Oleh: Nur Rakhmat, S.Pd

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 November 2024

On 23.35 by Nur Rakhmat in    No comments


 Guru


Hadirmu sangat kurindu

Sayangmu melegakanku

Senyummu menjadi hati tiada layu

Teladanmu kubutuhkan selalu


Guru

Sejahtera menjadi penantianmu

Sehat menjadi lakumu

Nyaman menjadi cara terbaikmu

Wujud nyata menjadi kegembiraanmu


Guru

Teruslah berkarya dan melaju

Teruslah bersyukur setiap waktu

Teruslah belajar sebagai wujud profesionalismemu

Teruslah mengabdi sebagai wujud perjuanganmu


Guru 

Jangan ragu

Jangan takut melaju

Jangan lelah bersama muridmu

Jangan terkurung impian semu

Jangan bergantung makna ambigu

Karena Tuhan akan selalu membersamaimu


kang.rakhmat

Pasadena, 112241429


Puisi ini didedikasikan untuk semua teman teman guru di manapun berada

Selamat dan berkah menjadi guru

Kamis, 11 Februari 2021

On 07.01 by Nur Rakhmat in    2 comments

 Kasih Di Ujung Waktu

kang.rakhmat

Hai kau yang merasa hati luka bagai emas tumpah dalam darah

Hai kau yang terhina dalam hina dunia fana penuh dosa angkara murka

Hai kau yang bergelut dalam sepi kasih idaman yang terbuang

Hai kau yang berpeluk dalam hidup penuh suluk dalam periuk

Janganlah kamu terlena dan termangu merana

Janganlah kamu terdiam bagai tersumpal dalam mulut lebam

Janganlah kamu merasa paling dosa dalam derita

Bangkit dan raihlah spirit dalam dunia yang sempit

Tegak dan jalanlah dalam hiruk pongah tiada bertindak

Tatap hari esok walau dirimu tanpa sosok

Gapailah impian walau kasih tiada pernah datang menawan

Pancarkanlah pesona walau seribu wajah selalu merona

Tangkaplah harapan walau halangan selalu menghadang

Tenang dan eleganlah ...

Kasih di ujung waktu masih setia menunggu

Kasih di ujung waktu masih merasuk walau asamu kian terpuruk

Kasih di ujung waktu kan jadi pegangan dalam hampa asa terbuang

Kasih di ujung waktu selalu merayu hampa diri penuh arti tiada layu


#PasadenaCitySemarang
#SelfPoetry
#nattensCharm
#AsaSangGuru
#MariSalingMemotivasiDanMenginspirasiDemiKebaikan Negeri

Rabu, 10 Februari 2021

On 04.25 by Nur Rakhmat in    3 comments

 

Sepanjang Jalan Terkembang

Kang.rakhmat

Deru mesin meraung siap bertarung tanpa pernah merasa terkurung

Kait denyit roda berpagut bagai semut terhanyut dalam mulut perkutut

Indah! Walau sejatinya tiada pernah lumrah

Nikmat! Bak kereta kencana melesat lewat besi berkarat

Sepanjang jalan terkembang

Sepanjang insan mimpi bagai harum setaman kembang

Sepanjang jalan kenyataan bukan jalan kepalsuan

Sepanjang pengabdian bukan citra pemuas kekuasaan

Hei Paman!

Sepanjang jalan terkembang banyak korban berjatuhan

Sepanjang jalan terkembang banyak lalu lalang terhalang senyum melayang

Hai Paman! Tahukah kamu?

Senyum aspal jalanan merobek roda raja jalanan

Senyum aspal jalanan menarik cinta pengelana jatuh tenggelam

Tenggelam, tenggelam, tenggelam masuk kelam malam

Hai Paman!

Kita tidak butuh asal bapak senang

Kita tidak butuh hanya usapan kasih sayang pencitraan

Kita butuh kenyataan tindakan

Kita butuh sepanjang jalan terkembang

Terkembang senyum raja jalanan

Terkembang senyum pengelana malam

Terkembang senyum pengabdi separuh malam

Bukan malam dirajam durjana kelam

Bukan pula asa yang mengambang

Sepanjang jalan terkembang

Banyak cerita tersampaikan

Banyak khayal kenyataan

Banyak impian perasaan

Banyak jalan kemenangan

Sepanjang jalan terkembang

Bukan cinta dalam dusta

Bukan cinta dalam citra

Bukan pula citra fatamorgana

Kami hanya ingin kenyang asa

Kami hanya ingin kenyang rasa

Kami hanya ingin kenyang karsa

Bukan mencium senyum lebar jalan terkembang dunia fana

                                                            Pasadena10022021

 

#PasadenaCity

#HomeAlone

#PomeriggioInMezzoAllaCittà

#DiSuatuSiangTanpaSengaja

#CatatanBelantaraKota

 

 

 

 

Selasa, 09 Februari 2021

On 18.50 by Nur Rakhmat in    No comments

 #PernahIkutEventPuisiKlungkung2016

Aduhai Indah Kau Indahnya

Oleh : Nur Rakhmat

Gelombang terjal Bukit Mundi memanggil pembawa kendi dalam riang hari ini

Belaian angin samudra bagai nyawa dalam berita kawan tak jumpa jelaga

Hamparan Nusa Penida bagai pengobat luka lara nan merana

Emas laut rumput laut petani laut tiada kalut dalam dunia penuh kabut

Aduhai indah kau indahnya

Bentang pantai bagai cincin emas dalam dunia yang memanas

Uang kepeng dalam wadah yang tiada enteng

Seakan tiada pernah hilang dan selalu tumbuh dalam tubuh penuh peluh

Wahai “Bumi Serobotan”

Wahai anak dewata

Aduhai indah kau indahnya

 

Pasadena, 29 Juni 2016


Sabtu, 06 Februari 2021

On 07.44 by Nur Rakhmat in    13 comments

 

Sabtu Pagi di Pasadena

Karya : kang.rakhmat

 

Pagi di Pasadena kota lumpia

Aku terbangun dari mimpi anugerah Sang Esa

Kubuka pintu dan kupandang langit

Ah … hari masih gelap

Sepertinya matahari enggan menyapaku di pagi itu

Sunyi tiada bertepi

Deru brompit dan kuda besi Pak Tua musnah hilang ditelan tangis langit nan peri

Kubuka gawai dan kotak bersuara dalam rumahku

Air berontak!

Angin menari tiada henti

Bukit seolah bertutur “Jangan Kau injak kaki kakiku! Jangan kau halangi aku!”

Aku terpaku

Kulihat status pengelana maya dikepung air berontak langit tak bertepi

Seolah bukan ilusi dalam kabut simpati

Bukan pula fatamorgana dalam ghibah bencana hati

Ah … jangan Kau hiraukan itu, itu hanya omongan lathi yang tersakiti

Bukan kalam bijak pengelana maya hakiki

Namun, jangan anggap aku waskita bagai penguasa

Aku hanya bercerita Sabtu pagi di Pasadena

Tentang asa yang terbendung tangis langit kota lumpia

 

Pasadena,06022021

Selasa, 01 September 2020

On 10.55 by Nur Rakhmat in    8 comments

 

Suara di Balik Kaca

Karya : Kang Rakhmat

 Masih ingatkah Kau suara di balik kaca?

Masih ingatkah Kau ketika Sang Kala hendak menjadi biang cerita?

Masih ingatkah Kau ketika dunia dalam berita selalu menjadi tanda?

Suara di balik kaca

Suara yang penuh tanda tanya

Suara yang menggema bagai kalam yang tiada sebatas istilah semata

Suara yang katanya sekarang menjadi primadona insan dunia

Suara yang penuh ilusi cerita cinta insan pembeda

Wahai kawan penghamba saloka

Wahai kawan pelaku titah wacana

Wahai kawan pemandu dharma ganesha

Suara di balik kaca hanyalah sebongkah asa

Suara di balik kaca hanyalah satu cara mengguncang frasa isi jiwa

Suara di balik kaca bukan utama namun penuh makna

Suara di balik kaca bukanlah suatu tanda resesi cinta

Namun …

Apakah kini Kau sadari kawan?

Suara di balik kaca terus menggema melangkah bersama gelora Sang Begawan Tinta

Suara di balik kaca menjadi primadona walau banyak pencela meniup bara

Suara di balik kaca menjadi irama dalam notasi birama penuh rima

Suara di balik kaca menjadi terbuka kala waktu tiada habis berkata

Suara di balik kaca menjadi idola sebuah asa yang menggelora

Suara di balik kaca menjadi pelipur lara hati yang terluka

Dan kau harus tiada terlupa kawan!

Suara di balik kaca

Seolah menjadi tanda sebuah budaya

Suara di balik kaca

Seolah menjadi pengelana dalam langkah jiwa tiap pemuda

Suara di balik kaca

Bagai fatamorgana cerminan jiwa muda tiada tertanda

Suara di balik kaca

Bagai pengikat rindu roda roda cinta penguat figur sorga

Suara di balik kaca

Seolah menjadi pertanda bahwa kita harus sudah menjadi esok lusa

Suara di balik kaca

Tetap menggoda jiwa sanubari penuh tanda tanya dalam bingkai menggapai makna

 

Pasadena, 01092020.0000

Selasa, 09 Juni 2020

On 09.13 by Nur Rakhmat in    23 comments

Sebuah Rasa yang Terus Melangkah

Karya : Nur Rakhmat

Sebuah rasa dalam jiwa meletup bagai pistol Sang Pemburu Jiwa

Meluncur bagai panah Arjuna mencari cinta

Menembus angkasa bagai Gatotkaca hendak memeluk mega

Sebuah rasa yang kau baca hanya menjadi bencana

Sebuah rasa yang kau tanda hanya menjadi canda

Sebuah rasa yang terus melangkah bersama jiwa yang terarah

Terus melangkah, terus melangkah walau hendak kalah

Terus melangkah mencari arah walau dunia seolah berbalik arah

Terus melangkah dalam bahtera pemecah ombak Sang Nakhoda

Terus melangkah gapai cita dalam fana dunia

Terus melangkah walau hanya dikata dalam cerita

Jangan kau bertanya !

Ini adalah tentang rasa

Ini adalah rasa tentang cinta yang hilang asa walau dunia semakin durjana

Ini adalah rasa yang menjadi tanda bahwa kau memang ada

Ini adalah rasa cinta dari hamba yang lemah adanya

Ini adalah rasa dari pendoa yang takut tercebur dosa

Rasa yang menangis iri pada pandemi dunia

Rasa yang mengoyak sunyi Sang Pengisi Hati

Rasa yang menjadi ilusi maknawi tetapi selalu menyayat diri

Rasa yang hanya menjadi impian dini para pencari ilusi

Rasa yang hanya kau rasa pasti nikmat akan tersakiti

Rasa yang jika kau tanya hanya senyum tiada memahami

Jangan heran kawan

Ini adalah tentang rasa yang melangkah

Ini adalah rasa yang melangkah jalan berkah Sang Maha Indah

Rasa yang terus melangkah walau hanya sebatas asa

Rasa yang terus melangkah tuk gapai ridho Sang Maha Esa

Demi indah cita Sang Penerus Asa Bangsa Indonesia



Pasadena09062020

 


Kamis, 16 April 2020

On 17.17 by Nur Rakhmat in    51 comments

Semangat Pagi ...

Yuks berpuisi ...

Selain rebahan dan belajar serta bercanda dengan adik dan bermain bersama orang tua, kira kira apa lagi ya yang bisa kita lakukan saat stay at home?
Berpuisi! 
Yap, berpuisi adalah salah satu cara yang bisa kita lakukan! Selain bisa melatih perasaan ( he he he ), berpuisi juga bisa melatih kepekaan. Etts ..tunggu dulu, ini bukan sembarang puisi lo? Tapi puisi akrostik ! Puisi akrostik adalah salah satu puisi yang cara membuatnya dengan cara menjadikan huruf dari setiap penyusun kata sebagai awal mula baris dengan susunan vertikal dari atas ke bawah.
Sangat mudah lo membuatnya, yang paling penting saat membuat kita bisa mengait ngaikan huruf awal dengan ide atau gagasan yang kita sampaikan dalam puisi tersebut.

Yuk kita buat !
JANGAN MERANA KARENA CORONA
Oleh Nur Rakhmat
Jalan terjal sudah kaulalui dalam setiap langkah jalan terbentang
Angan dan asa selalu menyertai jiwamu dalam setiap ruang
Namun apakah itu sudah menjadi nilai diri dan nilai rasamu?
Godaan dan halangan yang menantang seolah menjadi impian
Anggapan dan pujian seolah menjadi benteng laku tiap insan
Nasihat dan tuturan yang justru semakin hilang dalam peradaban
Masihkah kau merasa benar?
Endapan endapan demi endapan dosa yang terus kau lakukan
Rasa cinta dan cita yang telah kau tinggalkan
Ampunan dan harapan yang seolah jauh api dari panggang
Nilai adab dan moral yang hilang dan selalu terpental dalam kanal kehidupan
Apa yang bisa kau andalkan?
Kembalilah, kembalilah dalam peluk kasih berkah Tuhan yang menghidupi tiap insan
Ambillah, ambillah cinta kasih Tuhan yang selalu tiada pilih kasih
Rasakanlah indah buah syukur yang selalu hadir dalam tingkah maupun tutur
Enyahkanlah jiwa benci murni agar tumbuh empati yang berseri
Nyalakanlah obor kehidupan yang kan membawamu dalam tenang dan kasih Tuhan
Ayolah, ambil dan nikmati nikmat Tuhan yang tiada pernah mendustakan
Cintai dan sayangi sesama sebagai bentuk taat dan syukur pada yang kuasa
Olahlah jiwa,raga dan karsa untuk Sang Kuasa dan kebermanfaatan sesama
Raihlah ridho dan rahmat Tuhan selagi masih ada kesempatan dalam asa dan nyata
Obatilah perih dan luka yang pernah kau lakukan dimasa dulu kala
Nikmati ampun dan kasih Tuhan atas taubat yang telah kau lakukan dan terapkan
Agar hidup penuh makna dan rasa dalam jiwa ridho Sang Kuasa
    Pasadena, 17 April 2020

Puisi di atas sudah pernah tayang di halaman kompasiana.com dengan link : https://www.kompasiana.com/mas91295/5e98f323d541df723567f964/jangan-merana-karena-corona

Ayo kunjungi dan nikmati
#StayAtHome
#DiRumahAja
#SyukuriNikmatiAtasSegalaAnugerahAllahSWT






Rabu, 01 April 2020

On 12.56 by Nur Rakhmat in    4 comments

Pagi itu, saat mentari mulai tersenyum dan deru mesin mulai terbangun
Aku ditemani sahabatku membuka mata dan membuka cakrawala cerah waktu itu  
Aku gembira melihat rona sahabatku tersenyum menanti teman setiaku.
Namun, tak lama kemudian, kulihat sahabatku menarik senyum dan menolehku.
“Sudah lama aku menunggu, namun teman setiamu tiada kunjung menyapaku”.
Seketika aku merenung, apakah benar apa yang dikatakan temanku?
Apa benar teman setiaku tiada ingin mengunjungiku walau sejenak?
Apakah temanku benar benar sudah meninggalkanku?
“Hee, jangan melamun!”
Aku kaget dengan mendengar perkataan sahabatku itu.
Ku lihat kalender yang ada di sudut ruang sahabatku.
“Astaga, ternyata sudah dua minggu lebih temanku tiada mengunjungiku!”
Ternyata sudah sekian lama mereka tiada singgah di hatiku
Dan sudah sekian lama pula, mereka tiada pernah mendampingiku duduk belajar bersama Pak Guru dan Bu Guru
Mengapa teman setiaku seperti itu?
Apakah mereka tidak suka kepadaku?
Apakah mereka ingin aku tiada berisik dengan suara denyit yang semakin keras semakin menggigit?
Apakah teman setiaku ingin, aku berubah dari kayu lapuk menjadi besi yang semakin berani?
Apakah teman setiaku ingin, aku berubah dari besi yang semakin berani menjadi seperti sofa dalam gedung teater impian?
“Hai, sahabat, bantu aku menjawab pertanyaanku!
“Bantu aku menghilangkan gelisah resah dalam benak yang semakin membuncah!”
Sahabatku terdiam melihat tingkah anehku, sambil beringsut dan membalikkan badan, Dia berkata,
“Hai, mengapa kau bertanya padaku? Apa kamu kira aku tahu jawabnya? Kalau boleh jujur, sungguh aku merasakan seperti apa yang kau alami sahabatku!”
Aku bingung, jiwaku berontak, jiwaku bergolak, jiwaku semakin terserak tiada arah tuk dapat nasihat, tiada cahaya terang tuk menuntunku dalam ketenangan.
“Hei, kalian! Kalian yang hanya bisa memanfaatkanku, bantu aku mencari jawaban, bantu aku mendapat petunjuk mengapa sudah begitu lama teman setiaku tiada duduk bersamaku!”
Semua terdiam, semua menunduk tanda patuh pada petunjuk, semua menggeleng tiada pesan yang dapat dinikmati seperti manisnya buah kelengkeng, semua hening seperti hati yang masih mencari dalam laku penting dalam pening, semua sepi seperti diriku yang masih meratap dalam hati.
Tuhan ... Beritahu tahu aku.
Katakan padaku Tuhan, mengapa teman setiaku masih jauh dariku? Mengapa teman setiaku masih tiada mau berkunjung padaku?
Tuhan ...
Aku mohon ...
Jauhkanlah semua rintang, jauhkanlah semua penghalang, karena aku yakin Engkau Mahaperkasa yang selalu menuntun tiap hamba menggapai asa
Jaga mereka seperti Engkau menjagaku, sayangi mereka seperti Engkau menyayangiku. Karena aku yakin, Kebesaran Mu lebih besar dari besarnya penghalang, besarnya rindu dan besarnya segala gejolak hati segala bentuk ciptaan Mu.
Tuhan ...
Temukan aku dengan teman setiaku, temukan aku dengan belahan jiwaku yang senantiasa bersama dalam menggapai nikmat dan ilmu Mu.
Aku rindu tawa ceria, senyum manis, dan belai lembut tangan mereka, Tuhan ...
Tuhan ...
Aku sayang mereka, aku sayang mereka, aku butuh bersama mereka
Walau terkadang mereka usil kepadaku, bukan berarti mereka jahil kepadaku
Walau terkadang separuh hatiku patah karena mereka, namun cintaku tiada pernah patah duhai Tuhan.
Tuhan ...
Sungguh rindu ini sudah tiada ingin terbelenggu, sungguh sayang ini sudah tiada terbilang, sungguh penantian ini semakin mendalam dan sungguh getaran hati ini semakin ingin temukan cinta sejati, duhai Tuhan.
Tuhan ...
Tolong sampaikan isi hati ini tuk semua teman setiaku
Aku rindu kebersamaan menggapai ilmu
Aku rindu saat suka maupun duka bersama teman setiaku
Aku rindu kebersamaan menggapai ridhomu bersama teman setiaku .
Dariku ...
Teman setia yang Kau sebut “bangku”
Teman setia yang selalu senang jika Kau hadir di rumahku tuk gapai berkah luas samudera ilmu
                                                “ di sudut penantian luas harapan “
                                                        02042020






Puisi ini sudah tayang di Kompasiana.com

https://www.kompasiana.com/mas91295/5e84eec1d541df47d33e6482/kisah-sang-perindu?page=5

IG, WA dan FB.

Selasa, 31 Maret 2020

On 16.39 by Nur Rakhmat in    No comments


Alam Bebas


Alam bebas
Alam bebas
Alam bebas

Bebas itu terbatas
Bebas itu terbatas
Bebas itu terbatas

Terbatas tetap ada batas
Terbatas tetap ada batas
Terbatas tetap ada batas

Alam bebas
Bebas itu terbatas
Terbatas tetap ada batas
Batas selalu punya makna
Makna kekal dan fana
Fana bentuk maupun jiwa
Jiwa hidup gapai asa
Asa selaras hening kalbu
Kalbu menyatu hilangkan sendu
Sendu hilang datanglah sayang
Sayang dari Sang Maha Pengasih   dan Penyayang.

Alam Bebas
Bebas itu terbatas
Terbatas tetap ada batas

Asa Sang Guru


#KisahPencariAsa
#AsaSangGuru
#ArsipSangAsa
#SalingMemotivasiDanMenginspirasiDemiKebaikanNegeri
#EdisiSebelumCovid19
#LokasiAntaraPasadenaPrapaglor


Catatan.
Sudah tayang di FB dan Instagram

Jumat, 29 November 2019

On 23.45 by Nur Rakhmat in    No comments

Menanti  Senyuman Bapak
Oleh : Nur Rakhmat
Malam itu
Saat bintang malam mulai tertidur dan suara suara deru malam sudah mulai terpejam
Aku bimbang, Aku terguncang
Aku terbenam dalam malam kelam kelu mencekam
Bahkan ketika dering gawai beringsut larut dalam kalut yang tiada terselimut
Aku tiada pernah tahu kapan waktu kan menjemput
Bapak
Saat itu engkau ingatkan aku akan masa kecil dulu
Saat itu engkau bangunkan aku dari lamunan semu hidup yang kelu
Saat itu engkau antarkan aku dalam arti penuh sadar kalbu
Namun ... Apakah engkau tahu?
Sungguh kala itu aku butuh hantaman kata dan laku yang penuh arti dan tiada ragu darimu
Sungguh aku masih butuh tangan kuatmu tuk kugapai dalam pegangan hidupku
Aku masih ingin senyummu menghias setiap langkah hidupku
Bapak
Saat ini, saat semua sudah berlalu
Aku rindu senyummu yang selalu menjaga langkah hidupku
Semarang, 30 Juli 2019
kang.rakhmat


Puisi  ini pernah ditayangkan di Kompasiana
 silahkan klik link berikut Menanti Senyuman Bapak


Minggu, 15 Oktober 2017

On 08.38 by Nur Rakhmat in    No comments
Malam Kelam Dalam Hening Mencekam, Indah dan Penuh Berkah ...

Malam Kelam

Oleh : Nur Rakhmat

Aku tertunduk meratap penuh harap
Aku tertegun bagai bunga layu dalam anggunnya nirwana
Aku terlewat ...
Aku terlena ...
Aku tiada bisa bertemu dengan indah karunia Mu
Menyesal sungguh aku menyesal
Sedih sungguh aku sedih tiada terperih
Namun ... bagaimana ini bisa terjadi?
Malam kelam yang tiada penghadapan diri pada Tuhan
Sungguh aku benci malam kelam penuh ilusi
Dan aku ingin ...
Aku ingin ulangi malam tiada malam kelam sedari awal
Sungguh aku ingin berjumpa dengan ampunan dan rida Mu
Sungguh aku ingin selalu bersanding dalam pelukan Mu
Aku ingin tiada lagi berjumpa malam kelam
Aku ingin malam menjadi malam penuh idaman dan harapan

Sudut Ampunan, 12/01/2017