Oleh: Nur Rakhmat, S.Pd

Selasa, 09 Februari 2021

On 18.50 by Nur Rakhmat in    No comments

 #PernahIkutEventPuisiKlungkung2016

Aduhai Indah Kau Indahnya

Oleh : Nur Rakhmat

Gelombang terjal Bukit Mundi memanggil pembawa kendi dalam riang hari ini

Belaian angin samudra bagai nyawa dalam berita kawan tak jumpa jelaga

Hamparan Nusa Penida bagai pengobat luka lara nan merana

Emas laut rumput laut petani laut tiada kalut dalam dunia penuh kabut

Aduhai indah kau indahnya

Bentang pantai bagai cincin emas dalam dunia yang memanas

Uang kepeng dalam wadah yang tiada enteng

Seakan tiada pernah hilang dan selalu tumbuh dalam tubuh penuh peluh

Wahai “Bumi Serobotan”

Wahai anak dewata

Aduhai indah kau indahnya

 

Pasadena, 29 Juni 2016


On 18.43 by Nur Rakhmat in    No comments

Berikut adalah contoh pantun nasihat ...

Selamat membaca dan meresapi serta mendalami maknanya ...



 Belajar membaca di Semarang

 Jangan lupa membeli lumpia

 Agar kita disayang orang

 Mari jaga hidup bertetangga

 

2.      Pergi ke Ungaran naik kereta

Kereta berwarna merah dan hitam

Marilah mari sayang orang tua

Pasti masa depan tiada suram

 

3.      Makan kue bersama Paman

Paman senang hati riang

Kalau kita ingin hidup aman

Cinta damailah dengan penuh sayang

 

4.      Makan roti di Stasiun Tawang

Roti dimakan enak rasanya

Kejujuran tentu pasti menang

Menang karena ikhlas hatinya

 

5.      Di semarang ada tugu muda

Di jakarta ada tugu monas

Wahai kawan ayolah menjaga

Menjaga sikap baik hilangkan malas

 

6.      Makan jagung tiada susah

Jagung dimakan enak rasanya

Jika ingin hidup ini berkah

Ayo bekerja kuatkan semangatnya

 

7.      Pantai selatan selatan Jawa

Kota Purworejo selalu di hati

Ayo segera hindari dusta

Karena dusta rugikan diri

 

8.      Makan nasi dengan bubur

Bubur dimakan bersama teman

Mari kita biasakan jujur

Karena jujur karakter idaman

 

 

 

 

9.      Kota Semarang bangun bandara

Bandara itu di dekat pantai

Memang hidup harus membara

Agar tua hendak bisa santai

 

10.  Hari libur asyik rasanya

Rasa senang pastilah itu

Wahai kawan jaga rahasianya

Agar teman selalu bersatu







#SelamatPagiDunia
#PagiDiPasadena
#HelloDanHola
#MariSalingMemotivasiDanMenginspirasiDemiKebaikanNegeri



On 18.37 by Nur Rakhmat in    No comments

 

Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.....

Yang terhormat segenap dewan juri

Yang saya hormati bapak Ibu Guru dan hadirin Hadirat yang berbahagia

Serta teman - teman seperjuangan yang saya banggakan

Perkenankan, saya Prabandari dari SDN Kalibanteng Kidul 01, pada kesempatan kali ini, akan menyampaikan pidato dengan tema Pemanfaatan teknologi terkini dalam pembelajaran.

Hadirin yang kami hormati

Pertama, mari, kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan nikmat sehingga pada kesempatan ini kita dapat belajar bersama dalam ajang siswa berprestasi tingkat kecamatan 2019.

Hadirin yang kami hormati

Belajar adalah proses yang terus menerus dan terencana untuk mencapai perubahan  lebih baik. Dan agar proses dan hasil belajar bisa optimal, diperlukan media untuk memudahkan kita belajar.

Dan dalam dunia modern saat ini, penggunaan teknologi informasi untuk belajar tentu sangat mungkin dilakukan. Misalnya, seperti yang sudah dilaksanakan di SD kami, yaitu dengan menggunakan edmodo. Manfaat yang didapat dari edmodo  sebagai salah satu media untuk belajar kapan saja dan di mana saja diantaranya adalah mudah mencari informasi dan pengetahuan baru jika masih kurang mendapat materi di sekolah.

Selain itu, dengan teknologi informasi tersebut kita juga mudah untuk mencari berbagai sumber belajar menarik di dunia maya. Namun, dalam menggunkan kita tidak boleh asal menggunakan, tetapi kita juga harus selalu wasapada dan hati hati, agar terhindar dari kejahatan syber di dunia maya.

Hadirin yang kami hormati

Maka dari itu, mari kita manfaatkan dengan baik perkembangan iptek ini dengan baik. Sehingga, dengan pemanfaatan teknologi dengan baik diantaranya untuk belajar, kita bisa mencapai hasil belajar bagus, tidak gaptek dan tentunya bisa bersaing di dunia global.

Demikian yang dapat kami sampaikan, jika ada sikap dan ucapan yang kurang berkenan kami mohon maaf yang sebesar besarnya.

Game Online ok, Kecanduan No, Prestasi yes, dan Teknologi IT Selalu di hati.

Wassalamualaikum. Wr.Wb.

 

On 03.11 by Nur Rakhmat in    20 comments

 

Komentar Cilla

Oleh: Nur Rakhmat

“Paraah! Berangkat sekolah kok terlambat.” seloroh Cilla kepada Riza. Riza yang merasa tersinggung tersenyum sewot. “Huh, coba kalau bu guru belum masuk kelas, sudah kuremet-remet dia!” Gerutu Riza dalam hati sambil menunjukkan muka marah.

“Maaf bu, saya terlambat. Tadi mama belum menyiapkan sarapan, jadi harus nunggu dulu.”

“Modus bu, paling dia bangun kesiangan!” Timpal Cilla, yang diikuti riuh tawa teman sekelas.

“Anak-anak jangan ribut, kasihan Riza. Riza lain kali datang lebih awal ya, ayo duduk di bangkumu nak.” Kata bu guru sambil tersenyum hangat.

Sambil memendam jengkel, sebenarnya Riza merasa bersalah pada bu guru, karena terlambatnya bukan menunggu bekal untuk dibawa sekolah. Riza terlambat memang karena bangun kesiangan akibat menonton pertandingan siaran langsung lomba atletik di televisi sampai malam.

“Ah, apa boleh buat, yang penting aku tidak dimarahi bu guru.” Gumam Riza dalam hati gembira.

Namun, setiap ingat apa yang dikatakan Cilla, Riza selalu merasa jengkel. Karena bukan kali ini saja Cilla berkata blak-blakan kepada Riza.

***

Teet … teeet … teeet. Bel pulang berbunyi, siswa kelas VI pun menghambur keluar kelas. Ada yang langsung pulang, jajan dulu dan ada pula yang bermain di lapangan sambil menunggu jemputan. Riza, Zia, dan Toma yang biasanya langsung pulang, memilih santai sambil duduk-duduk di gazebo yang terletak di pojok lapangan sekolah.

“Hey, dari tadi wajahmu kok di tekuk terus, memangnya kamu kenapa Za?” Tanya Zia yang heran pada sikap tak biasa Riza.

Sambil jengkel. “Huh!! Bete aku sama Cilla, masa dia selalu bicara ceplas-ceplos kepadaku, memangnya dia siapa?”

“Memangnya kenapa dengan Cilla, apa kamu naksir…? He he he.” Seloroh Toma yang dari tadi asyik memperhatikan ramainya suasana pulang sekolah.

“Husssh…! Sembarangan, boro-boro naksir, kalau jengkel iya! Andai dia laki-laki, sudah aku tantang dia adu cepat lari denganku!” Kata Riza meluap-meluap karena saking jengkelnya pada Cilla.

Tantangan Riza kepada Cilla cukup beralasan, karena memang Riza adalah atlet putra andalan sekolah dan Cilla juga atlet putri andalan di sekolah yang sama.

“Jengkel boleh Za, tapi kamu jangan sampai kelewat batas.” Kata Toma.

“Betul Za, jangan sampai saking jengkelnya, kamu nanti kena hukuman dari bu guru.” Lanjut Zia.

“Makanya, kalau tidak ingin dapat komentar Cilla jangan terlambat.” Timpal Toma.

“Lo….kok kamu membela Cilla, Tom?” Tanya Riza kepada Toma heran.

Toma tidak langsung menjawab pertanyan Riza. Mereka terdiam sambil melihat ke sekeliling sekolah yang terlihat sudah agak sepi.

Sambil menghela napas. “Sebenarnya kamu bukan yang pertama kali mendapat komentar Cilla, Za.” Tiba-tiba Zia berbicara memecah kebekuan antara Riza dan Toma.

“Aku dan Toma pun kemarin pernah mengalami nasib seperti kamu.” Lanjut Zia.

“Memangnya kalian berdua pernah mendapat komentar apa dari Cilla?” Tanya Riza heran.

“Kemarin sewaktu ada PR matematika, aku belum selesai mengerjakannya. Lalu aku berangkat lebih awal supaya bisa mengerjakannya di sekolah.” Kata Toma.

“Ee … baru aja mau buka buku, tiba-tiba Cilla berkomentar juga. Hari gini belum mengerjakan PR, apa kata dunia! Dia komen begitu sama aku. Untung bu guru belum datang.” Lanjut Toma.

“Dia bilang begitu sama kamu, Tom? Tanya Riza terlihat semakin jengkel.

“Lalu kamu dikomentari apa Zia?” Tanya Riza pada Zia yang dari tadi keheranan melihat jengkelnya Riza pada Cilla.

“Kalau aku sih, kemarin waktu habis jajan aku membuang bungkus jajan sembarangan. Dia komentar, 2014 kok nyampah! Seperti itu komentarnya.” Kata zia.

“Untung aku segera mengambil kembali dan memasukkannya ke tempat sampah. Karena waktu itu bu guru kebetulan piket keliling. Coba kalau tidak segera kuambil, bisa kena hukuman aku!” Lanjut Zia.

Saat mereka bertiga sedang asyik membicarakan Cilla, terlihat Bongka dari kelas berlari menghampiri mereka.

Sambil ngos-ngosan. “Hosh…hosh…. Kalian bertiga belum pulang ya…dari tadi aku cari kemana-mana, ternyata kalian ada di sini. Pasti sedang membicarakan Cilla, tu kelihatan muka jengkel Riza.” Celetuk Bongka.

“Sudah tidak usah dipikirin, memang dia kalau bicara ceplas-ceplos, tapi dia baik hati kok. Yuk, kita pulang bersama!” Ajak Bongka.

***

            Di hari berikutnya, sebelum pelajaran berlangsung, rutin diadakan Jum’at bersih. Karena di sekolah ini sudah membudaya slogan Jum’at bersih, Sabtu hijau, Minggu sehat.

            “Riza, kerja bakti belum selesai sudah buang sampah sembarangan!” Terdengar suara bu guru nyaring.

“Ayo, cepat ambil!” Lanjut bu guru yang dari awal ikut kerja bakti sambil membimbing anak-anak kelas VI.

            Sambil tertunduk malu, Riza lalu memungut kembali sampah bungkus minuman ringan yang dia buang sembarangan.

Bongka yang sedang menyapu di dekat Riza menimpali, “Makanya, lain kali kerja yang benar. Lagian buang sampah sembarangan!”

“Kamu tu ya, bisanya ngeledek, harusnya tadi kamu beritahu aku kalau ada bu guru!” Kata Riza kepada Bongka.

“Coba kalau ada Cilla, mungkin lain ceritanya.” Kata Riza lirih.

Bongka yang mendengar sahabatnya bergumam hanya tersenyum. “Nah…akhirnya ingat Cilla juga kan? Cie..cie…Makanya jangan jengkel sama teman sendiri. Komentar, walau terkadang menyakitkan harus tetap diterima.”

Sambil meresapi apa yang dikatakan Bongka. “Oiya, dimana Cilla.” Kata Riza dalam hati.

Beberapa saat kemudian Riza ingat, kalau tadi di awal pelajaran ada surat izin di meja guru. “Mungkin itu surat izin Cilla.” Pikir Riza.

Dalam hati Riza membenarkan apa yang dikatakan Bongka, komentar walaupun terkadang kritik yang menyakitkan  memang ada gunanya

“Cilla, kutunggu komentarmu!” Teriak Riza dalam hati.

Dan sejak saat itu, Riza yang tadinya mukanya selalu cemberut akibat komentar Cilla sekarang menjadi lebih terlihat ceria serta berusaha untuk merubah kebiasaan buruknya supaya terhindar dari komentar lebih pedas Cilla.

 

 

 

 

Minggu, 07 Februari 2021

On 20.37 by Nur Rakhmat in    24 comments

 

 

Anak Gadis Bermata Sendu

Oleh : Nur Rakhmat

“Mama, siapa anak itu?” tanyaku pada Mama.

“O…Dia tetangga baru kita, Mira.” jawab Mama.

Aku berteriak girang, akhirnya aku punya teman baru yang bisa kuajak bermain setiap saat. Ah, aku tadi lupa bertanya ke Mama siapa namanya. Tak apalah, yang penting aku punya teman baru. Pikirku dalam hati sambil melahap bubur kacang ijo buatan Mama. Tapi, sepertinya ada yang aneh dengan anak itu.

Setelah sarapan, aku menghampiri Mama.

“Ma, aku berangkat sekolah dulu ya.” Pamitku, lalu mencium punggung tangan Mama.

Hari ini aku sangat senang, karena ada pelajaran Matematika kesukaanku. Matematika adalah pelajaran yang mengasyikkan dan menyenangkan, karena aku bisa bermain dengan angka-angka. Ya, walau menurut beberapa teman Matematika cukup sulit.

“Selamat pagi anak-anak.” salam Bu Guru sambil tersenyum.

“Anak-anak, ada berita gembira untuk kalian!” lanjut Bu Guru.

Aku dan teman-teman menerka-nerka ada apa gerangan. Apakah ada berita piknik saat liburan Semester nanti?

“Anak-anak, hari ini kalian punya teman baru. Ayo masuk Kiki, tidak usah malu-malu.” kata Bu Guru.

Teman baru? Aku penasaran siapa teman baruku itu. Oh, ternyata dia tetangga baruku. Dan bila kuperhatikan, memang ada yang aneh dengan Kiki. Selain matanya sendu dan terlihat lelah, dia juga membawa kantung hitam di tangannya.

“Kiki, kamu duduk dengan Mira ya,” kata Bu Guru.

Aku kaget saat Bu Guru menyuruh Kiki duduk denganku. Tak apalah karena memang hanya aku yang duduk sendirian di kelas.  

“Kenalkan, namaku Mira,” aku mengajaknya berkenalan.

“Oh, aku Kiki.” Jawab Kiki singkat.

Hanya sebatas itulah perkenalan kami. Namun itulah yang menambah penasaranku pada Kiki. Terlebih rambut yang terurai panjang dan kulit hitam legam, menambah kesan dingin Kiki. Selama pelajaranpun, Kiki tidak banyak bicara. Dia hanya memperhatikan penjelasan Bu Guru sambil sesekali tanya kepadaku bila menemukan kesulitan. Bahkan saat istirahat, dia tidak jajan. Hanya saja, diawal istirahat, dia terlihat membawa kantung hitam itu ke kantin. Anak yang aneh! Gumamku dalam hati.

“Assalamualaikum, Ma Aku pulang!”

“Waalaikusalam. E… Mira sudah pulang, bagaimana tadi di sekolah?” tanya Mama.

Aku lalu menceritakan kejadian di sekolah. Aku juga cerita ke Mama kalau anak tetangga baru itu sekolahnya sama denganku. Bahkan satu kelas dan satu bangku lagi. Mama tersenyum, melihat aku bercerita. Namun, sengaja aku tidak menceritakan keanehan Kiki pada Mama.

Setelah makan siang dan istirahat sebentar, aku pamit Mama mau main ke rumah teman. Tetapi, sebenarnya aku ingin tahu mengapa teman baruku matanya selalu sendu. Akupun diam-diam ke rumah Kiki memutar lewat halaman belakang. Tetapi, saat Aku mengendap-endap, tiba-tiba ada suara memanggilku.

“Nak, kamu sedang apa?” tanya ibu yang terlihat agak tua sambil membawa karung besar.

“Ti..ti…tidak apa-apa Bu, aku hanya ingin lewat memutar.” jawabku sekenanya karena ketakutan.

“Ibu bicara dengan siapa?”

Terdengar suara Kiki dari dalam rumah. Aku hanya bisa diam sambil menahan malu, untuk apa aku mengendap-endap seperti pencuri. Toh, kalau memang mau tahu mengapa mata Kiki selalu sendu, aku kan bisa bertamu dan bermain bersamanya dengan cara sopan lewat halaman depan.

“Hei, Mira kan! Kamu mau kemana, ayo masuk.” ajak Kiki kepadaku.  

            “Ini Mira teman baruku Bu. Dia juga teman sekelasku di sekolah. Kebetulan rumahnya ada di dekat sini.”

            “O…jadi Nak Mira sahabatnya Kiki, ya. Kiki ajak temanmu masuk.” kata Ibunya Kiki sambil tersenyum.

Kiki lalu mengajakku masuk ke rumahnya.

Setelah di dalam rumah, aku heran di rumah Kiki banyak sekali kantung besar dan adonan seperti bahan untuk membuat kue.

“Ini semua untuk apa Ki?” tanyaku.

“O…tepung dan adonan itu untuk membuat kue cucur Mira. Ibuku setiap hari membuat kue cucur untuk dijual ke langganan Ibu di kantor-kantor pemerintah dan kantin sekolah” jawab Kiki.

“Lalu yang membantu ibumu siapa? Apa tidak repot sendirian?” tanyaku pada Kiki.

“Tidak ada, hanya ibu dan aku yang membuat. Makanya aku jarang bermain dengan teman-teman. Paling yang agak repot bila ada pesanan banyak. Sehingga kadang sampai larut malam baru selesai.” jawab Kiki terlihat agak sedih, sehingga menambah sendu di matanya saja.

Dalam hati aku merasa iba dan kagum dengan ketegaran Kiki membantu membuat kue untuk biaya hidup sehari-hari. Di sisi lain aku malu, mengapa aku berpikir aneh-aneh tentang Kiki.

“Ki, boleh tidak aku besok main lagi ke rumahmu! Sehingga kamu tetap bisa membantu Ibumu membuat kue cucur dan tidak merasa sendirian lagi.” pintaku semangat.

“Kita juga bisa belajar bersama mempelajari pelajaran sekolah. Dan Aku juga bisa belajar cara membuat kue cucur he he he”. lanjutku.

“Serius Mira!” tanya Kiki semangat, diikuti berkurangnya kesan sendu di mata Kiki.

Akupun mengangguk semangat. Ibunya Kiki tersenyum melihat polah kami. Setelah bermain dengan Kiki dan melihat Ibunya Kiki membuat kue cucur, akupun pamit pulang. Yang lebih istimewa aku juga diberi oleh-oleh kue cucur buatan Kiki.

Akhirnya terjawab sudah rasa penasaranku. Ternyata wajah sendu Kiki karena dia terlalu lelah membantu ibunya sehingga kurang istirahat dan jarang bermain dengan teman. Lalu, kantung hitam itu, ternyata buntalan kain untuk membawa kue cucur yang akan dititipkan di kantin sekolah.

Dan, kue cucur buatan Kiki ternyata enak sekali! Mau coba? He…he ..he.  

 

 

On 20.29 by Nur Rakhmat in    1 comment

 

 

Nenekku Pahlawanku

kang.rakhmat

Bruukkk … aduuh sakiiit Maaa...tiba-tiba terdengar jeritan Akmal dari luar rumah. Seketika itu ayah dan ibu yang ada di ruang keluarga berhamburan keluar melihat apa yang terjadi. Terlihat Akmal mengerang kesakitan sambil memegangi lututnya yang berlumuran darah.

“Akmal, kamu kenapa Nak? Bukannya kamu tadi pamitan sama mama mau istirahat?” Akmal tidak menjawab pertanyaan ibunya, justru tangisan Akmal semakin lama makin keras. Waaaa … mama…sakit ma...hiks,,hiks... Tanpa menunggu lebih lama, papa Akmal langsung menggendong Akmal dan membawanya masuk ke rumah lalu merebahkan Akmal di kamar tidur.

Seketika itu Mysty yang sedari tadi sedang asyik main game, mematikan gamenya dan berlari menuju kamar,” Papa, kakak kenapa nangis? hiii…itu juga, kok banyak darah di lutut kakak Pa?”

“Nanti saja bertanyanya, Mys…kasihan kakakmu, lihat nangisnya semakin kencang bukan? Oiya, papa tolong ambilkan kapas, kasa pembalut, dan anti septik di kotak P3K ya sayang.”

Mysty langsung lari ke ruang keluarga mengambil obat yang tadi disebutkan ayah. Di kotak P3K semuanya lengkap dan tersedia. Karena memang dalam tradisi keluarga kami, wajib mempersiapkan obat-obatan ringan, seperti balsem, obat turun panas, vitamin, anti septik, dll di kotak P3K untuk berjaga-jaga bilamana ada kejadian serupa yang menimpa kakak.

“Pa, ini obatnya”, kata Mysty sambil harap-harap cemas kalau-kalau obat yang diambilnya salah.

“Trimakasih sayang!” Kata papa.

Horeeee teriak Mysty dalam hatinya. Ternyata obat yang diambilnya dari kotak P3K tidak salah.

Setelah itu papa langsung memberikan obatnya ke mama. Mama yang saat itu sedang membersihkan luka kakak dengan air hangat, langsung mengoleskan anti septik di lutut kakak supaya lukanya mengering. Setelah itu mama menutup lukanya dengan kapas dan membalutnya dengan kasa. Kakak masih terlihat menangis sesenggukan sambil sedikit menahan sakit akibat perihnya luka lecet dan memar di lututnya.

“Makanya lain kali hati-hati bermainnya.” Kata mama sambil terus memperbaiki balutan kasa di lutut Akmal.

“Masih sakit?” Timpal mama.

“Sudah agak baikan Ma.”

Dalam hati Akmal merasa bersalah terhadap mama dan papanya. Sebenarnya Akmal baru saja pulang latihan futsal untuk persiapan pertandingan minggu depan. Latihan yang sebenarnya tiap seminggu dua kali, dalam minggu ini dipadatkan menjadi seminggu empat kali.

Apalagi posisi Akmal di tim futsal sekolahnya adalah sebagai striker. Tentu kawan setimnya menginginkan Akmal untuk mampu menjebol gawang lawan. Dan yang lebih membuat Akmal sedih adalah dia takut jika Senin depan tidak bisa ikut bertanding gara-gara masih sakit akibat jatuh dari sepeda. Apalagi hari ini sudah Sabtu dan Senin depan tinggal menyisakan sehari lagi.

Akmal semakin bersalah dan khawatir karena di timnya tidak ada striker cadangan yang bisa menggantikan posisi Akmal guna menghadapi pertandingan Senin depan. Bagaimana nanti reaksi teman-teman setim, jika mereka tahu bahwa sakitnya diakibatkan karena kecerobohannya sendiri akibat tidak mematuhi anjuran pelatih untuk istirahat cukup setelah latihan.

Coba kalau tadi aku menuruti anjuran pelatih, gerutu Akmal dalam hati sambil melihat mama, papa, dan adiknya yang sedang sibuk merawat luka di lututnya.

“Maaa, maafin Akmal ya, tadi Akmal bohong sama mama…sebenarnya tadi mau istirahat, tapi Akmal pikir mainan sepeda dulu lebih enak, ee…tidak taunya jatuh…hiks..hiks.., kata Akmal kepada mamanya sambil menangis.

Mama, tersenyum mendengar pengakuan dari Akmal, “sudah jangan dipirkankan lagi, sudah mama maafin kok, jagoan mama lain kali nasihat mama, papa, dan pelatih dituruti ya,kan besok kamua mau bertanding.” Lanjut mama.

“Makanya kaakk… lain kali jangan ngeyel, tuh jatuh kan…he he he” kata Mysty sambil sedikit bercanda.

“Mysty sayang, kakaknya sedang sakit kok diledek.” Kata papa sambil memberi isyarat Mysty untuk diam.

Terlihat Akmal terus meringis menahan sakit. Memang, lukanya sudah agak baikan, tetapi Akmal masih merasakan sakit dilutut. Lututnya masih terlihat bengkak, padahal sudah diolesi balsem oleh mamanya.

“Mam…kelihatannya lutut Akmal terkilir deh, sebaiknya kita bawa ke tukang urut, gmana ma…” kata papa yang terlihat serius memegangi lutut Akmal sambil sesekali mengurutnya.

“Tapi dimana pa, lagian ini sudah menjelang magrib…kalaupun ada kemungkinan jauh, nanti Akmal juga yang kasihan dibonceng motor terlalu lama, takutnya justru lebih parah terkilirnya”. Kata mama yang terlihat kebingungan.

Tiba-tiba pintu pagar rumah ada yang mengetuk diikuti ucapan salam dari luar rumah. Mysty yang saat itu sedang ikut-ikutan bingung seketika lari menuju arah suara sambil teriak.  “Neneeeek…!” Mysty langsung memeluk neneknya yang baru datang dan menggandeng tangan nenek masuk ke rumah. Nenekpun hanya tersenyum-senyum melihat tingkah polah Mysty.

“Lo…nenek diantar siapa? Kakek kemana nek?” Tanya mama sambil meminta nenek duduk.

“Nenek sendirian, tadi diantar kakek sampai terminal, kebetulan nanti malam kakek ada pertemuan bapak-bapak di balai kelurahan, lo Akmal kok nggak kelihatan kemana?” Tanya nenek.

“Tadi Akmal terjatuh dari sepeda dan kakinya terkilir nek… sekarang dia ada di kamarnya.” Tukas papa.

Lalu nenek masuk ke kamar Akmal yang saat itu sedang terbaring menahan nyeri di lututnya. Buru-buru Akmal bangkit dan ingin memeluk neneknya yang baru datang.

“Sudah tiduran saja…biar nenek yang ke situ, kamu kenapa sayaaang..?”

Akmal kemudian bercerita panjang lebar kronologi kejadian bagaimana dia sampai terjatuh dan kebingungan yang dia rasakan sekarang untuk persiapan pertandingan besok. Papa dan mama Akmalpun ikut menceritakan kalau Akmal terkilir namun kebingungan mencari tukang urut terdekat.

“Ooo seperti itu to kejadiannya..sudah jangan kuatir, mysty..di kotak P3K ada minyak urut tidak ?” Tanya nenek.

“Ada nek, sebentar Mysty ambilkan”. Mysty lalu berlari mengambil minyak urut dan memberikannya ke nenek.

“Nenek tidak istirahat dulu… apa tidak nenek tidak capai, kan nenek baru tiba.” Tanya mama.

“Tidak apa-apa, kasihan Akmal nanti kalau dibiarkan terlalu lama, bisa-bisa ototnya kaku dan dia tidak bisa ikut pertandingan besok”. Tukas nenek. Kemudian dengan cekatan nenek mengurut lutut Akmal yang terkilir. Akmal terlihat menangis menahan sakit, nenekpun tersenyum melihat cucunya meringis-ringis menahan sakit.

“Sudah…jangan nangis, sekarang mandi dan istirahatlah, pasti nanti sudah lebih baik”, kata nenek sambil memberikan beberapa nasehat ke Akmal untuk lebih patuh dan disiplin membagi waktu.

“Iya nek.” Jawab Akmal. Dalam hati Akmalpun berjanji akan disiplin membagi waktu antara belajar, latihan, bermain dan istirahat.

Kemudian Akmal mandi lalu istirahat sesuai arahan nenek. Ajaib! Setelah istirahat, badan Akmal yang tadinya masih pegal dan lututnya nyeri tiba-tiba sudah lebih mendingan lagi. Dan Akmalpun gembira, karena dia tidak mengecewakan teman setimnya untuk pertandingan futsal Senin depan.

Sambil menangis haru, Akmal lalu berlari menghampiri nenek dan memeluknya erat. “Nek…nenek benar-benar pahlawan buat Akmal!”. Nenek Akmalpul tersenyum mendengar ucapan cucunya. Dan Akmal berjanji, jika menang dalam pertandingan esok, kemenangan tersebut akan didedikasikan ke neneknya tersayang.

Sekian.