Oleh: Nur Rakhmat, S.Pd

Selasa, 24 Oktober 2017

On 19.00 by Nur Rakhmat in    No comments
Renungan yang masih butuh untuk lebih direnungkan ...

Tiba Saat Penguatan Pendidikan Karakter
Oleh : Nur Rakhmat
Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter telah dikeluarkan. Hal tersebut secara otomatis menghentikan polemik Permendikbud Nomor 23 tahun 2017 tentang hari sekolah. Bahkan sekolah diberi kebebasan untuk memilih lima hari sekolah atau enam hari sekolah.(Suara Merdeka, 08/09/2017).
Namun, apakah dengan terbitnya perpres tersebut penguatan pendidikan karakter bisa segera diterapkan? Dan apakah dengan perpres tersebut makna Pendidikan karakter tidak semakin terkotak – kotak?
Sistem menyeluruh
            Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sebagaimana dikatakan dalam pasal 1 Perpres No. 87 tahun 2017 adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakaat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).
            Jika kita melihat pengertian di atas bisa disimpulkan bahwa penguatan pendidikan karakter melibatkan semua elemen masyarakat. Penguatan pendidikan karakter memerlukan kerja sama yang baik antar elemen, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan.
            Pertama, dalam perencanaan, orang tua maupun masyarakat bisa membantu satuan pendidikan untuk merencanakan hal apa saja yang akan dilaksanakan dalam penguatan pendidikan karakter terhadap peserta didik. Orang tua dan masyarakat juga bisa mengidentifikasi hal apa saja yang dapat mereduksi nilai karakter peserta didik sebelum progam PPK dilaksanakan.
            Hemat kami, hal tersebut penting, selain agar progam bisa dijalankan dengan baik, adanya identifikasi masalah terhadap semua hal yang mengancam eksisnya penguatan Pendidikan Karakter (PPK) bisa menambah efektifitas penerapan penguatan pendidikan karakter ini.
            Mengapa demikian? dengan sudah adanya identifikasi masalah, guru sebagai pelaksana utama akan lebih mudah menyiapkan tindakan preventif untuk mencegah adanya merosotnya nilai karakter di sekolah tersebut. Sehingga saat dalam tahapan pelaksanaan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), guru dan semua pihak di dalamnya mampu menjalankan penguatan pendidikan karakter dengan efektif dan efisien.
            Kemudian yang kedua, saat pelaksanaan, keterlibatan atau kerja sama elemen orang tua dan masyarakat bisa berupa contoh konkret nilai keteladanan, karena hal ini sangat penting kedudukannya guna mencapai karakter ideal peserta didik.
Mengapa penting? Hal ini dikarenakan penguatan pendidikan karakter positif tidak akan berhasil jika tidak ada figur atau model yang mampu memberikan keteladanan di dalamnya. Dan proses pendidikan pastilah membutuhkan uswatun khasanah atau teladan yang baik dari semua pihak, utamanya guru, orang tua, dan masyarakat.  
Percuma banyak progam atau wacana, jika nilai keteladanan dinafikan. Oleh karena itu, praktik yang baik, tindakan riil atau aksi nyata dari semua elemen masyarakat sangat diperlukan dalam penguatan pendidikan karakter terhadap peserta didik ini.
Misalnya dalam penguatan pendidikan karakter di sekolah, tentu hal tersebut tidak akan berhasil jika tidak ada nilai keteladanan dari warga sekolah, utamanya kepala sekolah, pengawas, guru, dll. Konkretnya adalah jika peserta didik diperintahkan untuk datang tidak terlambat. Kepala sekolah, guru dan warga sekolah yang lain juga tidak boleh datang terlambat.
Selain di sekolah, teladan yang baik juga sangat diperlukan di lingkungan rumah. Misalnya orang tua memerintahkan anaknya untuk tidak melihat TV saat jam belajar. Orang tua juga jangan melihat TV saat jam belajar anak.
            Dan selain di sekolah dan lingkungan rumah, sikap keteladanan yang baik juga muncul dari elemen masyarakat. Sikap keteladanan tersebut bisa berupa saat berlalu lintas masyarakat mematuhi aturan dengan memakai helm, tidak menerobos lampu merah dan lainnya. Selain itu, keteladanan yang baik atau praktik yang baik dari masyarakat juga bisa ditunjukkan saat antri di loket atau mematuhi tata tertib lainnya. Sehingga jika teladan yang baik tersebut dilakukan, peserta didik bisa meniru dan belajar juga untuk mematuhi tata tertib, belajar antri dan belajar karakter positif lainnya.
Keteladanan selanjutnya yang dibutuhkan guna memperkuat pendidikan karakter peserta didik adalah keteladanan dari pemerintah. Dalam hal apa? Yang paling utama adalah keteladanan untuk konsisten menjalankan aturan yang berlaku. Jangan sampai masyarakat menjadi apatis terhadap kebijakan yang dibuat pemerintah, karena gonta ganti kebijakan. Tentu jika hal itu terjadi, pendidikan karakter hanya sebatas wacana tanpa aksi nyata, penguatan pendidikan karakter hanya sebatas asa yang tiada pernah terasa hasil dan dampaknya.
Tentu hal tersebut tidak ingin terjadi bukan? Maka ketika Menteri Pendidikan mengeluarkan pernyataan tentang PR jangan berupa matematika atau mata pelajaran lain, karena itu cukup diselesaikan di sekolah, bukan di rumah dan guru bisa memberikan PR yang berkaitan dengan nilai-nilai karakter prioritas dalam PPK (Suara Merdeka, 09/09/2017), hal tersebut justru dapat memicu perdebatan kembali, bagaimana penguatan pendidikan karakter yang baik terhadap peserta didik.
Mengapa demikian? Karena dengan pernyataan tersebut, secara tidak langsung bisa menyebabkan kegaduhan baru di kalangan guru dalam menanamkan dan menguatkan karakter peserta didik di sekolah. Misalnya, guru menugaskan siswa berupa pekerjaan rumah untuk melakukan proyek bersama orang tua dengan menghitung jumlah perabot rumah tangga. Apakah dengan kata-kata menghitung perabot yang sangat berkaitan erat dengan matematika itu tidak boleh? Padahal dengan menghitung perabot bersama orang tua hal tersebut juga termasuk salah satu bentuk dari penanaman pendidikan karakter prioritas yang berupa integritas, peduli dan gorong royong.
            Maka dari itu, kerjasama dan komunikasi yang baik antar elemen sangat diperlukan dalam penanaman pendidikan karekter ini. Selain sebagai upaya untuk menyamakan visi dan misi demi cerdasnya kehidupan bangsa, komunikasi yang baik antar elemen juga bisa dijadikan sebagai teladan yang baik bagi peserta didik dalam menerapkan pendidikan karakter di lingkungannya masing-masing.
Oleh karena itu, mari kita dukung progam PPK tersebut dengan sepenuh hati dan penuh tanggung jawab. Kita tinggalkan pro dan kontra yang mengiringi Penguatan Pendidikan Karakter. Kita songsong masa depan yang lebih baik. Dan kita pererat gotong royong bersama dalam menguatkan kaakter unggul peserta didik.
Dengan harapan adanya sistem menyeluruh dalam bentuk kerjasama dan gotong royong semua pihak, baik sekolah, orang tua, masyarakat dan pemerintah dalam menerapakan dan menguatkan pendidikan karakter kepada peserta didik, karakter positif peserta didik diharapkan akan meningkat dan akan mampu menjadi generasi yang bermoral, berkahlak baik dan berkarakter unggul. Demi Indonesia yang lebih bermartabat.

Sudah tibakah saat penguatan pendidikan karakter?

Nur Rakhmat, S.Pd.
Guru SDN Kalibanteng Kidul 01 UPTD Pendidikan Kecamatan Semarang Barat
Kota Semarang 

Minggu, 22 Oktober 2017

On 20.47 by Nur Rakhmat in    No comments
Bacaan Asmaul Khusna dan Pendidikan Karakter Siswa
Oleh : Nur Rakhmat
Dewasa ini berbagai bentuk kenakalan yang didominasi anak muda semakin meningkat, termasuk siswa di dalamnya. Adanya siswa yang terpapar narkoba, pergaulan bebas, dan tawuran pelajar yang biasanya dilakukan anak usia sekolah menengah sudah terjadi pada siswa Sekolah Dasar.
Sekolah sebagai kawah candradimuka pembentukan karakter siswa berkewajiban membentuk siswa memiliki karakter positif dan berbudi pekerti luhur sudah seharusnya melakukan berbagai usaha yang dapat menjadi penangkal siswa dari pengaruh negatif perkembangan zaman.
Dan sebagai lembaga pendidikan yang mendidik siswanya menjadi generasi unggul, sekolah harus mencoba berbagai kiat dan trik yang mampu mencetak generasi penerus bangsa menjadi generasi yang berkarakter dan bermoral baik.
Pembiasaan Membaca Asmaul Khusna
Diantara kiat yang bisa dilakukan untuk membentuk siswa menjadi generasi unggul, cerdas, dan berkarakter adalah dengan membaca asmaul khusna atau pembacaan nama-nama Allah SWT yang berjumlah 99 asma tersebut disertai dengan doa di dalamnya.
Lalu bagaimana teknis pelaksanaannya? Hemat kami, teknis pertama adalah membiasakan bacaan asmaul khusna dilakukan pagi hari saat siswa belum memulai kegiatan belajar bersama guru. Untuk waktunya, bisa dimulai pukul 06.30 atau tiga puluh menit sebelum bel masuk dimulai.
Mengapa dilakukan sebelum pembelajaran dimulai? Ini disebabkan karena, selain mempertimbangkan agar tidak mengganggu jam pelajaran efektif, juga dimaksudkan untuk melatih kedisiplinan semua warga sekolah, baik siswa, guru, kepala sekolah, maupun penjaga sekolah.
Disiplin dalam bentuk apa? Mari kita tengok, dengan pembiasaan pukul 06.30, mau tidak mau siswa harus berangkat tidak terlambat, minimal pukul 60.30 sampai sekolah. Dan otomatis dengan siswa tidak terlambat, bapak ibu guru, kepala sekolah dan warga sekolah lainnya juga tidak datang terlambat. Jelas di sini budaya disiplin dengan salah satu tandanya tidak terlambat sekolah sudah terbentuk dan harapannya konsisten serta menjadi budaya positif sekolah.
Kemudian, dengan pembiasaan bacaan asmaul khusna yang dilakukan sebelum jam pembelajaran efektif dimulai, selain bisa membudayakan disiplin juga bisa sebagai perwujudan siswa membudayakan gerakan literasi sekolah. Bagaimana bisa? Dengan dimulai pembacaan asmaul khusna pada pukul 06.30 dan harapan selesai pukul 06.50 lengkap dengan doanya. Tentu masih menyisakan waktu 10 menit. Dan waktu 10 menit tersebut bisa digunakan siswa untuk membaca buku nonteks dilanjutkan dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya sebagai bentuk membudayakan Gerakan Literasi di Sekolah.
Selain itu, melakukan pembiasaan membaca asmaul khusna sebelum jam pelajaran efektif dimulai juga bisa membentuk siswa menjadi pribadi yang sehat dan tangguh, serta pribadi yang religius. Mengapa demikian? dengan membaca asmaul khusna sebelum belajar dimulai, secara otomatis siswa juga berdoa dan memohon kepada Allah agar bisa mengikuti pembelajaran dengan baik dan bisa mendapat segala karuniai Allah SWT.
Teknis yang kedua adalah pembacaan asmaul khusna dilakukan di luar kelas. Dengan membaca asmaul khusna di luar kelas, secara tidak langsung siswa sudah menyebarkan kebaikan kepada semua orang yang melihat dan mendengarkan lantunan asmaul khusna siswa. Selain itu, dengan membaca asmaul khusna di halaman sekolah, siswa juga sudah membiasakan dan meyebarkan gerakan revolusi mental yang digalakkan oleh pemerintah.
Dan yang lebih menggetarkan lagi, pembacaan asmaul khusna di halaman juga bisa membuat orang tua atau orang yang mengantar siswa ke sekolah ikut membaca asmaul khusna yang dilantunkan siswa. Hal ini tentu sangat diharapkan oleh kita semua bahwa siswa juga bisa menjadi agen perubahan positif di lingkungannya, baik lingkungan sekolah, maupun lingkungan masyarakat dan lingkungan keluarganya.
Teknis yang ketiga dalam pembiasaan pembacaan asmaul khusna adalah tugas memimpin asmaul khusna diserahkan kepada siswa. Jadi salah satu siswa ditunjuk untuk memimpin teman-temannya membaca asamul khusna, baik yang dilakukan di luar kelas ataupun di dalam kelas.
Dengan siswa memimpin bacaan asmaul khusna ini, tentu sangat berdampak positif sekali dalam kaitannya dengan penanaman karakter positif pada anak. Selain melatih keberanian siswa, langkah tersebut juga bisa menginspirasi siswa yang lain untuk berani memimpin membaca asmaul khusna di depan teman-temannya dan seluruh warga sekolah.
Selain itu, hal ini juga bisa menjadi kebanggan tersendiri baik bagi siswa maupun orang tua dan bapak ibu guru. Bagi siswa, tentu hal ini menambah keberanian siswa dalam mengikuti pembelajaran atau kegiatan lainnya. Bagi orang tua, mereka akan bangga bahwa anaknya juga bisa berprestasi dan membanggakan orang tuanya dengan menjadi pemimpin temannya yang lain.
Dan untuk guru, sikap berani melakukan hal positif adalah sesuatu yang sangat berharga sekali. Selain bisa menjadikan proses pembelajaran di kelas lebih hidup, dengan sikap berani melakukan hal positif bisa menjadikan pembelajaran lebih bermakna karena siswa juga merasa nyaman dalam belajar.
Dan masih banyak teknis lainnya yang bisa dilakukan sekolah guna membentuk karakter positif siswa dengan bacaan asmaul khusna ini. Namun yang paling utama adalah tujuan dari pembiasaan pembacaan asmaul khusna itu apa? Apakah hanya sekedar ceremonial saja? Atau hanya ingin menunjukkan kepada pimpinan bahwa sekolah kita adalah sekolah berkarakter?
Tentu bukan hal tersebut yang kita inginkan. Sebagai umat beragama dan sebagai insan pendidikan kita semua pasti menginginkan anak dan siswa generasi peenerus kita mempunyai akhlak yang baik, anak dan siswa generasi penerus kita mempunyai karakter yang unggul dan mumpuni serta bermoral.
Nah, dengan pembiasaan membaca asmaul khusna setiap hari di sekolah, tentu kita semua ingin agar siswa sebagai generasi penerus bangsa mempunyai sifat dan sikap yang berkarakter, mempunyai sikap dan sifat yang diteladankan dari nama-nama mulia Allah SWT.
Misalnya siswa diharapkan mampu mempunyai sifat dan sikap nama Allah Arrahman dan Arrahim, atau Allah yang maha pengasih dan penyayang. Siswa juga diharapkan mempunyai sifat dan sikap nama Allah SWT Assobru atau Allah yang maha sabar. Siswa juga diharapkan mempunyai sifat dan sikap nama Allah SWT Al’Adlu atau Allah yang maha adil, serta sifat mulia Allah lainnya.
Memang untuk mengawali pembiasaan pembacaan asmaul khusna tersebut tidaklah mudah, akan banyak dijumpai tantangan dan halangan yang beragam, baik dari siswa, guru, orang tua dan warga sekolah lainnya. Namun, jika kita sadar akan dampak positif yang ditimbulkan, seperti tumbuhnya sikap disiplin, berani, bermoral baik serta santun terwujud, tentu kita semua akan bangga dan kita semua pasti mendukung usaha positif yang dilakukan sekolah.
Diperlukan kesabaran, komitmen, dan keihklasan dari semua pihak agar siswa dan semua stake holder sekolah istiqomah dalam membudayakan membaca asmaul khusna setiap hari, dengan harapan agar siswa sebagai generasi penerus bangsa ini mampu menjawab tantangan zaman, mampu menjadi generasi yang cerdas, dan mampu membawa harum bangsa, menjadi bangsa yang bermartabat, bermoral dan berkarakter.Sehingga Indonesia yang cerdas dan bermoral bisa terwujud. Amin... semoga.

Ø  Nur Rakhmat, S.Pd.
Guru SDN Kalibanteng Kidul 01 UPTD Pendidikan Kecamatan Semarang Barat Kota Semarang


















Minggu, 15 Oktober 2017

On 09.26 by Nur Rakhmat in    No comments


 Kegiatan Tadarus Buku

Membaca itu asyik !!!



On 08.51 by Nur Rakhmat in    2 comments
Antara TaB dan DoA
Oleh : Nur Rakhmat
“Pak, bonekaku namanya Fely!” Teriak Felysha setelah berhasil memberi nama boneka kecil hasil kreasi dari praktik membuat boneka kaos kaki sebagai penilaian dari Mata Pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan.
Karena jumlah siswa di kelas kami ada 40 siswa, selain Felysha, tentu ada 39 siswa lainnya dengan 39 nama boneka kaos kaki berbeda-beda. Dan untuk mengapresiasi hasil karya siswa tersebut, 39 boneka kaos kaki tersebut sudah kami pajang di kelas, dengan tujuan siswa menjadi lebih merasa dihargai karyanya dan tentu saja agar siswa setiap hari bisa bersanding dengan bonekanya dan bisa lebih mengenal serta bergaul dengan boneka buatannya di waktu senggang mereka atau disela-sela waktu efektif belajar mereka.
Tujuan kami memajang boneka karya siswa tersebut bukan tanpa alasan. Sebagi sekolah yang sedang mengembangkan pendidikan karakter, kami tentu mempunyai keinginan agar pendidikan karakter bisa tersampaikan dengan baik, pendidikan karakter bisa diterima dengan baik oleh semua warga sekolah khususnya siswa dan pendidikan karakter bisa diimplementasikan menjadi kebiasaan positif dan membudaya di lingkungan SD kami, yaitu SDN Kalibanteng Kidul 01 Kota Semarang.
Setelah kurang lebih satu bulan sejak boneka dipajang, dalam hati kami berkata, “bagusnya boneka tersebut dibuat apa ya?” Apakah hanya menjadi pajangan kelas kemudian setelah itu disimpan di lab atau lemari karya siswa? Atau dibiarkan hanya menjadi pajangan dibiarkan kadaluarsa begitu saja?
“Dibuat dongeng!” Teriakku dalam hati. Mengapa dongeng atau tepatnya DoA (Dongeng Anak) yang mula-mula muncul dalam pikiran kami? Karena hemat kami dongeng adalah salah satu cara yang bisa digunakan untuk membentuk dan menumbuhkan karakter positif anak, apalagi siswa kami masih di tingkat Sekolah Dasar, tentu mereka sangat senang sekali dan sangat tertarik dengan dongeng, lebih-lebih jika dongeng tersebut mempunyai unsur kebaruan dan dibuat oleh temannya sendiri. Tentu hal tersebut menjadi nilai lebih tersendiri bagi yang membuat maupun yang menikmati dongeng tersebut.
Bahkan Evelyn Williams English dalam bukunya mengatakan bahwa dongeng bisa digunakan sebagai salah satu media untuk memvisualisasikan dan menghubungkan kecerdasan yang dimiliki siswa, utamanya kecerdasan linguistik dengan kecerdasan-kecerdasan siswa yang lainnya.(Evelyn Williams E, 2012:34).
Selain itu, alasan dongeng anak kami jadikan sebagai salah satu media untuk mengimplementasikan pendidikan karakter adalah sebagai tindak lanjut dari kegiatan membaca yang sudah membudaya di sekolah kami. Tepatnya, sekolah kami sudah menerapkan kebijakan kepada semua warga sekolah agar membaca buku bisa fiksi maupun non fiksi di pagi hari selama 15 menit sebelum pembelajaran efektif dilakukan.
Selain sebagai upaya untuk membudayakan membaca pada siswa, kegiatan tersebut juga sebagai tindak lanjut dari Peraturan Menteri Pendidikan No. 23 Tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti sebagai salah satu upaya untuk menanamkan dan membudayakan pendidikan karakter positif di sekolah, yang salah satunya dengan kegiatan membaca.
Kegiatan membaca sebagai upaya pembentukan karakter tersebut kami lakukan setiap hari, kecuali Hari Senin karena ada upacara bendera dan Hari Jumat yang biasanya kami lakukan untuk kegiatan senam pagi sbersama semua warga sekolah.
Agar kegiatan membaca tersebut tidak membosankan dan bisa lebih membuat siswa semangat, kami menyebut kegiatan membaca tersebut dengan istilah Tadarus Buku (TaB). Ya, Tadarus Buku (TaB)! Sebuah kegiatan membaca siswa dengan mengadopsi dan memodifikasi dari kegiatan membaca alquran secara berjamaah yang biasanya dilakukan oleh umat islam, kegiatan tadarus buku ini juga dilakukan secara berjamaah oleh semua siswa di kelas masing-masing.
Teknisnya, saat bel tanda waktu membaca dimulai, semua siswa masuk kelas dan membaca buku yang telah disediakn oleh guru di pojok baca atau sudut baca siswa. kemudian siswa membaca buku yang dipilihnya dan setelah membaca mereka menulis buku apa yang sudah dibaca pada buku jurnal membaca siswa. Jurnal ini berguna bagi guru untuk mengetahui buku apa saja yang sudah dibaca siswa dan sejauh mana daya tangkap siswa terhadap buku yang telah mereka baca.
Perlu diketahui, dalam buku jurnal baca milik siswa tersebut terdapat rangkuman atau amanat yang didapat siswa dari membaca buku tersebut. Jadi siswa belum mempunyai kemampuan untuk lebih dari sekedar membaca. Artinya yang dihasilkan dari kegiatan membaca yang dilakukan siswa atau Tadarus Buku (TaB) ini hanya sekedar manfaat bagi dirinya, yaitu mengetahui isi buku. Belum tentu siswa menerapkan atau belum tentu siswa bisa menginspirasi orang lain dari kegiatan tadarus buku tersebut.
Oleh karena itu, perlu tindak lanjut yang harus dilakukan guru agar siswa lebih termotivasi dan tidak bosan untuk selalu membiasakan budaya baca di manapun mereka berada. Salah satu upaya kami yaitu kami ajak siswa suntuk membuat dongeng anak (DoA) seperti yang sudah sedikit kami uraikan di atas.
Pembuatan dongeng anak, Selain mengajak siswa untuk meningkatkan level kemampuan membaca menjadi kemampuan menulis. Membuat dongeng anak (DoA) juga bisa meningkatkan kemampuan siswa dalam berbahasa menjadi lebih tinggi lagi, yaitu kemampuan berbicara. Yang menurut sebagian besar guru dan para ahli sangat sulit penerapannya.
Dongeng Anak (DoA) Sekali lagi, bukan dongeng kancil nyolong timun, dongeng cinderela, atau putri tidur dari negeri seberang sana yang sudah sering didengarkan oleh anak. Tetapi dongeng yang dibuat adalah dongeng anak (DoA) yang dibuat sendiri oleh siswa, mengedepankan pendidikan karakter dan tentunya sesuai dengan perkembangan pola pikir siswa serta sesuai dengan daya imajinasi siswa terhadap boneka kaos kaki yang dibuatnya tersebut.
Oleh karena dongeng tersebut dibuat oleh siswa, maka semua isi dongeng, baik alurnya, tokohnya, wataknya, latarnya, amanatnya semua yang menentukan adalah siswa. Dan sebagai guru kelasnya, kami tentu tidak lepas tangan untuk selalu membimbing dan mengarahkan bila siswa kesulitan atau mengalami kebuntuan dalam menemukan ide atau gagasan tentang dongeng yang akan mereka buat.
Sesuai dengan yang termaktub dalam Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, pada pasal 1 ketentuan 1 dikatakan, bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi, peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, pendidikan menengah.
Oleh karena itu, berdasarkan tugas guru tersebut, kemudian kami mendorong siswa agar bisa menyelesaikan DoA (Dongeng Anak) sesuai yang mereka harapkan. Dan dongeng yang mereka buat bisa menjadi inspirasi bagi diri siswa pembuat dongeng dan siswa lainnya. Sesuai dengan semboyan yang selalu kami berikan ke siswa sebagi bentuk motivasi yaitu “Sukses Selalu”.
Mengapa motivasi penting? Sebagaimana menurut Mc.Donald dikatakan bahwa motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “Feeling” dan didahului oleh tanggapan terhadap adanya tujuan.(Sardiman, 2011: 73).
Sehingga dengan adanya motivasi dari kami berupa penghargaan pemajangan karya siswa, dan kata-kata motivasi “Sukses Selalu” dalam setiap hasil capaian siswa dan karya siswa, siswa menjadi merasa lebih dihargai dalam membuat karya dan juga feeling siswa dalam membuat dongeng semakin lebih kuat.
Artinya, dengan motivasi yang tepat tersebut, harapannya siswa bisa menjadi generasi yang hebat, generasi yang bisa menjadi agen perubahan mulai dari lingkungan terdekat mereka, yaitu lingkungan sekolah, lingkungan keluarga dan lingkungan pergaulan dalam keseharian mereka.
Kemudian agar DoA (Dongeng Anak) yang dibuat siswa tersebut tidak terbentur putusnya ide, ataupun tidak mengalami kebuntuan saat menjabarkan ide ceritanya, kami juga menunjukkan ke siswa karya dongeng karya orang lain yang ada di buku, yang dimuat di majalah ataupun yang dimuat di koran.
Hal ini sangat penting, selain bisa dijadikan motivasi bagi siswa, karya orang lain yang dimuat di surat kabar dan majalah juga bisa dijadikan rujukan bagi siswa untuk sama seperti dengan mereka, yaitu karyanya dimuat di surat kabar atau dibuat buku yang bisa dibaca oleh semua orang.
Sebagaimana di sekolah kami, khususnya di kelas enam A, hasil dongeng yang dibuat siswa tersebut kami bukukan menjadi satu buku menjadi buku kumpulan dongeng siswa kelas enam A yang disebut ‘Domi-Domi Nema” (Dongeng mini-Dongeng Mini Enam A).
Namun, dalam perkembangannya, pembuatan DoA (Dongeng Anak) tidak semudah atau secepat yang kita perkirakan. Tetap saja ada hambatan yang membuat kami selalu berusaha membulatkan tekad anak untuk membuat DoA (Dongeng Anak) tersebut. Diantara hambatan tersebut adalah gaya belajar siswa yang beda-beda, tidak semua siswa mempunyai kemampuan berbahasa tulis yang baik, tidak semua siswa hobi membaca buku, siswa yang suka menunda-nunda karya, dan kemampuan siswa membuat cerita yang sangat bervariatif. Sekali lagi, di sinilah peran guru sangat penting agar dongeng anak tersebut bisa diselesaikan dengan baik.
Dan hemat kami, langkah tepat yang bisa dilakukan adalah dengan meningkatkan semangat siswa untuk bertadarus buku (TaB) sehingga bisa menghasilkan karya yang bisa dinikmati orang lain.
Sehingga dari semua uraian di atas, bisa kita ambil kesimpulan bahwa antara tadarus buku dengan dongeng anak ada saling keterkaitan yang positif. Ada hubungan simbiosis mutualisme atau hubungan yang saling menguntungkan antara dua kegiatan tersebut. Dimana dengan membaca atau tadarus buku (TaB) siswa bisa mendapat ide baru untuk dibuat dongeng dan dengan membuat Dongeng Anak (DoA) siswa bisa lebih termotivasi untuk lebih semangat bertadarus buku (TaB) atau membaca buku.
Akan ada banyak manfaat yang didapat oleh siswa dari kegiatan tersebut. Diantaranya, yang pertama adalah siswa menjadi lebih banyak pengetahuan karena banyak membaca buku, siswa juga semakin berani dalam mengekspresikan diri lewat mendongeng, siswa juga semakin produktif berkarya dan lebih semangat untuk menghasilkan karya positif yang bisa menginspirasi diri dan orang lain.
Dan tentunya kegiatan membaca atau tadarus buku (TaB) yang berlanjut dengan adanya DoA (Dongeng Anak) bisa menjadi salah satu media untuk lebih membudayakan karakter positif anak sebagai generasi penerus bangsa. tentu, dengan harapan siswa sebagai generasi penerus bangsa bisa menjadi generasi yang cerdas, bermoral demi Indonesia yang lebih baik.












On 08.38 by Nur Rakhmat in    No comments
Malam Kelam Dalam Hening Mencekam, Indah dan Penuh Berkah ...

Malam Kelam

Oleh : Nur Rakhmat

Aku tertunduk meratap penuh harap
Aku tertegun bagai bunga layu dalam anggunnya nirwana
Aku terlewat ...
Aku terlena ...
Aku tiada bisa bertemu dengan indah karunia Mu
Menyesal sungguh aku menyesal
Sedih sungguh aku sedih tiada terperih
Namun ... bagaimana ini bisa terjadi?
Malam kelam yang tiada penghadapan diri pada Tuhan
Sungguh aku benci malam kelam penuh ilusi
Dan aku ingin ...
Aku ingin ulangi malam tiada malam kelam sedari awal
Sungguh aku ingin berjumpa dengan ampunan dan rida Mu
Sungguh aku ingin selalu bersanding dalam pelukan Mu
Aku ingin tiada lagi berjumpa malam kelam
Aku ingin malam menjadi malam penuh idaman dan harapan

Sudut Ampunan, 12/01/2017
On 01.59 by Nur Rakhmat in    No comments
Sebuah renungan yang masih perlu penghayatan mendalam ...


Pancasila Sakti Via Literasi


Oleh : Nur Rakhmat

Masihkah Pancasila sakti? Pancasila atau lima dasar yang menjadi landasan idiil bangsa kita, sekarang sedang dituntut untuk eksis dan terus bertahan dari berbagai ancaman yang sangat berat. Baik ancaman yang berasal dari dalam negeri ataupun yang dari dalam negeri.
Bahkan ancaman tersebut saat ini mulai terlihat keberadaanya. Mulai dari sentimen dan gesekan antar suku, agama dan ras, tumbuhnya gerakan radikalisme ataupun ancaman yang sifatnya degradasi moral atau penurunan moral generasi bangsa yang saat ini mulai marak.
Misalnya peredaran narkoba, seks bebas, minum-minuman keras, dan video porno. Bahkan yang mencengangkan, segala bentuk degradasi moral tersebut saat ini sudah mulai menyasar anak-anak usia Sekolah Dasar baik di lingkungan perkotaan ataupun pedesaan.
Lalu bagaimana cara kita agar pancasila bisa tetap sakti?
Literasi
Ya, literasi adalah langkah tepat untuk menangkis segala ancaman yang mengancam eksistensi pancasila di era modern ini. Literasi menurut kamus online Merriam-Webster berasal dari istilah latin “Literature” dan Bahasa Inggris “letter” yang berarti kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang didalamnya ada kemampuan membaca dan menulis.(literasi.jabarprov.go.id,03:57,03/10/2017).
Oleh karena itu, berdasarkan makna tersebut, hemat kami literasi tepat digunakan untuk menjaga pancasila tetap sakti. Terlebih Negara kita sudah mempunyai Permendikbud No. 21 Tahun 2015 terkait dengan Penanaman Budi Perkerti yang salah satu kegiatannya adalah membaca 15 menit sebelum pembelajaran. Tentu dengan payung hukum tersebut, penggunaan literasi sebagai salah bentuk usaha dalam penanaman budi pekerti sangat mendukung sekali untuk menjaga pancasila tetap sakti via literasi.
Dengan harapan, adanya gerakan literasi tersebut, generasi saat ini yang hidup di tengah arus kemudahan informasi bisa tetap menjaga fungsi pokok pancasila sebagai landaan idiil, sumber hukum, dan sebagai pedoman hidup dalam pergaulan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Selain itu, dengan literasi, harapannya, generasi saat ini juga bisa memahami dan memaknai pancasila dengan baik, dan mampu menjaga pancasila tetap sakti sampai di masa mendatang. Sehingga pancasila di masa mendatang tidak hancur sebab ketidaktahuan dan kesalahan generasi saat ini dalam memaknai pancasila. (Suaran Merdeka, 02/10/2017)
Lalu bagaimana bentuk literasi yang bisa dilakukan generasi saat ini agar pancasila tetap sakti? Sebagaimana pengertian literasi yang berkaitan dengan kegiatan membaca dan menulis, gerakan literasi yang bisa dilakukan hemat kami yaitu membaca pancasila. Membaca di sini maksudnya tidak hanya membaca secara harfiah saja, tetapi membaca dengan tindak lanjut mengamalkan hasil yang dibaca dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan yang bisa dilakukan oleh generasi saat ini sebagai generasi penerus bangsa yang mayoritas masih duduk di bangku sekolah adalah diantaranya dengan membaca kembali makna pancasila sesuai yang tertera dalam butir-butir pancasila P4. Mengapa kegiatan tersebut sangat perlu dilakukan?
Butir-butir pancasila sebagai tafsiran pengamalan tiap sila dalam pancasila saat ini masih sangat relevan digunakan, mengingat kondisi bangsa saat ini utamanya moral generasinya semakin jauh dari jiwa pancasila.
Oleh karena itu, dengan generasi muda saat ini membaca tiap butir dalam pancasila, harapannya mereka tidak hanya mengenal pancasila sebagai lafal rutinitas formalitas yang dibacakan setiap upacara bendera saja. Tetapi mereka benar-benar bisa menafsirkan pancasila sebagai pondasi utama bangsa dan mengimplementasikan nilai-nilai pancasila sesuai konteks kekinian.
 Misalnya untuk mengamalkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa, sila pertama dalam pancasila, generasi muda saat ini bisa membuat video saat umat beragama di negara kita sedang beribadah kemudian mempostingnya dalam blog atau youtube. Tidak sebatas itu, selanjutnya video tersebut dijadikan viral dan kemudian dijadikan sebagai iklan layanan masyarakat terkait dengan keberagaman agama di bangsa kita.
Sehingga dengan adanya tayangan tersebut, masyarakat menjadi sadar akan beragamnya agama di negara kita. Masyarakat semakin sadar bahwa di negara kita tidak hanya satu agama, tetapi beberapa agama yang saling menghormati satu sama lain. Terlebih di negara kita, ada kaidah Tri Kerukunan Umat Beragama, yaitu kerukunan antar umat seagama, kerukunan antara umat bergama, dan kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah. Tentu, masyarakat akan semakin sadar bahwa dalam konteks bersosialisasi dalam kehidupan beragama di negara yang plural ini, ada pemersatu yaitu pemerintah.
Kemudian untuk memaknai sila yang kedua yaitu, kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, generasi muda saat ini bisa melakukan kegiatan bakti sosial melalui wadah komunitas mereka. Sehingga dengan kegiatan tersebut, maraknya komunitas sebagai ciri generasi muda tersebut, bisa digunakan generasi muda untuk mengaktualisasi diri dan mampu berkontribusi dalam kegiatan positif dan bermanfaat bagi sesama manusia.
Selanjutnya untuk mengimplementasikan sila ketiga, Persatuan Indonesia, generasi muda saat ini bisa melakukan tadabbur alam dan sosial di seluruh wilayah Indonesia. Baik tadabbur atau penghayatan terhadap kondisi alam lingkungannya dan tadabbur terhadap kondisi sosial atau dinamika sosial bangsa. Teknisnya, generasi muda sebagai generasi milenial yang dekat dan akrab dengan internet bisa menggalang jaringan generasi muda seluruh nusantara.
Manfaatnya, dengan membangun jaringan di seluruh nusantara, generasi muda saat ini juga bisa sadar akan bahaya hoax atau berita palsu yang beredar luar di dunia maya. Sehingga, dengan generasi muda sadar bahaya hoax, generasi muda yang terjaga kemurniannya bisa berperan positif dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
 Selain itu, manfaat dari tadabbur alam dan sosial tersebut, generasi muda saat ini juga sadar, ternyata kondisi alam Bangsa Indonesia luas dan kaya serta kondisi sosial penduduknya juga beraneka ragam.
Kemudian sebagai bentuk pengamalan pancasila sila yang keempat, generasi muda bisa mempraktikkan gambaran hidup berdemokrasi dan saling menghormati sejak dini dengan cara mengikuti organisasi seperti pramuka, dll.
Banyak manfaat jika generasi muda saat ini ikut organisasi positif, yang pertama hal tersebut bisa melatih keberanian para generasi muda, melatih sikap sikap saling menghormati saat musyawarah, menerima hasil musayawarah dengan penuh tanggungjawab dan lain sebagainya.
Selanjutnya, generasi muda saat ini bisa mengamalkan sila kelima dengan cara menghargai hasil karya orang lain. Teknisnya, generasi muda bisa menginfentaris hasil karya orang lain. Hasil karya bisa berupa karya yang bersifat tulis menulis ataupun bersifat event yang menggambarkan kekayaan budaya bangsa. Sehingga jika semua sudah terkumpul, hasil karya tersebut bisa diedarkan dan diinikmati oleh seluruh Warga Negara Indonesia.
Kemudian bentuk literasi lainnnya yang dapat digunakan mendukung pancasila tetap sakti setelah membaca pancasila adalah dengan memaknai pancasila sesuai dengan bakat, minat dan sudut pandang masing-masing generasi muda.
Misalnya bagi generasi muda yang suka dunia tulis menulis, mereka bisa memaknai pancasila dari sudut karya sastra seperti puisi, cerpen, dan novel yang sifatnya membangun karakter positif generasi muda. Kemudian, setelah karya tersebut terkumpul lalu dijadikan buku untuk kemudian diedarkan ke seluruh wilayah Indonesia.
Namun, generasi muda masa kini dalam menjaga pancasila agar tetap sakti via literasi tidak bisa sendirian. Mengingat, generasi muda masih perlu bimbingan dan arahan dari generasi yang lebih dewasa dalam bersikap. Oleh karena itu, dukungan dan teladan dari semua pihak khususnya para tokoh masyarakat dan para pemimpin bangsa sangatlah dibutuhkan oleh generasi muda saat ini.
Tentu, dengan harapan, gerakan literasi untuk menjaga pancasila tetap sakti bisa berjalan dengan baik dan bisa memberi manfaat bagi seluruh Warga Negara Indonesia. Dan generasi muda, sebagai generasi penerus bangsa bisa melanjutkan perjuangan untuk menjaga Pancasila demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Nur Rakhmat, S.Pd.
Guru SDN Kalibanteng Kidul 01  Kota Semarang.