan dengan melakukan percobaan bersama siswa saat pembelajaran. Saat itu, kami sedang mempelajari materi pengayaan pelajaran IPA tentang kandungan vitamin dan zat berguna dalam makanan. Materi tersebut kami sampaikan saat pembahasan kisi-kisi Ujian Sekolah.
Saat mempelajari materi tersebut, di media sosial marak berita ibu ibu khawatir dengan kandungan bahan kimia berbahaya dalam beras. Jika nasi berwarna biru apabila ditetesi cairan antiseptik itu berarti mengandung pengawet, jika berubah warna menjadi hitam, maka nasi tersebut mengandung pemutih. Dan anak-anak banyak juga yang terpengaruh dengan berita tersebut. Sehingga membuat kami merasa terpanggil mengajak anak-anak untuk bersama-sama mencari benar tidaknya informasi tersebut.
Yang pertama kami lakukan adalah, mengelompokkan anak menjadi beberapa kelompok, kemudian setelah itu anak-anak kami beri nasi putih dan satu buah larutan antiseptik. Banyak anak yang bertanya, untuk apa nasinya dan untuk apa obat antiseptiknya.
Setelah kami jelaskan, anak-anak kemudian paham, bahwa nasi dan cairan antiseptik yang dibawa tersebut digunakan untuk percobaan mengetes kebenaran informasi tentang nasi yang berwarna biru mengandung pengawet tersebut benar apa tidak.
Satu persatu anak-anak mencoba dan meneteskan cairan antiseptik ke nasi lalu mengamati perubahan yang terjadi. Di sini, anak bertanya lagi, “pak nasinya kok berubah warna menjadi ungu? Apakah ini mengandung pengawet pak?”
Setelah dirasa cukup melakukan percobaan, kami kemudian mengajak anak-anak menyimpulkan bersama hasil percobaannya, ada anak yang menjawab tidak berbahaya jika nasi berubah warna dan ada anak yang menjawab berbahaya jika nasi berubah warna. Dan agar anak tahu kebenarannya, kemudian kami menjelaskan ke anak, bahwa nasi yang berwarna biru setelah ditetesi obat anti septik tersebut tidaklah berbahaya.
Dan warna biru yang ditimbulkannya adalah sebagai bentuk akibat dari zat amilum yang terkandung dalam nasi sebagai salah satu sumber karbohidrat manusia. Dan jika antara amilum dan zat yang terkandung dalam obat antiseptik yaitu iodin bertemu, maka terjadilah perubahan warna, dan itu tidak berbahaya. Setelah mendengar penjelasan guru dan melakukan percobaan sendiri, anak-anak akhirnya tahu dan paham bahwa warna biru pada beras atau nasi jika ditetesi obat anti septik tidaklah berbahaya. Dan bisa ditebak, berarti informasi yang diterima sebelumnya adalah berita hoaks.
Dari kejadian tersebut kami melihat, ternyata anak-anak sangat tertarik jika mempelajari sesuatu yang baru, apalagi belajarnya menggunakan media dan langsung kontekstual sesuai dengan kondisi nyata yang ada. Sehingga kami menyimpulkan, dalam berita hoaks, jika kita mau berusaha untuk menemukan kebenarannya, banyak nilai karakter yang terkandung sebagai bentuk pendidikan karakter terhadap anak-anak dan kita semua.
Selain itu, dengan anak-anak mempelajari berita apakah hoaks atau bukan, kami berharap mereka bisa menjadi agen perubahan, menjadi agen cerdas anti hoaks yang selalu belajar, selalu pantang menyerah melawan hoaks dan menumpas hoaks dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, demi Indonesia bebas hoaks di masa mendatang.
Maka dari itu, mari kita tumpas hoaks saat ini juga, tentu dengan penuh “TEBAR PESONA” sebagai bentuk sikap kedewasaan kita terhadap maraknya informasi hoaks yang ada di masyarakat. Dengan penuh kesadaran, dengan penuh kesabaran dan penuh keikhlasan pada diri kita.
Selain itu, marilah kita bentengi diri kita, keluarga kita, dan saudara-saudara kita dengan kecerdasan yang kita miliki agar tidak terjebak informasi hoaks. Tidak hanya kecerdasan intelektual yang kita gunakan, tetapi kecerdasan spiritual sebagai mahluk Tuhan adalah pondasi utama dalam menangkal berita hoaks. Dengan harapan, tercapainya Indonesia cerdas dan bebas hoaks. Amin ...
Tumpas hoaks dengan “TEBAR PESONA” ? Mengapa tidak?

Daftar Pusataka
B. Johnson, Elaini. 2006. Contextual Teaching & Learning : Menjadikan Kegiatan Belajar-Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna. Bandung : Mizan Media Utama.
https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/Hoaks, diakses 09 November 2017, pukul 04.30 WIB.
Rakhmat, Nur. Jawa Pos Radar Semarang. Hoax dan Pendidikan Karakter Bangsa, 16 April 2017.
Rasyidin, Waini. 2014. Pedagogik Teoritis dan Praktis. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya.
Tim Redaksi Nuansa Aullia.2006. Himpunan Perundang-Undangan RI. Bandung : CV. Nuansa Aullia

Biodata Penulis
Nama                           : Nur Rakhmat
Nama Sekolah             : SDN Kalibanteng Kidul 01 Kota Semarang
Alamat Sekolah           : Jln. WR Supratman 22-23 Kota Semarang

Link URL posting       : https://www.facebook.com/nur.rakhmat.167/posts/741142252750383