Selasa, 24 Oktober 2017
On 19.00 by Nur Rakhmat in Artikel Populer No comments
Renungan yang masih butuh untuk lebih direnungkan ...
Tiba Saat Penguatan Pendidikan Karakter
Tiba Saat Penguatan Pendidikan Karakter
Oleh
: Nur Rakhmat
Peraturan
Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter telah
dikeluarkan. Hal tersebut secara otomatis menghentikan polemik Permendikbud
Nomor 23 tahun 2017 tentang hari sekolah. Bahkan sekolah diberi kebebasan untuk
memilih lima hari sekolah atau enam hari sekolah.(Suara Merdeka, 08/09/2017).
Namun,
apakah dengan terbitnya perpres tersebut penguatan pendidikan karakter bisa
segera diterapkan? Dan apakah dengan perpres tersebut makna Pendidikan karakter
tidak semakin terkotak – kotak?
Sistem menyeluruh
Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)
sebagaimana dikatakan dalam pasal 1 Perpres No. 87 tahun 2017 adalah gerakan
pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter
peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah
raga dengan pelibatan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan
masyarakaat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).
Jika kita melihat pengertian di atas
bisa disimpulkan bahwa penguatan pendidikan karakter melibatkan semua elemen
masyarakat. Penguatan pendidikan karakter memerlukan kerja sama yang baik antar
elemen, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan.
Pertama, dalam perencanaan, orang
tua maupun masyarakat bisa membantu satuan pendidikan untuk merencanakan hal
apa saja yang akan dilaksanakan dalam penguatan pendidikan karakter terhadap
peserta didik. Orang tua dan masyarakat juga bisa mengidentifikasi hal apa saja
yang dapat mereduksi nilai karakter peserta didik sebelum progam PPK
dilaksanakan.
Hemat kami, hal tersebut penting,
selain agar progam bisa dijalankan dengan baik, adanya identifikasi masalah
terhadap semua hal yang mengancam eksisnya penguatan Pendidikan Karakter (PPK)
bisa menambah efektifitas penerapan penguatan pendidikan karakter ini.
Mengapa demikian? dengan sudah
adanya identifikasi masalah, guru sebagai pelaksana utama akan lebih mudah
menyiapkan tindakan preventif untuk mencegah adanya merosotnya nilai karakter
di sekolah tersebut. Sehingga saat dalam tahapan pelaksanaan Penguatan
Pendidikan Karakter (PPK), guru dan semua pihak di dalamnya mampu menjalankan
penguatan pendidikan karakter dengan efektif dan efisien.
Kemudian yang kedua, saat
pelaksanaan, keterlibatan atau kerja sama elemen orang tua dan masyarakat bisa
berupa contoh konkret nilai keteladanan, karena hal ini sangat penting
kedudukannya guna mencapai karakter ideal peserta didik.
Mengapa
penting? Hal ini dikarenakan penguatan pendidikan karakter positif tidak akan
berhasil jika tidak ada figur atau model yang mampu memberikan keteladanan di
dalamnya. Dan proses pendidikan pastilah membutuhkan uswatun khasanah atau
teladan yang baik dari semua pihak, utamanya guru, orang tua, dan masyarakat.
Percuma
banyak progam atau wacana, jika nilai keteladanan dinafikan. Oleh karena itu, praktik
yang baik, tindakan riil atau aksi nyata dari semua elemen masyarakat sangat
diperlukan dalam penguatan pendidikan karakter terhadap peserta didik ini.
Misalnya
dalam penguatan pendidikan karakter di sekolah, tentu hal tersebut tidak akan
berhasil jika tidak ada nilai keteladanan dari warga sekolah, utamanya kepala
sekolah, pengawas, guru, dll. Konkretnya adalah jika peserta didik
diperintahkan untuk datang tidak terlambat. Kepala sekolah, guru dan warga
sekolah yang lain juga tidak boleh datang terlambat.
Selain
di sekolah, teladan yang baik juga sangat diperlukan di lingkungan rumah.
Misalnya orang tua memerintahkan anaknya untuk tidak melihat TV saat jam
belajar. Orang tua juga jangan melihat TV saat jam belajar anak.
Dan selain di sekolah dan lingkungan
rumah, sikap keteladanan yang baik juga muncul dari elemen masyarakat. Sikap
keteladanan tersebut bisa berupa saat berlalu lintas masyarakat mematuhi aturan
dengan memakai helm, tidak menerobos lampu merah dan lainnya. Selain itu,
keteladanan yang baik atau praktik yang baik dari masyarakat juga bisa ditunjukkan
saat antri di loket atau mematuhi tata tertib lainnya. Sehingga jika teladan
yang baik tersebut dilakukan, peserta didik bisa meniru dan belajar juga untuk
mematuhi tata tertib, belajar antri dan belajar karakter positif lainnya.
Keteladanan
selanjutnya yang dibutuhkan guna memperkuat pendidikan karakter peserta didik
adalah keteladanan dari pemerintah. Dalam hal apa? Yang paling utama adalah
keteladanan untuk konsisten menjalankan aturan yang berlaku. Jangan sampai
masyarakat menjadi apatis terhadap kebijakan yang dibuat pemerintah, karena
gonta ganti kebijakan. Tentu jika hal itu terjadi, pendidikan karakter hanya
sebatas wacana tanpa aksi nyata, penguatan pendidikan karakter hanya sebatas
asa yang tiada pernah terasa hasil dan dampaknya.
Tentu
hal tersebut tidak ingin terjadi bukan? Maka ketika Menteri Pendidikan
mengeluarkan pernyataan tentang PR jangan berupa matematika atau mata pelajaran
lain, karena itu cukup diselesaikan di sekolah, bukan di rumah dan guru bisa
memberikan PR yang berkaitan dengan nilai-nilai karakter prioritas dalam PPK (Suara Merdeka, 09/09/2017), hal
tersebut justru dapat memicu perdebatan kembali, bagaimana penguatan pendidikan
karakter yang baik terhadap peserta didik.
Mengapa
demikian? Karena dengan pernyataan tersebut, secara tidak langsung bisa
menyebabkan kegaduhan baru di kalangan guru dalam menanamkan dan menguatkan
karakter peserta didik di sekolah. Misalnya, guru menugaskan siswa berupa
pekerjaan rumah untuk melakukan proyek bersama orang tua dengan menghitung jumlah
perabot rumah tangga. Apakah dengan kata-kata menghitung perabot yang sangat
berkaitan erat dengan matematika itu tidak boleh? Padahal dengan menghitung
perabot bersama orang tua hal tersebut juga termasuk salah satu bentuk dari penanaman
pendidikan karakter prioritas yang berupa integritas, peduli dan gorong royong.
Maka dari itu, kerjasama dan
komunikasi yang baik antar elemen sangat diperlukan dalam penanaman pendidikan
karekter ini. Selain sebagai upaya untuk menyamakan visi dan misi demi cerdasnya
kehidupan bangsa, komunikasi yang baik antar elemen juga bisa dijadikan sebagai
teladan yang baik bagi peserta didik dalam menerapkan pendidikan karakter di
lingkungannya masing-masing.
Oleh
karena itu, mari kita dukung progam PPK tersebut dengan sepenuh hati dan penuh
tanggung jawab. Kita tinggalkan pro dan kontra yang mengiringi Penguatan
Pendidikan Karakter. Kita songsong masa depan yang lebih baik. Dan kita pererat
gotong royong bersama dalam menguatkan kaakter unggul peserta didik.
Dengan
harapan adanya sistem menyeluruh dalam bentuk kerjasama dan gotong royong semua
pihak, baik sekolah, orang tua, masyarakat dan pemerintah dalam menerapakan dan
menguatkan pendidikan karakter kepada peserta didik, karakter positif peserta
didik diharapkan akan meningkat dan akan mampu menjadi generasi yang bermoral,
berkahlak baik dan berkarakter unggul. Demi Indonesia yang lebih bermartabat.
Sudah
tibakah saat penguatan pendidikan karakter?
Nur Rakhmat, S.Pd.
Guru SDN Kalibanteng Kidul 01 UPTD Pendidikan Kecamatan Semarang Barat
Kota Semarang
Minggu, 22 Oktober 2017
On 20.47 by Nur Rakhmat in Artikel Populer No comments
Bacaan
Asmaul Khusna dan Pendidikan Karakter Siswa
Oleh
: Nur Rakhmat
Dewasa
ini berbagai bentuk kenakalan yang didominasi anak muda semakin meningkat,
termasuk siswa di dalamnya. Adanya siswa yang terpapar narkoba, pergaulan bebas,
dan tawuran pelajar yang biasanya dilakukan anak usia sekolah menengah sudah
terjadi pada siswa Sekolah Dasar.
Sekolah
sebagai kawah candradimuka pembentukan karakter siswa berkewajiban membentuk
siswa memiliki karakter positif dan berbudi pekerti luhur sudah seharusnya
melakukan berbagai usaha yang dapat menjadi penangkal siswa dari pengaruh
negatif perkembangan zaman.
Dan
sebagai lembaga pendidikan yang mendidik siswanya menjadi generasi unggul,
sekolah harus mencoba berbagai kiat dan trik yang mampu mencetak generasi
penerus bangsa menjadi generasi yang berkarakter dan bermoral baik.
Pembiasaan Membaca Asmaul Khusna
Diantara
kiat yang bisa dilakukan untuk membentuk siswa menjadi generasi unggul, cerdas,
dan berkarakter adalah dengan membaca asmaul khusna atau pembacaan nama-nama
Allah SWT yang berjumlah 99 asma tersebut disertai dengan doa di dalamnya.
Lalu
bagaimana teknis pelaksanaannya? Hemat kami, teknis pertama adalah membiasakan
bacaan asmaul khusna dilakukan pagi hari saat siswa belum memulai kegiatan
belajar bersama guru. Untuk waktunya, bisa dimulai pukul 06.30 atau tiga puluh
menit sebelum bel masuk dimulai.
Mengapa
dilakukan sebelum pembelajaran dimulai? Ini disebabkan karena, selain
mempertimbangkan agar tidak mengganggu jam pelajaran efektif, juga dimaksudkan
untuk melatih kedisiplinan semua warga sekolah, baik siswa, guru, kepala
sekolah, maupun penjaga sekolah.
Disiplin
dalam bentuk apa? Mari kita tengok, dengan pembiasaan pukul 06.30, mau tidak
mau siswa harus berangkat tidak terlambat, minimal pukul 60.30 sampai sekolah. Dan
otomatis dengan siswa tidak terlambat, bapak ibu guru, kepala sekolah dan warga
sekolah lainnya juga tidak datang terlambat. Jelas di sini budaya disiplin
dengan salah satu tandanya tidak terlambat sekolah sudah terbentuk dan
harapannya konsisten serta menjadi budaya positif sekolah.
Kemudian,
dengan pembiasaan bacaan asmaul khusna yang dilakukan sebelum jam pembelajaran
efektif dimulai, selain bisa membudayakan disiplin juga bisa sebagai perwujudan
siswa membudayakan gerakan literasi sekolah. Bagaimana bisa? Dengan dimulai
pembacaan asmaul khusna pada pukul 06.30 dan harapan selesai pukul 06.50
lengkap dengan doanya. Tentu masih menyisakan waktu 10 menit. Dan waktu 10 menit
tersebut bisa digunakan siswa untuk membaca buku nonteks dilanjutkan dengan
menyanyikan Lagu Indonesia Raya sebagai bentuk membudayakan Gerakan Literasi di
Sekolah.
Selain
itu, melakukan pembiasaan membaca asmaul khusna sebelum jam pelajaran efektif
dimulai juga bisa membentuk siswa menjadi pribadi yang sehat dan tangguh, serta
pribadi yang religius. Mengapa demikian? dengan membaca asmaul khusna sebelum
belajar dimulai, secara otomatis siswa juga berdoa dan memohon kepada Allah
agar bisa mengikuti pembelajaran dengan baik dan bisa mendapat segala karuniai
Allah SWT.
Teknis
yang kedua adalah pembacaan asmaul khusna dilakukan di luar kelas. Dengan
membaca asmaul khusna di luar kelas, secara tidak langsung siswa sudah
menyebarkan kebaikan kepada semua orang yang melihat dan mendengarkan lantunan
asmaul khusna siswa. Selain itu, dengan membaca asmaul khusna di halaman
sekolah, siswa juga sudah membiasakan dan meyebarkan gerakan revolusi mental
yang digalakkan oleh pemerintah.
Dan
yang lebih menggetarkan lagi, pembacaan asmaul khusna di halaman juga bisa
membuat orang tua atau orang yang mengantar siswa ke sekolah ikut membaca
asmaul khusna yang dilantunkan siswa. Hal ini tentu sangat diharapkan oleh kita
semua bahwa siswa juga bisa menjadi agen perubahan positif di lingkungannya,
baik lingkungan sekolah, maupun lingkungan masyarakat dan lingkungan
keluarganya.
Teknis
yang ketiga dalam pembiasaan pembacaan asmaul khusna adalah tugas memimpin
asmaul khusna diserahkan kepada siswa. Jadi salah satu siswa ditunjuk untuk
memimpin teman-temannya membaca asamul khusna, baik yang dilakukan di luar
kelas ataupun di dalam kelas.
Dengan
siswa memimpin bacaan asmaul khusna ini, tentu sangat berdampak positif sekali
dalam kaitannya dengan penanaman karakter positif pada anak. Selain melatih
keberanian siswa, langkah tersebut juga bisa menginspirasi siswa yang lain
untuk berani memimpin membaca asmaul khusna di depan teman-temannya dan seluruh
warga sekolah.
Selain
itu, hal ini juga bisa menjadi kebanggan tersendiri baik bagi siswa maupun
orang tua dan bapak ibu guru. Bagi siswa, tentu hal ini menambah keberanian
siswa dalam mengikuti pembelajaran atau kegiatan lainnya. Bagi orang tua,
mereka akan bangga bahwa anaknya juga bisa berprestasi dan membanggakan orang
tuanya dengan menjadi pemimpin temannya yang lain.
Dan
untuk guru, sikap berani melakukan hal positif adalah sesuatu yang sangat
berharga sekali. Selain bisa menjadikan proses pembelajaran di kelas lebih
hidup, dengan sikap berani melakukan hal positif bisa menjadikan pembelajaran
lebih bermakna karena siswa juga merasa nyaman dalam belajar.
Dan
masih banyak teknis lainnya yang bisa dilakukan sekolah guna membentuk karakter
positif siswa dengan bacaan asmaul khusna ini. Namun yang paling utama adalah
tujuan dari pembiasaan pembacaan asmaul khusna itu apa? Apakah hanya sekedar
ceremonial saja? Atau hanya ingin menunjukkan kepada pimpinan bahwa sekolah
kita adalah sekolah berkarakter?
Tentu
bukan hal tersebut yang kita inginkan. Sebagai umat beragama dan sebagai insan
pendidikan kita semua pasti menginginkan anak dan siswa generasi peenerus kita
mempunyai akhlak yang baik, anak dan siswa generasi penerus kita mempunyai
karakter yang unggul dan mumpuni serta bermoral.
Nah,
dengan pembiasaan membaca asmaul khusna setiap hari di sekolah, tentu kita
semua ingin agar siswa sebagai generasi penerus bangsa mempunyai sifat dan
sikap yang berkarakter, mempunyai sikap dan sifat yang diteladankan dari
nama-nama mulia Allah SWT.
Misalnya
siswa diharapkan mampu mempunyai sifat dan sikap nama Allah Arrahman dan Arrahim,
atau Allah yang maha pengasih dan penyayang. Siswa juga diharapkan mempunyai
sifat dan sikap nama Allah SWT Assobru atau Allah yang maha sabar. Siswa juga
diharapkan mempunyai sifat dan sikap nama Allah SWT Al’Adlu atau Allah yang
maha adil, serta sifat mulia Allah lainnya.
Memang
untuk mengawali pembiasaan pembacaan asmaul khusna tersebut tidaklah mudah, akan
banyak dijumpai tantangan dan halangan yang beragam, baik dari siswa, guru,
orang tua dan warga sekolah lainnya. Namun, jika kita sadar akan dampak positif
yang ditimbulkan, seperti tumbuhnya sikap disiplin, berani, bermoral baik serta
santun terwujud, tentu kita semua akan bangga dan kita semua pasti mendukung usaha
positif yang dilakukan sekolah.
Diperlukan
kesabaran, komitmen, dan keihklasan dari semua pihak agar siswa dan semua stake
holder sekolah istiqomah dalam membudayakan membaca asmaul khusna setiap hari,
dengan harapan agar siswa sebagai generasi penerus bangsa ini mampu menjawab
tantangan zaman, mampu menjadi generasi yang cerdas, dan mampu membawa harum
bangsa, menjadi bangsa yang bermartabat, bermoral dan berkarakter.Sehingga
Indonesia yang cerdas dan bermoral bisa terwujud. Amin... semoga.
Ø Nur
Rakhmat, S.Pd.
Guru
SDN Kalibanteng Kidul 01 UPTD Pendidikan Kecamatan Semarang Barat Kota Semarang
Minggu, 15 Oktober 2017
On 08.51 by Nur Rakhmat in Artikel Ilmiah Populer 2 comments
Antara
TaB dan DoA
Oleh
: Nur Rakhmat
“Pak,
bonekaku namanya Fely!” Teriak Felysha setelah berhasil memberi nama boneka
kecil hasil kreasi dari praktik membuat boneka kaos kaki sebagai penilaian dari
Mata Pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan.
Karena
jumlah siswa di kelas kami ada 40 siswa, selain Felysha, tentu ada 39 siswa
lainnya dengan 39 nama boneka kaos kaki berbeda-beda. Dan untuk mengapresiasi
hasil karya siswa tersebut, 39 boneka kaos kaki tersebut sudah kami pajang di
kelas, dengan tujuan siswa menjadi lebih merasa dihargai karyanya dan tentu
saja agar siswa setiap hari bisa bersanding dengan bonekanya dan bisa lebih
mengenal serta bergaul dengan boneka buatannya di waktu senggang mereka atau
disela-sela waktu efektif belajar mereka.
Tujuan
kami memajang boneka karya siswa tersebut bukan tanpa alasan. Sebagi sekolah
yang sedang mengembangkan pendidikan karakter, kami tentu mempunyai keinginan
agar pendidikan karakter bisa tersampaikan dengan baik, pendidikan karakter
bisa diterima dengan baik oleh semua warga sekolah khususnya siswa dan
pendidikan karakter bisa diimplementasikan menjadi kebiasaan positif dan
membudaya di lingkungan SD kami, yaitu SDN Kalibanteng Kidul 01 Kota Semarang.
Setelah
kurang lebih satu bulan sejak boneka dipajang, dalam hati kami berkata,
“bagusnya boneka tersebut dibuat apa ya?” Apakah hanya menjadi pajangan kelas
kemudian setelah itu disimpan di lab atau lemari karya siswa? Atau dibiarkan
hanya menjadi pajangan dibiarkan kadaluarsa begitu saja?
“Dibuat
dongeng!” Teriakku dalam hati. Mengapa dongeng atau tepatnya DoA (Dongeng Anak)
yang mula-mula muncul dalam pikiran kami? Karena hemat kami dongeng adalah
salah satu cara yang bisa digunakan untuk membentuk dan menumbuhkan karakter positif
anak, apalagi siswa kami masih di tingkat Sekolah Dasar, tentu mereka sangat
senang sekali dan sangat tertarik dengan dongeng, lebih-lebih jika dongeng tersebut
mempunyai unsur kebaruan dan dibuat oleh temannya sendiri. Tentu hal tersebut
menjadi nilai lebih tersendiri bagi yang membuat maupun yang menikmati dongeng
tersebut.
Bahkan
Evelyn Williams English dalam bukunya mengatakan bahwa dongeng bisa digunakan
sebagai salah satu media untuk memvisualisasikan dan menghubungkan kecerdasan
yang dimiliki siswa, utamanya kecerdasan linguistik dengan
kecerdasan-kecerdasan siswa yang lainnya.(Evelyn Williams E, 2012:34).
Selain
itu, alasan dongeng anak kami jadikan sebagai salah satu media untuk
mengimplementasikan pendidikan karakter adalah sebagai tindak lanjut dari
kegiatan membaca yang sudah membudaya di sekolah kami. Tepatnya, sekolah kami sudah
menerapkan kebijakan kepada semua warga sekolah agar membaca buku bisa fiksi
maupun non fiksi di pagi hari selama 15 menit sebelum pembelajaran efektif
dilakukan.
Selain
sebagai upaya untuk membudayakan membaca pada siswa, kegiatan tersebut juga
sebagai tindak lanjut dari Peraturan Menteri Pendidikan No. 23 Tahun 2015
tentang penumbuhan budi pekerti sebagai salah satu upaya untuk menanamkan dan
membudayakan pendidikan karakter positif di sekolah, yang salah satunya dengan
kegiatan membaca.
Kegiatan
membaca sebagai upaya pembentukan karakter tersebut kami lakukan setiap hari,
kecuali Hari Senin karena ada upacara bendera dan Hari Jumat yang biasanya kami
lakukan untuk kegiatan senam pagi sbersama semua warga sekolah.
Agar
kegiatan membaca tersebut tidak membosankan dan bisa lebih membuat siswa
semangat, kami menyebut kegiatan membaca tersebut dengan istilah Tadarus Buku
(TaB). Ya, Tadarus Buku (TaB)! Sebuah kegiatan membaca siswa dengan mengadopsi
dan memodifikasi dari kegiatan membaca alquran secara berjamaah yang biasanya
dilakukan oleh umat islam, kegiatan tadarus buku ini juga dilakukan secara
berjamaah oleh semua siswa di kelas masing-masing.
Teknisnya,
saat bel tanda waktu membaca dimulai, semua siswa masuk kelas dan membaca buku
yang telah disediakn oleh guru di pojok baca atau sudut baca siswa. kemudian
siswa membaca buku yang dipilihnya dan setelah membaca mereka menulis buku apa
yang sudah dibaca pada buku jurnal membaca siswa. Jurnal ini berguna bagi guru
untuk mengetahui buku apa saja yang sudah dibaca siswa dan sejauh mana daya
tangkap siswa terhadap buku yang telah mereka baca.
Perlu
diketahui, dalam buku jurnal baca milik siswa tersebut terdapat rangkuman atau
amanat yang didapat siswa dari membaca buku tersebut. Jadi siswa belum
mempunyai kemampuan untuk lebih dari sekedar membaca. Artinya yang dihasilkan
dari kegiatan membaca yang dilakukan siswa atau Tadarus Buku (TaB) ini hanya
sekedar manfaat bagi dirinya, yaitu mengetahui isi buku. Belum tentu siswa
menerapkan atau belum tentu siswa bisa menginspirasi orang lain dari kegiatan
tadarus buku tersebut.
Oleh
karena itu, perlu tindak lanjut yang harus dilakukan guru agar siswa lebih
termotivasi dan tidak bosan untuk selalu membiasakan budaya baca di manapun
mereka berada. Salah satu upaya kami yaitu kami ajak siswa suntuk membuat
dongeng anak (DoA) seperti yang sudah sedikit kami uraikan di atas.
Pembuatan
dongeng anak, Selain mengajak siswa untuk meningkatkan level kemampuan membaca
menjadi kemampuan menulis. Membuat dongeng anak (DoA) juga bisa meningkatkan
kemampuan siswa dalam berbahasa menjadi lebih tinggi lagi, yaitu kemampuan
berbicara. Yang menurut sebagian besar guru dan para ahli sangat sulit
penerapannya.
Dongeng
Anak (DoA) Sekali lagi, bukan dongeng kancil nyolong timun, dongeng cinderela,
atau putri tidur dari negeri seberang sana yang sudah sering didengarkan oleh
anak. Tetapi dongeng yang dibuat adalah dongeng anak (DoA) yang dibuat sendiri
oleh siswa, mengedepankan pendidikan karakter dan tentunya sesuai dengan perkembangan
pola pikir siswa serta sesuai dengan daya imajinasi siswa terhadap boneka kaos
kaki yang dibuatnya tersebut.
Oleh
karena dongeng tersebut dibuat oleh siswa, maka semua isi dongeng, baik
alurnya, tokohnya, wataknya, latarnya, amanatnya semua yang menentukan adalah siswa.
Dan sebagai guru kelasnya, kami tentu tidak lepas tangan untuk selalu membimbing
dan mengarahkan bila siswa kesulitan atau mengalami kebuntuan dalam menemukan
ide atau gagasan tentang dongeng yang akan mereka buat.
Sesuai
dengan yang termaktub dalam Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan
dosen, pada pasal 1 ketentuan 1 dikatakan, bahwa guru adalah pendidik
profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,
melatih, menilai, dan mengevaluasi, peserta didik pada pendidikan anak usia
dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, pendidikan menengah.
Oleh
karena itu, berdasarkan tugas guru tersebut, kemudian kami mendorong siswa agar
bisa menyelesaikan DoA (Dongeng Anak) sesuai yang mereka harapkan. Dan dongeng
yang mereka buat bisa menjadi inspirasi bagi diri siswa pembuat dongeng dan
siswa lainnya. Sesuai dengan semboyan yang selalu kami berikan ke siswa sebagi
bentuk motivasi yaitu “Sukses Selalu”.
Mengapa
motivasi penting? Sebagaimana menurut Mc.Donald dikatakan bahwa motivasi adalah
perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “Feeling”
dan didahului oleh tanggapan terhadap adanya tujuan.(Sardiman, 2011: 73).
Sehingga
dengan adanya motivasi dari kami berupa penghargaan pemajangan karya siswa, dan
kata-kata motivasi “Sukses Selalu” dalam setiap hasil capaian siswa dan karya
siswa, siswa menjadi merasa lebih dihargai dalam membuat karya dan juga feeling
siswa dalam membuat dongeng semakin lebih kuat.
Artinya,
dengan motivasi yang tepat tersebut, harapannya siswa bisa menjadi generasi
yang hebat, generasi yang bisa menjadi agen perubahan mulai dari lingkungan
terdekat mereka, yaitu lingkungan sekolah, lingkungan keluarga dan lingkungan
pergaulan dalam keseharian mereka.
Kemudian
agar DoA (Dongeng Anak) yang dibuat siswa tersebut tidak terbentur putusnya
ide, ataupun tidak mengalami kebuntuan saat menjabarkan ide ceritanya, kami
juga menunjukkan ke siswa karya dongeng karya orang lain yang ada di buku, yang
dimuat di majalah ataupun yang dimuat di koran.
Hal
ini sangat penting, selain bisa dijadikan motivasi bagi siswa, karya orang lain
yang dimuat di surat kabar dan majalah juga bisa dijadikan rujukan bagi siswa
untuk sama seperti dengan mereka, yaitu karyanya dimuat di surat kabar atau
dibuat buku yang bisa dibaca oleh semua orang.
Sebagaimana
di sekolah kami, khususnya di kelas enam A, hasil dongeng yang dibuat siswa
tersebut kami bukukan menjadi satu buku menjadi buku kumpulan dongeng siswa
kelas enam A yang disebut ‘Domi-Domi Nema” (Dongeng mini-Dongeng Mini Enam A).
Namun,
dalam perkembangannya, pembuatan DoA (Dongeng Anak) tidak semudah atau secepat
yang kita perkirakan. Tetap saja ada hambatan yang membuat kami selalu berusaha
membulatkan tekad anak untuk membuat DoA (Dongeng Anak) tersebut. Diantara hambatan
tersebut adalah gaya belajar siswa yang beda-beda, tidak semua siswa mempunyai
kemampuan berbahasa tulis yang baik, tidak semua siswa hobi membaca buku, siswa
yang suka menunda-nunda karya, dan kemampuan siswa membuat cerita yang sangat
bervariatif. Sekali lagi, di sinilah peran guru sangat penting agar dongeng
anak tersebut bisa diselesaikan dengan baik.
Dan
hemat kami, langkah tepat yang bisa dilakukan adalah dengan meningkatkan
semangat siswa untuk bertadarus buku (TaB) sehingga bisa menghasilkan karya
yang bisa dinikmati orang lain.
Sehingga
dari semua uraian di atas, bisa kita ambil kesimpulan bahwa antara tadarus buku
dengan dongeng anak ada saling keterkaitan yang positif. Ada hubungan simbiosis
mutualisme atau hubungan yang saling menguntungkan antara dua kegiatan
tersebut. Dimana dengan membaca atau tadarus buku (TaB) siswa bisa mendapat ide
baru untuk dibuat dongeng dan dengan membuat Dongeng Anak (DoA) siswa bisa
lebih termotivasi untuk lebih semangat bertadarus buku (TaB) atau membaca buku.
Akan
ada banyak manfaat yang didapat oleh siswa dari kegiatan tersebut. Diantaranya,
yang pertama adalah siswa menjadi lebih banyak pengetahuan karena banyak
membaca buku, siswa juga semakin berani dalam mengekspresikan diri lewat
mendongeng, siswa juga semakin produktif berkarya dan lebih semangat untuk
menghasilkan karya positif yang bisa menginspirasi diri dan orang lain.
Dan
tentunya kegiatan membaca atau tadarus buku (TaB) yang berlanjut dengan adanya
DoA (Dongeng Anak) bisa menjadi salah satu media untuk lebih membudayakan
karakter positif anak sebagai generasi penerus bangsa. tentu, dengan harapan
siswa sebagai generasi penerus bangsa bisa menjadi generasi yang cerdas,
bermoral demi Indonesia yang lebih baik.
On 08.38 by Nur Rakhmat in Puisi No comments
Malam Kelam Dalam Hening Mencekam, Indah dan Penuh Berkah ...
Malam
Kelam
Oleh
: Nur Rakhmat
Aku
tertunduk meratap penuh harap
Aku
tertegun bagai bunga layu dalam anggunnya nirwana
Aku
terlewat ...
Aku
terlena ...
Aku
tiada bisa bertemu dengan indah karunia Mu
Menyesal
sungguh aku menyesal
Sedih
sungguh aku sedih tiada terperih
Namun
... bagaimana ini bisa terjadi?
Malam
kelam yang tiada penghadapan diri pada Tuhan
Sungguh
aku benci malam kelam penuh ilusi
Dan
aku ingin ...
Aku
ingin ulangi malam tiada malam kelam sedari awal
Sungguh
aku ingin berjumpa dengan ampunan dan rida Mu
Sungguh
aku ingin selalu bersanding dalam pelukan Mu
Aku
ingin tiada lagi berjumpa malam kelam
Aku
ingin malam menjadi malam penuh idaman dan harapan
Sudut
Ampunan, 12/01/2017
On 01.59 by Nur Rakhmat in Artikel Populer No comments
Sebuah renungan yang masih perlu penghayatan mendalam ...
Pancasila
Sakti Via Literasi
Oleh
: Nur Rakhmat
Masihkah
Pancasila sakti? Pancasila atau lima dasar yang menjadi landasan idiil bangsa
kita, sekarang sedang dituntut untuk eksis dan terus bertahan dari berbagai
ancaman yang sangat berat. Baik ancaman yang berasal dari dalam negeri ataupun
yang dari dalam negeri.
Bahkan
ancaman tersebut saat ini mulai terlihat keberadaanya. Mulai dari sentimen dan
gesekan antar suku, agama dan ras, tumbuhnya gerakan radikalisme ataupun
ancaman yang sifatnya degradasi moral atau penurunan moral generasi bangsa yang
saat ini mulai marak.
Misalnya
peredaran narkoba, seks bebas, minum-minuman keras, dan video porno. Bahkan
yang mencengangkan, segala bentuk degradasi moral tersebut saat ini sudah mulai
menyasar anak-anak usia Sekolah Dasar baik di lingkungan perkotaan ataupun
pedesaan.
Lalu
bagaimana cara kita agar pancasila bisa tetap sakti?
Literasi
Ya,
literasi adalah langkah tepat untuk menangkis segala ancaman yang mengancam
eksistensi pancasila di era modern ini. Literasi menurut kamus online
Merriam-Webster berasal dari istilah latin “Literature” dan Bahasa Inggris
“letter” yang berarti kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang
didalamnya ada kemampuan membaca dan menulis.(literasi.jabarprov.go.id,03:57,03/10/2017).
Oleh
karena itu, berdasarkan makna tersebut, hemat kami literasi tepat digunakan
untuk menjaga pancasila tetap sakti. Terlebih Negara kita sudah mempunyai Permendikbud
No. 21 Tahun 2015 terkait dengan Penanaman Budi Perkerti yang salah satu
kegiatannya adalah membaca 15 menit sebelum pembelajaran. Tentu dengan payung
hukum tersebut, penggunaan literasi sebagai salah bentuk usaha dalam penanaman
budi pekerti sangat mendukung sekali untuk menjaga pancasila tetap sakti via
literasi.
Dengan
harapan, adanya gerakan literasi tersebut, generasi saat ini yang hidup di
tengah arus kemudahan informasi bisa tetap menjaga fungsi pokok pancasila
sebagai landaan idiil, sumber hukum, dan sebagai pedoman hidup dalam pergaulan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Selain
itu, dengan literasi, harapannya, generasi saat ini juga bisa memahami dan
memaknai pancasila dengan baik, dan mampu menjaga pancasila tetap sakti sampai
di masa mendatang. Sehingga pancasila di masa mendatang tidak hancur sebab
ketidaktahuan dan kesalahan generasi saat ini dalam memaknai pancasila. (Suaran Merdeka, 02/10/2017)
Lalu
bagaimana bentuk literasi yang bisa dilakukan generasi saat ini agar pancasila
tetap sakti? Sebagaimana pengertian literasi yang berkaitan dengan kegiatan
membaca dan menulis, gerakan literasi yang bisa dilakukan hemat kami yaitu
membaca pancasila. Membaca di sini maksudnya tidak hanya membaca secara harfiah
saja, tetapi membaca dengan tindak lanjut mengamalkan hasil yang dibaca dalam
kehidupan sehari-hari.
Kegiatan
yang bisa dilakukan oleh generasi saat ini sebagai generasi penerus bangsa yang
mayoritas masih duduk di bangku sekolah adalah diantaranya dengan membaca
kembali makna pancasila sesuai yang tertera dalam butir-butir pancasila P4.
Mengapa kegiatan tersebut sangat perlu dilakukan?
Butir-butir
pancasila sebagai tafsiran pengamalan tiap sila dalam pancasila saat ini masih
sangat relevan digunakan, mengingat kondisi bangsa saat ini utamanya moral
generasinya semakin jauh dari jiwa pancasila.
Oleh
karena itu, dengan generasi muda saat ini membaca tiap butir dalam pancasila,
harapannya mereka tidak hanya mengenal pancasila sebagai lafal rutinitas
formalitas yang dibacakan setiap upacara bendera saja. Tetapi mereka
benar-benar bisa menafsirkan pancasila sebagai pondasi utama bangsa dan mengimplementasikan
nilai-nilai pancasila sesuai konteks kekinian.
Misalnya untuk mengamalkan sila Ketuhanan Yang
Maha Esa, sila pertama dalam pancasila, generasi muda saat ini bisa membuat
video saat umat beragama di negara kita sedang beribadah kemudian mempostingnya
dalam blog atau youtube. Tidak sebatas itu, selanjutnya video tersebut
dijadikan viral dan kemudian dijadikan sebagai iklan layanan masyarakat terkait
dengan keberagaman agama di bangsa kita.
Sehingga
dengan adanya tayangan tersebut, masyarakat menjadi sadar akan beragamnya agama
di negara kita. Masyarakat semakin sadar bahwa di negara kita tidak hanya satu
agama, tetapi beberapa agama yang saling menghormati satu sama lain. Terlebih
di negara kita, ada kaidah Tri Kerukunan Umat Beragama, yaitu kerukunan antar
umat seagama, kerukunan antara umat bergama, dan kerukunan antar umat beragama
dengan pemerintah. Tentu, masyarakat akan semakin sadar bahwa dalam konteks
bersosialisasi dalam kehidupan beragama di negara yang plural ini, ada pemersatu
yaitu pemerintah.
Kemudian
untuk memaknai sila yang kedua yaitu, kemanusiaan Yang Adil dan Beradab,
generasi muda saat ini bisa melakukan kegiatan bakti sosial melalui wadah
komunitas mereka. Sehingga dengan kegiatan tersebut, maraknya komunitas sebagai
ciri generasi muda tersebut, bisa digunakan generasi muda untuk mengaktualisasi
diri dan mampu berkontribusi dalam kegiatan positif dan bermanfaat bagi sesama
manusia.
Selanjutnya
untuk mengimplementasikan sila ketiga, Persatuan Indonesia, generasi muda saat
ini bisa melakukan tadabbur alam dan sosial di seluruh wilayah Indonesia. Baik
tadabbur atau penghayatan terhadap kondisi alam lingkungannya dan tadabbur
terhadap kondisi sosial atau dinamika sosial bangsa. Teknisnya, generasi muda
sebagai generasi milenial yang dekat dan akrab dengan internet bisa menggalang
jaringan generasi muda seluruh nusantara.
Manfaatnya,
dengan membangun jaringan di seluruh nusantara, generasi muda saat ini juga
bisa sadar akan bahaya hoax atau berita palsu yang beredar luar di dunia maya.
Sehingga, dengan generasi muda sadar bahaya hoax, generasi muda yang terjaga
kemurniannya bisa berperan positif dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Selain itu, manfaat dari tadabbur alam dan
sosial tersebut, generasi muda saat ini juga sadar, ternyata kondisi alam
Bangsa Indonesia luas dan kaya serta kondisi sosial penduduknya juga beraneka
ragam.
Kemudian
sebagai bentuk pengamalan pancasila sila yang keempat, generasi muda bisa
mempraktikkan gambaran hidup berdemokrasi dan saling menghormati sejak dini
dengan cara mengikuti organisasi seperti pramuka, dll.
Banyak
manfaat jika generasi muda saat ini ikut organisasi positif, yang pertama hal
tersebut bisa melatih keberanian para generasi muda, melatih sikap sikap saling
menghormati saat musyawarah, menerima hasil musayawarah dengan penuh
tanggungjawab dan lain sebagainya.
Selanjutnya,
generasi muda saat ini bisa mengamalkan sila kelima dengan cara menghargai
hasil karya orang lain. Teknisnya, generasi muda bisa menginfentaris hasil karya
orang lain. Hasil karya bisa berupa karya yang bersifat tulis menulis ataupun
bersifat event yang menggambarkan kekayaan budaya bangsa. Sehingga jika semua
sudah terkumpul, hasil karya tersebut bisa diedarkan dan diinikmati oleh
seluruh Warga Negara Indonesia.
Kemudian
bentuk literasi lainnnya yang dapat digunakan mendukung pancasila tetap sakti setelah
membaca pancasila adalah dengan memaknai pancasila sesuai dengan bakat, minat
dan sudut pandang masing-masing generasi muda.
Misalnya
bagi generasi muda yang suka dunia tulis menulis, mereka bisa memaknai
pancasila dari sudut karya sastra seperti puisi, cerpen, dan novel yang sifatnya
membangun karakter positif generasi muda. Kemudian, setelah karya tersebut
terkumpul lalu dijadikan buku untuk kemudian diedarkan ke seluruh wilayah
Indonesia.
Namun,
generasi muda masa kini dalam menjaga pancasila agar tetap sakti via literasi
tidak bisa sendirian. Mengingat, generasi muda masih perlu bimbingan dan arahan
dari generasi yang lebih dewasa dalam bersikap. Oleh karena itu, dukungan dan
teladan dari semua pihak khususnya para tokoh masyarakat dan para pemimpin
bangsa sangatlah dibutuhkan oleh generasi muda saat ini.
Tentu,
dengan harapan, gerakan literasi untuk menjaga pancasila tetap sakti bisa
berjalan dengan baik dan bisa memberi manfaat bagi seluruh Warga Negara
Indonesia. Dan generasi muda, sebagai generasi penerus bangsa bisa melanjutkan
perjuangan untuk menjaga Pancasila demi tegaknya Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
Nur
Rakhmat, S.Pd.
Guru
SDN Kalibanteng Kidul 01 Kota Semarang.
Langganan:
Postingan (Atom)
Search
Video
Kurtilas
Kategori
Artikel Ilmiah Populer
(23)
Bank Soal
(20)
Artikel Populer
(15)
Puisi
(12)
Berita
(11)
Kisah Sang Guru
(10)
Cerita Anak
(6)
Pidato
(4)
Buku
(3)
Dongeng
(2)
Esai
(2)
Geguritan
(2)
info lomba
(2)
Cerpen
(1)
Galeri Foto
(1)
Media Pembelajaran
(1)
Pantun
(1)
TUGAS SISWA
(1)
TUGAS SISWA 2
(1)
Tugas 4
(1)
Tugas Siswa 3
(1)
Diberdayakan oleh Blogger.






