Sabtu, 30 November 2024
Guru
Hadirmu sangat kurindu
Sayangmu melegakanku
Senyummu menjadi hati tiada layu
Teladanmu kubutuhkan selalu
Guru
Sejahtera menjadi penantianmu
Sehat menjadi lakumu
Nyaman menjadi cara terbaikmu
Wujud nyata menjadi kegembiraanmu
Guru
Teruslah berkarya dan melaju
Teruslah bersyukur setiap waktu
Teruslah belajar sebagai wujud profesionalismemu
Teruslah mengabdi sebagai wujud perjuanganmu
Guru
Jangan ragu
Jangan takut melaju
Jangan lelah bersama muridmu
Jangan terkurung impian semu
Jangan bergantung makna ambigu
Karena Tuhan akan selalu membersamaimu
kang.rakhmat
Pasadena, 112241429
Puisi ini didedikasikan untuk semua teman teman guru di manapun berada
Selamat dan berkah menjadi guru
Kamis, 11 Februari 2021
Kasih Di Ujung Waktu
kang.rakhmat
Hai kau yang merasa hati luka bagai emas tumpah dalam darah
Hai kau yang terhina dalam hina dunia fana penuh dosa angkara murka
Hai kau yang bergelut dalam sepi kasih idaman yang terbuang
Hai kau yang berpeluk dalam hidup penuh suluk dalam periuk
Janganlah kamu terlena dan termangu merana
Janganlah kamu terdiam bagai tersumpal dalam mulut lebam
Janganlah kamu merasa paling dosa dalam derita
Bangkit dan raihlah spirit dalam dunia yang sempit
Tegak dan jalanlah dalam hiruk pongah tiada bertindak
Tatap hari esok walau dirimu tanpa sosok
Gapailah impian walau kasih tiada pernah datang menawan
Pancarkanlah pesona walau seribu wajah selalu merona
Tangkaplah harapan walau halangan selalu menghadang
Tenang dan eleganlah ...
Kasih di ujung waktu masih setia menunggu
Kasih di ujung waktu masih merasuk walau asamu kian terpuruk
Kasih di ujung waktu kan jadi pegangan dalam hampa asa terbuang
Kasih di ujung waktu selalu merayu hampa diri penuh arti tiada layu
Rabu, 10 Februari 2021
Sepanjang
Jalan Terkembang
Kang.rakhmat
Deru mesin
meraung siap bertarung tanpa pernah merasa terkurung
Kait denyit
roda berpagut bagai semut terhanyut dalam mulut perkutut
Indah!
Walau sejatinya tiada pernah lumrah
Nikmat! Bak kereta kencana melesat lewat besi berkarat
Sepanjang
jalan terkembang
Sepanjang
insan mimpi bagai harum setaman kembang
Sepanjang
jalan kenyataan bukan jalan kepalsuan
Sepanjang
pengabdian bukan citra pemuas kekuasaan
Hei Paman!
Sepanjang
jalan terkembang banyak korban berjatuhan
Sepanjang
jalan terkembang banyak lalu lalang terhalang senyum melayang
Hai Paman!
Tahukah kamu?
Senyum
aspal jalanan merobek roda raja jalanan
Senyum
aspal jalanan menarik cinta pengelana jatuh tenggelam
Tenggelam,
tenggelam, tenggelam masuk kelam malam
Hai Paman!
Kita tidak
butuh asal bapak senang
Kita tidak
butuh hanya usapan kasih sayang pencitraan
Kita butuh
kenyataan tindakan
Kita butuh
sepanjang jalan terkembang
Terkembang
senyum raja jalanan
Terkembang
senyum pengelana malam
Terkembang
senyum pengabdi separuh malam
Bukan
malam dirajam durjana kelam
Bukan pula
asa yang mengambang
Sepanjang
jalan terkembang
Banyak
cerita tersampaikan
Banyak
khayal kenyataan
Banyak
impian perasaan
Banyak
jalan kemenangan
Sepanjang
jalan terkembang
Bukan
cinta dalam dusta
Bukan cinta
dalam citra
Bukan pula
citra fatamorgana
Kami hanya
ingin kenyang asa
Kami hanya
ingin kenyang rasa
Kami hanya
ingin kenyang karsa
Bukan mencium
senyum lebar jalan terkembang dunia fana
Pasadena10022021
#PasadenaCity
#HomeAlone
#PomeriggioInMezzoAllaCittÃ
#DiSuatuSiangTanpaSengaja
#CatatanBelantaraKota
Selasa, 09 Februari 2021
#PernahIkutEventPuisiKlungkung2016
Aduhai Indah Kau Indahnya
Oleh : Nur Rakhmat
Gelombang
terjal Bukit Mundi memanggil pembawa kendi dalam riang hari ini
Belaian
angin samudra bagai nyawa dalam berita kawan tak jumpa jelaga
Hamparan
Nusa Penida bagai pengobat luka lara nan merana
Emas
laut rumput laut petani laut tiada kalut dalam dunia penuh kabut
Aduhai
indah kau indahnya
Bentang
pantai bagai cincin emas dalam dunia yang memanas
Uang
kepeng dalam wadah yang tiada enteng
Seakan
tiada pernah hilang dan selalu tumbuh dalam tubuh penuh peluh
Wahai
“Bumi Serobotan”
Wahai
anak dewata
Aduhai
indah kau indahnya
Pasadena, 29 Juni 2016
Sabtu, 06 Februari 2021
Sabtu Pagi di Pasadena
Karya : kang.rakhmat
Pagi di Pasadena kota
lumpia
Aku terbangun dari
mimpi anugerah Sang Esa
Kubuka pintu dan
kupandang langit
Ah … hari masih gelap
Sepertinya matahari
enggan menyapaku di pagi itu
Sunyi tiada bertepi
Deru brompit dan
kuda besi Pak Tua musnah hilang ditelan tangis langit nan peri
Kubuka gawai dan kotak
bersuara dalam rumahku
Air berontak!
Angin menari tiada
henti
Bukit seolah bertutur “Jangan
Kau injak kaki kakiku! Jangan kau halangi aku!”
Aku terpaku
Kulihat status
pengelana maya dikepung air berontak langit tak bertepi
Seolah bukan ilusi
dalam kabut simpati
Bukan pula fatamorgana
dalam ghibah bencana hati
Ah … jangan Kau
hiraukan itu, itu hanya omongan lathi yang tersakiti
Bukan kalam bijak
pengelana maya hakiki
Namun, jangan anggap
aku waskita bagai penguasa
Aku hanya bercerita Sabtu
pagi di Pasadena
Tentang asa yang
terbendung tangis langit kota lumpia
Pasadena,06022021
Selasa, 01 September 2020
Suara
di Balik Kaca
Karya
: Kang Rakhmat
Masih
ingatkah Kau ketika Sang Kala hendak menjadi biang cerita?
Masih
ingatkah Kau ketika dunia dalam berita selalu menjadi tanda?
Suara
di balik kaca
Suara
yang penuh tanda tanya
Suara
yang menggema bagai kalam yang tiada sebatas istilah semata
Suara
yang katanya sekarang menjadi primadona insan dunia
Suara
yang penuh ilusi cerita cinta insan pembeda
Wahai
kawan penghamba saloka
Wahai
kawan pelaku titah wacana
Wahai
kawan pemandu dharma ganesha
Suara
di balik kaca hanyalah sebongkah asa
Suara
di balik kaca hanyalah satu cara mengguncang frasa isi jiwa
Suara
di balik kaca bukan utama namun penuh makna
Suara
di balik kaca bukanlah suatu tanda resesi cinta
Namun
…
Apakah
kini Kau sadari kawan?
Suara
di balik kaca terus menggema melangkah bersama gelora Sang Begawan Tinta
Suara
di balik kaca menjadi primadona walau banyak pencela meniup bara
Suara
di balik kaca menjadi irama dalam notasi birama penuh rima
Suara
di balik kaca menjadi terbuka kala waktu tiada habis berkata
Suara
di balik kaca menjadi idola sebuah asa yang menggelora
Suara
di balik kaca menjadi pelipur lara hati yang terluka
Dan
kau harus tiada terlupa kawan!
Suara
di balik kaca
Seolah
menjadi tanda sebuah budaya
Suara
di balik kaca
Seolah
menjadi pengelana dalam langkah jiwa tiap pemuda
Suara
di balik kaca
Bagai
fatamorgana cerminan jiwa muda tiada tertanda
Suara
di balik kaca
Bagai
pengikat rindu roda roda cinta penguat figur sorga
Suara
di balik kaca
Seolah
menjadi pertanda bahwa kita harus sudah menjadi esok lusa
Suara
di balik kaca
Tetap
menggoda jiwa sanubari penuh tanda tanya dalam bingkai menggapai makna
Pasadena,
01092020.0000
Selasa, 09 Juni 2020
Sebuah Rasa yang
Terus Melangkah
Karya : Nur
Rakhmat
Sebuah rasa
dalam jiwa meletup bagai pistol Sang Pemburu Jiwa
Meluncur bagai
panah Arjuna mencari cinta
Menembus angkasa
bagai Gatotkaca hendak memeluk mega
Sebuah rasa yang
kau baca hanya menjadi bencana
Sebuah rasa yang
kau tanda hanya menjadi canda
Sebuah rasa yang
terus melangkah bersama jiwa yang terarah
Terus melangkah,
terus melangkah walau hendak kalah
Terus melangkah
mencari arah walau dunia seolah berbalik arah
Terus melangkah dalam
bahtera pemecah ombak Sang Nakhoda
Terus melangkah
gapai cita dalam fana dunia
Terus melangkah
walau hanya dikata dalam cerita
Jangan kau
bertanya !
Ini adalah
tentang rasa
Ini adalah rasa tentang
cinta yang hilang asa walau dunia semakin durjana
Ini adalah rasa
yang menjadi tanda bahwa kau memang ada
Ini adalah rasa
cinta dari hamba yang lemah adanya
Ini adalah rasa
dari pendoa yang takut tercebur dosa
Rasa yang
menangis iri pada pandemi dunia
Rasa yang
mengoyak sunyi Sang Pengisi Hati
Rasa yang
menjadi ilusi maknawi tetapi selalu menyayat diri
Rasa yang hanya
menjadi impian dini para pencari ilusi
Rasa yang hanya
kau rasa pasti nikmat akan tersakiti
Rasa yang jika
kau tanya hanya senyum tiada memahami
Jangan heran
kawan
Ini adalah
tentang rasa yang melangkah
Ini adalah rasa
yang melangkah jalan berkah Sang Maha Indah
Rasa yang terus
melangkah walau hanya sebatas asa
Rasa yang terus
melangkah tuk gapai ridho Sang Maha Esa
Demi indah cita
Sang Penerus Asa Bangsa Indonesia
Pasadena09062020
Kamis, 16 April 2020
Rabu, 01 April 2020
Puisi ini sudah tayang di Kompasiana.com
https://www.kompasiana.com/mas91295/5e84eec1d541df47d33e6482/kisah-sang-perindu?page=5
IG, WA dan FB.
Selasa, 31 Maret 2020
Alam Bebas
Alam bebas
Alam bebas
Alam bebas
Bebas itu terbatas
Bebas itu terbatas
Bebas itu terbatas
Terbatas tetap ada batas
Terbatas tetap ada batas
Terbatas tetap ada batas
Alam bebas
Bebas itu terbatas
Terbatas tetap ada batas
Batas selalu punya makna
Makna kekal dan fana
Fana bentuk maupun jiwa
Jiwa hidup gapai asa
Asa selaras hening kalbu
Kalbu menyatu hilangkan sendu
Sendu hilang datanglah sayang
Sayang dari Sang Maha Pengasih dan Penyayang.
Alam Bebas
Bebas itu terbatas
Terbatas tetap ada batas
Asa Sang Guru
Jumat, 29 November 2019
Puisi ini pernah ditayangkan di Kompasiana
silahkan klik link berikut Menanti Senyuman Bapak
Minggu, 15 Oktober 2017
Search
Video
Kurtilas

