Oleh: Nur Rakhmat, S.Pd

Tampilkan postingan dengan label Cerita Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Anak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Februari 2021

On 00.51 by Nur Rakhmat in    No comments

 

Belajar Nyata Maya

Karya : Nur Rakhmat

“ Kak, ini kok jadi seperti ini? ”

Seperti biasanya pagi itu, adikku yang bernama Maya sedang belajar bersama guru dan teman teman secara langsung dengan menggunakan di gawainya yang memerlukan cukup banyak kuota. Kebetulan tiba – tiba video yang ditonton tidak bisa berputar.

“ Kak Raya, Kakak di mana? “ teriak Maya semakin lebih keras.

“ Sebentar Maya, ini kakak sedang  jalan! “

Terpaksa aku yang sedang mencuci baju seragamku dan Maya adikku menuju ke Maya yang sedang bingung menghadapi gawainya yang videonya tidak bergerak.

“ Oooalah ... ternyata paketan internetmu sudah habis May! “

“Mana buktinya kak? Ini penting soalnya Kak. Nanti aku takut ketinggalan pelajaran dari  Bu Guru Kak! “

Dasar Maya adikku, selalu ada saja yang dia sampaikan setiap menemui masalah yang dihadapinya. Tapi memang, aku dengarkan dari jauh, saat itu dia sedang mendengarkan penjelasan penting dari Bu Guru.

“ Yaudah sana Dek, kamu beli paket data di warung konter Pak Salim ya? Nih uangnya, tadi uang saku kakak sisa. “

Tanpa basa basi, Maya langsung lari ke warung Pak Salim. Namun, baru beberapa langkah, dari arah samping rumahnya terlihat Arya tertunduk lesu sambil sesekali melihat genggaman tangannya.

Dan tiba-tiba ...

Grubak !!

“ Aduh sakit ... “

Kulihat Arya mengerang kesakitan sambil memegang tangannya yang terlihat lecet. Dan Maya yang jatuh, juga terlihat mengerang kesakitan sambil teriak teriak

“ Jalan kok tidak lihat lihat, nih jadinya kayak gini! “ teriak Maya kepada Arya.

Terlihat Arya diam sambil berusaha bangkit dan mencari cari sesuatu seperti ada yang hilang.

“ Uangku di mana ya ? tadi saat tertabrak kamu, jatuhnya di mana May? “

“ Lo, Kamu menuduhku mengambil uangmu yang jatuh ? “ Jawab Maya sambil terlihat marah.

“ Aku tidak menuduhmu? Ya, siapa tahu tadi kamu tahu? “ Tukas Arya.

Kulihat mereka berdua semakin tidak karuan, bukannya berhenti, justru mereka semakin terlihat seperti hendak bertengkar.

“ Hei, Maya , apa yang kamu lakukan? “ Tanyaku ke Maya sambil berlari ke arah mereka berdua.

“ Arya menuduhku, mengambil uangnya Kak? “ kata Maya sambil berteriak seperti biasa.

“Aku tidak menuduhmu, Aku hanya bertanya di mana jatuhnya” bela Arya.

Saat mereka saling bersahut sahutan bicara terlihat, tidak jauh dari Maya, gumpalan kertas yang seolah olah seperti uang kertas.

“ Coba,di dekatmu itu May, ada gumpalan kertas, kamu lihat uang bukan? “

“Iya Kak, ini uang ! “

“ Itu uangku, itu uangku, itu uangku ..., rengek Arya yang melihat uangnya di bawa Maya.

Terlihat Arya merengek minta dikembalikan sambil mengusap usap air matanya.

“ Nih, uangmu ! Makanya hati hati jalan ! “ kata Maya kepada Arya.

Dasar Maya, masih saja mengganggu dan suka jahil kepada temannya. Sudah tahu Arya tergesa gesa seolah mau pergi ke tempat yang penting.

“Memangnya kamu mau kemana? ‘ tanyaku kepada Arya.

“ Iya Kak, aku mau ke warung Pak Salim mau membeli paket data pulsa karena saat belajar bersama tadi, tiba tiba tidak memutar videonya.” Jawab Arya.

“ Ngapain kamu, ke warung Pak Salim? “ tanya Maya Penasaran.

“ Aku hendak membeli data, May. Namun, uangku tinggal segini tidak cukup untuk ikut belajar sambil melihat video dari bapak ibu guru. “ Jawab Arya.

“Eh, apa gini aja. Sebagai permintaan maaf karena telah menuduhmu mengambil uangku. Ini kukasih sedikit uang tambahan untuk beli paketannya. “ kata Maya ke Arya.

“ Bener May ? “

Aku dan Arya serentak tidak percaya Maya bisa bersikap seperti itu. Sungguh di luar kebiasaan Maya.

“ Iya Kak, tenang Arya. Ini semua agar kamu bisa belajar bersama bapak ibu guru dan teman temanmu. Karena akupun sudah pernah mengalaminya. Tenang saja Kak. “

“ Oke May, terimakasih ya May. Akhirnya setelah dari warung Pak Salim aku bisa belajar lagi nanti” Kata Arya ke Maya.

“ Ya udah May, aku ke warung Pak Salim dulu ya.” Ucap Arya sambil berlari kembali sambil melambaikan tangan.

Terlihat Arya sudah hampir sampai di warung Pak Salim dan aku bersama adikku pulang terlebih dahulu ke rumah dan tidak jadi ke warung Pak Salim.

“May, kamu kok tumben mau berbagi ke temanmu? Biasanya kamu paling jago untuk pelit ... he he he “ tanyaku kepada adikku Maya.

  He he he, kan aku peduli Kak? “

“ Jadi aku berikan sebagian uangku ke Arya. Lagian kan, aku masih ada sisa sedikit kak !”

“ La, terus nanti sisa uangnya dari mana? “

“ Jelas dong, ya dari uang kakak! “

“ Maya, maya, kok ke kakak lagi? “

“ Ya, kan. Kakak yang paling tua, jadi kakak wajib tanggung jawab. “

“ Ya, benar juga sih. Jadi kakak harus tanggung jawab dan peduli kepada semuanya.

“ Nah, setuju kak ! Jadi nanti kita bareng bareng belajar untuk peduli dengan kondisi lingkungan.”

“ Betul sekali ajakanmu Maya. Peduli dan memiliki rasa empati dan simpati juga sangat bagus dan merupakan bentuk belajar nyata dan realita untuk kita, Maya.” Kata kakek yang tiba tiba datang dari balik pintu belakangku.

“Karena belajar ya tidak hanya videonan ataupun youtuban saja, namun juga membutuhkan langkah riel dalam kehidupan nyata. Contohnya seperti tadi, walaupun kamu kesulitan dan membutuhkan, kamu tetap berbagi ke temanmu “ lanjut kakek.

“Iya kek, terimakasih kek “ kataku kepada kakek yang selalu merawat aku dan adikku.

“Hore, jadi aku tadi juga belajar ya Kak, jadi tidak ketinggalan belajar Kak! Asyik”

Terlihat Maya sangat senang dan gembira mendengar petuah kakek. Benar benar belajar nyata buat Maya.

Selamat Membaca dan selamat menikmati

Selasa, 09 Februari 2021

On 03.11 by Nur Rakhmat in    20 comments

 

Komentar Cilla

Oleh: Nur Rakhmat

“Paraah! Berangkat sekolah kok terlambat.” seloroh Cilla kepada Riza. Riza yang merasa tersinggung tersenyum sewot. “Huh, coba kalau bu guru belum masuk kelas, sudah kuremet-remet dia!” Gerutu Riza dalam hati sambil menunjukkan muka marah.

“Maaf bu, saya terlambat. Tadi mama belum menyiapkan sarapan, jadi harus nunggu dulu.”

“Modus bu, paling dia bangun kesiangan!” Timpal Cilla, yang diikuti riuh tawa teman sekelas.

“Anak-anak jangan ribut, kasihan Riza. Riza lain kali datang lebih awal ya, ayo duduk di bangkumu nak.” Kata bu guru sambil tersenyum hangat.

Sambil memendam jengkel, sebenarnya Riza merasa bersalah pada bu guru, karena terlambatnya bukan menunggu bekal untuk dibawa sekolah. Riza terlambat memang karena bangun kesiangan akibat menonton pertandingan siaran langsung lomba atletik di televisi sampai malam.

“Ah, apa boleh buat, yang penting aku tidak dimarahi bu guru.” Gumam Riza dalam hati gembira.

Namun, setiap ingat apa yang dikatakan Cilla, Riza selalu merasa jengkel. Karena bukan kali ini saja Cilla berkata blak-blakan kepada Riza.

***

Teet … teeet … teeet. Bel pulang berbunyi, siswa kelas VI pun menghambur keluar kelas. Ada yang langsung pulang, jajan dulu dan ada pula yang bermain di lapangan sambil menunggu jemputan. Riza, Zia, dan Toma yang biasanya langsung pulang, memilih santai sambil duduk-duduk di gazebo yang terletak di pojok lapangan sekolah.

“Hey, dari tadi wajahmu kok di tekuk terus, memangnya kamu kenapa Za?” Tanya Zia yang heran pada sikap tak biasa Riza.

Sambil jengkel. “Huh!! Bete aku sama Cilla, masa dia selalu bicara ceplas-ceplos kepadaku, memangnya dia siapa?”

“Memangnya kenapa dengan Cilla, apa kamu naksir…? He he he.” Seloroh Toma yang dari tadi asyik memperhatikan ramainya suasana pulang sekolah.

“Husssh…! Sembarangan, boro-boro naksir, kalau jengkel iya! Andai dia laki-laki, sudah aku tantang dia adu cepat lari denganku!” Kata Riza meluap-meluap karena saking jengkelnya pada Cilla.

Tantangan Riza kepada Cilla cukup beralasan, karena memang Riza adalah atlet putra andalan sekolah dan Cilla juga atlet putri andalan di sekolah yang sama.

“Jengkel boleh Za, tapi kamu jangan sampai kelewat batas.” Kata Toma.

“Betul Za, jangan sampai saking jengkelnya, kamu nanti kena hukuman dari bu guru.” Lanjut Zia.

“Makanya, kalau tidak ingin dapat komentar Cilla jangan terlambat.” Timpal Toma.

“Lo….kok kamu membela Cilla, Tom?” Tanya Riza kepada Toma heran.

Toma tidak langsung menjawab pertanyan Riza. Mereka terdiam sambil melihat ke sekeliling sekolah yang terlihat sudah agak sepi.

Sambil menghela napas. “Sebenarnya kamu bukan yang pertama kali mendapat komentar Cilla, Za.” Tiba-tiba Zia berbicara memecah kebekuan antara Riza dan Toma.

“Aku dan Toma pun kemarin pernah mengalami nasib seperti kamu.” Lanjut Zia.

“Memangnya kalian berdua pernah mendapat komentar apa dari Cilla?” Tanya Riza heran.

“Kemarin sewaktu ada PR matematika, aku belum selesai mengerjakannya. Lalu aku berangkat lebih awal supaya bisa mengerjakannya di sekolah.” Kata Toma.

“Ee … baru aja mau buka buku, tiba-tiba Cilla berkomentar juga. Hari gini belum mengerjakan PR, apa kata dunia! Dia komen begitu sama aku. Untung bu guru belum datang.” Lanjut Toma.

“Dia bilang begitu sama kamu, Tom? Tanya Riza terlihat semakin jengkel.

“Lalu kamu dikomentari apa Zia?” Tanya Riza pada Zia yang dari tadi keheranan melihat jengkelnya Riza pada Cilla.

“Kalau aku sih, kemarin waktu habis jajan aku membuang bungkus jajan sembarangan. Dia komentar, 2014 kok nyampah! Seperti itu komentarnya.” Kata zia.

“Untung aku segera mengambil kembali dan memasukkannya ke tempat sampah. Karena waktu itu bu guru kebetulan piket keliling. Coba kalau tidak segera kuambil, bisa kena hukuman aku!” Lanjut Zia.

Saat mereka bertiga sedang asyik membicarakan Cilla, terlihat Bongka dari kelas berlari menghampiri mereka.

Sambil ngos-ngosan. “Hosh…hosh…. Kalian bertiga belum pulang ya…dari tadi aku cari kemana-mana, ternyata kalian ada di sini. Pasti sedang membicarakan Cilla, tu kelihatan muka jengkel Riza.” Celetuk Bongka.

“Sudah tidak usah dipikirin, memang dia kalau bicara ceplas-ceplos, tapi dia baik hati kok. Yuk, kita pulang bersama!” Ajak Bongka.

***

            Di hari berikutnya, sebelum pelajaran berlangsung, rutin diadakan Jum’at bersih. Karena di sekolah ini sudah membudaya slogan Jum’at bersih, Sabtu hijau, Minggu sehat.

            “Riza, kerja bakti belum selesai sudah buang sampah sembarangan!” Terdengar suara bu guru nyaring.

“Ayo, cepat ambil!” Lanjut bu guru yang dari awal ikut kerja bakti sambil membimbing anak-anak kelas VI.

            Sambil tertunduk malu, Riza lalu memungut kembali sampah bungkus minuman ringan yang dia buang sembarangan.

Bongka yang sedang menyapu di dekat Riza menimpali, “Makanya, lain kali kerja yang benar. Lagian buang sampah sembarangan!”

“Kamu tu ya, bisanya ngeledek, harusnya tadi kamu beritahu aku kalau ada bu guru!” Kata Riza kepada Bongka.

“Coba kalau ada Cilla, mungkin lain ceritanya.” Kata Riza lirih.

Bongka yang mendengar sahabatnya bergumam hanya tersenyum. “Nah…akhirnya ingat Cilla juga kan? Cie..cie…Makanya jangan jengkel sama teman sendiri. Komentar, walau terkadang menyakitkan harus tetap diterima.”

Sambil meresapi apa yang dikatakan Bongka. “Oiya, dimana Cilla.” Kata Riza dalam hati.

Beberapa saat kemudian Riza ingat, kalau tadi di awal pelajaran ada surat izin di meja guru. “Mungkin itu surat izin Cilla.” Pikir Riza.

Dalam hati Riza membenarkan apa yang dikatakan Bongka, komentar walaupun terkadang kritik yang menyakitkan  memang ada gunanya

“Cilla, kutunggu komentarmu!” Teriak Riza dalam hati.

Dan sejak saat itu, Riza yang tadinya mukanya selalu cemberut akibat komentar Cilla sekarang menjadi lebih terlihat ceria serta berusaha untuk merubah kebiasaan buruknya supaya terhindar dari komentar lebih pedas Cilla.

 

 

 

 

Minggu, 07 Februari 2021

On 20.37 by Nur Rakhmat in    24 comments

 

 

Anak Gadis Bermata Sendu

Oleh : Nur Rakhmat

“Mama, siapa anak itu?” tanyaku pada Mama.

“O…Dia tetangga baru kita, Mira.” jawab Mama.

Aku berteriak girang, akhirnya aku punya teman baru yang bisa kuajak bermain setiap saat. Ah, aku tadi lupa bertanya ke Mama siapa namanya. Tak apalah, yang penting aku punya teman baru. Pikirku dalam hati sambil melahap bubur kacang ijo buatan Mama. Tapi, sepertinya ada yang aneh dengan anak itu.

Setelah sarapan, aku menghampiri Mama.

“Ma, aku berangkat sekolah dulu ya.” Pamitku, lalu mencium punggung tangan Mama.

Hari ini aku sangat senang, karena ada pelajaran Matematika kesukaanku. Matematika adalah pelajaran yang mengasyikkan dan menyenangkan, karena aku bisa bermain dengan angka-angka. Ya, walau menurut beberapa teman Matematika cukup sulit.

“Selamat pagi anak-anak.” salam Bu Guru sambil tersenyum.

“Anak-anak, ada berita gembira untuk kalian!” lanjut Bu Guru.

Aku dan teman-teman menerka-nerka ada apa gerangan. Apakah ada berita piknik saat liburan Semester nanti?

“Anak-anak, hari ini kalian punya teman baru. Ayo masuk Kiki, tidak usah malu-malu.” kata Bu Guru.

Teman baru? Aku penasaran siapa teman baruku itu. Oh, ternyata dia tetangga baruku. Dan bila kuperhatikan, memang ada yang aneh dengan Kiki. Selain matanya sendu dan terlihat lelah, dia juga membawa kantung hitam di tangannya.

“Kiki, kamu duduk dengan Mira ya,” kata Bu Guru.

Aku kaget saat Bu Guru menyuruh Kiki duduk denganku. Tak apalah karena memang hanya aku yang duduk sendirian di kelas.  

“Kenalkan, namaku Mira,” aku mengajaknya berkenalan.

“Oh, aku Kiki.” Jawab Kiki singkat.

Hanya sebatas itulah perkenalan kami. Namun itulah yang menambah penasaranku pada Kiki. Terlebih rambut yang terurai panjang dan kulit hitam legam, menambah kesan dingin Kiki. Selama pelajaranpun, Kiki tidak banyak bicara. Dia hanya memperhatikan penjelasan Bu Guru sambil sesekali tanya kepadaku bila menemukan kesulitan. Bahkan saat istirahat, dia tidak jajan. Hanya saja, diawal istirahat, dia terlihat membawa kantung hitam itu ke kantin. Anak yang aneh! Gumamku dalam hati.

“Assalamualaikum, Ma Aku pulang!”

“Waalaikusalam. E… Mira sudah pulang, bagaimana tadi di sekolah?” tanya Mama.

Aku lalu menceritakan kejadian di sekolah. Aku juga cerita ke Mama kalau anak tetangga baru itu sekolahnya sama denganku. Bahkan satu kelas dan satu bangku lagi. Mama tersenyum, melihat aku bercerita. Namun, sengaja aku tidak menceritakan keanehan Kiki pada Mama.

Setelah makan siang dan istirahat sebentar, aku pamit Mama mau main ke rumah teman. Tetapi, sebenarnya aku ingin tahu mengapa teman baruku matanya selalu sendu. Akupun diam-diam ke rumah Kiki memutar lewat halaman belakang. Tetapi, saat Aku mengendap-endap, tiba-tiba ada suara memanggilku.

“Nak, kamu sedang apa?” tanya ibu yang terlihat agak tua sambil membawa karung besar.

“Ti..ti…tidak apa-apa Bu, aku hanya ingin lewat memutar.” jawabku sekenanya karena ketakutan.

“Ibu bicara dengan siapa?”

Terdengar suara Kiki dari dalam rumah. Aku hanya bisa diam sambil menahan malu, untuk apa aku mengendap-endap seperti pencuri. Toh, kalau memang mau tahu mengapa mata Kiki selalu sendu, aku kan bisa bertamu dan bermain bersamanya dengan cara sopan lewat halaman depan.

“Hei, Mira kan! Kamu mau kemana, ayo masuk.” ajak Kiki kepadaku.  

            “Ini Mira teman baruku Bu. Dia juga teman sekelasku di sekolah. Kebetulan rumahnya ada di dekat sini.”

            “O…jadi Nak Mira sahabatnya Kiki, ya. Kiki ajak temanmu masuk.” kata Ibunya Kiki sambil tersenyum.

Kiki lalu mengajakku masuk ke rumahnya.

Setelah di dalam rumah, aku heran di rumah Kiki banyak sekali kantung besar dan adonan seperti bahan untuk membuat kue.

“Ini semua untuk apa Ki?” tanyaku.

“O…tepung dan adonan itu untuk membuat kue cucur Mira. Ibuku setiap hari membuat kue cucur untuk dijual ke langganan Ibu di kantor-kantor pemerintah dan kantin sekolah” jawab Kiki.

“Lalu yang membantu ibumu siapa? Apa tidak repot sendirian?” tanyaku pada Kiki.

“Tidak ada, hanya ibu dan aku yang membuat. Makanya aku jarang bermain dengan teman-teman. Paling yang agak repot bila ada pesanan banyak. Sehingga kadang sampai larut malam baru selesai.” jawab Kiki terlihat agak sedih, sehingga menambah sendu di matanya saja.

Dalam hati aku merasa iba dan kagum dengan ketegaran Kiki membantu membuat kue untuk biaya hidup sehari-hari. Di sisi lain aku malu, mengapa aku berpikir aneh-aneh tentang Kiki.

“Ki, boleh tidak aku besok main lagi ke rumahmu! Sehingga kamu tetap bisa membantu Ibumu membuat kue cucur dan tidak merasa sendirian lagi.” pintaku semangat.

“Kita juga bisa belajar bersama mempelajari pelajaran sekolah. Dan Aku juga bisa belajar cara membuat kue cucur he he he”. lanjutku.

“Serius Mira!” tanya Kiki semangat, diikuti berkurangnya kesan sendu di mata Kiki.

Akupun mengangguk semangat. Ibunya Kiki tersenyum melihat polah kami. Setelah bermain dengan Kiki dan melihat Ibunya Kiki membuat kue cucur, akupun pamit pulang. Yang lebih istimewa aku juga diberi oleh-oleh kue cucur buatan Kiki.

Akhirnya terjawab sudah rasa penasaranku. Ternyata wajah sendu Kiki karena dia terlalu lelah membantu ibunya sehingga kurang istirahat dan jarang bermain dengan teman. Lalu, kantung hitam itu, ternyata buntalan kain untuk membawa kue cucur yang akan dititipkan di kantin sekolah.

Dan, kue cucur buatan Kiki ternyata enak sekali! Mau coba? He…he ..he.  

 

 

On 20.29 by Nur Rakhmat in    1 comment

 

 

Nenekku Pahlawanku

kang.rakhmat

Bruukkk … aduuh sakiiit Maaa...tiba-tiba terdengar jeritan Akmal dari luar rumah. Seketika itu ayah dan ibu yang ada di ruang keluarga berhamburan keluar melihat apa yang terjadi. Terlihat Akmal mengerang kesakitan sambil memegangi lututnya yang berlumuran darah.

“Akmal, kamu kenapa Nak? Bukannya kamu tadi pamitan sama mama mau istirahat?” Akmal tidak menjawab pertanyaan ibunya, justru tangisan Akmal semakin lama makin keras. Waaaa … mama…sakit ma...hiks,,hiks... Tanpa menunggu lebih lama, papa Akmal langsung menggendong Akmal dan membawanya masuk ke rumah lalu merebahkan Akmal di kamar tidur.

Seketika itu Mysty yang sedari tadi sedang asyik main game, mematikan gamenya dan berlari menuju kamar,” Papa, kakak kenapa nangis? hiii…itu juga, kok banyak darah di lutut kakak Pa?”

“Nanti saja bertanyanya, Mys…kasihan kakakmu, lihat nangisnya semakin kencang bukan? Oiya, papa tolong ambilkan kapas, kasa pembalut, dan anti septik di kotak P3K ya sayang.”

Mysty langsung lari ke ruang keluarga mengambil obat yang tadi disebutkan ayah. Di kotak P3K semuanya lengkap dan tersedia. Karena memang dalam tradisi keluarga kami, wajib mempersiapkan obat-obatan ringan, seperti balsem, obat turun panas, vitamin, anti septik, dll di kotak P3K untuk berjaga-jaga bilamana ada kejadian serupa yang menimpa kakak.

“Pa, ini obatnya”, kata Mysty sambil harap-harap cemas kalau-kalau obat yang diambilnya salah.

“Trimakasih sayang!” Kata papa.

Horeeee teriak Mysty dalam hatinya. Ternyata obat yang diambilnya dari kotak P3K tidak salah.

Setelah itu papa langsung memberikan obatnya ke mama. Mama yang saat itu sedang membersihkan luka kakak dengan air hangat, langsung mengoleskan anti septik di lutut kakak supaya lukanya mengering. Setelah itu mama menutup lukanya dengan kapas dan membalutnya dengan kasa. Kakak masih terlihat menangis sesenggukan sambil sedikit menahan sakit akibat perihnya luka lecet dan memar di lututnya.

“Makanya lain kali hati-hati bermainnya.” Kata mama sambil terus memperbaiki balutan kasa di lutut Akmal.

“Masih sakit?” Timpal mama.

“Sudah agak baikan Ma.”

Dalam hati Akmal merasa bersalah terhadap mama dan papanya. Sebenarnya Akmal baru saja pulang latihan futsal untuk persiapan pertandingan minggu depan. Latihan yang sebenarnya tiap seminggu dua kali, dalam minggu ini dipadatkan menjadi seminggu empat kali.

Apalagi posisi Akmal di tim futsal sekolahnya adalah sebagai striker. Tentu kawan setimnya menginginkan Akmal untuk mampu menjebol gawang lawan. Dan yang lebih membuat Akmal sedih adalah dia takut jika Senin depan tidak bisa ikut bertanding gara-gara masih sakit akibat jatuh dari sepeda. Apalagi hari ini sudah Sabtu dan Senin depan tinggal menyisakan sehari lagi.

Akmal semakin bersalah dan khawatir karena di timnya tidak ada striker cadangan yang bisa menggantikan posisi Akmal guna menghadapi pertandingan Senin depan. Bagaimana nanti reaksi teman-teman setim, jika mereka tahu bahwa sakitnya diakibatkan karena kecerobohannya sendiri akibat tidak mematuhi anjuran pelatih untuk istirahat cukup setelah latihan.

Coba kalau tadi aku menuruti anjuran pelatih, gerutu Akmal dalam hati sambil melihat mama, papa, dan adiknya yang sedang sibuk merawat luka di lututnya.

“Maaa, maafin Akmal ya, tadi Akmal bohong sama mama…sebenarnya tadi mau istirahat, tapi Akmal pikir mainan sepeda dulu lebih enak, ee…tidak taunya jatuh…hiks..hiks.., kata Akmal kepada mamanya sambil menangis.

Mama, tersenyum mendengar pengakuan dari Akmal, “sudah jangan dipirkankan lagi, sudah mama maafin kok, jagoan mama lain kali nasihat mama, papa, dan pelatih dituruti ya,kan besok kamua mau bertanding.” Lanjut mama.

“Makanya kaakk… lain kali jangan ngeyel, tuh jatuh kan…he he he” kata Mysty sambil sedikit bercanda.

“Mysty sayang, kakaknya sedang sakit kok diledek.” Kata papa sambil memberi isyarat Mysty untuk diam.

Terlihat Akmal terus meringis menahan sakit. Memang, lukanya sudah agak baikan, tetapi Akmal masih merasakan sakit dilutut. Lututnya masih terlihat bengkak, padahal sudah diolesi balsem oleh mamanya.

“Mam…kelihatannya lutut Akmal terkilir deh, sebaiknya kita bawa ke tukang urut, gmana ma…” kata papa yang terlihat serius memegangi lutut Akmal sambil sesekali mengurutnya.

“Tapi dimana pa, lagian ini sudah menjelang magrib…kalaupun ada kemungkinan jauh, nanti Akmal juga yang kasihan dibonceng motor terlalu lama, takutnya justru lebih parah terkilirnya”. Kata mama yang terlihat kebingungan.

Tiba-tiba pintu pagar rumah ada yang mengetuk diikuti ucapan salam dari luar rumah. Mysty yang saat itu sedang ikut-ikutan bingung seketika lari menuju arah suara sambil teriak.  “Neneeeek…!” Mysty langsung memeluk neneknya yang baru datang dan menggandeng tangan nenek masuk ke rumah. Nenekpun hanya tersenyum-senyum melihat tingkah polah Mysty.

“Lo…nenek diantar siapa? Kakek kemana nek?” Tanya mama sambil meminta nenek duduk.

“Nenek sendirian, tadi diantar kakek sampai terminal, kebetulan nanti malam kakek ada pertemuan bapak-bapak di balai kelurahan, lo Akmal kok nggak kelihatan kemana?” Tanya nenek.

“Tadi Akmal terjatuh dari sepeda dan kakinya terkilir nek… sekarang dia ada di kamarnya.” Tukas papa.

Lalu nenek masuk ke kamar Akmal yang saat itu sedang terbaring menahan nyeri di lututnya. Buru-buru Akmal bangkit dan ingin memeluk neneknya yang baru datang.

“Sudah tiduran saja…biar nenek yang ke situ, kamu kenapa sayaaang..?”

Akmal kemudian bercerita panjang lebar kronologi kejadian bagaimana dia sampai terjatuh dan kebingungan yang dia rasakan sekarang untuk persiapan pertandingan besok. Papa dan mama Akmalpun ikut menceritakan kalau Akmal terkilir namun kebingungan mencari tukang urut terdekat.

“Ooo seperti itu to kejadiannya..sudah jangan kuatir, mysty..di kotak P3K ada minyak urut tidak ?” Tanya nenek.

“Ada nek, sebentar Mysty ambilkan”. Mysty lalu berlari mengambil minyak urut dan memberikannya ke nenek.

“Nenek tidak istirahat dulu… apa tidak nenek tidak capai, kan nenek baru tiba.” Tanya mama.

“Tidak apa-apa, kasihan Akmal nanti kalau dibiarkan terlalu lama, bisa-bisa ototnya kaku dan dia tidak bisa ikut pertandingan besok”. Tukas nenek. Kemudian dengan cekatan nenek mengurut lutut Akmal yang terkilir. Akmal terlihat menangis menahan sakit, nenekpun tersenyum melihat cucunya meringis-ringis menahan sakit.

“Sudah…jangan nangis, sekarang mandi dan istirahatlah, pasti nanti sudah lebih baik”, kata nenek sambil memberikan beberapa nasehat ke Akmal untuk lebih patuh dan disiplin membagi waktu.

“Iya nek.” Jawab Akmal. Dalam hati Akmalpun berjanji akan disiplin membagi waktu antara belajar, latihan, bermain dan istirahat.

Kemudian Akmal mandi lalu istirahat sesuai arahan nenek. Ajaib! Setelah istirahat, badan Akmal yang tadinya masih pegal dan lututnya nyeri tiba-tiba sudah lebih mendingan lagi. Dan Akmalpun gembira, karena dia tidak mengecewakan teman setimnya untuk pertandingan futsal Senin depan.

Sambil menangis haru, Akmal lalu berlari menghampiri nenek dan memeluknya erat. “Nek…nenek benar-benar pahlawan buat Akmal!”. Nenek Akmalpul tersenyum mendengar ucapan cucunya. Dan Akmal berjanji, jika menang dalam pertandingan esok, kemenangan tersebut akan didedikasikan ke neneknya tersayang.

Sekian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

     

 

Senin, 02 Desember 2019

On 17.42 by Nur Rakhmat in    No comments

Hari Kartini Terakhir Nesha
Oleh : Nur Rakhmat
Setiap pagi sebelum pembelajaran, kelas 5 melakukan pembiasaan rutin membaca asmaul khusna di halaman. Begitu juga dengan Nesha, dengan hikmad dia membaca asmaul husna bersama teman-temannya. Hari itu adalah tanggal 20 April, artinya esok hari adalah tanggal 21 April yang diperingati sebagai Hari Kartini. Nesha dan teman-temannya juga sudah diberi tahu Bu Guru untuk memakai pakaian adat besok.
            “Anak-anak, besok pagi jangan lupa memakai pakaian adat nusantara ya” pesan Bu Endang Kepala Ssekolah SD Siliwangi tempat Nesha belajar.
            “Ya bu” jawab anak-anak serempak.
            “Nes, besok pakai baju apa?” tanya Gendis sambil berjalan masuk kelas.
            “Aku, belum tahu, kemungkinan pakai baju Padang” jawab Nesha.
            “Kalau aku pakai baju koko” kata Yusuf tiba-tiba bicara sambil lari.
            “Yeee ... siapa yang tanya kamu” kata Nesha dan Gendis serempak.
            Sampai di kelas, merekapun langsung duduk di tempat masing-masing. Nesha duduk dengan Ayu, sedangkan Gendis dengan Desvia. Jadwal pelajaran mereka hari itu adalah Bahasa Indonesia, IPA, dan Bahasa Jawa. Tidak ada hambatan berarti saat mereka belajar. Hanya saja, saat pelajaran Bahasa Jawa, Nesha kelihatan agak kesulitan.
            “Kamu kenapa Nes?” tanya Ayu.
            “Ini Yu, aku agak sulit kalau Bahasa Jawa” jawab Nesha.
            “Memangnya kamu belum bisa?” Ayu kembali bertanya.
            “Sebenarnya agak sih ... waktu itu aku pernah diajari Gendis, tapi sekarang lupa” jawab Nesha.
            “Ya udah Nes ... nanti minta ajarin Gendis lagi aja. Karena aku juga agak susah kalau Bahasa Jawa he he he” kata Ayu sambil tertawa.
            Nesha ikut tertawa mendengar jawaban Ayu, kalau ternyata Ayu juga belum mahir berbahasa Jawa.
            “Ayu kok belum bisa ya, padahal dia asli Jawa kan” kata Nesha dalam hati sambil tertawa.
***
Usai sudah seluruh pelajaran hari itu, Bu Sinta menutup pelajaran hari itu dengan pesan agar siswa selalu melestarikan budaya daerah sebagai kekayaan nasional bangsa. selain itu, bu guru juga berpesan agar besok jangan lupa memakai baju adat.
“Yu, mau lihat Gendis, kok tidak ada ya” tanya Nesha pada Ayu temannya.
“Mungkin Gendis sudah pulang. Kan besok kita kartinian!” jawab Ayu dengan penuh semangat.
“Ya udah, kita pulang aja yuk. Sampai jumpa besok Ayu!” lanjut Nesha.
“Oke Nes!” jawab Ayu.
Mereka kemudian pulang ke rumah masing-masing sambil terus membayangkan bagaimana serunya perayaan Hari Kartini besok. Namun, tidak dengan Nesha, dia gusar dan sedih karena besok adalah Hari Kartini terakhir Nesha bersama temannya di SD Siliwangi. Nesha akan pindah ke Jakarta bulan depan mengikuti tugas ayahnya.
***
Hari Kartinipun tiba, hari itu mereka memakai baju adat nusantara. Ada yang memakai pakaian adat Jawa, Betawi, Bali, Padang dan Kalimantan.
“Bagus banget bajumu Nes ...!” kata Ayu.
“Ini baju adat Padang kok Yu” jawab Nesha.
“Kamu lihat Gendis nggak Yu?” tanya Nesha.
“Dari tadi aku kok belum lihat ya Nes” jawab Ayu sambil tengok kanan kiri.
“Kamu cari Gendis ada apa? Apa kamu punya masalah?” lanjut Ayu bertanya.
“Tidak Yu, aku Cuma mau ngucapin terimakasih. Soalnya aku sudah diajari Bahasa Jawa sama Gendis” jawab Nesha.
“Waktu itu aku dapat tugas dari bu guru, aku nggak bisa ngerjain, dan Gendis dengan senang hati membantuku. Selain itu ...”
Nesha tidak melanjutkan perkataannya, dia terdiam, seolah ada sesuatu yang berat diucapkan.
Tiba-tiba dari arah panggung Rifqi ketua kelas 5 berlari memanggil-manggil Nesha.
“Heh heh heh ... Nes ... pleasss! Kamu yang mewakili kelas kita ya. Gendis sakit, jadi dia tidak masuk” kata Rafi sambil terengah-engah.
“Gimana ya ... aku malu. Gimana Yu?!” jawab Nesha sambil melihat ke Ayu.
“Loooh kok tanya. Kalau aku ... “ jawab Ayu sambil bingung bagaimana menjawab pertanyaan temannya itu.
Belum selesai Ayu melanjutkan jawabnnya, Nesha mengangguk tanda dia setuju menggantikan Gendis.
“Okelah, anggap saja ini sebagai ucapan terimakasihku pada Gendis. Selain itu, ini bisa aku pakai sebagai salah satu kado pamitanku sama teman-teman” kata Nesha dalam hati.
Akhirnya, Nesha maju menggantikan Gendis mewakili kelas pentas kartinian. Dengan percaya diri Nesha, menyapa semua teman-temannya di depan panggung. Dalam hati, Nesha merindukan suasana seperti ini lagi di tahun depan. Tepuk tangan teman-temannya tiada henti mengiringi turunnya Nesha dari panggung.
“Nes! Kamu keren banget!” kata Ayu sambil mengelu-elukan Nesha.
“Iya Nes..aku pikir kamu pemalu, ternyata kamu pemberani juga ya. Terima kasih ya Nes, sudah mau mewakili kelas 5” kata Rifqi.
“Terima kasih Yu, Rif ... semoga ini bisa menjadi kado yang indah untuk teman-teman. Karena bulan depan aku harus pindah ke Jakarta dengan orang tuaku” kata Nesha sambil terisak.
Melihat Nesha sedih, Ayu kemudian memeluk Nesha. Rifqi yang tidak tega melihat temannya sedih kembali berbaur dengan temannya yang lain dan pentaspun terus berlangsung. Terlihat Nesha sudah sedikit tenang, bersama Ayu sahabat karibnya, Neshapun kembali berbaur merasakan suasana kartinian terakhirnya di SD Siliwangi.

Cerpen anak ini sudah pernah ditayangkan dalam Kompasiana dengan judul sama
Silahkan Klik: 


Jumat, 09 Maret 2018

On 16.07 by Nur Rakhmat in    No comments

Brownis Dari Nesha
Oleh : Nur Rakhmat
            Bel pulang sekolah berbunyi, namun Citra dan Kayla masih asyik membicarakan sesuatu di halaman sekolah.
“Cit, ayo pulang” ajak Kayla.
            Citra terdiam sejenak, dia bingung mau bilang apa pada Kayla, teman akrabya tersebut.
“Gimana ya Kay ... aku bosen sama Nesha. tiap hari bicara kue. Heh .. kamu kan tahu aku tidak suka kue?” jawab Citra gemas.
            Seperti itulah Citra, teman-temannya sudah tahu Citra tidak suka kue. Setiap hari yang Citra bawa hanya mie goreng. Padahal Kayla sudah sering memperingatkan Citra kalau kebanyakan makan mie itu tidak baik.
            “Hai Citra ... Kayla ... sedang apa kalian?” tanya Nesha.
            Citra dan Kayla diam. Mereka berdua tidak tahu, kalau di dekat mereka ternyata sudah ada Nesha dan Ama yang lewat hendak pulang.
            “Cit, Kay! Ditanyain Nesha kok diam?” tanya Ama.
            “He he he ... maaf, tadi masih asyik ngobrol jadi tidak dengar” jawab Kayla.
            “Huuu ... modus kamu Kay” seloroh Ama.
            “Bener Am ... kalau nggak percaya coba tanya Nesha” kata Citra.
            “Lo kok tanya Nesha. kan Nesha yang tanya ... “ kata Ama sambil melihat ke arah Nesha.
            “Lain kali, kalau diajak bicara dijawab dong, lalu perhatikan pula orang yang mengajak bicara” lanjut Ama sambil berlagak menasehati.
            Nesha hanya tersenyum melihat tingkah ketiga temannya. Dia juga tidak ambil pusing atas sikap Citra dan Kayla yang berpura-pura tidak mendengar sapaannya.
            “Kamu bawa bekal apa Nes?” tanya Ama.
            “Aku bawa kue Am ... tadi pagi aku sama mama membuat kue ini. Mau nyicipin Am?” kata Nesha menawarkan separo kuenya pada Ama.
            “Kue lagi, kue lagi!” kata Citra sambil mengejek Nesha.
            “Iya, kue lagi. Apa kamu tidak bosan Nes?” timpal Kayla.
            “Tidak Kay, lagian kue ini kan buatanku. Masa aku bosan?” jawab Nesha dengan tersenyum tetap semangat.
            “Hei Cit ... pasti kamu belum pernah makan kue buatan Nesha. Enak lo!” kata Ama sambil memamerkan kue buatan Nesha yang tadi ditawarkan kepadanya.
            “Hih ... jangan sampai ya. Pokoknya, mie instanku yang paling enak! Iya kan Kay?” kata Citra.
            “Pasti dong. Lagian mie instan lebih praktis juga buatnya!” sambung Kayla.
            “Oke, nggak papa! Aku pulang dulu ya!” kata Ama sambil berlari ke arah mobil jemputan yang sudah menunggunya.
            “Kay, Cit ... aku juga pulang duluan ya” sambung Nesha sambil berlari ke arah Mamanya yang sudah menjemput.
            Tidak menunggu lama, akhirnya jemputan Citra dan Kayla datang juga, merekapun kemudian pulang ke rumah bersama jemputan masing-masing.
***
            “Kok sendirian Kay? Citra kemana?” tanya Nesha.
            “Kata Bu Guru Citra sakit perut Nes, ini aku mau nengok ke rumahnya!” jawab Kayla.
            “Aku ikut ya!” kata Nesha.
            “Boleh, yuk kita berangkat!” jawab Kayla sambil menganggukkan kepala tanda setuju.
            Merekapun berangkat ke rumah Citra, di sana ternyata sudah ada Ama yang sedang mengetuk pintu rumah Citra. Setelah dipersilahkan masuk oleh Mama Citra, Nesha, Ama dan Kayla langsung ke kamar Citra. Citra malu, terlebih saat dia melihat Nesha ikut menjenguk bersama Kayla dan Ama.
            “Kamu sakit apa Cit?” tanya Ama.
            “Perutku ... sakit Am ...” kata Citra sambil meringis menahan sakit di perutnya.
            “Kok bisa? Memangnya kamu kemarin makan apa?” lanjut Kayla bertanya.
            Citra tidak menjawab pertanyaan Kayla, dia malu menjawab kalau sakit diperutnya karena kebanyakan makan mie instan.
            “Pasti ... pasti kamu makan mi ya!” kata Ama sambil seolah-olah menebak.
            Citra terdiam dia hanya menganggukkan kepala tanda tebakan Ama benar.
            “Tu ... kan aku sudah bilang, kebanyakan makan mie itu tidak baik” tambah Kayla.
            “Iya ... Kay, terima kasih sudah mengingatkanku. Nes ... maafin aku ya” kata Citra menyesal.
            “Tidak apa-apa Cit ... nih, aku bawakan kue” lanjut Nesha.
            “Ayo cobain .... ! Jangan malu-malu!” kata Ama.
            Citrapun mencoba kue dari Nesha, dia ingin merasakan bagaimana rasanya kue buatan Nesha.
            “Nes ... ternyata kue buatanmu enak sekali! Manis dan coklatnya pas!” kata Citra penuh semangat.
            “Nah ... gitu dong, jangan makan mie terus. Sakit deh perutnya. He he he” kata Kayla sambil tertawa.
            “Iya kay ... makasih ya. Nes, besok buat kue lagi ya! Pasti aku habisin!” kata Citra sambil tersenyum.
            “Oke Cit! Pasti aku buatin!” jawab Nesha semangat.
            Setelah tahu nikmatnya kue buatan Nesha, Citra, Nesha, Kayla dan Ama menjadi akrab kembali. Setiap ada kesempatan, mereka berempat selalu bertukar resep makanan untuk bekal makan siang mereka.
Sekian dan selamat membaca.