Selasa, 29 September 2020
Guru Solutip ( Refleksi Diri Guru yang Berusaha Menjadi Guru)
Nur Rakhmat
Guru SDN Kalibanteng Kidul 01 Semarang
“
Jadi orang yang solutip gitu loh!” itulah petikan dialog Bu Tedjo yang sedang
viral beberapa waktu lalu. Guru sebagai subjek pendidikan di era pandemic dan
era digital ini, hendaknya juga memiliki sikap solutip yang bisa membawa
kebermanfaatan dalam proses belajar mengajar di sekolah maupun di luar sekolah.
Bentuk
guru solutip di era pandemi hemat penulis diantaranya adalah memanfaatkan
sumber daya yang ada. Artinya bisa memaksimalkan potensi yang dimilikinya untuk
berkembang dan bertumbuh bersama mengikuti perkembangan zaman. Karena dengan
mengikuti perkembangan zaman, sikap professional sebagai salah satu satu bentuk
kompetensi yang dimiliki guru selain kompetensi social, pedagogic, dan kepribadian
bisa berperan dalam pendidikan di era kini dan masa depan.
Kemudian,
bentuk guru solutip berikutnya adalah selalu menanamkan, menumbuhkan dan
membiasakan serta membudayakan merdeka belajar. Seperti yang disampaikan oleh Mas
Menteri Nadiem Makarim, bahwa merdeka belajar adalah suatu kemerdekaan berpikir
yang bentuk esensi utamanya berasal dari guru terlebih dahulu kemudian menuju
ke siswa. Maka dari itu, kemerdekaan guru ada mutlak dan harus diutamakan,
termasuk kemerdekaan saat mendidik siswa, kemerdekaan dalam finansial dan
kemerdekaan dalam berkreasi serta menginspirasi serta kemerdekaan berorganisasi.
Bentuk
ketiga dari guru solutip adalah memiliki kompetensi abad 21. Artinya kemampuan
berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreatif harus dimiliki mutlak oleh
guru. Karena dengan guru memiliki kemampuan 4C di era modern 4.0 ini, guru
tidak akan kesulitan dalam proses belajar bersama siswa.
Misal
dalam sikap kreatif, guru bisa membuat media pembelajaran yang menunjang keberhasilan
proses pembelajaran siswa sesuai dengan kondisi yang dihadapainya, bisa yang berbasis
IT ataupun non IT. Dengan kolaborasi, seorang guru bisa dengan mudah berkerja
sama dengan rekan saling belajar dan gotong royong memiliki tujuan untuk
mencerdaskan generasi bangsa.
Bentuk
guru solutip berikutnya adalah guru memiliki karya alias berkarya. Karya
dalam bentuk apa saja? Hemat penulis ada beberapa karya yang bisa dijadikan
sebagai bentuk sikap solutif guru di era pandemic ini, yaitu karya berupa media
pembelajaran dan karya dalam pola pendidikan ke siswa.
Karya
media pembelajaran sangat penting bagi guru, karena mempermudah guru memberikan
materi ajar kepada siswa. Seperti yang dikatakan oleh Sudjana dan Rivai (1992 :
2) bahwa manfaat media dalam proses belajar mengajar, di antaranya yaitu proses
pembelajaran akan lebih menarik perhatian peserta didik, sehingga dapat
menumbuhkan motivasi belajar bagi peserta didik.
Sedangkan
karya dalam pola pendidikan diantaranya guru bisa membangun komunikasi dengan
siswa, tidak hanya sebagai guru namun lebih cenderung menjadi orang tua dan
teman teladan yang baik bagi siswa, karena dengan cara keteladanan inilah guru
bisa mendampingi dengan baik proses pendidikan dan pola asih, asah, asuh guru di
sekolah memberikan bekah untuk generasi penerus bangsa yang semakin cerah.
Namun,
agar guru solutip benar benar bisa memberikan solusi, dibutuhkan sikap moral
positif atau akhlakul karimah, keteladanan, dan sikap istiqomah dari
masing masing guru sehingga guru benar benar bisa menjadi teladan, diguru
lan ditiru serta bermutu dan berdedikasi tinggi demi pendidikan Indonesia yang
lebih maju serta unggul, cerdas, bermoral dan berkarakter.
Nama : Nur Rakhmat,S.Pd.
Guru SDN Kalibanteng Kidul 01. Kota Semarang. Hp. 081542557038. Email : nurrakhmatcahayakasihsayang@yahoo.com. Jln. Candi Intan V No.1129 Rt.07 Rw.09 Kelurahan Kalipancur Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang 50183
Selasa, 01 September 2020
Suara
di Balik Kaca
Karya
: Kang Rakhmat
Masih
ingatkah Kau ketika Sang Kala hendak menjadi biang cerita?
Masih
ingatkah Kau ketika dunia dalam berita selalu menjadi tanda?
Suara
di balik kaca
Suara
yang penuh tanda tanya
Suara
yang menggema bagai kalam yang tiada sebatas istilah semata
Suara
yang katanya sekarang menjadi primadona insan dunia
Suara
yang penuh ilusi cerita cinta insan pembeda
Wahai
kawan penghamba saloka
Wahai
kawan pelaku titah wacana
Wahai
kawan pemandu dharma ganesha
Suara
di balik kaca hanyalah sebongkah asa
Suara
di balik kaca hanyalah satu cara mengguncang frasa isi jiwa
Suara
di balik kaca bukan utama namun penuh makna
Suara
di balik kaca bukanlah suatu tanda resesi cinta
Namun
…
Apakah
kini Kau sadari kawan?
Suara
di balik kaca terus menggema melangkah bersama gelora Sang Begawan Tinta
Suara
di balik kaca menjadi primadona walau banyak pencela meniup bara
Suara
di balik kaca menjadi irama dalam notasi birama penuh rima
Suara
di balik kaca menjadi terbuka kala waktu tiada habis berkata
Suara
di balik kaca menjadi idola sebuah asa yang menggelora
Suara
di balik kaca menjadi pelipur lara hati yang terluka
Dan
kau harus tiada terlupa kawan!
Suara
di balik kaca
Seolah
menjadi tanda sebuah budaya
Suara
di balik kaca
Seolah
menjadi pengelana dalam langkah jiwa tiap pemuda
Suara
di balik kaca
Bagai
fatamorgana cerminan jiwa muda tiada tertanda
Suara
di balik kaca
Bagai
pengikat rindu roda roda cinta penguat figur sorga
Suara
di balik kaca
Seolah
menjadi pertanda bahwa kita harus sudah menjadi esok lusa
Suara
di balik kaca
Tetap
menggoda jiwa sanubari penuh tanda tanya dalam bingkai menggapai makna
Pasadena,
01092020.0000
Sabtu, 22 Agustus 2020
Maju Tak Gentar Menggapai Merdeka Belajar
Oleh
: Nur Rakhmat
Merdeka
belajar !
Itulah
harapan semua insan pendidikan agar pendidikan benar benar bisa membawa peruahan
ke arah yang lebih baik. Namun demikian, guna mewujudkan merdeka belajar yang konsep
pokok dan teknisnya masih dalam taraf pembahasan seputar Ujian Sekolah
Berstandar nasioanl, Ujian Nasional, RPP dan penerimaan siswa baru tentu tidaklah
mudah. Dibutuhkan inovasi lebih agar merdeka belajar benar benar bisa terwujud.
Lebih lebih saat ini bangsa kita sedang terdampak virus covid 19. Tentu dibutuhkan
sebuah terobosan penting agar kondisi merdeka belajar bisa dirasakan oleh semua
pihak.
Dan
hemat kami terobosan yang tepat saat ini guna mewujudkan merdeka belajar adalah
dengan gotong royong memerdekakan guru, orang tua dan siswa dari segala factor yang
menghalanginya. Ini penting karena guru, orang tua dan siswa adalah satu kesatuan
alias sebuah tri tunggal yang harus diperlakukan sama agar bisa mencapai
kondisi merdeka belajar yang diharapkan.
Bergotong
royong
Benar,
gotong royong hemat kami adalah Langkah tepat guna membawa unsur tri tunggal
tersebut dalam kondisi merdeka. Mengapa demikian? Saat ini bangsa kita masih
dalam kondisi pandemic. Dan mau tidak mau proses pembelajaran dan hasil
belajarpun tentu tidak akan sesuai target atau tidak akan lebih baik daripada
saat pembelajaran di luar pandemic yang berlangsung tatap muka dan bisa
berinteraksi langsung antara guru, orang tua dan siswa.
Sehingga
dengan kondisi itu menuntut guru, orang tua dan siswa untuk bertindak lebih
agar tujuan dan target pembelajaran bisa tercapai lebih optimal, termasuk dalam
penyediaan sarana prasarana untuk pembelajaran daring maupun pembelajaran jarak
jauh ini. Nah, di sinilah gotong royong semua unsur dibutuhkan agar proses
pembelajaran khususnya dan proses pendidikan pada umumnya bisa tercapai lebih
optimal.
Bentuk
gotong royongnya yang pertama adalah mendukung progam pemerintah, khususnya
terkait pembelajaran di era pandemic. Penerapannya antara lain guru mengajar
secara optimal namun tetap memperhatikan kondisi siswa dan keluarganya. Orang tua
mendukung apa yang dilakukan guru dan siswa tetap belajar sesuai dengan kebutuhan
dan tahapannya.
Artinya
adalah ada kondisi saling support dan saling memahami antara unsur guru oang
tua dan siswa serta masyarakat. Sehingga dengan adanya unsur saling memahami
kondisi saat ini satu sama lain, proses Pendidikan bisa berjalan tenang untuk
tetap dalam menggapai kondisi merdeka belajar.
Yang
kedua adalah adanya memaksimalkan potensi yang ada. Artinya Pendidikan tetap
berproses dan berjalan sesuai dengan pola yang ada. Sehingga, dengan system tersebut
Pendidikan benar benar bisa membawa dan merubah kondisi pandemic menjadi asset unggulan
bangsa untuk tetap bertahan dan mencapai kondisi merdeka belajar serta mampu mewujudkan
tujuan nasional bangsa yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa yang didasari pada
kesadaran kritis untuk tetap bertindak guna mencapai kondisi tersebut.
Dan
yang ketiga adalah kolaborasi Bersama untuk merdeka belajar. Artinya ada
kolaborasi antara guru, orang tua, dan siswa serta pihak lainya yang peduli Pendidikan.
Sehinnga dengan adanya kolaborasi ini harapannya semua unsur masyarakat
terlibat guna membentuk merdeka belajar yang baik.
Namun
demikian, konsistensi dan komitmen semua pihak sangat dibutuhkan agar merdeka
belajar bisa menjamin Pendidikan tetap mampu mewujudkan peserta didik berkahlak
mulia dan memiliki kecerdasan serta kekuata spiritual agama seperti yang diamanatkan
dalam undang undang system Pendidikan nasional. Merdeka !
Nama : Nur
Rakhmat,S.Pd.
Guru SDN Kalibanteng Kidul 01. Kota Semarang.
Selasa, 30 Juni 2020
Bismillah
Asal Usul Goa Kreo
Nur Rakhmat
“Kek,
ceritain Arga dong !”
Kata
Arga manja. Siang itu Arga sedang berlibur bersama keluarga di rumah kakeknya
di Gunung Pati Semarang, dia senang sekali. Apalagi di dekat rumah kakek banyak
tempat wisata yang bisa dikunjungi.
“Arga
! Ikut kakek yok!”
“Ke
mana Kek? “ tanya Arga kebingungan.
“Pokoknya
ikut Kakek, jangan nolak. Tidak baik menolak ajakan orang tua he he he”.
“Iya,
kakek ....”
Argapun
ikut kakek, mereka naik sepeda gunung kesayangan kakek.
“Nah,
akhirnya kita sampai”
Arga
dan kakekpun sampai, namun Arga belum tahu
tempat apa yang dikunjunginya bersama kakek.
“
Kek, kita di mana ?”
“Ini
namanya Goa Kreo Cucuku? Di sini dulu Sunan Kalijaga salah satu Walisongo singgah mencari kayu untuk tiang Masjid Agung Demak.”
“Cerita
dong kek, cerita dong kek, please ...” kata Arga sambil merengek ke kakek.
“Hussh
... kamu itu lo, kakek belum selesai bicara sudah dipotong. Itu tidak baik lo !
Lain kali jangan diulang ya “ kata kakek sambil sedikit gemes melihat cucunya.
“Habis
kakek cerita Walisongo sih ... Itukan idolaku !”
Sambil
berjalan mengitari kawasan Goa Kreo kakek bercerita
Saat
itu, di Kerajaan Demak sedang diadakan musyawarah pembangunan Masjid Agung
Demak.
“Wahai
para Waliyullah ... Pembangunan masjid di Kerajaan Demak untuk ibadah umat
semakin mendesak. Aku ingin, masjid ini menjadi pusat penyebaran islam di
wilayah Jawa. Mohon kiranya, tiang utama masjid ini dibuat dari kayu yang kuat”
“Titah
paduka sultan siap dilaksanakan” para walipun menjawab dan langsung bermusyawarah
melanjutkan amanah tersebut. Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati dan
Sunan Kalijogo bertugas mengemban amanah tersebut.
Tersebutlah
Sunan Kalijaga mendapat tugas mencari ke arah selatan barat daya, beliau tak
lupa mengajak santrinya untuk mencari kayu yang dimaksud. Setelah sekian waktu
mereka berjalan, sampailah mereka di hutan lebat di sebelah barat daya Glagah
wangi.
“Kita
berhenti di sini!”
“Ada
apa wahai Sunan? Kok kita berhenti di hutan lebat ini?”
“Lihat
ke arah sana! Insya allah itu pohonnya.”
Namun
ketika didekati Sunan Kalijaga dan santrinya pohon jati itu bergerak dan
berpindah tempat.
“Astaghfirullah,
Guru pohonnya tidak ada!” teriak santrinya.
“Baiklah,
mungkin ini ujian dari Allah untuk menguji, sejauh mana kesabaran kita. Namun,
sebelum kita melanjutkan perjalanan, tempat ini aku namakan Jatingaleh. “
Tidak
berputus asa. Sunan Kalijaga dan santrinya melanjutkan perjalanan ke arah
barat. Mreka berjalan melewati lembah, hutan, sungai, dan gunung mengikuti arah
pohon jati yang menjulang paling tinggi di antara pohon lainnya.
Dan
akhirnya Sunan Kalijaga bersama santrinya berhasil menemukan serta menebang
pohon jati tersebut. Sunan Kalijaga memotong batang kayu jati tersebut, agar
mudah dibawa ke Demak melalui sungai. Namun, tiba tiba ...
“Astaghfirullah
... “
Sunan
Kalijaga dan santri kaget, tiba tiba tunggak atau akar pohon jati jadi melebar
menjadi besar.
“Aku
namakan tempat ini Tunggak Jati Ombo”.
Setelah
itu, Sunan Kalijaga dan rombongan melanjutkan perjalanan , namun sekali lagi
ujian datang menghadang. Saat itu Sunan Kalijaga kesulitan melewati belokan
sungai yang sangat tajam.
“Astaghfirullah
... kita berhenti dulu sejenak di sini. Kalian carilah tempat untuk berteduh.”
“
Baik Sunan.” Santripun bergerak mencari tempat yang aman dan teduh untuk
istirahat, tersebutlah mereka menemukan goa yang kelak dikenal sebagai Goa
Kreo.
“Baiklah,
sambil istirahat di sini. Aku akan solat dan bersemedi minta petunjuk
pertolongan Allah. Kalian boleh berjaga di luar atau ikut doa bersamaku.”
Sunan
Kalijagapun salat serta bersemedi berdoa memohon pertolongan Allah. Saat itulah
Sunan Kalijaga mendapat petunjuk agar memotong kayu jati menjadi dua bagian.
Tiba
tiba muncul empat ekor kera dengan bulu warna warni, merah, hitam, putih dan
kuning.
“Tuan
Sunan, bolehkah kami membantu?” kata kera merah.
“Iya
tuan Sunan, Allah mengirim kami untuk membantu tuan Sunan!” sambung kera hitam.
“Aku
menerima bantuan kalian, lalu apa yang akan kalian lakukan”
“Kami
akan membantu memindahan kayu itu tuan sunan. “ jawab kera putih.
“
Iya Tuan Sunan, kami akan mengajak teman teman kami membantu tuan sunan.”
lanjut kera kuning.
Tiba
tiba, Sunan Kalijaga dan santri kaget, di sekitar mereka sudah ada ratusan
kawanan Wanara atau kera siap menunggu perintah tugas Sunan kalijaga.
“Alhamdulillah
... “
“Ayo
saudarau para wanara, kita bantu Tuan Sunan memindahkan kayu ini.” ucap kera
merah lantang.
“Baik
saudaraku!” jawab wanara serempak.
Akhirnya
tidak membutuhkan waktu lama, tikungan tajam yang menghalangi kayu bisa dilewati.
Sunan Kalijaga dan santrinya pun mengucapkan terimakasih kepada seluruh Wanara
di daerah tersebut.
“Sahabatku,
para wanara, terimakasih sudah membantu memudahkan perjalanan kayu ini menuju
Demak. Semoga Allah selalu memudahkan jalan kalian.” Sabda Sunan Kalijaga.
Tiba
tiba kera kuning berucap, “Tuan Sunan, bolehkan aku ikut ke Demak, Aku ingin
sekali bertemu ratuku yang adil.”
“Iya
Sunan, bolehkan ikut Tuan Sunan.” timpal kera putih.
terlihat
Kera hitam dan merah juga berharap sekali untuk bisa ikut Sunan kalijaga.
Sambil berlinang air mata dan berona sedih, Sunan kalijaga berkata.
“Saudaraku
wanara, aku senang kesetiaan dan ketulusan kalian. Namun, jika kalian ikut aku
ke Demak. Siapa yang akan menjaga kelestarian hutan ini?”
Para
Wanara terdiam, mereka tertunduk patuh kepada Sunan kalijaga.
“Baiklah,
Tuan Sunan, kita akan mengikuti apa titah Tuan Sunan.” Kata kera Merah
memberanikan diri bicara.
“
Semoga Allah selalu menjaga dan meridhoi kalian. Tolong jaga jagalah lingkungan
di sini agar asri dan semakin sejuk. jangan sampai rusak, dan mulai saati ini,
daerah ini aku namakan Goa Kreo.”
Akhirnya
Sunan kalijaga melanjutkan perjalan ke Demak dan Para Wanara melaksanakan titah
Sunan Kalijaga dengan menjaga kawasan goa kreo sampai sekarang.
“Hei
Arga, kok melamun!”
“Eh
... tidak kek.. aku kagum sama kesabaran dan ketabahan sunan serta kesetiaan
wanara. Semoga aku bisa meniru sikap postiif mereka. terimak kasih kek!”
“Iya,
yuk kita pulang!”
Nb.
Naskah dongeng ini merupakan hasil gubahan dari berbagai sumber
Semoga bisa menginspirasi untuk kemajuan literasi negeri ini
Salam Budaya
#SemarangHebat
Selasa, 09 Juni 2020
Sebuah Rasa yang
Terus Melangkah
Karya : Nur
Rakhmat
Sebuah rasa
dalam jiwa meletup bagai pistol Sang Pemburu Jiwa
Meluncur bagai
panah Arjuna mencari cinta
Menembus angkasa
bagai Gatotkaca hendak memeluk mega
Sebuah rasa yang
kau baca hanya menjadi bencana
Sebuah rasa yang
kau tanda hanya menjadi canda
Sebuah rasa yang
terus melangkah bersama jiwa yang terarah
Terus melangkah,
terus melangkah walau hendak kalah
Terus melangkah
mencari arah walau dunia seolah berbalik arah
Terus melangkah dalam
bahtera pemecah ombak Sang Nakhoda
Terus melangkah
gapai cita dalam fana dunia
Terus melangkah
walau hanya dikata dalam cerita
Jangan kau
bertanya !
Ini adalah
tentang rasa
Ini adalah rasa tentang
cinta yang hilang asa walau dunia semakin durjana
Ini adalah rasa
yang menjadi tanda bahwa kau memang ada
Ini adalah rasa
cinta dari hamba yang lemah adanya
Ini adalah rasa
dari pendoa yang takut tercebur dosa
Rasa yang
menangis iri pada pandemi dunia
Rasa yang
mengoyak sunyi Sang Pengisi Hati
Rasa yang
menjadi ilusi maknawi tetapi selalu menyayat diri
Rasa yang hanya
menjadi impian dini para pencari ilusi
Rasa yang hanya
kau rasa pasti nikmat akan tersakiti
Rasa yang jika
kau tanya hanya senyum tiada memahami
Jangan heran
kawan
Ini adalah
tentang rasa yang melangkah
Ini adalah rasa
yang melangkah jalan berkah Sang Maha Indah
Rasa yang terus
melangkah walau hanya sebatas asa
Rasa yang terus
melangkah tuk gapai ridho Sang Maha Esa
Demi indah cita
Sang Penerus Asa Bangsa Indonesia
Pasadena09062020
Rabu, 03 Juni 2020
Hadapi
Corona Dengan Pancasila
Oleh : Nur Rakhmat
Pancasila
adalah dasar negara yang mutlak bagi seluruh masyarakat Indonesia di manapun
dan sampai kapanpun. Sehingga bersama dengan momentum peringatan hari Lahir
Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni, sudah saatnya Pancasila
sebagai dasar negara tidak hanya dikenal secara simbolis dengan seremonial atau
gebyar semata. Namun, Pancasila juga bisa diwujudkan dan diterapkan serta
dirasakan manfaatnya dalam keseharian oleh seluruh elemen bangsa, termasuk
siswa sebagau generasi penerus bangsa.
Nilai Luhur Pancasila
Sekolah
sebagai kawah candradimuka siswa hendaknya bisa menjadi pelopor dan teladan
yang baik penerapan nilai Pancasila di tengah kondisi bangsa yang sedang terguncang
pandemi global virus korona yang bukan tidak mungkin bisa menimbulkan disintregasi bangsa
Dan
hemat penulis nilai nilai dan karakter luhur Pancasila sangat tepat dan efektif
dibudayakan guna menumbuhkan karakter dan mental positif seluruh elemen bangsa
di tengah pandemi global ini. Pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam
sila pertama nilai karakter utama yang wajib dibudayakan adalah Iman dan taqwa
terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Bentuknya
diantaranya adalah tidak ikut terbawa arus negatif dengan hilang harapan putus
asa akan karunia Tuhan YME. Akan tetapi, tetap yakin, terus berdoa, berusaha serta
husnudzon dan tawakkal bahwa segala
penyakit pasti ada obat dan harapan pasti selalu ada bagi setiap manusia yang
mau berusaha.
Berikutnya
adalah Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Bentuk karakter positifnya adalah berbudi
luhur menghormati orang lain. Artinya dengan menghormati orang lain berarti
kita juga mengakui dan peduli keberadaan orang tersebut. Bentuk nyatanya antara
lain, menghormati orang lain dengan memakai masker, cuci tangan pakai sabun,
serta bentuk pencegahan penularan covid 19 lainnya sesuai dengan protokol yang
ditetapkan pemerintah.
Selanjutnya
adalah Persatuan Indonesia. Nilai positif yang sesuai dengan sila ketiga ini
adalah bersatu mencegah penularan corona dan dampak lainnya seperti kemiskinan
dan kemunduran ekonomi dengan cara bersatu melaksanakan anjuran pemerintah dan
bergotong royong, saling memotivasi, saling membantu sebagai bentuk kepedulian
bersama seperti dengan melakukan jogo
tonggo, membeli produk dalam negeri, gerakan donasi bersama dan lain
sebagainya.
Sila
berikutnya adalah Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan Pewakilan. Bentuk nilai karakternya diantaranya adalah amanah
dan bertanggungjawab melaksanakan ketetapan pemerintah sebagai hasil musyawarah
di tengah pandemi dan era milenial ini serta melaksanakan dengan penuh
kesadaran dan keimanan.
Dan
yang terahir adalah Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Nilai
karakter yang hendaknya dibudayakan adalah adil terhadap sesama. Artinya sebagai
bagian bangsa Indonesia kita hendaknya memiliki sikap yang adil ketika mendapat
amanah serta bersikap positif menghadapi pandemi ini. Sehingga dengan sikap
adil ini imunitas bangsa bisa terjamin dan kelangsungan hidup bangsa bisa
diteruskan.
Namun,
agar nilai karakter Pancasil tersebut dapat diterapkan dan dibudayakan sebagai
benteng kehidupan bangsa, dibutuhkan kerjasama, komitmen semua stake holder
bangsa termasuk pendidikan di dalamnya.
Sehingga di tengah era global ini, peran Pancasila bisa dirasakan dan membawa
kebermanfaatan bersama demi Indonesia yang lebih kuat dan berkarakter.
Alhamdulillah sudah muat di halaman Tribun Jateng, silahkan bisa klik link berikut :
https://jateng.tribunnews.com/2020/06/02/forum-guru-nur-rakhmat-hadapi-corona-dengan-pancasila
Search
Video
Kurtilas

