Kamis, 02 November 2017
On 14.58 by Nur Rakhmat in Artikel Populer No comments
Pendidikan Yang Menentramkan
Alhamdulillah terbit di Harian Pagi Wawasan, 01/11/2017
Sebuah harapan tentang kondisi pendidikan yang didambakan ...
Pendidikan
yang Menentramkan
Oleh
: Nur Rakhmat
Dewasa
ini, pendidikan di Indonesia sedang belajar menuju ideal. Berbagai upaya
dilakukan pemerintah untuk menuju bentuk ideal pendidikan tersebut. Mulai dari
penataan dan peningkatan mutu guru, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan,
sampai perubahan kurikulum, seolah menjadi solusi wajib bagi pemerintah untuk
menuju bentuk ideal pendidikan tersebut.
Namun
ternyata, semua usaha pemerintah tersebut saat ini dampaknya masih belum bisa
dirasakan optimal, baik oleh guru, masyarakat, maupun oleh orang tua. Masih
adanya guru yang belum bersertifikasi, masih adanya guru yang tidak linear
sesuai bidang yang diampunya, masih adanya pungutan di sekolah, masih adanya
kekerasan atau bulying yang menimpa peserta didik, masih adanya masyarakat yang
kesulitan untuk mengakses pendidikan dan masih belum konsistennya pemangku
kepentingan dalam mewujudkan pendidikan ideal adalah semua bukti bahwa masih
ada hal yang perlu dibenahi untuk mewujudkan bentuk ideal pendidikan di Indonesia.
Akan
tetapi, sebelum kita mencari solusi apa yang dapat digunakan untuk membentuk
bentuk ideal pendidikan, kita harus tahu terlebih dahulu apa sebenarnya
kebutuhan mendasar yang diperlukan masyarakat setelah mengenal pendidikan? Apakah
ingin menjadi seorang ilmuwan? Apakah ingin menjadi dermawan? Ataukah hanya
sebagai prestise kebanggaan semata?
Lalu
untuk apa kebutuhan mendasar tersebut diperlukan? Apakah ada kaitannya dengan
pendidikan di tanah air? Untuk menjawab semua pertanyaan tersebut, kita lihat
sekeliling kita, masih banyak warga yang kurang sejahtera, masih banyak pula
warga yang sejahtera namun belum bisa hidup damai, tenang dan tentram, dan
masih banyak permasalahan sosiap lainnya. Lalu apakah kebutuhan mendasar yang
sangat diperlukan oleh masyarakat tersebut?
Ketentraman
Ya,
kehidupan tentram! Jadi hemat penulis, masyarakat sangatlah membutuhkan
pendidikan yang menentramkan. Masyarakat sangatlah membutuhkan kehidupan yang
tentram, kehidupan yang menenangkan. Bukan kehidupan yang sejahtera ataupun
kehidupan yang penuh gejolak, baik jiwa ataupun jasmani masyarakat.
Berpijak
dari itu, sebenarnya pemerintahpun sudah memprogamkan pendidikan yang
menyejahterakan. Namun untuk saat ini, bentuk pendidikan yang menyejahterakan
masih kurang cukup. Karena belum tentu, masyarakat yang dikatakan hidup
sejahtera bisa menjalani kehidupan yang tentram dan damai. Maka, masyarakat
butuh konsep dan bentuk yang jelas sebagai imbas dari pendidikan, yaitu bentuk
pendidikan yang menentramkan.
Mengapa
pendidikan yang menentramkan sangat diperlukan oleh masyarakat daripada hanya
pada hanya pendidikan yang menyejahterakan atau lainnya? Sesuai amanat Undang-undang
No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dikatakan bahwa pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara.
Jadi,
dari amanat undang-undang ini sudah sangat jelas,bahwa ke depannya peserta
didik diharapkan untuk bisa menjadi manusia yang sebenarnya, yaitu manusia yang
cerdas dan manusia yang berkarakter, tidak hanya menjadi manusia yang cerdas
saja atau berkarakter saja.
Karena
dengan hanya menjadi manusia cerdas, manusia tersebut belumlah bisa dikatakan
manusia sesungguhnya. Sebaliknya manusia yang berkarakter saja, hemat kami juga
belum bsia dikatakan sebagai manusia yang sesungguhnya. Oleh karena itu, kedua
faktor tersebut, yakni cerdas dan berkarakter haruslah ada pada diri peserta
didik, guru, masyarakat, bahkan pada diri pemangku kepentingan pendidikan di
tanah air.
Mengapa
cerdas dan berkarakter penting? Karena kedua faktor tersebut adalah cikal bakal
pendidikan yang menentramkan. Mengapa demikian? Pendidikan sebagaimana yang
disampaikan oleh semua ahli adalah jalan yang bisa digunakan sebagai sarana
untuk menjadi manusia. Artinya pendidikan sangatlah penting. Namun demikian,
pentingnya pendidikan berbanding lurus dengan usaha yang dilakukan oleh pihak
yang terlibat langsung di dalamnya, mulai dari pemerintah, guru, dan
masyarakat.
Jika
usaha yang dilakukan pemerintah lakukan optimal, pasti hasilnyapun akan
optimal. Tetapi jika usaha yang dilakukan setengah hati, pasti hasil yang
didapat juga setengah hati atau justru bisa menimbulkan sakit hati.
Selain
itu, mengapa cerdas dan berkarakter bisa sangat penting dalam menuju pendidikan
yang menentramkan, ini dikarenakan dengan cerdas dan berkarakter, manusia bisa
menempatkan bentuk penerimaan diri dengan baik, manusia bisa menempatkan sikap
syukur dengan baik. Artinya manusia bisa merasakan kehidupan tentram dan damai,
apapun kondisi hidup yang dialaminya.
Lalu,
langkah apa yang dapat digunakan untuk mewujudkan pendidikan yang menentramkan? Hemat penulis yang pertama
adalah perubahan mindset bahwa pendidikan selalu berkelanjutan dan
berkesinambungan. Artinya jika dalam proses awal atau kebijakan awal salah.
Maka seluruhnya konsep dan aplikasi yang dilakukan oleh generasi selanjutnya
juga salah.
Karena
pendidikan tidak seperti orang melakukan jual beli dengan sistem putus kontrak.
Dimana setelah kerjasama selesai, maka selesai pulalah semua kesepakatan yang
ada di dalamnya. Namun, pendidikan akan selalu berproses, akan selalu mengalir
dan mengalir dari jiwa satu ke jiwa lainnya. Oleh karena itu, akan fatal
akibatnya jika pendidikan tidak dilaksanakan sesuai dengan tujuan awalnya atau
tidak sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri.
Yang
kedua adalah semua pelaku pendidikan atau semua stake holder pendidikan
haruslah tentram terlebih dahulu. Baik pemerintahnya, gurunya, orang tua,
maupun peserta didiknya. Semuanya harus tentram dan tenang terlebih dahulu.
Kita ambil contoh, jika pemerintah sebagai pengambil kebijakan saja tidak
tentram atau tidak tenang saat menempatkan keputusan, tentu semua kebijakan
pemerintah akan membuat masyarakat tidak tentram, gaduh dan sebagainya. Sebaliknya,
jika pemerintah tenang dalam mengambil dan menetapkan kebijakan, pasti kondisi
masyarakat akan tentram dan damai jauh dari gejolak.
Dan
yang terakhir adalah semua harus berkomitmen dan konsisten. Mulai dari
pemerintah, masyarakat, orang tua sampai siswa, semuanya harus mempunyai
komitmen bahwa pendidikan adalah sarana untuk memperbaiki masa depan. Oleh
karena itu, agar pendidikan yang menetramkan terwujud, semua komitmen tersebut
harus selalu diugemi, harus selalu dipatuhi, baik oleh pemerintah, masyarakat,
maupun pihak orang tua dan sekolah.
Namun,
untuk membentuk pendidikan yang menentramkan tidak seperti kita membalikkan
telapak tangan. Namun dibutuhkan semangat juang pantang menyerah yang tinggi
dan mempunyai visi misi yang baik untuk masa depan peserta didik. Selain itu,
sikap berani juga dibutuhkan untuk mewujudkan pendidikan yang menentramkan
tersebut. Karena dengan sikap berani, kita sudah menunjukkan bahwa semua
membutuhkan proses, kerja keras, dan upaya yang tidak pernah berhenti sampai
titik darah penghabisan, termasuk pendidikan yang menentramkan tersebut.
Akhirnya,
mari kita bergerak bersama, maju bersama untuk mewujudkan bentuk pendidikan
yang menentramkan, mewujudkan pendidikan yang mampu membawa perubahan positif
di masa depan, pendidikan yang tidak hanya menjadikan peseerta didik untuk tahu
apa, namun juga pendidikan yang mampu membuat peserta didik mampu menginspirasi,
serta mampu menyejahterakan dan menentramkan pendidikan di masa depan. Tentunya
untuk Indonesia yang lebih cerdas, bermoral, sejahtera, berkarakter dan
tentunya Indonesia yang lebih tentram.
.Nur Rakhmat, S.Pd.
Guru
SDN Kalibanteng Kidul 01 Kota Semarang.
HP.
081542557038
Alamat
: Jalan Candi Intan V/1129 Rt.7/9 Kelurahan Kalipancur Kecamatan Ngaliyan Kota
Semarang
Selasa, 31 Oktober 2017
On 10.23 by Nur Rakhmat in Dongeng No comments
Sebuah pelajaran untuk menghargai orang lain dan tidak terlalu congkak dengan kemampuan sendiri ...
Kisah Berharga Kurcaci Kutika ... Sebuah dongeng yang merupakan bagian dari kumpulan dongeng buku "Domi-Domi Nema" dan selamat membaca ...
Kisah Berharga Kurcaci Kutika ... Sebuah dongeng yang merupakan bagian dari kumpulan dongeng buku "Domi-Domi Nema" dan selamat membaca ...
Kisah
Berharga Kurcaci Kutika
Oleh : Nur Rakhmat
Pagi itu suasana di Negeri Sakola
sangat ramai, Para Kurcaci sedang sibuk usai memberi pelayanan kepada anak-anak
dari Negeri Manusa. Kurcaci Kutika, Kunipa, Kubisa, dan Kusila sibuk dengan
pelayanannya masing-masing.
“Hari ini kamu dapat berapa Kubisa?”
tanya Kunipa.
“Aku Cuma dapat sedikit” jawab
Kubisa sambil terlihat agak sedih.
“Kalian payah! Nih, aku dapat
banyak!” kata Kutika Kurcaci sombong.
“Makanya jangan malas! He he he”
lanjut Kutika seolah mengejek kedua temannya.
Mendengar ejekan Kutika, Kunipa dan
Kubisa terdiam. Dibanding Kutika, mereka memang sering mendapat pelayanan lebih
sedikit. Apalagi sudah menjadi adat di Negeri Sakola, kalau lebih sering
memberi pelayanan ke Negeri Manusa, maka dialah yang paling hebat.
“Sudahlah ... kalian tidak usah
sedih. Aku aja tidak sedih kok, yang penting, berapapun yang kita dapat, kita
terima dengan senang hati” kata Kusila yang hanya dapat paling sedikit dari
ketiga temannya itu.
“Terima kasih Kusila, aku jadi ingat
perkataan Ibuku, kalau kita harus bisa mensyukuri apa yang kita dapat” kata
Kubisa terlihat lebih semangat.
“Halah ... kalah ya kalah! Nggak
usah ngeles deh!” sanggah Kutika dengan pongah.
Kunipa dan Kubisa terdiam kembali,
mereka hanya bisa pasrah dengan ejekan Kutika. Memang, sikap Kutika akhir-akhir
ini jadi sombong, apalagi saat Kutika sering ke rumah warga Negeri Manusa. Dia
merasa menjadi Kurcaci yang paling tahu arah jalan menuju Negeri Manusa dan
tidak pernah mau mendengarkan Kurcaci lainnya.
“Ya udah, yuk kita pulang! Lihat
sang surya sudah mau tenggelam, lagian besok Negeri manusa ada ujian, makanya
kita harus memberikan pelayanan lagi” ajak Kusila Kurcaci.
“Besok berangkat bersama-sama ya!”
timpal Kunipa Kurcaci.
“Iya, jadi bisa berangkat
ramai-ramai dan tidak tesesat” jawab Kusila Kurcaci.
“Jangan lupa Kupisa kita ajak, dia
kan yang paling hafal arah jalan ke Negeri manusa” kata Kubisa.
“Nggak usah! Aku kan sudah sering ke
Negeri Manusa. Jadi tidak mungkin aku tersesat! Besok aku mau berangkat sendiri
saja!” kata Kutika Kurcaci dengan nada sombongnya.
Ketiga Kurcaci lainnya hanya bisa
diam, mereka langsung pulang dan tidak menyangka ternyata kesombongan Kutika
Kurcaci sudah sangat jauh, mereka hanya bisa berdoa, semoga Kutika tidak
kebingungan mencari jalan, karena menurut berita, saat ini di Negeri Manusia
banyak bencana banjir dan tanah longsor, sehingga banyak jalan yang rusak dan
tidak bisa dilalui.
***
“Yuk
kita berangkat!” ajak Kupisa Kurcaci yang ahli membaca peta.
“Tunggu dulu, Kutika belum
kelihatan. Bagaimana kalau kita tunggu sebentar” kata Kubisa memberi saran.
“Iya, walaupun kemarin dia ingin
berangkat sendiri, tapi lebih baik kita tunggu sebentar” tambah Kusila.
“Aku sangat setuju dengan kamu
Kusila! Biar bagaimanapun kemarin kita sepakat mau berangkat bersama” kata
Kunipa Kurcaci.
Mereka kemudian memutuskan untuk
menunggu Kutika, namun setelah beberapa lama, tanda-tanda kedatangan Kutika
tidak juga kelihatan.
“Kupisa, ayo kita berangkat aja.
Kasihan anak-anak Negeri Manusa, nanti mereka tidak dapat pelayanan dari kita”
kata Kunipa.
“Iya, besok pagi kan mereka Ujian.
Kasihan kalau kita datang terlambat!” tambah Kubisa.
“Oke, yuk kita berangkat!” ajak
Kupisa memberi aba-aba.
Merekapun kemudian berangkat ke
Negeri Manusa, sepanjang perjalanan, terlihat bekas bencana tanah longsor, dan
jembatan putus akibat banjir selalu mereka jumpai. Kunipa, Kubisa, Kusila
berjalan mengikuti Kupisa yang hafal dengan jalan menuju Negeri Manusa.
Akhrinya merekapun tiba di Negeri Manusa dengan selamat dan tidak terlambat.
“Untung kita bareng Kupisa!” kata
Kusila.
“Coba kalau kita bareng Kutika. Loh
...Kutika kok belum kelihatan?” tanya Kunipa.
“Iya, dia kok belum kelihatan ya”
tambah Kubisa.
“Tenang! Kita nggak usah khawatir. Kalian langsung memberi pelayanan saja, biar
aku yang mencari Kutika” kata Kupisa.
Kubisa, Kunipa, dan Kusila setuju,
mereka langsung memberi pelayanan ke anak-anak Negeri Manusa dan Kupisa
bergegas mencari Kutika. Kupisanpun berjalan menacari rute yang kemungkinan
dilalui Kutika. Saat sampai perbatasan Negeri Manusa dengan Negeri Sakola,
Kupisa mendengar suara tangisan yang semakin lama semakin keras.
Sambil mengendap-endap, Kupisa
menuju suara tangisan itu. Kupisa kaget, ternyata itu adalah tangisan dari
Kutika Kurcaci.
“Kutika! Kamu kok menangis kenapa?”
tanya Kupisa.
“Aku tersesat, tadi sampai jembatan,
jembatan putus, muter jalan lain, tambah tersesat” jawab Kutika sambil
menangis.
“Maafin aku Kupisa, aku sebenarnya
ingin bareng kamu, tapi aku gengsi sama teman-teman. Kasihan anak-anak Negeri
Manusa ...” lanjut Kutika sambil masih menangis.
“Tenang aja aku sudah maafin, dan
anggaplah ini sebagai pelayanan untuk dirimu sendiri ya. Yuk kita segera ke
negeri Manusa, masih ada waktu ...” ajak Kupisa sambil manarik tangan Kutika
agar bergegas.
Merekapun
bergegas ke Negeri Manusa untuk mengejar waktu tersisa pelayanan dan akibat
kejadian itu, Kutika sadar, jika kesombongannya bisa merugikan orang lain dan
dirinya sendiri.
Selamat
Membaca
On 10.18 by Nur Rakhmat in Artikel Populer No comments
Sebuah karya memperingati HUT PT. KAI tahun 2017
Masih perlu renungan mendalam ...
Masih perlu renungan mendalam ...
Aku,
Kereta Api dan Literasi
Oleh
: Nur Rakhmat
Kerata
api, itulah moda transportasi impian yang aku impikan sejak lama. Saat itu,
saat masih duduk di bangku TK, kebetulan tempat tinggal nenek ada dekat rel
kereta api di wilayah Prembun Kebumen. Semingu sekali, bapak menjemputku pulang
ke rumah pasti selalu melewati terowongan kereta api di Desa Sarwogadung
Kecamatan Mirit Kebumen.
Setiap
mau melewati jalan di bawah rel kereta pasti bapak berhenti dan menunggu kereta
lewat. Sejak itulah aku mengenal kereta api, hanya bisa melihat dan mendengar
suaranya, dan belum pernah menaikinya.
Aku
hanya bisa bermimpi kapan bisa naik kereta api. Lebih –lebih saat musim lebaran
tiba, aku hanya bisa mendengar tante dan paman yang merantau ke Jakarta,
bagaimana rasanya naik kereta api. Katanya, pernah mulai dari antre tiket yang
berdesak-desakan, masuknya lewat jendela kereta, duduknya saling berhimpitan
bahkan jika ada yang tidak kebagian tempat duduk ada yang duduk di lantai
kereta, dan certia menarik lainnya.
Setelah
sekian lama hanya bisa mendengar cerita tentang kereta api, akhirnya aku
merasakan bagaimana rasanya naik kereta api. Momen spesial tersebut terjadi
saat tante menikah dengan temannya yang berasal dari Jakarta, saat itulah aku
benar-benar merasakan naik kereta api. Saat itu, aku berangkat dengan rombongan
dari Stasiun Kutoarjo Jawa Tengah menuju Stasiun Jatinegara di Jakarta Timur
dengan kereta api ekonomi.
Aku
benar-benar menikmati perjalanan naik kereta tersebut, mulai dari banyaknya
pedagang asongan di kereta api, tidur beralasakan koran di lantai kereta dan
kejadian menarik lainnya. Dalam hati aku berkata, “jadi begini rasanya naik
kereta api”, ternyata sama dengan apa yang diceritakan oleh tante dan paman
saat pulang kampung lebaran.
Setelah
sekian lama, tidak naik kereta, aku hanya mengikuti perkembangan kereta dari
tahun ke tahun. Mulai dari perbaikan sarana prasarana kereta, pelarangan
pedagang asongan di kereta api, penambahan jalur kereta dengan aktifasi rel
ganda, regenerasi pegawai kereta api, sampai dengan diberlakukananya sistem boarding
pas penumpang pada moda transportasi kereta api ini.
Dari
semua perubahan pada sistem perkereta apian tersebut, yang aku banggakan adalah
diberlakukannya sistem boarding pas. Dengan sistem tersebut aku benar-benar
nyaman naik kereta api, tidak berdesak-desakan, tidak bising keramaian
penumpang dan pedagang serta pelayanan nyaman selama perjalanan pun sangat aku
rasakan.
Kesempatan
merasakan naik kereta api dengan sistem baru tersebut aku dapatkan tepat
setahun setelah aku menikah. Waktu itu aku akan pulang ke Purworejo dan mode
transportasi satu-satunya adalah bus jurusan Semarang-Purwokerto via Gombong.
Namun, sudah menjadi rahasia umum kalau moda trasnportasi tersebut selalu penuh
dan berdesakan.
Akhirnya,
istriku browsing masuk laman PT. KAI, waktu itu istri dapat info dari temannya
katanya ada kereta api jurusan Semarang Purwokerto. Ternyata setelah istriku
masuk web PT.KAI tersebut, informasinya ternyata benar, ada kereta api jurusan
Semarang-Purwokerto yang bernama KA. Kamandaka.
Ya,
kereta api Kamandaka. Sesuai jadwal yang tertera dalam jadwal keberangkatan di
web PT.KAI, Kereta Kamandaka berangkat dari semarang ke Purwokerto sebanyak
tiga gelombang, ada yang jam 05.00 pagi, 11.00 dan jam 17.00 sore. Kamipun
memutuskan untuk berangkat dengan kereta Kamandaka yang jam 05.00 pagi.
Kamipun
berangkat dari Stasiun Poncol Semarang dengan menggunakan kereta Kamandaka jam
05.00 pagi, mudahnya pelayanan mulai dari pemesanan tiket secara online
sehingga meminimalkan peluang calo tiket berkeliaran adalah kesan pertama yang
sangat membuat kami bahagia.
Ruang
stasiun yang nyaman dan bersih membuat kami senang menunggu kereta datang,
terlebih saat itu semua penumpang diperdengarkan lagu gambang semarang. Tenang,
nyaman dan damai, itulah yang kami rasakan dari pelayanan PT. KAI di stasiun
kereta.
Akhirnya,
kereta yang kami tunggupun datang, satu persatu penumpang naik kereta dan
mencari tempat duduk sesuai dengan yang tertera dalam tiket kereta
masing-masing. Kesan pertama saat memasuki gerbong kereta adalah wow sungguh
luar biasa!
Berbeda
sekali dengan waktu aku pertama kali naik kereta saat SD dulu, gerbong yang
bersih, penumpang yang duduk satu satu sesui dengan nomornya, tidak adanya
pedagang asongan adalah hal yang berbeda dengan yang aku rasakan dulu.
Selama
perjalanan petugas pramugari kereta yang ramah dan Polsuska yang mengawal
kereta menjadikan perjalan dari Semarang Purwokerto semakin menyenangkan.
ditambah lagi keindahan alam pedesaan selama perjalanan, juga membuat pikiran
menjadi lebih fresh dan segar kembali.
Akhirnya
kamipun sampai di Stasiun Purwokerto. Di sini kami mencari tiket terusan untuk
menuju Stasiun Kutoarjo, dan kamipun dapat tiket dengan menggunakan kereta api
ekonomi Joglokerto jurusan Jogjakarta. Tidak berapa lama, kereta api Joglokerto
datang.
Kesan
pertama saat memasuki gerbong kereta sama bagusnya, yaitu tidak berdesakan dan
bersih serta cukup nyaman dengan AC nya. Kamipun menikmati perjalanan menuju
Stasiun Kutoarjo dengan senang dan nyaman. Akhirnya sampai juga aku di Stasiun
Besar Kutoarjo, stasiun legendaris dengan kenangan manis yang seolah membuka
memori indah masa kecil tanah kelahiran.
Dari
Stasiun, kamipun langsung menuju rumah masa kecil. Kecu atau tukang Becak di depan Stasiun Kutoarjo meawarkan kami
untuk naik becak mereka. Tanpa pikir panjang, akhirnya kami naik becak menuju
rumah. Selama perjalanan naik becak, diiringi tiupan semilir angin pedesaan dan
bunyi roda becak yang bernyanyi, aku memimpikan mungkinkah di masa mendatang
kereta api bisa lebih optimal lagi melayani penumpang setianya?
Kulihat
istriku duduk di sampingku dengan nyaman, maklum istriku asli kelahiran
Semarang, jadi kubiarkan dia menikmati indahnya suasana pedesaan. Akupun melanjutkan
impianku selama naik kereta, aku memimpikan agar pelayanan yang diberikan
PT.KAI semakin memuaskan penumpang.
Diantara
impian tersebut yang pertama adalah adanya kereta api ramah difable. Aku
memimpikan agar PT. Kereta Api Indonesia menyediakan gerbong khusus difable
pada semua moda kereta api, baik pada kereta api jarak dekat atau kereta api jarak
jauh. Baik kereta api ekonomi, kereta api bisnis, maupun kereta api eksekutif.
Tentu jika impian tersebut terwujud, saudara-saudara kita yang difable pasti
akan senang dan nyaman saat naik kereta.
Untuk
itu, sebaiknya di masa mendatang, PT.KAI juga menyediakan petugas kesehatan
yang selalu siap siaga utamanya untuk mendampingi penumpang umum dan penumpang
difable agar semakin nyaman naik kereta api kebanggaan negeri.
Impian
yang kedua adalah adanya kereta ramah anak. Artinya kereta tersebut benar-benar
kereta yang ramah anak-anak. Kereta yang menyediakan gerbong khusus untuk
penumpang yang membawa penumpang anak-anak atau infal. Gerbong tersebut bisa
dilengkapi dengan fasilitas bermain yang aman bagi anak saat kereta berhenti
maupun berjalan. Sehingga dengan adanya kereta ramah anak dengan falisitas
ramah anak, anak-anak bisa menikmati perjalanan kereta dengan menyenangkan
Impian
selanjutnya adalah adanya tiket terusan yang bisa dibeli di stasiun pertama
keberangkatan. Misalnya, dari Stasiun Semarang akan ke Stasiun Kutoarjo via
Purwokerto, impianku adalah tiket langsung bisa dibeli dan dicetak di stasiun
awal. Sehingga saat akan naik kereta yang dari Purwokerto ke Kutoarjo tidak
antri lagi.
Dengan
sistem tersebut, bonus kemudahan lainnya saat menunggu kereta selanjutnya
datang adalah penumpang bisa leluasa
menikmati pelayanan lain di stasiun, misalnya menikmati membaca di ruang tunggu
atau ruang baca, menikmati aneka kuliner khas di stasiun tersebut, dan lain
sebagainya.
Kemudian
impian lainnya dari pelayanan PT.KAI yaitu, adanya ruang khusus di stasiun yang
digunakan sebagai tempat membaca atau adanya sudut baca yang menyediakan buku-buku
berkualitas mulai dari buku anak-anak, berupa buku dongeng, cerpen, dll serta
buku untuk orang tua dan profesional yang berisikan pengembangan diri, dll.
Intinya,
di setiap stasiun terdapat ruang baca yang berisikan banyak buku. Bahkan impian
dan harapanku, tidak hanya di stasiun, tetapi di kereta api disediakan buku
bacaan di tiap-tiap kursi penumpang atau mungkin justru diadakan gerbong baca
dalam rangkaian kereta tersebut.
Jika
impian adanya sudut baca di stasiun dan gerbong baca tersebut terealisasi,
tentu hal itu akan menjadi prestasi membanggakan bagi PT. KAI. Bagaimana tidak?
Dengan adanya ruang baca baik di stasiun ataupun di kereta, secara langsung
otomatis PT. KAI juga mendukung gerakan literasi yang merupakan salah satu
upaya untuk mendukung progam PPK (Penguatan Pendidikan Karakter) bagi warga
negara Indonesia ini.
Selain
itu, PT. KAI juga secara langsung ikut mendorong minat baca masyarakat
Indonesia yang menurut riset masih rendah jika dibandingkan negara tetangga. Dan,
dengan adanya ruang baca di kereta api ataupun di stasiun, PT.KAI juga ikut
andil dalam pembentukan karakter positif generasi bangsa via budaya membaca di
kereta untuk Indonesia yang lebih berkarakter.
Dan
untuk tindak lanjutnya, PT. KAI bisa membudayakan Gerakan Literasi Kereta
(GeLiTa) sebagai salah satu upaya pencegahan oleh PT. KAI terhadap upaya pemerosostan
moral generasi muda via literasi kereta. Lalu, bentuk kegiatan literasi kereta
tersebut bagaimana? Bentuk kegiatannya bisa berupa membaca buku di kereta api,
dan stasiun, menulis catatan perjalanan oleh penumpang dan kemudian dibukukan.
Bisa dibayangkan, berapa jumlah buku yang tercetak jika sebagian besar
penumpang menulis catatan perjalan mereka selama menggunakan kereta.
Selain
bisa menjadi referensi bacaan, buku karya penumpang tersebut bida dijadikan
bahan bacaan yang bisa menambah daya tarik konsumen untuk naik kereta api.
Artinya dengan banyaknya peredaran buku, kereta api akan semakin marketable dan makin jadi moda
transportasi pilihan masyarakat.
Tiba-tiba
aku teringat lagu yang diajarkan guruku saat masih TK, “Naik kereta api-tut-tut-tut ... siapa hendak turut ... ke Bandung
Surabaya, Bolehlah naik dengan percuma ... ayo kawanku cepat naik ... keretaku
tak berhenti lama ...
Sambil
tersenyum aku mengenang lagu tersebut dan tak terasa aku sudah tiba di rumah
masa kecilku, indah, penuh kenangan dan selalu memancarkan aura rasa kangen dan
kasih sayang antar aku dan orang tuaku, adik-adikku dan semua saudaraku.
Terimakasih
kereta apiku
Kereta Api Kita
On 10.07 by Nur Rakhmat in Artikel Populer No comments
Guru Zaman Now .... Guru CeRIA ...
alhamdulillah dimuat di Harian Tribun Jateng.
Selasa, 31 Oktober 2017 ...
Semoga berkenan dan bisa memicu semangat kita untuk lebih baik ... amin ..
alhamdulillah dimuat di Harian Tribun Jateng.
Selasa, 31 Oktober 2017 ...
Semoga berkenan dan bisa memicu semangat kita untuk lebih baik ... amin ..
Menjadi
Guru Zaman Now
Oleh
: Nur Rakhmat
Kids
zaman now! Itulah istilah yang sedang menjadi viral di dunia maya saat ini.
Kids zaman now adalah sebutan untuk generasi muda dengan segala tingkah lakunya
yang menjadi sorotan karena cenderung mengarah pada kegiatan negatif di
lingkungan mereka.
Adanya
anak yang membantah nasihat orang tua ataupun guru, penurunan karakter positif
siswa adalah diantara beberapa contoh sikap kids zaman now yang perlu segera diperbaiki
dan dibina sehingga menjadi kids zaman now yang berkarakter dan bisa menjadi
generasi penerus bangsa handal di masa mendatang.
Tentu
untuk menjadi generasi yang handal di masa mendatang, kids zaman now ( baca :
siswa zaman now) haruslah mampu mengembangkan potensi dan bakat yang ada pada
dirinya masing-masing. Sebagaimana dikatakan dalam Undang-Undang No. 20 tahun
2003 tetang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa siswa atau peserta didik adalah
anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses
pembelajaran yang tersedia pada jalur pendidikan tertentu.
Sehingga,
agar siswa bisa menjadi siswa zaman now yang ideal dan mampu mengembangkan
potensi serta bakatnya masing-masing, maka siswa tersebut haruslah dididik oleh
guru profesional dengan kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan
profesional.
Namun
untuk mendidik generasi zaman now, menjadi siswa berkarakter, empat kompetensi
dasar tersebut belumlah cukup, guru harus mampu menjadi guru zaman now yang
bisa menjadi sumber inspirasi dan model positif bagi siswa zaman now. Lalu
bagaimanakah sosok guru tersebut?
Guru CeRIA
Ya, guru CeRIA! Akronim dari cerdas,
religius, inovatif, dan amanah. hemat kami sesuai untuk menginspirasi siswa dan
menjadi model positif panutan siswa. Lalu bagaimanakah guru CeRIA tersebut?
CeRIA yang pertama adalah cerdas.
Artinya, jika ingin menjadi guru yang mampu mendidik siswa zaman now yang
handal dan mampu menjadi generasi hebat, guru haruslah cerdas, utamanya dalam
tupoksi yang diperankannya sebagai guru. Diantaranya guru harus menguasai dan
mampu menerapkan kompetensi yang dimilikinya untuk kebaikan siswa.
Selain
itu, guru hendaknya juga bisa cerdas dalam menyikapi segala bentuk tingkah laku
siswa zaman now saat ini. Oleh karena itu, guru hendaknya tidak hanya cerdas
dalam intelektual saja. Tetapi guru hendaknya juga cerdas dalam interpersonal,
intrapersonal, emosioal, language dan lain sebagainya.
Seperti yang kita ketahui bersama,
bahwa kecerdasan tiap siswa bermacam-macam, atau disebut dengan kecerdasan
majemuk dengan tokohnya Dr. Howard Gardner, yang meliputi kecerdasan
linguistik, matematic-logic, visual-spasial, musikal, kinestetic, intrpersonal,
interpersonal, dan naturalis. (Munif Chatib, 2013:56).
CeRIA yang kedua untuk guru zaman
now yaitu, bersikap religius. Artinya guru hendaknya beragama dan bisa
mengamalkan ajaran agamanya untuk kebaikan. Mengapa sikap religius sangat
penting dan mutlak dimiliki guru zaman now? Ingat, guru zaman now berada di
zaman yang serba modern. Zaman dimana semua informasi baik positif dan negatif
bisa diakses dengan cepat oleh semua orang, termasuk oleh siswa.
Sehingga dengan sikap religius yang
dimilikinya, diharapkan guru tersebut mampu membendung dan mencegah semua
konten dan informasi negatif yang menyerang siswa sebagai generasi penerus
bangsa. Sehingga siswa bisa tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai dengan
tahapan perkembangan yang semestinya dilaluinya.
Selain itu, dengan sikap religius
yang dimiliki guru, siswa juga bisa terinspirasi oleh guru tersebut untuk
bersikap religius juga. Sehingga jika siswa terinspirasi dan mengaplikasikan
sikap religius tersebut dalam keseharian, adanya kemerosotan moral siswa, siswa
yang terkena dampak narkoba, kecanduan miras, dan segala bentuk karakter
negatif lain yang menyerang siswa bisa hilang karena sikap religius siswa sudah
matang.
Bentuk CeRIA selanjutnya adalah
inovatif. Guru zaman now hendaklah inovatif atau mampu menghasilkan suatu karya
sebagai bentuk profesionalismenya sebagai guru. Bentuk inovasi tersebut bisa
dilakukan oleh guru, membimbing siswa dan berkolaborasi dengan siswa.
Misalnya untuk memudahkan pemahaman siswa
terhadap materi pelajaran tertentu yang dianggap sulit, guru bisa membuat media
pembelajaran yang mudah, aplikatif dan bisa digunakan memudahkan siswa untuk
memahami materi yang dianggap sulit tersebut. Guru juga bisa berkolaborasi
dengan siswa untuk melakukan inovasi dalam bidang penelitian, sehingga guru bisa
memotivasi dan menginspirasi siswa untuk selalu berinovasi dan berkarya untuk
kemajuan bidang pendidikan yang dibidanginya.
Bentuk CeRIA yang terkahir adalah
amanah. Mengapa sikap amanah? Setelah guru mempunyai karakter cerdas, religius,
inovatif, guru juga hendaknya memiliki sikap amanah. Sikap ini sebagai bungkus dari semua sikap yang dimiliki
guru. Yaitu, guru cerdas yang amanah, inovatif yang amanah, dan religus yang
amanah, dan sikap lainnya.
Sehingga dengan guru memiliki sikap
amanah atau dapat dipercaya, dalam segala tingkah lakunya, guru tersebut
mempunyai tanggungjawab tinggi untuk mendidik generasi siswa zaman now menjadi
generasi yang berkarakter positif. Dan bisa benkontribusi nyata demi kemajuan
bangsa.
Akan tetapi, untuk menjadi guru
zaman now yang profesional dan berkarakter CeRIA, diperlukan komitmen dan
dedikasi serta sikap integritas setiap guru untuk mendidik generasi siswa zaman
now menjadi generasi yang bermoral dan berkarakter positif tersebut.
Sehingga harapannya di zaman modern
ini, guru bukan hanya menjadi guru zaman now yang sukanya berfoto selfie dan
dan wifie saja, tetapi guru zaman now yang bisa menginspirasi siswa dan berkontribusi
nyata dalam pembangunan nasional, utamanya pembangunan sumber daya manusia, khususnya via bidang pendidikan. Amin ...
Guru zaman now? Mengapa tidak?
Nur
Rakhmat, S.Pd.
Guru
SDN Kalibanteng Kidul 01 UPTD Pendidikan Kecamatan Semarang Barat Kota
Semarang.
Senin, 30 Oktober 2017
On 02.33 by Nur Rakhmat in Artikel Ilmiah Populer No comments
Sebuah renungan tentang korupsi dalam bentuk pidato sederhana...
Monggo ...
Korupsi
Menyengsarakan Anak Cucu
Assalamualaikum
warakhmatullahi wabarakatuh ...
Salam
sejahtera untuk kita semua ...
Yang
terhormat bapak ibu dewan juri, serta sahabat sahabat tercinta yang selalu
sukses dalam karya
Puji
syukur mari kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas segala kasih sayangNYA kita masih diberi kekuatan, masih diberi
nikmat, sehingga kita masih dipertemukan dalam rangka seleksi lomba FLS2N ini.
Indonesia
adalah negara yang beradab, Indonesia juga negara yang kaya akan nilai-nilai
moral dan nilai-nilai yang mencerminkan sikap santun serta ramah penduduknya.
Namun
sangat disayangkan, banyak oknum yang mencoreng beradabnya karakter bangsa
dengan melakukan perbuatan tercela yaitu, korupsi. Ya, korupsi saat ini marak
menjangkiti semua elemen masyarakat. Korupsi ibarat permen manis namun lama-lama
mengikis gigi dari bagus menjadi “gripis”.
Oleh
karena itu, sudah menjadi tugas kita semua memberantas korupsi. Sudah menjadi
tugas kita juga untuk membantu KPK dalam pemberantasan korupsi di negeri
tercinta ini. Jangan sampai anak cucu kita sengsara karena diakibatkan korupsi
yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab tersebut.
Sebagai
siswa generasi penerus bangsa, kita bisa melakukan tindakan pencegahan korupsi sejak
dini, mulai saat ini juga, dan mulai dari hal-hal kecil di lingkungan kita. Dengan
apa? Yang utama, mari kita biasakan
jujur dalam hal apapun, misalnya saat jajan di kantin jangan sampai kita cari
untung alias mbathi dengan mengambil
barang yang tidak sesuai dengan jumlah yang kita beli.
Tindakan
lain misalnya jangan kita berbohong, baik pada orang tua maupun guru bahkan
kepada teman. Karena dengan kita tidak jujur, kita sebenarnya sudah melakukan korupsi. Dan dengan korupsi, berarti
kita sudah merusak moral diri kita sendiri.
Mahatma
Gandhi seorang tokoh terkenal dunia yang berasal dari India pernah berkata, kejujuran adalah inti dari moralitas. Maka
dari itu, mari sebagai generasi penerus bangsa, kita biasakan untuk selalu
jujur dalam segala hal. Dengan tujuan, agar benih-benih korupsi bisa kita atasi
sejak dini.
Akhirnya,
sekian dari kami semoga uraian singkat tadi bisa menggugah semangat kita untuk
selalu benar, baik dalam sikap aupun tindakan. Sehingga bangsa kita bisa bebas
dari korupsi dan mampu menginspirasi generasi menjadi generasi yang cerdas dan
bermoral. Tentu, demi Indonesia yang lebih bermartabat.
Stop
Korupsi, Mari Menginspirasi!!!
Wassalamualaikum.wr.wb.
#SuatuLomba
Rabu, 25 Oktober 2017
On 07.20 by Nur Rakhmat in Berita No comments
Buku Baru : Desiran Kalbu
BUKU BARU!
Judul : Desiran Kalbu
Penulis : Nur Rakhmat
Kategori : Kumpulan Puisi
Tebal : v + 45 hlmn. 13 x 19 cm
ISBN : 978-602-6582-61-4
Harga : Rp 22.000,- (belum termasuk ongkir)
--------------------------------------
Blurb :
Desiran Kalbu… sebuah kumpulan puisi berisi detak kalbu penulis tentang makna kehidupan dalam berbagai sudut pandang.
Desiran Kalbu… ibarat angin yang membimbing udara dalam arah sama dengan langkah sempurna, ibarat bumi yang tiada bergeming walau berat beban, walau berat terpaan, selalu tabah dan kuat tiada pernah terlambat.
Desiran Kalbu… sebuah untaian sajak yang bergolak dari jiwa-jiwa, terlepas dan tertambat dalam sanubari penulis, sebagai ungkapan syukur akan makna kehidupan yang bebas dan luas serta tiada pernah menebas jiwa tenang dalam bingkai hidup kesempurnaan dan kebermaknaan.
----------------------------------------
Cetakan pertama, Agustus 2017
Diterbitkan oleh:
Penerbit Hanami
Jalan Seroja, Karangayu RT 03 RW 03, Cepiring, Kendal
Jawa Tengah 51352
Tlp. 08989051690
Email: penerbit.hanami@gmail.com
----------------------------------------
Format Pemesanan:
Nama_Alamat Lengkap dan Kode Pos_Judul Buku_Jumlah Buku_No HP
Kirim SMS/WA/LINE 08989051690 (Penerbit Hanami) atau WA 081542557038 (penulis)
Judul : Desiran Kalbu
Penulis : Nur Rakhmat
Kategori : Kumpulan Puisi
Tebal : v + 45 hlmn. 13 x 19 cm
ISBN : 978-602-6582-61-4
Harga : Rp 22.000,- (belum termasuk ongkir)
--------------------------------------
Blurb :
Desiran Kalbu… sebuah kumpulan puisi berisi detak kalbu penulis tentang makna kehidupan dalam berbagai sudut pandang.
Desiran Kalbu… ibarat angin yang membimbing udara dalam arah sama dengan langkah sempurna, ibarat bumi yang tiada bergeming walau berat beban, walau berat terpaan, selalu tabah dan kuat tiada pernah terlambat.
Desiran Kalbu… sebuah untaian sajak yang bergolak dari jiwa-jiwa, terlepas dan tertambat dalam sanubari penulis, sebagai ungkapan syukur akan makna kehidupan yang bebas dan luas serta tiada pernah menebas jiwa tenang dalam bingkai hidup kesempurnaan dan kebermaknaan.
----------------------------------------
Cetakan pertama, Agustus 2017
Diterbitkan oleh:
Penerbit Hanami
Jalan Seroja, Karangayu RT 03 RW 03, Cepiring, Kendal
Jawa Tengah 51352
Tlp. 08989051690
Email: penerbit.hanami@gmail.com
----------------------------------------
Format Pemesanan:
Nama_Alamat Lengkap dan Kode Pos_Judul Buku_Jumlah Buku_No HP
Kirim SMS/WA/LINE 08989051690 (Penerbit Hanami) atau WA 081542557038 (penulis)
—
bersama Nur Rakhmat.
Langganan:
Postingan (Atom)
Search
Video
Kurtilas
Kategori
Artikel Ilmiah Populer
(23)
Bank Soal
(20)
Artikel Populer
(15)
Puisi
(12)
Berita
(11)
Kisah Sang Guru
(10)
Cerita Anak
(6)
Pidato
(4)
Buku
(3)
Dongeng
(2)
Esai
(2)
Geguritan
(2)
info lomba
(2)
Cerpen
(1)
Galeri Foto
(1)
Media Pembelajaran
(1)
Pantun
(1)
TUGAS SISWA
(1)
TUGAS SISWA 2
(1)
Tugas 4
(1)
Tugas Siswa 3
(1)
Diberdayakan oleh Blogger.
