Oleh: Nur Rakhmat, S.Pd

Jumat, 29 November 2019

On 23.45 by Nur Rakhmat in    No comments

Menanti  Senyuman Bapak
Oleh : Nur Rakhmat
Malam itu
Saat bintang malam mulai tertidur dan suara suara deru malam sudah mulai terpejam
Aku bimbang, Aku terguncang
Aku terbenam dalam malam kelam kelu mencekam
Bahkan ketika dering gawai beringsut larut dalam kalut yang tiada terselimut
Aku tiada pernah tahu kapan waktu kan menjemput
Bapak
Saat itu engkau ingatkan aku akan masa kecil dulu
Saat itu engkau bangunkan aku dari lamunan semu hidup yang kelu
Saat itu engkau antarkan aku dalam arti penuh sadar kalbu
Namun ... Apakah engkau tahu?
Sungguh kala itu aku butuh hantaman kata dan laku yang penuh arti dan tiada ragu darimu
Sungguh aku masih butuh tangan kuatmu tuk kugapai dalam pegangan hidupku
Aku masih ingin senyummu menghias setiap langkah hidupku
Bapak
Saat ini, saat semua sudah berlalu
Aku rindu senyummu yang selalu menjaga langkah hidupku
Semarang, 30 Juli 2019
kang.rakhmat


Puisi  ini pernah ditayangkan di Kompasiana
 silahkan klik link berikut Menanti Senyuman Bapak


On 19.17 by Nur Rakhmat in    1 comment

Karena Kita Guru
(Sebuah Renungan di hari Guru Nasional)
Oleh : Nur Rakhmat
25 November adalah hari yang bermakna bagi pendidik di tanah air. Pada tanggal tersebut semua elemen masyarakat merayakan hari guru sebagai bentuk penghargaan terhadap dedikasi Sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa ini. Dan sebagai profesional, di usia 74 tahun perayaannya tentu banyak cerita yang membersamai Sang Guru dalam mengarungi lautan ilmu untuk kemajuan pendidikan di tanah air.
Terlebih di era milenial ini, guru dituntut harus peka terhadap paradigma perubahan dunia pendidikan di tanah air. Guru tidak boleh kagetan dengan semakin cepatnya perubahan akibat adanya pengaruh teknologi yang sangat masif menyasar semua lini kehidupan. Guru harus bisa juga menjadi guru milenial sebagai wujud adaptasi guru terhadap cepatnya perkembangan generasi milenial yang kesehariannya bergaul dengan dunia digital.
Mengapa demikian?
Karena Kita Guru
Kita guru! Benar karena kita guru, maka sudah seharusnya kita bertransformasi menjadi guru digital yang mampu dan bisa berliterasi digital dengan  baik sebagai bekal guna mendidik peserta didik era digital yang semakin jauh dari kata jiwa sosial.
Kita juga harus memantaskan diri dengan kondisi siswa era milenial yang keseharian mereka sudah akrab dengan lingkungan digital sebagai gaya hidup mereka. Kita tidak perlu persis seperti mereka, namun kita wajib tahu keadaan dan peduli terhadap siswa generasi digital ini dengan harapan kita bisa menyelami kondisi peserta didik digital sehingga bisa mengarahkan dan membersamai perkembangan mereka ke arah yang lebih baik.
Karena kita guru, sudah sepantasnya pula bagi kita lebih meningkatkan profesionalisme kita dengan menjalankan tugas dan fungsi guru secara penuh tanggungjawab dan integritas optimal sebagai bekal kita dalam mendidik generasi milenial menjadi generasi yang tangguh dan mampu bersaing di era global.
Karena kita guru, sudah menjadi kewajiban kita melayani dan mengedukasi peserta didik kita dengan praktik baik. Dengan teladan yang baik yang kita contohkan dalam keseharian kita baik dalam proses pembelajaran maupun di luar proses pembelajaran.
Karena kita guru, sudah menjadi kewajiban kita untuk selalu bergerak dan tergerak, serta mampu menggerakkan lingkungan menjadi lebih baik, menggerakkan peserta didik menjadi pribadi yang mumpuni, pribadi yang sehat jiwa raga serta mampu menjadi penggerak pula dalam lingkungan keseharian mereka.
Lalu bagaimana cara atau langkah yang dapat dilakukan? Hemat kami ada beberapa langkah yang dapat digunakan untuk menjadi guru penggerak, menjadi guru inspiratif bagi lingkungan sekitar kita, yaitu dengan menjadi guru MUDA, yaitu guru yang Mau, Usaha, Doa dan Aplikatif.
Yang pertama adalah Mau. Guru dikatakan memiliki dedikasi tinggi adalah adanya kemauan guru untuk merubah diri, dari guru biasa saja menjadi guru luar biasa. Hal ini sangat penting sekali, karena segala perubahan apapun jenisnya, kalau dari pihak guru tidak mau berubah, maka habislah perubahan itu.
Kedua adalah Usaha. Guru dikatakan bisa dan mau berubah ke arah lebih baik, adalah adanya sikap ihtiar guru untuk berusaha mengoptimalkan segala kemampuan dan potensi yang dimilikinya untuk kepentingan perkembangan peserta didik ke arah yang lebih baik. Sehingga dengan optimalnya usaha guru, hasil yang didapat peserta didik dan guru tesebut juga akan semakin lebih baik.
Ketiga adalah doa. Doa adalah langkah kuat yang juga harus dimiliki guru dalam mendidik peserta didik. Seorang guru yang baik, tentu setiap hari hatinya tidak pernah terlepas hatinya dengan hati muridnya. Guru yang baik, juga tiada lupa mendoakan agar muridnya bisa menjadi generasi yang berbudi dan mempu menjadi abdi yang baik bagi masyarakat dan negeri.
Dan yang terakhir adalah Aplikatif. Agar pendidikan di era milenial dapat berjalan dengan baik, dibutuhkan penerapan nyata oleh guru dan siswa. Sehingga dengan adanya sikap aplikatif dalam dunia pendidikan, harapannya peserta didik milenial ini mampu menjadi pribadi yang mampu menerapkan hasil belajarnya dan mampu bermanfaat bagi sesama.
Namun, karena kita guru, kita tidak mampu bergerak sendiri untuk kemajuan negeri, dibutuhkan dukungan dan motivasi dari segala pihak, baik lingkungan sekolah, sesama guru, siswa, orang tua, masyarakat dan pemerintah agar guru bisa saling berkolaborasi, saling memotivasi untuk bergerak bersama menjadi guru merdeka yang selalu belajar dan menjadi pembelajar yang baik.
Karena kita guru, mari kita tingkatkan literasi kita agar kita sebagai guru bisa saling memotivasi untuk kemajuan pendidikan di tanah air dan tentunya dengan sikap dan kemampuan literasi yang bagus, guru bisa menghadapi tantangan di masa depan yang semakin kuat dan nyata dalam era abad revolusi industri 4.0 menyambut abad era 5.0.
Karena kita guru, dibutuhkan pula hak guru untuk mendapat gaji yang layak, perlindungan hukum, kenyamanan dalam membelajarkan peserta didik, kepastian dalam tugas dan fungsi, kesejahteraan yang pasti sehingga dalam melaksanakan tugas, kita bisa tenang dan nyaman serta tujuan Nawacita yang masuk dalam garis besar tujuan nasional pendidikan Indonesia bisa tercapai dengan optimal.
Seperti yang ternukil dalam pidato Mas Menteri Bapak Nadiem Anwar Makarim, guru harus menjadi penggerak, maka mari awali perubahan dari diri kita sendiri, dari kelas kita, dari sekolah kita, sehingga tercipta pergerakan untuk saling menghargai, saling memotivasi dan saling menginspirasi untuk kemudian mampu bergerak bersama untuk kemajuan negeri.
Karena kita guru, kita sangat butuh kepercayaan, dorongan, dukungan dari semua stake holder pendidikan, mulai dari orang tua, lingkungan, masyarakat, dan pemerintah untuk bersama sama membangun pendidikan di tanah air ini. Karena, jika kita saling bahu membahu, saling gotong royong antar stake holder pendidikan, Tri Pusat pendidikan sebagai salah satu ide brilian Ki Hajar Dewantara, benar benar diterapkan untuk kemajuan bangsa khususnya dalam bidang pendidikan.
Maka, karena kita guru, mari bergerak bersama, saling berkolaborasi, berkomunikasi dan saling memotivasi agar mampu menjadi guru penggerak yang berjiwa muda dan mampu menggerakkan sesama untuk pendidikan Indonesia yang  lebih merdeka, dan lebih memerdekakan tentu demi Indonesia yang lebih baik.
Selamat hari Guru Nasioal, Salam Merdeka ! Guru Penggerak!
#Sebuah evaluasi diri sebagai bentuk saling memotivasi untuk kebaikan negeri
Nama   : 
Nur Rakhmat,S.Pd. Guru SDN Kalibanteng Kidul 01. Kota Semarang. Hp. 081542557038..  Jln. Candi Intan V No.1129 Rt.07 Rw.09 Kelurahan Kalipancur Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang 50183

catatan :
artikel ini pernah ditayangkan pada Kolom Kompasiana dengan judul yang sama. 
silahkan kunjungi link berikut  : 



Rabu, 27 November 2019

On 17.34 by Nur Rakhmat in    No comments

Membangun Keluarga Digital
oleh : Nur Rakhmat
Di era sekarang, siapa yang tidak mengenal internet? Di era sekarang siapa yang tidak mengenal gawai? Mulai dari anak kecil, sampai dewasa semuanya pasti tiada hari tanpa gawai. Kita bisa melihat di kanan kiri kita, setiap orang memiliki gawai untuk keperluan mereka masing masing. Bisa untuk belajar, bisa untuk mencari informasi, bahkan bisa untuk sarana peningkatan ekonomi.
Namun, kita juga sadar bahwa generasi penerus bangsa saat ini mayoritas adalah anak generasi Z yang notabene sudah mengenal teknologi informasi sejak mereka lahir. Mereka sudah mengenal media sosial dan game online dengan begitu paham. Bahkan anak generasi Z yang diasumsikan lahir antara tahun kelahiran 1995 – 2010 bisa dikatakan adalah generasi melek teknologi yang bisa jadi kemampuan penguasaan teknologi mereka melebihi orang tua mereka ataupun guru mereka.
Di sinilah peran semua pihak untuk mengarahkan bagaimana anak generasi Z ini bisa tumbuh dan berkembang dengan baik di tengah ketidakpastian dunia maya atau dunia digital bagi mereka. Keluarga sebagai lingkungan pertama yang mengenal anak generasi Z mempunyai kewajiban lebih daripada pihak lain untuk membentuk keluarga yang melek digital di era milenial ini.
Lalu bagaimana langkah yang bisa dilakukan keluarga agar seluruh anggota keluarga bisa paham dan bijak serta memiliki pengetahuan untuk berkembang dan bertumbuh secara positif di era sekarang?
Digitalisasi Keluarga
            Ya, Hemat kami salah satu langkah tepat guna membentuk dan membangun keluarga digital dengan baik adalah dengan digitalisasi keluarga, yang mana keluarga di era sekarang lebih dituntut untuk paham teknologi, khususnya orang tua untuk mengimbangi anak anak mereka yang sudah canggih dengan teknologi digital.
            Lalu bagaimana bentuk digitalisasi keluarga agar dapat digunakan untuk membangun keluarga digital dengan baik? Yang pertama adalah kuatkan LiDi keluarga. Yaitu sebuah usaha digitalisasi keluarga dengan menguatkan literasi digital (LiDi) keluarga. Hal ini sangatlah penting, karena literasi digital adalah salah satu dari komponen literasi dasar yang dikembangkan pemerintah dalam Gerakan Literasi Nasional.
            Sehingga sudah sangat jelas, jika keluarga mengedepankan dan meningkatkan kemampuan LiDi ( Literasi Digital ), pendidikan berbasis keluarga dan literasi digital berbasis keluarga bisa meningkat dan berkolaborasi bersama dengan sektor pendidikan lain.
            Bentuk literasi digital yang dapat dilakukan keluarga sebagaimana yang disebutkan oleh pemerintah diantaranya adalah dengan menyediakan sarana informasi komunikasi berupa televisi, radio, dan media elektronik lainnya. Dengan harapan informasi yang didapat anggota keluarga valid dan tidak menimbulkan hoaks atau beritabohong yang menjurus perpecahan.
            Selanjutnya adalah dengan mengoptimalkan sarana media sosial dan gawai jaringan internet di lingkungan keluarga. Langkah ini sangatlah penting, karena selain sebagai salah satu sumber informasi, adanya media sosial dan jaringan internet yang cukup di lingkungan keluarga, keluarga bisa saling bertukar informasi yang sudah didapat dengan baik dan lancar tanpa sekat jarak dan waktu.
            Kemudian optimalisasi LiDi yang dapat dilakukan adalah membentuk komunitas komunitas keluarga berbasis IT. Mengapa dengan membentuk komunitas pendidikan keluarga dengan basis literasi digital sangatlah penting? Hal ini ditujukan agar kita mengetahui dan menguasai medan di lapangan. Sehingga kesalahpahaman bisa dihindari dan keluarga harmonis benar benar bisa terwujud dengan baik.
            Selain itu, membangun komunitas pendidikan itu juga sangat penting dikarenakan di era milenial ini, hoaks atau berita bohong sangat banyak menyebar di lintas sektor pendidikan , baik itu pendidikan formal, non formal dan informal. Maka dari itu, dengan kita menguasai literasi digital adanya hoaks serta konten negatif lainnya bisa diminimalisir karena sudah menguasai literasi digital dengan baik.
            Manfaat lainnya dengan mengedepankan literasi digital adalah keluarga bisa membangun dan membentuk anggota keluarganya dengan baik melalui belajar dan mencari informasi yang didapat dunia digital untuk kemudian diterapkan jika sesuai dengan nilai nilai dasar kepatuhan, kesopanan dan nilai nilai dalam Pancasila.
            Namun, selain mengedepankan literasi digital, Bentuk digitalisasi keluarga yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan pula karakter dan moral generasi bangsa. Hal ini sangatlah penting, karena dengan kita meningkatkan karakter positif kita, dengan kita meningkatkan moral positif kita, maka keluaga digital tidak akan melenceng jauh dari koridor budaya ketimuran atau budaya yang sesui dengan nilai nilai Pancasila di dalamnya.
Maka di sinilah pentingnya lima karakter utama yaitu religius, mandiri, nasionalis, gotongroyong, dan integritas penting untuk dimuculkan, dibudayakan, dan dibiasakan agar tercipta keluarga digital yang melek informasi teknologi serta memiliki jiwa karakter positif.
Bentuk nyatanya diantaranya bisa berupa membiasakan dan menumbuhan sifat religius, toleransi, dan budaya positif lainnya dalam mengedepankan pendidikan karakter di lingkungan keluarga. Selain itu, cinta tanah air, memakai produk dalam negeri, selalu disiplin, gotong royong , loyal dan patuh pada pimpinan juga berbagai bentuk karakter yang penting untuk dikemabngkan dalam pendidikan keluarga.
Sehingga harapannya dengan mengembangkan keluarga digital dalam bentuk digitalisasi keluarga yang diimbangi dengan membudayanya sikap dan karakter positif anggota keluarga, keluarga digital yang bijaksana dan berbudaya serta ideal bisa berperan dalam dunia internasional di era milenial tentunya demi Indonesia yang lebih global dan kuat mental.

Artikel ini pernah dimuat di kolom Kompasiana : 

           

On 17.16 by Nur Rakhmat in    No comments

Menjadi keluarga Pancasilais
Oleh : Nur Rakhmat
Setiap tanggal 1 Juni seluruh masyarakat Indonesia memperingati hari Lahir Pancasila. Dengan harapan karakter positif yang dimiliki penggagas dasar negara khususunya keteladanan Ir. Soekarno, Mr. Muhammad Yamin, dan Mr. Supomo bisa dimiliki dan diterapkan generasi penerus bangsa saat ini.
Seperti kita ketahui bersama, saat ini marak generasi muda penerus bangsa terpapar virus negatif globalisasi mulai dari degradasi moral, sikap yang kurang baik, akhlak yang jauh dari akhlas positif, menurunnya rasa cinta tanah air, semakin hilangnya kata mufakat, dan masih banyak lagi bentuk penyimpangan yang dilakulan oleh generasi muda penerus bangsa saat ini.
Maka itu, keluarga sebagai bagian pendidikan dalam skala makro memiliki kewajiban yang sama dengan pendidikan formal dalam hal ini sekolah dan pendidikan non formal (masyarakat) untuk merevitalisasi dan membangun kembali nilai nilai karakter positif tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dan hemat kami, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah dengan membangun keluarga menjadi keluarga yang pancasilais.
Keluarga Berlandaskan Pancasila
Keluarga pancasilais hemat kami adalah salah satu upaya tepat guna membentuk dan membangun generasi muda berkarakter via pendidikan keluarga. Dan yang dimaksud keluarga pancasilais adalah keluarga yang membiasakan dan menerapkan nilai nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari mereka. Jadi bisa disimpulkan bahwa keluarga pancasilais adalah keluarga yang dalam interaksi antara anggota keluarga maupun antar anggota keluarga selalu berlandaskan nilai-nilai pancasila.
Dan penerapan nilai pancasila dalam keluarga pancasilais yang bisa dibentuk sesuai nilai nilai sila dalam pancasila diantaranya adalah ketaatan dalam beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai perwujudan nilai sila pertama pancasila, bentuk ketaatan yang bisa dijadikan dasar adalah teladan atau contoh yang baik orang tua untuk beribadah.
Contohnya bagi yang beragama islam orang tua bisa mencontohkan dan memberi teladan dengan salat berjamaah dan mengaji bersama. Bagi umat kristen dan katolik, bisa dengan memberi teladan anak untuk selalu pergi ke gereja atau kebaktian lainnya. Selain itu, orang tua juga bisa mewujudkan keteladanan dengan menjauhi segala larangan dan mentaati segala perintah yang terdapat dalam agama dan kepercayaan masing masing.
Penerapan sila yang kedua diantaranya adalah keteladanan antara anggota keluarga untuk selalu menumbuhkan sikap hormat menghormati, saling menghargai satu sama lain, dan sikap kemanusiaan lainnya. Hal tersebut penting, karena dengan adanya sikap saling memberi keteladanan, komunikasi yang baik terbentuk dan sikap  penerimaan positif antar anggtoa keluarga terbangun dengan baik.
Contohnya adalah seorang adik yang menghormati kakaknya, tentu akan tercipta pula kakak yang menghormati (baca : menyayangi) adik. Sehingga jika nilai dan sikap kasih sayang dilingkungan keluarga sudah terbentuk dengan baik, di lingkungan yang lebih luas anggota keluarga juga bisa bersikap sesuai dengan yang sudah dibiasakan dalam keseharian.
Selanjutnya dalam sila persatuan indonesia. Sikap pancasilais yang bisa diterapkan guna membangun keluarga yang berlandaskan pancasila adalah dengan keteladanan untuk memperkokoh keluarga. Maksudnya adalah sikap saling memiliki antar anggota keluarga diperkokoh sehingga persatuan keluarga jika ada gangguan dan intimidasi yang bersifat merusak ketenangan keluarga bisa dihindarkan.
Artinya sikap persatuan dengan dilandasi rasa saling percaya bisa menambah eratnya ikatan tali persaudaraan atau silaturahim antara anggota keluarga. Sehingga keluarga yang sakinah atau tenang dan selalu dalam naungan ridho Tuhan benar benar terwujud sebagai salah satu nilai implementasi pancasila.
Sikap pancasilais dalam sila keempat diantaranya adalah dengan menerima hasil keputusan bersama secara ikhlas dan legawa. Misalnya sudah diputuskan dalam musyawarah liburan digunakan untuk bersih bersih di rumah. Maka, sebagai anggota keluarga yang baik menerima keputusan tersebut dan ikut menyukseskan kegiatan bersih bersih tersebut dengan penuh tanggungjawab.
Sehingga dengan terbentuknya penerimaan positif antar anggota keluarga, komunikasi yang baik antar anggota keluarga terbentuk dengan baik. Dan sikap demokrasi di lingkungan keluarga selalu bisa menjadi media guna membentuk keluarga pancasilais.
Kemudian bentuk membangun keluarga pancasilais sesuai dengan sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia adalah dengan membiasakan keteladan dalam sikap adil di keluarga. Maka dari itu, bentuk keteladanan dalam keluarga bisa berupa keseimbangan antara hak dan kewajiban. Selain itu, keteladanan orang tua untuk selalu bekerja keras dalam mencukupi kebutuhan sehari hari bisa menginspirasi anak untuk bersikap demikian demi terwujudnya kesejahteraan bersama.
Maka dari itu, agar keluarga bisa bermetamorfosis menjadi keluarga yang pancasilais diperlukan ketekunan, keteguhan dan konsistensi antar anggota keluarga. Tentu juga dibutuhkan kerjasama antar semua elemen masyarakat, sekolah, pemerintah, dan stakeholder terkait agar keluarga pancasilais bisa benar-benar menjadi salah satu unicorn dalam penanaman pendidikan karakter di Indonesia.
Dengan harapan, di masa mendatang Indonesia dengan modal generasi bangsa yang bermoral dan berkarakter pancasila sebagai landasan utama dalam setiap sikap dan langkah yang diambil bisa menjadi bangsa yang hebat, bermartabat dan mampu berperan penting di dunia internasional.
Nama   :  Nur Rakhmat,S.Pd.
Guru SDN Kalibanteng Kidul 01. Kota Semarang. Hp. 081542557038. Alamat: Jln. Candi Intan V No.1129 Rt.07 Rw.09 Pasadena Kelurahan Kalipancur Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang 50183.

Ket. Artikel ini pernah dimuat di harian Jawa Pos Radar Semarang.



On 17.04 by Nur Rakhmat in    1 comment

Membangun Keluarga Impian
Oleh : Nur Rakhmat
Bentuk ideal hasil dari proses pendidikan tidak hanya dari sekolah belaka. Namun, banyak stake holder terlibat dalam proses pembentukan wujud ideal pendidikan. Dan dari berbagai stake holder tersebut, ada beberapa komponen yang bertanggung jawab berhasil atau tidaknya suatu proses pendidikan, di antaranya adalah keluarga.
Keluarga sebagaimana dikatakan dalam Undang Undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah termasuk jalur pendidikan informal. Dan ditekankan juga bahwa pendidikan informal tidak hanya keluarga, tetapai juga lingkungan sangat berperan penting dalam pembangunan bentuk ideal pendidikan yang saat ini masih menjadi impian semua orang.
Lalu bagaimana langkah yang dapat dilakukan guna membentuk dan membangun bentuk keluarga impian sebagai  modal guna membentuk pendidikan yang ideal?
Keluarga (yang) Cemara
Ya, hemat kami, keluarga cemara adalah salah satu usaha yang efektif membangun keluarga impian, khususnya pendidikan terkait pola asuh anak demi tumbuh kembang anak menjadi generasi penerus yang ideal.
Perlu diketahui, istilah cemara di sini adalah akronim dari cinta, etika, moderat, aktif, religius, dan amanah yang inspirasinya penulis dapat dari karya novel berseri keluarga cemara karya Arswendo Atmowiloto. Dengan harapan, akronim cemara tersebut mampu membentuk suasana keluarga yang saling asah, asih, asuh dalam proses pendidikan keluarga sehingga keluarga impian yang saling mengerti dan meneladani bisa terbentuk.
CEMARA yang pertama adalah Cinta. Keluarga adalah tempat tumbuhnya cinta dan kasih sayang yang pertama dan utama. Maka dari itu, teladan kasih sayang yang dilakukan orang tua dan anggota keluarga hendaknya mengandung nilai edukasi dan sikap positif demi berhasilnya pembangunan keluarga impian via pendidikan.
Yang kedua adalah Etika. Etika sebagaimana dikatakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sesuatu yang terkait dengan apa yang baik atau moral (Akhlak). Akhlak adalah modal utama bagi anak (siswa) guna menjadi generasi yang bermoral dan berkarakter. Namun, dalam pembentukan akhlak yang baik, juga dibutuhkan sikap yang baik pula, berupa keteladanan atau uswatun khasanah dari setiap anggota keluarga dan lingkungan.
Bentuk Cemara selanjutnya adalah Moderat atau suatu sikap yang tidak arogan dan selalu mengambil keputusan jalan tengah atau bisa dikatakan dengan bijaksana. Hemat kami sikap moderat ini sangat penting karena dengan sikap moderat yang ditanamkan di lingkungan keluarga, anak akan terbiasa saling menghormati, toleransi satu sama lain untuk saling bersosialisasi dan bersikap baik di lingkungan.
Cemara yang ketiga adalah aktif. Dan hemat kami maksud dari aktif di sini adalah keluarga haruslah aktif untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Keluarga juga hendaknya bisa saling aktif menguatkan satu sama lain. Sehingga dengan keaktifan positif yang bertumbuh dengan baik, keluarga sebagai pondasi utama pendidikan diharapkan bisa aktif mendidik anak menjadi generasi yang berkarakter dan bermoral.
Kemudian bentuk cemara selanjutnya adalah religius. Sikap ini sangat penting ditumbuhkan dan dibudayakan di lingkungan keluarga. Selain sebagai bentuk kodrat sebagai makhluk Tuhan, sikap religius adalah unsur utama dalam pendidikan dan pembentuk watak positif anak, serta menjadi kunci kesuksesan dalam pendidikan di lingkungan keluarga.
Dan bentuk cemara yang terakhir adalah amanah. Sikap amanah adalah bentuk konsisten untuk benar benar membentuk keluarga impian dengan membangun budaya positif dan berkarakter. Sikap ini penting karena mengandung unsur edukasi atau pendidikan berupa keteladanan langsung dari orang tua terhadap anak. Sehingga, jika orang tua dan lingkungan sudah membudayakan sikap amanah dengan baik, dalam kehidupan sosial anak juga terbiasa untuk bersikap amanah dan dapat dipercaya.
Maka dari itu, dibutuhkan konsistensi dan kesungguhan berbagai unsur, khususnya keluarga guna membangun keluarga impian. Dibutuhkan kerjasama dan dukungan berbagai pihak termasuk sekolah, masyarakat, dan pemerintah agar keluarga impian terbentuk dan bisa menjadi agen perubahan, serta agen pembentuk moral positif di era milenial ini tentu demi Indonesia yang lebih baik dan bermoral.   
Nama   :  Nur Rakhmat,S.Pd.
Guru SDN Kalibanteng Kidul 01. Kota Semarang. Hp. 081542557038. Jln. Candi Intan V No.1129 Rt.07 Rw.09 Kelurahan Kalipancur Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang 50183.



Ket. Artikel ini pernah dimuat di harian Tribun jateng, Selasa 23 Juli 2019 Forum Guru : (Membangun Keluarga Impian)

Rabu, 13 Februari 2019

On 01.32 by Nur Rakhmat   No comments
belajar bersama VC sangat mantap dan menarik