Rabu, 01 April 2020
On 12.56 by Nur Rakhmat in Puisi 4 comments
Pagi itu, saat
mentari mulai tersenyum dan deru mesin mulai terbangun
Aku ditemani sahabatku
membuka mata dan membuka cakrawala cerah waktu itu
Aku gembira melihat rona
sahabatku tersenyum menanti teman setiaku.
Namun, tak lama
kemudian, kulihat sahabatku menarik senyum dan menolehku.
“Sudah lama aku
menunggu, namun teman setiamu tiada kunjung menyapaku”.
Seketika aku merenung,
apakah benar apa yang dikatakan temanku?
Apa benar teman setiaku
tiada ingin mengunjungiku walau sejenak?
Apakah temanku benar
benar sudah meninggalkanku?
“Hee, jangan melamun!”
Aku kaget dengan
mendengar perkataan sahabatku itu.
Ku lihat kalender
yang ada di sudut ruang sahabatku.
“Astaga, ternyata
sudah dua minggu lebih temanku tiada mengunjungiku!”
Ternyata sudah sekian
lama mereka tiada singgah di hatiku
Dan sudah sekian lama
pula, mereka tiada pernah mendampingiku duduk belajar bersama Pak Guru dan Bu
Guru
Mengapa teman setiaku
seperti itu?
Apakah mereka tidak
suka kepadaku?
Apakah mereka ingin
aku tiada berisik dengan suara denyit yang semakin keras semakin menggigit?
Apakah teman setiaku
ingin, aku berubah dari kayu lapuk menjadi besi yang semakin berani?
Apakah teman setiaku
ingin, aku berubah dari besi yang semakin berani menjadi seperti sofa dalam
gedung teater impian?
“Hai, sahabat, bantu
aku menjawab pertanyaanku!
“Bantu aku menghilangkan
gelisah resah dalam benak yang semakin membuncah!”
Sahabatku terdiam
melihat tingkah anehku, sambil beringsut dan membalikkan badan, Dia berkata,
“Hai, mengapa kau
bertanya padaku? Apa kamu kira aku tahu jawabnya? Kalau boleh jujur, sungguh
aku merasakan seperti apa yang kau alami sahabatku!”
Aku bingung, jiwaku
berontak, jiwaku bergolak, jiwaku semakin terserak tiada arah tuk dapat
nasihat, tiada cahaya terang tuk menuntunku dalam ketenangan.
“Hei, kalian! Kalian
yang hanya bisa memanfaatkanku, bantu aku mencari jawaban, bantu aku mendapat
petunjuk mengapa sudah begitu lama teman setiaku tiada duduk bersamaku!”
Semua terdiam, semua
menunduk tanda patuh pada petunjuk, semua menggeleng tiada pesan yang dapat
dinikmati seperti manisnya buah kelengkeng, semua hening seperti hati yang
masih mencari dalam laku penting dalam pening, semua sepi seperti diriku yang
masih meratap dalam hati.
Tuhan ... Beritahu
tahu aku.
Katakan padaku Tuhan,
mengapa teman setiaku masih jauh dariku? Mengapa teman setiaku masih tiada mau
berkunjung padaku?
Tuhan ...
Aku mohon ...
Jauhkanlah semua
rintang, jauhkanlah semua penghalang, karena aku yakin Engkau Mahaperkasa yang
selalu menuntun tiap hamba menggapai asa
Jaga mereka seperti
Engkau menjagaku, sayangi mereka seperti Engkau menyayangiku. Karena aku yakin,
Kebesaran Mu lebih besar dari besarnya penghalang, besarnya rindu dan besarnya
segala gejolak hati segala bentuk ciptaan Mu.
Tuhan ...
Temukan aku dengan
teman setiaku, temukan aku dengan belahan jiwaku yang senantiasa bersama dalam
menggapai nikmat dan ilmu Mu.
Aku rindu tawa ceria,
senyum manis, dan belai lembut tangan mereka, Tuhan ...
Tuhan ...
Aku sayang mereka,
aku sayang mereka, aku butuh bersama mereka
Walau terkadang
mereka usil kepadaku, bukan berarti mereka jahil kepadaku
Walau terkadang
separuh hatiku patah karena mereka, namun cintaku tiada pernah patah duhai
Tuhan.
Tuhan ...
Sungguh rindu ini
sudah tiada ingin terbelenggu, sungguh sayang ini sudah tiada terbilang, sungguh
penantian ini semakin mendalam dan sungguh getaran hati ini semakin ingin temukan
cinta sejati, duhai Tuhan.
Tuhan ...
Tolong sampaikan isi
hati ini tuk semua teman setiaku
Aku rindu kebersamaan
menggapai ilmu
Aku rindu saat suka
maupun duka bersama teman setiaku
Aku rindu kebersamaan
menggapai ridhomu bersama teman setiaku .
Dariku ...
Teman setia yang Kau
sebut “bangku”
Teman setia yang selalu
senang jika Kau hadir di rumahku tuk gapai berkah luas samudera ilmu
“ di sudut penantian luas harapan “
02042020
Puisi ini sudah tayang di Kompasiana.com
https://www.kompasiana.com/mas91295/5e84eec1d541df47d33e6482/kisah-sang-perindu?page=5
IG, WA dan FB.
Selasa, 31 Maret 2020
On 16.39 by Nur Rakhmat in Puisi No comments
Alam Bebas
Alam bebas
Alam bebas
Alam bebas
Bebas itu terbatas
Bebas itu terbatas
Bebas itu terbatas
Terbatas tetap ada batas
Terbatas tetap ada batas
Terbatas tetap ada batas
Alam bebas
Bebas itu terbatas
Terbatas tetap ada batas
Batas selalu punya makna
Makna kekal dan fana
Fana bentuk maupun jiwa
Jiwa hidup gapai asa
Asa selaras hening kalbu
Kalbu menyatu hilangkan sendu
Sendu hilang datanglah sayang
Sayang dari Sang Maha Pengasih dan Penyayang.
Alam Bebas
Bebas itu terbatas
Terbatas tetap ada batas
Asa Sang Guru
#KisahPencariAsa
#AsaSangGuru
#ArsipSangAsa
#SalingMemotivasiDanMenginspirasiDemiKebaikanNegeri
#EdisiSebelumCovid19
#LokasiAntaraPasadenaPrapaglor
Catatan.
Sudah tayang di FB dan Instagram
Sabtu, 28 Maret 2020
On 04.02 by Nur Rakhmat in Artikel Ilmiah Populer 3 comments
Salam sukses selalu ...
Silahkan artikel pendidikan yang terkait dengan teknik menumbuhkan keberanian positif siswa. Alhamdulillah sudah terbit di tahun 2016, dan semoga masih relevan di era sekarang.
Selamat menikmati ...
Dafa
dan Teladan Keberanian
Oleh
: Nur Rakhmat
Dalam
seminggu terakhir media digemparkan oleh seorang anak kelas IV Sekolah Dasar
bernama Dafa yang dengan beraninya mencegat para pengendara sepeda motor nekat untuk
melewati trotoar guna menghindari kemcetan di jalan sekitar area bundaran kalibanteng
kota semarang.
Aksi
heroik nan berani yang dilakukan oleh seorang anak berusia sekolah dasar memang
jarang adanya. Sehingga aksi berani Dafa mencegat para pemotor yang nekat melewai
trotoar tersebut jelas mendapat pujian dan tentunya reaksi positif dari
masyarakat luas.
Selain
itu, aksi Dafa tersebut tentunya juga tidak lepas dari proses pembelajaran yang
ada pada diri Dafa dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan tempat tinggal
ataupun lingkungan pergaulannya di sekolah.
Proses Pembelajaran
Proses
pembelajaran! Itulah istilah yang paling tepat digunakan dalam sikap
keteladanan dalam diri Dafa. Hal tersebut bisa kita lihat dari argumen Dafa
bahwa dia melakukan aksinya karena melihat tayangan TV dan spanduk yang
menyatakan bahwa trotoar adalah milik pejalan kaki bukan untuk dilalui
kendaraan bermotor.
Bahkan
dalam lain kesempatan, penulis mendapat informasi bahwa diantara hal lain yang
mendorong Dafa melakukan aksi berani tersebut adalah saat Dafa mendapat pelajaran
dari ibu gurunya di kelas I terkait dengan tertib berlalu lintas. Tentu tidak
dengan contoh untuk mencegat pesepeda motor lewat trotoar, tetapi dengan
edukasi lainnya.
Melihat
pernyataan tersebut, sebagai guru kita patut bangga bahwa tidakan positif yang
dilakukan Dafa ada peran guru di dalamnya. Untuk itu, sebagai seorang guru yang
dibekali dengan empat kompetensi dasar pendidik, yaitu kompetensi kepribadian,
pedagogik, sosial dan profesional seyogyanya selalu bisa memberikan pelayanan
kepada peserta didik agar bisa menerapkan hasil pembelajaran positif dari
sekolah di lingkungan tempat tinggalnya.
Benar
memang, hasil dalam proses pembelajaran tidak bisa sepenuhnya diklaim bahwa
gurulah yang berhasil, orang tualah yang berhasil. Tetapi tugas kita semuanyalah
sebagai guru, sebagai orang tua dll yang sangat berkewajiban untuk selalu
membina dan membentuk karakter positif dari peserta didik kita.
Tentunya
sebagai guru kita harus bisa membentuk peserta didik kita menjadi peserta didik
(baca: siswa) yang berkarakter dan berbudi mulia. Langkah tersebut bisa dimulai
dari hal terkecil yang ada pada diri siswa. Misalnya dengan selalu membiasakan
senyum salam sapa saat bertemu bapak ibu guru baik di sekolaha ataupun di
rumah, dll.
Dibudayakan
Selain
itu langkah yang dapat dilakukan guru untuk membentuk karakter positif pada
diri siswa selain membentuk karakter positifnya, adalah dengan membasakan karakter
positif yang ada pada diri siswa tersebut.
Seperti
contohnya pada aksi Dafa tersebut, dia melakukan aksi tersebut karena sudah
menjadi kebiasaannya untuk selalu bersikap positif, utamanya dalam menegakkan
ketertiban di lingkungan pergaulannya. Misalnya, jika melihat temannya membuang
sampah sembarangan dia pasti akan menegur dan juga melaporkan ke bapak ibu guru,
manakala dia sudah merasa kesulitan menegur teman-temannya yang melanggar
aturan.
Lalu
langkah apa yang bisa dilakukan untuk membiasakan budaya positif tersebut?
Hemat penulis, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan guru untuk membiasakan
sikap dan karakter positif tersebut.
Pertama
dengan cara membudayakan sikap positif. Membudayakan sikap positif tidaklah
sama dengan membiasakan. Maksud membudayakan disini maknanya lebih dalam, bukan
hanya suatu rutinitas untuk berbuat baik. Namun lebih condong kearah kesadaran
diri untuk berbuat baik kepada sesama.
Misalnya
saat interaksi guru dan siswa dalam pembelajaran. Siswa hendaknya dididik untuk
berlaku sopan, menghormati, dan menghargai sesama teman dengan tidak ramai, dan
lain sebagainya. Dan dalam proses pembelajaran, guru juga sebaiknya lebih mengayomi siswa, bukan justru membuat
takut siswa.
Yang
kedua dengan memberikan keteladan. Guru sebagai orang tua siswa di sekolah
tentunya berkewajiban mendidik siswanya dengan keteladanan, bukan menghardik
siswa dengan bentakan. Seyogyanya guru juga memuji, menghargai dan memberi
apresiasi atas keberhasilan siswa bukan justru mencaci maki karya siswa, dll.
Oleh
sebab itu, guru dalam proses pembelajaran terkait muatan sikap, akhlak,
pengetahuan harus seimbang. Jangan sampai karena tuntutan prestasi, nilai sikap
dan kepribadian siswa dikesampingkan hanya karena untuk mengejar nilai UN
menjadi lebih baik.
Dan langkah ketiga untuk membiasakan
karakter positif adalah dengan konsisten dalam membudayakan kebiasaan positif
tersebut. Konsisten atau istiqomah sangat penting perannya dalam membentuk karakter
siswa. Sehingga dalam penerapannya, selain bapak/ibu guru harus terlibat
langsung, guru juga harus mengawal kebiasaan positif tersebut agar lebih membudaya.
Memang
diperlukan waktu yang lama dan proses yang benar dalam pelaksanaanya, tetapi
jika dibarengi dengan istiqomah, keteladanan dari semua pihak, dan sikap
sungguh-sungguh dalam tindakannya, bukan tidak mungkin pendidikan karakter dan
sikap positif lebih cepat membudaya dan bisa berperan dalam menopang tegaknya budaya
bangsa.
Sehingga
harapannya, Dafa - Dafa lain yang berkarakter pemberani dalam melawan
ketidakteraturan bermunculan. Tidak hanya dalam bidang ketertiban lalu lintas,
tetapi dalam keberanian melawan korupsi, melawan KKN, dll bisa muncul dan
menunjukkan aksinya. Sehingga segala dekadensi moral bangsa, seperti budaya
korupsi, dll bisa hilang dari Negeri tercinta kita ini. Dan Indonesia yang
hebat, bermoral serta bermartabat masih tetap eksis di dunia internasional. Amin...
Alhamdulillah artikel ini pernah muat di harian Jawa Pos Radar Semarang 24 April 2016.
http://radarsemarang.com/v1/2016/04/24/dafa-dan-teladan-keberanian/
Monggo Selamat membaca ...
Selasa, 24 Maret 2020
On 20.43 by Nur Rakhmat in Artikel Ilmiah Populer No comments
Alhamdulillah ...
Karya Ini sudah terbit di media massa Jateng yaitu Harian Tribun Jateng.
Selamat membaca dan semoga kita selalu saling memotivasi demi kebaikan negeri
Sekolah
Itu Bernama Rumah
Oleh
: Nur Rakhmat
Belajar
di rumah, itulah salah satu maklumat dari Presiden RI sebagai upaya melindungi
rakyat Indonesia utamanya siswa generasi penerus bangsa dari paparan Covid 19.
Akibatnya, guru sebagai pendidik di sekolah mempunyai kewajiban memberikan
tugas ke siswa untuk menjaga pemahaman siswa agar tetap dalam kondisi prima.
Dan
orang tua sebagai penanggungjawab utama siswa, mau tidak mau harus menyiapkan
diri untuk membekali siswa selama proses belajar di rumah, utamanya dalam
perannya menjadi “guru” bagi siswa di sekolah yang bernama rumah.
Rumah Sebagai Sekolah
Rumah
sebagai sekolah sebenarnya bukanlah hal baru dalam pendidikan. Mengapa
demikian? Karena sebelum pemerintah mengeluarkan himbauan agar sekolah
mengalihkan pembelajarannya di rumah masing masing siswa, sudah ada terlebih
dahulu home scholing dan bentuk teknik pendidikan lainnya.
Namun,
yang menjadi perhatian saat ini adalah pendidikan yang seharusnya dilaksanakan
di sekolah, dialihkan untuk dilaksanakan di rumah. Tentu hal ini menjadi
tantangan bahkan bisa menjadi beban bagi orang tua siswa. Menjadi tantangan
karena mungkin orang tua sudah tahu kondisi anak dan kurang puas dengan hasil
pembelajaran di sekolah. Dan orang tua berusaha mampu merubah kondisi tersebut.
Menjadi
beban bagi orang tua, karena tidak semua orang tua tidak siap menjadi guru bagi
putra putrinya di rumah yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti tuntutan
pekerjaan, kesibukan sosial, ataupun kurangnya kemampuan orang tua dalam
memahami materi ajar siswa yang sudah berbeda jauh dengan masa saat orang tua
sekolah.
Oleh
sebab itu, jika perbedaan penerimaan konsep kebijakan tersebut dibiarkan
berlarut larut, maka yang paling terkena dampaknya adalah siswa. Siswa akan
berada dalam kondisi bingung dan tidak siap menerima kondisi yang dihadapi saat
ini.
Nah,
hemat kami ada beberapa trik jitu agar siswa tetap dalam kondisi prima dan
tidak merasa bingung mengerjakan tugas serta tidak juga merasa keberatan karena
tingkat beban tugas siswa semakin banyak. Yang pertama adalah selalu
berkomunikasi dengan guru sekolah. Sebagai guru di rumah, komunikasi dengan
guru di sekolah wajib dilakukan. Hal ini bertujuan, agar tujuan pendidikan dan
pembelajaran bisa tercapai optimal.
Kemudian
yang kedua adalah memiliki shadow teacher. Shadow teacher atau guru bayangan
bagi orang tua di rumah adalah bisa kakak, nenek, kakek, paman dan lain
sebagainya. Hal ini juga dimaksudkan agar siswa terpantau saat belajar dan
orang tua sebagai guru di rumah juga lebih mudah mendidik “siswanya”.
Dan
yang ketiga adalah berinovasi. Inovasi yang bisa dilakukan orang tua di rumah
saat berperan sebagai guru adalah dengan menginovasi tugas guru yang dari
sekolah ataupun bisa juga mengkreasi tugas baru untuk diberikan ke anak
didiknya. Bahkan orang tua juga bisa juga menggunakan berbagai fitur layanan
pendidikan di dunia maya seperti rumah belajar, ruang guru, edmodo, sekolahku,
quizzez, dan lain sebagainya.
Hemat
penulis, ketiga hal tersebut, selain menghilangkan kebosanan anak, bentuk inovasi,
variasi, tugas yang diberikan orang tua akan bisa menumbuhkan sikap senang,
rasa suka terhadap tugas sehingga memupuk bakat anak tumbuh dan berkembang sebagai
bekal masa depan anak. Hal ini dikarenakan rasa suka adalah salah satu unsur
utama keberhasilan dalam proses belajar mengajar.
Bahkan
Munif Chatib dalam buku “Orangtuanya Manusia” mengatakan, rasa suka terhadap
aktivitas haruslah selalu dipupuk. Ibarat tunas, rasa suka akan tumbuh banyak
sekali. Itulah bakat anak, sayangnya banyak orang tua mencabut tunas itu dengan
berbagai alasan.
Maka
dari itu, mari jadikan rumah sebagai sekolah dan kita sebagai guru serta orang
tua bagi anak, janganlah kita menjadi mesin penghancur bakat anak. Namun, mari
di kondisi seperti ini, teruslah belajar, tumbuhkan bakat dan potensi anak,
agar sekolah yang bernama rumah, benar benar bisa menjadi kolaborator bagi
sekolah dan tetaplah tenang, jangan meremehkan, serta lakukanlah perlindungan
diri untuk menjaga dan mengawal tunas tunas generasi muda masa depan bangsa
menjadi generasi yang bermoral dan berkarakter.
Alhamdulillah ...
Karya ini terbit pada hari Selasa, 24 Maret
2020 di harian Tribun Jateng.
Selamat membaca
Kamis, 27 Februari 2020
On 16.13 by Nur Rakhmat in Artikel Ilmiah Populer No comments
Alhamdulillah artikel ini tayang di harian Wawasan pada bulan November 2014. Insya allah di era saat ini masih relevan untuk kita terapkan dan budayakan. Selamat membaca semoga kita mampu menjadi generasi yang cerdas naturalis, cerdas untuk mencintai lingkungan kita.
Bangga Bergaul
Dengan Sampah
Oleh : Nur Rakhmat
Sampah
seolah menjadi
“hidangan wajib” keseharian kita. Kota Semarang sebagai daerah yang berkomitmen
mewujudkan Indonesia bersih sampah 2020, bersama beberapa daerah lainnya dari
seluruh Indonesia, mendeklarasikan
Indonesia bersih sampah di lapangan kantor Wali Kota Surabaya. (SM,25/02/2014).
Sampah
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah benda atau barang yang
dibuang karena sudah tidak terpakai dan tidak mempunyai nilai guna. Selain itu
menurut UU No. 18 Tahun 2008, tentang pengelolaan sampah. Sampah adalah sisa
kegiatan sehari-hari manusia dan atau proses alam yang berbentuk padat. Jadi
bisa kita simpulkan sampah adalah segala sesuatu yang tidak mempunyai manfaat
dan justru bisa merugikan bagi lingkungan termasuk manusia.
Akan
tetapi, belum satu tahun kebijakan Indonesia bersih sampah 2020 berjalan. Gaung
dari pencanangan Indonesia bebas sampah 2020, hilang tiada bekas. Buktinya, masih ada masyarakat gemar buang sampah
sembarangan. Bahkan perilaku tersebut cenderung membudaya dan meningkat.
Sejatinya,
kita tidak perlu kaget dengan fenomena tersebut. Karena memang ada masyarakat yang membutuhkan
sampah atau hidup
dari sampah. Di sini
seakan terjadi simbiosa mutualisme antara pembuang sampah dan pencari sampah.
Memang dilematis, disatu sisi sampah menjadi musibah, tetapi di sisi lain
sampah justru menjadi berkah.
Sebenarnya
maksud pemerintah melalui progam Gerakan Peduli Sampah
Nasional Menuju Masyarakat Yang Berbudaya 3R sudah sangat jelas. Tentunya,
sebagai warga negara yang baik, kita harus mendukung upaya pemerintah agar
progam ini optimal.
Bagaimana caranya? Salah satunya membudayakan
gerakan 3 R. Apa 3R?
Pertama
reduce, mengurangi semua hal yang berkaitan dengan sampah. Bentuk nyatanya
yaitu kurangi pembelian barang yang
kurang perlu,
mengurangi bahan sekali pakai, mencari produk yang bisa diisi ulang, dan
membeli barang yang bisa didaur ulang, dll.
Kemudian
reuse atau menggunakan kembali sampah yang masih bisa digunakan, baik untuk
fungsi sama atau lainnya. Misalnya kita bisa menggunakan kain bekas untuk
serbet dari pada menggunakan tisu, kemudian kita bisa menggunakan botol kaca
bekas untuk membuat pot bunga, dll.
Recycle,
berarti mendaur ulang sampah menjadi barang yang lebih bermanfaat. Bentuk
kegiatan recycle bisa berupa mengelola sampah organik seperti sampah daun,
buah, dan sayuran menjadi kompos. Kemudian mengelola sampah non organik menjadi
barang yang bermanfaat. Seperti mengolah bungkus mie instan, bungkus detergen,
bungkus minuman serbuk, koran bekas
menjadi tas, tempat koran dll.
Sebenarnya
untuk melakukan 3R sangat mudah.
Kita bisa memulainya dari
lingkup rumah tangga lebih dulu lalu berlanjut ke pengelolaan sampah berbasis
masyarakat. Seperti yang saat ini sedang “Ngetren” yaitu pengelolaan sampah
berbasis Bank Sampah atau wacana mengenai pengadaan Asuransi Sampah.
Butuh
Dukungan Semua Pihak
Gerakan
Peduli Sampah untuk membentuk masyarakat yang sejahtera, tidak akan berhasil
optimal tanpa dukungan semua pihak, baik masyarakat, aparatur pemerintahan,
lembaga pendidikan, lembaga nonpemerintah dan pelaku usaha.
Pertama,
masyarakat sebagai pelaku utama suksesnya gerakan peduli sampah harus mau
memulai pengelolaan sampah dari lingkungan rumah tangganya sendiri. Seperti
menggunakan kembali kantong plastik, atau memilah dan mengelompokkan sampah
organik dengan sampah non organik. Kemudian di tingkat RT/RW, kelurahan atau
desa bisa melaksanakan program bank sampah yang dikelola secara terpadu oleh
warga.
Kedua,
dukungan pemerintah. Pemerintah sebagai pengawas program peduli sampah, harus
berkomitmen untuk menyukseskannya. Salah satunya dengan sosialisasi akan berkah
dan bahaya sampah bagi lingkungan. Keteladanan pemerintah dalam penanganan
sampah juga sangat mempengaruhi perlakuan masyarakat terhadap sampah. Jangan sampai progam pemerintah
terkait sampah, justru menjadi bumerang dikemudian hari.
Ketiga,
peran lembaga pendidikan. Mulai tingkat dasar, menengah, bahkan sampai
perguruan tinggi. Lembaga pendidikan bisa memberikan edukasi pengelolaan sampah ke anak
didiknya. Mengapa?
Selain sebagai murid, mereka
juga bagian dari masyarakat. Oleh karena itu, bila di sekolah siswa mendapat
teladan dan contoh yang baik, merekapun
diharapkan bisa menerapkan hasil pendidikan di lingkungan masing-masing. Sehingga
siswa sebagai agen perubahan bagi lingkungan terbukti peranannya.
Selain
itu, sekolah bisa memaksimalkan peran Duta Adiwiyata atau Duta Lingkungan hidup sekolah. Mereka bisa mensosialisasikan
manfaat keseimbangan lingkungan dan mengajak temannya agar membudayakan pola
hidup sehat, salah satunya dengan menjaga kebersihan lingkungan, dimulai dari
membuang sampah di tempat sampah. Sehingga Duta Adiwiyata tidak hanya menjadi
formalitas secara administratif belaka.
Selanjutnya
peran lembaga non pemerintah sejenis perusahaan atau industri/pelaku usaha juga
sangat penting dalam mengurangi dampak negatif sampah. Perusahaan bisa
membangun sarana pengelolaan limbah terpadu untuk mengurangi pencemaran sampah/limbah. Atau melalui divisi CSRnya, perusahaan juga bisa bekerja sama dengan masyarakat
melalui edukasi
pemanfaatan sampah dan menggalakkan penanaman pohon untuk keberlangsungan
lestarinya ekosistem lingkungan.
Sarat Manfaat
Tidak
perlu malu atau rendah diri, kita patut bangga menjadi “negeri sampah”, asalkan
sampah tersebut dikelola dengan baik. Karena jika sampah dikelola dengan baik,
nantinya tidak akan ada lagi sampah yang mengendap dan menyumbat aliran sungai,
menggunung di TPA, berserakan di jalan atau tidak bermanfaat. Tetapi yang ada, sampah memberikan berkah dan manfaat
bagi semua.
Beberapa
manfaat pengelolaan sampah antara lain,
lingkungan semakin bersih dan terjaga. Sehingga harmonisasi alam akan semakin
langgeng dan asri. Kedua, masyarakat semakin sehat. Jika lingkungan bersih,
tentu masyarakat semakin sehat. Mengapa? Ini karena tidak ada lagi sumber
penyakit yang berasal dari pencemaran lingkungan, seperti bau tidak sedap,
resapan air tanah yang tercemari sampah, udara kotor, dll.
Ketiga,
masyarakat semakin sejahtera. Ini karena anggaran yang sebelumnya dialokasikan
untuk kesehatan, anggaran tersebut bisa dialokasikan untuk keperluan lainnya. Selanjutnya masyarakat lebih
kreatif. Tidak dipungkiri, sampah memang bisa menjadi masalah, tetapi jika
ditangan orang yang tepat, sampah bisa menjadi berkah.
Terbukti
banyak orang mampu menyulap sampah menjadi barang-barang yang mempunyai nilai
guna. Seperti sampah botol dibuat mainan atau barang kerajinan, sampah sayur
atau daun diolah menjadi kompos, dan barang kreatif serta bernilai ekonomis
lainnya.
Maka
dari itu, sebagai masyarakat cerdas, lebih pedulilah terhadap lingkungan,
khususnya dalam menangani sampah. Agar lingkungan menjadi
bersih, sehat dan asri. Karena sesungguhnya kebersihan adalah sebagian dari iman. Selain
itu, peduli kebersihan lingkungan adalah wujud dari kecerdasan naturalis.
Sehingga, mari
wujudkan lingkungan bebas sampah sedini mungkin, mulai saat ini, diawali dari
diri kita, keluarga, dan lingkungan.
Dan sudah
selayaknya masyarakat merubah mindset sampah, dari sesuatu yang merugikan
menjadi sesuatu yang mempunyai nilai guna dan manfaat tinggi. Sehingga tidak
ada lagi rasa malu “bersahabat” serta mengelola sampah menjadi lebih berkah
dan bermanfaat.
Sehingga
progam Indonesia Bebas Sampah 2020 bisa berjalan lancar dan optimal. Namun,
sukses tidaknya penanganan sampah ini tidak hanya tugas pemerintah saja. Adalah
komitmen semua pihak dari masyarakat, lembaga pendidikan, pemerintah, lembaga swasta, dan
dunia usaha, yang harus
bergotong royong mengingatkan
dan meningkatkan kepedulian mengelola sampah menjadi lebih berkah dan bernilai
ekonomis
tinggi.
Bukan
tidak mungkin di kemudian hari,
bangsa ini bisa mengekspor produk dari sampah. Sehingga kitapun patut berbangga
sebagai negeri yang mampu mengelola sampah dengan baik, membaikkan dan
berdampak baik bagi peningkatan
kesejahteraan diri, lingkungan masyarakat, serta bangsa.
Dan progam Indonesia
Bebas Sampah 2020 bisa tercapai lebih cepat. Amin. Semoga!
Biodata
Nama : Nur Rakhmat,S.Pd
Pengkaji pendidikan dan lingkungan , Guru
SDN Gisikdrono 2.
Kecamatan Semarang
Barat. Kota
Semarang. Hp. 081542557038
Alamat. Asrama brimob
Rt.2/9 Gisikdrono Semarang Barat.
Nb.
Saat ini penulis mengajar di SDN Kalibanteng Kidul 01 Semarang
Rabu, 05 Februari 2020
On 15.13 by Nur Rakhmat in Artikel Ilmiah Populer No comments
Alhamdulillah artikel ke 1 di tahun 2020. Bisa karena Corona, adalah karya penulis dalam menyikapi kejadian luar biasa terkait virus Corona 2019 dalam sudut pandang positif untuk kemaslahatan dan kedamaian bersama. Alhamdulillah sudah dimuat di harian Tribun Jateng, 04 02 2020. Semoga berkenan
Bisa
Karena Corona
Oleh
: Nur Rakhmat
Dewasa
ini dunia digemparkan dengan kemunculan virus baru bernama Novel Coronavirus
2019. Virus ini muncul kali pertama di Kota Wuhan Republik Rakyat Tiongkok dan
parahnya ribuan orang sudah terjangkit dan beberapa diantaranya meninggal
dunia.
Berdasar
Wikipedia.org, virus yang dikenal
sebagai coronavirus Wuhan ini adalah virus yang menyebabkan infeksi pada
pernapasan. Gejala dari pasien atau orang yang terserang virus ini mirip
gejalanya dengan gejala pneumonia karena menyerang organ paru paru manusia.
Mereka akan menderita deman, flue, batuk, serta sesak napas. Namun, sampai saat
ini virus ini belum ditemukan vaksin sebagai penawar mutlak untuk kesembuhan
pasien terjangkit.
Hal
inilah yang menyebabkan masyarakat dunia gempar dan panik. Apalagi penyebaran
wabah virus ini begitu masif, cepat, tentu menjadikan masyarakat menjadi semakin
gelisah, takut dan merasa tidak aman untuk beraktivitas di luar rumah.
Bahkan
karena sangat khawatir, masyarakat Natuna menolak Warga Negara Indonesia yang
dievakuasi dari Wuhan untuk karantina dan dan proses rehabilitasi. Akan tetapi,
terlepas dari berbagai penyebab yang ada, tentu hal ini sangat disayangkan,
mengingat negara Indonesia adalah negara yang dikenal kesantunannya di dunia
internasional.
Belajar dari Corona
Ya,
belajar! Sebagai guru, kita harus peka, bahwa semua yang terkait dengan corona
hendaknya kita jadikan sebagai pelajaran bagi semua. Kita jadikan mewabahnya
virus corona sebagai bahan belajar kita untuk bersikap, berpikir, dan
berperilaku positif dalam keseharian khususnya dalam pendidikan dan
kebermanfaatan untuk sesama.
Bahkan
dengan fenomena tersebut kita bisa belajar untuk berliterasi secara benar,
berliterasi dengan baik dan berliterasi cerdas sebagai bentuk sikap belajar
untuk menjadi pribadi yang berkarakter dan bermoral.
Dan
hemat kami, bentuk belajar dari virus
corona 2019 dalam pendidikan untuk kebermanfaatan sesama daengan kaitanya
dengan mewabahnya virus corona ini yang pertama adalah Belajar hidup sehat. Hal
ini sangat penting dilakukan dan diteladankan serta dibudayakan di manapun
berada. Karena dengan sehat, kita bisa tahan terhadap segala penyakit dan dan
menjadikan jiwa, hati menjadi sehat dan jernih. Seperti pepatah, pada tubuh yang
sehat terdapat jiwa yang kuat.
Bentuk
belajar hidup sehat yang bisa dilakukan diantaranya adalah dengan cuci tangan
sebelum makan, makan makanan yang sudah masak atau matang. Lalu juga bisa
menggunakan masker di lingkungan yang rentan paparan polusi udara, berpikir
positif, dan lain sebagainya.
Belajar
yang kedua adalah belajar untuk peduli. Hal ini sangat penting karena di era
saat ini banyak tumbuh gaya hidup individualis tidak care atau peduli dengan kondisi orang lain. Bentuk sederhana yang
dapat dilakukan untuk belajar menjadi pribadi yang lebih peduli adalah memungut
sampah yang ada di sekitar, menegur teman atau saudar jika berbuat salah, memberikan
santunan anak yatim, menolong orang yang kesusahan dan lain sebagainya.
Dan
yang ketiga adalah belajar untuk belajar. Hal ini sangat penting mengingat
dengan munculnya virus corona Wuhan ini, banyak sekali info yang meresahkan
yang cenderung hoaks. Sehingga sebagai insan terdidik kita juga harus belajar melek teknologi dengan cara belajar bijak
teknologi.
Bentuk
bijak teknologi sebagai bentuk belajar untuk belajar adalah dengan menyaring
berita yang ada, tidak ikut menyebarkan hoaks tersebut, tetapi ikut menciptakan
ketenangan dengan menyebarkan informasi yang nyata kebenarannya. Karena dengan
sikap tersebut, secara tidak langsung kita juga sudah berliterasi secara benar,
khususnya literasi digital.
Maka
dari itu, tetaplah tenang dan terus berusaha membudayakan belajar serta
berusaha dan berdoa untuk kebaikan bersama, untuk kemudian kita jadikan fenomena
penyebaran virus corona Wuhan sebagai sarana belajar, sarana pengingat untuk
lebih baik lagi dalam bersikap, bermasyarakat dan berinteraksi dengan
lingkungan. Dengan harapan, generasi bangsa Indonesia menjadi agen perubahan
yang bijak, bermoral dan berkarakter serta mampu membawa kebermanfaatan kepada
sesama.
Bisa
karena corona? Mengapa tidak?
Nama : Nur
Rakhmat,S.Pd.
Guru SDN Kalibanteng Kidul 01. Kota Semarang.
Hp. 081542557038. Email : nurrakhmatcahayakasihsayang@yahoo.com
Jln. Candi Intan V No.1129 Rt.07 Rw.09 Kelurahan Kalipancur Kecamatan Ngaliyan
Kota Semarang 50183
Langganan:
Postingan (Atom)
Search
Video
Kurtilas
Kategori
Artikel Ilmiah Populer
(23)
Bank Soal
(20)
Artikel Populer
(15)
Puisi
(12)
Berita
(11)
Kisah Sang Guru
(10)
Cerita Anak
(6)
Pidato
(4)
Buku
(3)
Dongeng
(2)
Esai
(2)
Geguritan
(2)
info lomba
(2)
Cerpen
(1)
Galeri Foto
(1)
Media Pembelajaran
(1)
Pantun
(1)
TUGAS SISWA
(1)
TUGAS SISWA 2
(1)
Tugas 4
(1)
Tugas Siswa 3
(1)
Diberdayakan oleh Blogger.



