Oleh: Nur Rakhmat, S.Pd

Rabu, 10 Februari 2021

On 00.51 by Nur Rakhmat in    No comments

 

Belajar Nyata Maya

Karya : Nur Rakhmat

“ Kak, ini kok jadi seperti ini? ”

Seperti biasanya pagi itu, adikku yang bernama Maya sedang belajar bersama guru dan teman teman secara langsung dengan menggunakan di gawainya yang memerlukan cukup banyak kuota. Kebetulan tiba – tiba video yang ditonton tidak bisa berputar.

“ Kak Raya, Kakak di mana? “ teriak Maya semakin lebih keras.

“ Sebentar Maya, ini kakak sedang  jalan! “

Terpaksa aku yang sedang mencuci baju seragamku dan Maya adikku menuju ke Maya yang sedang bingung menghadapi gawainya yang videonya tidak bergerak.

“ Oooalah ... ternyata paketan internetmu sudah habis May! “

“Mana buktinya kak? Ini penting soalnya Kak. Nanti aku takut ketinggalan pelajaran dari  Bu Guru Kak! “

Dasar Maya adikku, selalu ada saja yang dia sampaikan setiap menemui masalah yang dihadapinya. Tapi memang, aku dengarkan dari jauh, saat itu dia sedang mendengarkan penjelasan penting dari Bu Guru.

“ Yaudah sana Dek, kamu beli paket data di warung konter Pak Salim ya? Nih uangnya, tadi uang saku kakak sisa. “

Tanpa basa basi, Maya langsung lari ke warung Pak Salim. Namun, baru beberapa langkah, dari arah samping rumahnya terlihat Arya tertunduk lesu sambil sesekali melihat genggaman tangannya.

Dan tiba-tiba ...

Grubak !!

“ Aduh sakit ... “

Kulihat Arya mengerang kesakitan sambil memegang tangannya yang terlihat lecet. Dan Maya yang jatuh, juga terlihat mengerang kesakitan sambil teriak teriak

“ Jalan kok tidak lihat lihat, nih jadinya kayak gini! “ teriak Maya kepada Arya.

Terlihat Arya diam sambil berusaha bangkit dan mencari cari sesuatu seperti ada yang hilang.

“ Uangku di mana ya ? tadi saat tertabrak kamu, jatuhnya di mana May? “

“ Lo, Kamu menuduhku mengambil uangmu yang jatuh ? “ Jawab Maya sambil terlihat marah.

“ Aku tidak menuduhmu? Ya, siapa tahu tadi kamu tahu? “ Tukas Arya.

Kulihat mereka berdua semakin tidak karuan, bukannya berhenti, justru mereka semakin terlihat seperti hendak bertengkar.

“ Hei, Maya , apa yang kamu lakukan? “ Tanyaku ke Maya sambil berlari ke arah mereka berdua.

“ Arya menuduhku, mengambil uangnya Kak? “ kata Maya sambil berteriak seperti biasa.

“Aku tidak menuduhmu, Aku hanya bertanya di mana jatuhnya” bela Arya.

Saat mereka saling bersahut sahutan bicara terlihat, tidak jauh dari Maya, gumpalan kertas yang seolah olah seperti uang kertas.

“ Coba,di dekatmu itu May, ada gumpalan kertas, kamu lihat uang bukan? “

“Iya Kak, ini uang ! “

“ Itu uangku, itu uangku, itu uangku ..., rengek Arya yang melihat uangnya di bawa Maya.

Terlihat Arya merengek minta dikembalikan sambil mengusap usap air matanya.

“ Nih, uangmu ! Makanya hati hati jalan ! “ kata Maya kepada Arya.

Dasar Maya, masih saja mengganggu dan suka jahil kepada temannya. Sudah tahu Arya tergesa gesa seolah mau pergi ke tempat yang penting.

“Memangnya kamu mau kemana? ‘ tanyaku kepada Arya.

“ Iya Kak, aku mau ke warung Pak Salim mau membeli paket data pulsa karena saat belajar bersama tadi, tiba tiba tidak memutar videonya.” Jawab Arya.

“ Ngapain kamu, ke warung Pak Salim? “ tanya Maya Penasaran.

“ Aku hendak membeli data, May. Namun, uangku tinggal segini tidak cukup untuk ikut belajar sambil melihat video dari bapak ibu guru. “ Jawab Arya.

“Eh, apa gini aja. Sebagai permintaan maaf karena telah menuduhmu mengambil uangku. Ini kukasih sedikit uang tambahan untuk beli paketannya. “ kata Maya ke Arya.

“ Bener May ? “

Aku dan Arya serentak tidak percaya Maya bisa bersikap seperti itu. Sungguh di luar kebiasaan Maya.

“ Iya Kak, tenang Arya. Ini semua agar kamu bisa belajar bersama bapak ibu guru dan teman temanmu. Karena akupun sudah pernah mengalaminya. Tenang saja Kak. “

“ Oke May, terimakasih ya May. Akhirnya setelah dari warung Pak Salim aku bisa belajar lagi nanti” Kata Arya ke Maya.

“ Ya udah May, aku ke warung Pak Salim dulu ya.” Ucap Arya sambil berlari kembali sambil melambaikan tangan.

Terlihat Arya sudah hampir sampai di warung Pak Salim dan aku bersama adikku pulang terlebih dahulu ke rumah dan tidak jadi ke warung Pak Salim.

“May, kamu kok tumben mau berbagi ke temanmu? Biasanya kamu paling jago untuk pelit ... he he he “ tanyaku kepada adikku Maya.

  He he he, kan aku peduli Kak? “

“ Jadi aku berikan sebagian uangku ke Arya. Lagian kan, aku masih ada sisa sedikit kak !”

“ La, terus nanti sisa uangnya dari mana? “

“ Jelas dong, ya dari uang kakak! “

“ Maya, maya, kok ke kakak lagi? “

“ Ya, kan. Kakak yang paling tua, jadi kakak wajib tanggung jawab. “

“ Ya, benar juga sih. Jadi kakak harus tanggung jawab dan peduli kepada semuanya.

“ Nah, setuju kak ! Jadi nanti kita bareng bareng belajar untuk peduli dengan kondisi lingkungan.”

“ Betul sekali ajakanmu Maya. Peduli dan memiliki rasa empati dan simpati juga sangat bagus dan merupakan bentuk belajar nyata dan realita untuk kita, Maya.” Kata kakek yang tiba tiba datang dari balik pintu belakangku.

“Karena belajar ya tidak hanya videonan ataupun youtuban saja, namun juga membutuhkan langkah riel dalam kehidupan nyata. Contohnya seperti tadi, walaupun kamu kesulitan dan membutuhkan, kamu tetap berbagi ke temanmu “ lanjut kakek.

“Iya kek, terimakasih kek “ kataku kepada kakek yang selalu merawat aku dan adikku.

“Hore, jadi aku tadi juga belajar ya Kak, jadi tidak ketinggalan belajar Kak! Asyik”

Terlihat Maya sangat senang dan gembira mendengar petuah kakek. Benar benar belajar nyata buat Maya.

Selamat Membaca dan selamat menikmati

Selasa, 09 Februari 2021

On 19.07 by Nur Rakhmat in    3 comments

 Bismillah ...

Selamat Membaca ...

Senyum Manis Ustadz Kanta

Oleh : Nur Rakhmat

Hari mulai senja dan binatang malampun sudah bernyanyi menyambut datangnya sang idaman. Tampak pemuda dengan tegapnya berjalan menyusuri pematang sawah. Obor dari segenggam daun kelapa kering dia gunakan untuk menerangi malam. Hari itu cukup gelap, apalagi di dusun tersebut listrik belum ada jaringannya dan sang bulan masih malu menunjukkan mukanya serta masih tenggelam dalam dekapan sang senja.

Ustadz Kanta, orang-orang di lingkungan Dusun Kanjengan sering memanggil namanya. Siapa yang tidak mengenal Ustadz Kanta. Seorang ustadz muda, gagah, lulusan pesantren dan anak seorang ulama terkenal dari kampung sebelah pula. Terlebih Ustadz Kanta sangat mahir dalam ilmu agamanya. Walau bergelimang dengan segala kelebihannya  itu, ia tetap bersemangat untuk berdakwah menyampaikan ilmu agama di kampung pelosok jauh dari hiruk pikuk dan mewah dunia. Terlebih perilakunya sangat sopan, ia sangat menghormati orang lain dan yang lebih mengagumkan ternyata dia seorang yang hafal Al Quran atau istilahnya seorang hafidz.

Maklum dengan segala kelebihan yang dimilikinya itu, banyak penduduk Kampung Kanjengan yang suka terhadap sikap dan perilaku ustadz muda tersebut. Mulai dari anak-anak sampai orang tua termasuk Aina. Sudah lama sekali Aina kagum terhadap ustadz muda tersebut. Terhitung sejak pertama kali Aina mengikuti pengajian remaja saat dia duduk di akhir kelas 3 Madrasah Aliyah atau setingkat SMA waktu itu.

Aina teringat awal perjumpaannya dengan Ustadz Kanta. Saat itu dia ditunjuk menjadi pembawa acara pengajian remaja di Masjid Darussalam di Kampung Kanjengan. Ia tak pernah lupa kejadian yang membuatnya dekat dengan ustadz tersebut. Saat itu, Aina memanggil Ustadz Kanta dengan nama Ustadz Kenta. Entah apa yang Aina pikirkan saat itu, bisa-bisanya dia memanggil Ustadz Kanta dengan nama Ustadz Kenta. Tapi apa yang terjadi setelah panggilan salah sebut itu terjadi? Ustadz Kanta tidak marah bahkan ia balik tersenyum sama Aina. Nah senyuman itu yang sampai sekarang masih terbayang-bayang di pikiran Aina, senyum manis Ustadz Kanta.

Ya, senyum manis Ustadz Kantalah yang membuat Aina sampai sekarang seolah tidak mau mengenal laki-laki manapun di dunia ini. Terlebih sejak pertemuan awal dengan ustadz muda tersebut, hati Aina seolah sudah terpatri dan menempel dengan yang namanya Ustadz Kanta. Ke mana Aina pergi pasti selalu teringat senyum manis Ustadz Kanta. Aina pergi ke pasar membantu ibunya jualan buah, juga senyum manis sang ustadzlah yang selalu membayang di benak Aina.

Tetapi Aina bukanlah wanita yang lemah dan rapuh imannya. Dia juga punya harga diri dan tidak lupa akan jati dirinya kalau dia adalah perempuan. Seorang perempuan dusun yang terikat aturan norma di lingkungan dusun tersebut. Walaupun ayah dan ibunya bukan perangkat dusun, bukan orang yang terkenal di Dusun Kanjengan tersebut, tetapi sejak kecil Aina dididik oleh ibunya untuk bersikap sebagaimana seorang wanita muslim bersikap. Selain sudah memakai jilbab sejak kecil, Aina juga dimasukkan ke pesantren dan sudah lulus pesantren bersamaan dengan dia lulus Madrasah Aliyah di kota.

Aina memang dididik dengan baik oleh orang tuanya, sehingga sejak dia lulus Sekolah dasar Aina dikirim ke pesantren oleh ayahnya. Aina dititipakan di pesantren sekaligus yang ada tempat sekolahnya yaitu di Pesantren Ma’hadil ‘Ulum asuhan KH. Asnawi Kholil. Jadi sudah pasti ilmu agama Aina juga sangat mumpuni. Terlebih Aina juga sudah memadukan antara ilmu pesantren dengan ilmu di madrasah yang dikombinasikan dengan ilmu umum. Jadi tidak dipungkiri lagi kalau Aina adalah seorang perempuan solehah.

Oleh karena itu, walaupun Aina kagum dengan Ustadz Kanta, tidak ada orang yang tahu kalau Aina kagum berat dengan Ustadz Kanta. Aina memang pintar dan hati-hati dalam urusan cinta tersebut. Apalagi ia teringat dengan pesan pak Kyai Asnawi saat di pesantren dulu, “Kalau urusan cinta dengan makhluk apalagi urusan pacaran, serahkan pada Allah. Jangan sampai gara-gara pacaran kita semakin jauh dari Allah. Maka pacaran boleh saja asal kalian sudah menikah”.

Begitu wejangan pak kyai kepada Aina dan santri lainnya. Aina juga tidak ingin ada fitnah dan gunjingan tidak baik dari orang-orang terkait dirinya dengan Ustadz Kanta. Walaupun begitu, masih banyak saja warga usil dengan menjodoh-jodohkan dia dengan Ustadz Kanta. Dalam hati Aina bersyukur, dan namun di sisi lainnya dia juga berpikir apakah seorang Ustadz Kanta yang pintar dan digemari banyak orang mungkin jatuh cinta padanya.

            “Senyum manis yang penuh arti” batin Aina dalam hati. Aina tersenyum-senyum sendiri sambil sesekali dia melihat hamparan sawah dari balik jendela rumahnya.

            “Aina, ayo ke masjid. Sudah adzan isya” panggil ibunya yang sudah bersiap ke masjid.

“Iya bu, tunggu sebentar”

Aina bergegas mengambil mukena di ruang sholat rumahnya. Dan menyusul ibunya yang sudah menunggu di pintu.

“Ayo, berangkat.  Oiya, tadi tidak sholat maghrib berjamaah, apa belum selesai “tamunya”? Tanya ibu Aina sambil melangkahkan kaki ke masjid.

“Iya bu, ini baru selesai tadi sehabis maghrib” jawab Aina.

Akhirnya merekapun sampi masjid dan sekali lagi Aina bertemu dengan laki-laki pujaannya, Ustadz Kanta. Dia lihat sang ustadz sudah bersiap memimpin sholat maghrib berjamaah. Adem, tenang, damai hati Aina menjadi makmun Ustadz Kanta.

***

            Malam sudah semakin larut, namun Aina tetap masih terbayang damainya menjadi makmum sholat Ustadz Kanta. Ia membayangkan mejadi makmum sholatnya saja sangat damai dan tenang apalagi menjadi makmun dalam kehidupan sebenarnya, ya menjadi istri Ustadz Kanta.

            Segera Aina menepis pikiran itu jauh-jauh. Astaghfirullah, ampuni khilaf hambamu ini ya Allah. Ucap lirih Aina dalam hati. Bayang-bayang itu semakin lama semakin kuat. Bayang-bayang senyum manis sang ustadz yang menjadi idamannya selalu menggelanyut dalam batin dan jiwanya. Bayang-bayang sosok yang Aina idamkan menjadi imam dan ayah anaknya kelak sudah sangat berat untuk dihilangkan.

            “Ya Allah, berikanlah yang terbaik bagi hambamu Ya Allah, hanya kepadamu kami mohon dan hanya padamu kami minta pertolongan serta petunjuk. Ya Allah kalau memang Ustadz Kanta berjodoh denganku dekatkanlah Ya Allah dan kalau memang dia bukan jodoh hamba berikanlah yang terbaik bagi kami dan jauhkanlah kami dari segala fitnah. Amin” doa Aina dalam hati. Aina terlelap dan membawa mimpi indahnya bersama senyum manis sang ustadz yang semakin mempesona..


#MariSalingMemotivasiDanMenginspirasiDemiKebaikan Negeri

#PagiDiPasadena

 

 

 

 

On 18.50 by Nur Rakhmat in    No comments

 #PernahIkutEventPuisiKlungkung2016

Aduhai Indah Kau Indahnya

Oleh : Nur Rakhmat

Gelombang terjal Bukit Mundi memanggil pembawa kendi dalam riang hari ini

Belaian angin samudra bagai nyawa dalam berita kawan tak jumpa jelaga

Hamparan Nusa Penida bagai pengobat luka lara nan merana

Emas laut rumput laut petani laut tiada kalut dalam dunia penuh kabut

Aduhai indah kau indahnya

Bentang pantai bagai cincin emas dalam dunia yang memanas

Uang kepeng dalam wadah yang tiada enteng

Seakan tiada pernah hilang dan selalu tumbuh dalam tubuh penuh peluh

Wahai “Bumi Serobotan”

Wahai anak dewata

Aduhai indah kau indahnya

 

Pasadena, 29 Juni 2016


On 18.43 by Nur Rakhmat in    No comments

Berikut adalah contoh pantun nasihat ...

Selamat membaca dan meresapi serta mendalami maknanya ...



 Belajar membaca di Semarang

 Jangan lupa membeli lumpia

 Agar kita disayang orang

 Mari jaga hidup bertetangga

 

2.      Pergi ke Ungaran naik kereta

Kereta berwarna merah dan hitam

Marilah mari sayang orang tua

Pasti masa depan tiada suram

 

3.      Makan kue bersama Paman

Paman senang hati riang

Kalau kita ingin hidup aman

Cinta damailah dengan penuh sayang

 

4.      Makan roti di Stasiun Tawang

Roti dimakan enak rasanya

Kejujuran tentu pasti menang

Menang karena ikhlas hatinya

 

5.      Di semarang ada tugu muda

Di jakarta ada tugu monas

Wahai kawan ayolah menjaga

Menjaga sikap baik hilangkan malas

 

6.      Makan jagung tiada susah

Jagung dimakan enak rasanya

Jika ingin hidup ini berkah

Ayo bekerja kuatkan semangatnya

 

7.      Pantai selatan selatan Jawa

Kota Purworejo selalu di hati

Ayo segera hindari dusta

Karena dusta rugikan diri

 

8.      Makan nasi dengan bubur

Bubur dimakan bersama teman

Mari kita biasakan jujur

Karena jujur karakter idaman

 

 

 

 

9.      Kota Semarang bangun bandara

Bandara itu di dekat pantai

Memang hidup harus membara

Agar tua hendak bisa santai

 

10.  Hari libur asyik rasanya

Rasa senang pastilah itu

Wahai kawan jaga rahasianya

Agar teman selalu bersatu







#SelamatPagiDunia
#PagiDiPasadena
#HelloDanHola
#MariSalingMemotivasiDanMenginspirasiDemiKebaikanNegeri



On 18.37 by Nur Rakhmat in    No comments

 

Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.....

Yang terhormat segenap dewan juri

Yang saya hormati bapak Ibu Guru dan hadirin Hadirat yang berbahagia

Serta teman - teman seperjuangan yang saya banggakan

Perkenankan, saya Prabandari dari SDN Kalibanteng Kidul 01, pada kesempatan kali ini, akan menyampaikan pidato dengan tema Pemanfaatan teknologi terkini dalam pembelajaran.

Hadirin yang kami hormati

Pertama, mari, kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan nikmat sehingga pada kesempatan ini kita dapat belajar bersama dalam ajang siswa berprestasi tingkat kecamatan 2019.

Hadirin yang kami hormati

Belajar adalah proses yang terus menerus dan terencana untuk mencapai perubahan  lebih baik. Dan agar proses dan hasil belajar bisa optimal, diperlukan media untuk memudahkan kita belajar.

Dan dalam dunia modern saat ini, penggunaan teknologi informasi untuk belajar tentu sangat mungkin dilakukan. Misalnya, seperti yang sudah dilaksanakan di SD kami, yaitu dengan menggunakan edmodo. Manfaat yang didapat dari edmodo  sebagai salah satu media untuk belajar kapan saja dan di mana saja diantaranya adalah mudah mencari informasi dan pengetahuan baru jika masih kurang mendapat materi di sekolah.

Selain itu, dengan teknologi informasi tersebut kita juga mudah untuk mencari berbagai sumber belajar menarik di dunia maya. Namun, dalam menggunkan kita tidak boleh asal menggunakan, tetapi kita juga harus selalu wasapada dan hati hati, agar terhindar dari kejahatan syber di dunia maya.

Hadirin yang kami hormati

Maka dari itu, mari kita manfaatkan dengan baik perkembangan iptek ini dengan baik. Sehingga, dengan pemanfaatan teknologi dengan baik diantaranya untuk belajar, kita bisa mencapai hasil belajar bagus, tidak gaptek dan tentunya bisa bersaing di dunia global.

Demikian yang dapat kami sampaikan, jika ada sikap dan ucapan yang kurang berkenan kami mohon maaf yang sebesar besarnya.

Game Online ok, Kecanduan No, Prestasi yes, dan Teknologi IT Selalu di hati.

Wassalamualaikum. Wr.Wb.

 

On 03.11 by Nur Rakhmat in    20 comments

 

Komentar Cilla

Oleh: Nur Rakhmat

“Paraah! Berangkat sekolah kok terlambat.” seloroh Cilla kepada Riza. Riza yang merasa tersinggung tersenyum sewot. “Huh, coba kalau bu guru belum masuk kelas, sudah kuremet-remet dia!” Gerutu Riza dalam hati sambil menunjukkan muka marah.

“Maaf bu, saya terlambat. Tadi mama belum menyiapkan sarapan, jadi harus nunggu dulu.”

“Modus bu, paling dia bangun kesiangan!” Timpal Cilla, yang diikuti riuh tawa teman sekelas.

“Anak-anak jangan ribut, kasihan Riza. Riza lain kali datang lebih awal ya, ayo duduk di bangkumu nak.” Kata bu guru sambil tersenyum hangat.

Sambil memendam jengkel, sebenarnya Riza merasa bersalah pada bu guru, karena terlambatnya bukan menunggu bekal untuk dibawa sekolah. Riza terlambat memang karena bangun kesiangan akibat menonton pertandingan siaran langsung lomba atletik di televisi sampai malam.

“Ah, apa boleh buat, yang penting aku tidak dimarahi bu guru.” Gumam Riza dalam hati gembira.

Namun, setiap ingat apa yang dikatakan Cilla, Riza selalu merasa jengkel. Karena bukan kali ini saja Cilla berkata blak-blakan kepada Riza.

***

Teet … teeet … teeet. Bel pulang berbunyi, siswa kelas VI pun menghambur keluar kelas. Ada yang langsung pulang, jajan dulu dan ada pula yang bermain di lapangan sambil menunggu jemputan. Riza, Zia, dan Toma yang biasanya langsung pulang, memilih santai sambil duduk-duduk di gazebo yang terletak di pojok lapangan sekolah.

“Hey, dari tadi wajahmu kok di tekuk terus, memangnya kamu kenapa Za?” Tanya Zia yang heran pada sikap tak biasa Riza.

Sambil jengkel. “Huh!! Bete aku sama Cilla, masa dia selalu bicara ceplas-ceplos kepadaku, memangnya dia siapa?”

“Memangnya kenapa dengan Cilla, apa kamu naksir…? He he he.” Seloroh Toma yang dari tadi asyik memperhatikan ramainya suasana pulang sekolah.

“Husssh…! Sembarangan, boro-boro naksir, kalau jengkel iya! Andai dia laki-laki, sudah aku tantang dia adu cepat lari denganku!” Kata Riza meluap-meluap karena saking jengkelnya pada Cilla.

Tantangan Riza kepada Cilla cukup beralasan, karena memang Riza adalah atlet putra andalan sekolah dan Cilla juga atlet putri andalan di sekolah yang sama.

“Jengkel boleh Za, tapi kamu jangan sampai kelewat batas.” Kata Toma.

“Betul Za, jangan sampai saking jengkelnya, kamu nanti kena hukuman dari bu guru.” Lanjut Zia.

“Makanya, kalau tidak ingin dapat komentar Cilla jangan terlambat.” Timpal Toma.

“Lo….kok kamu membela Cilla, Tom?” Tanya Riza kepada Toma heran.

Toma tidak langsung menjawab pertanyan Riza. Mereka terdiam sambil melihat ke sekeliling sekolah yang terlihat sudah agak sepi.

Sambil menghela napas. “Sebenarnya kamu bukan yang pertama kali mendapat komentar Cilla, Za.” Tiba-tiba Zia berbicara memecah kebekuan antara Riza dan Toma.

“Aku dan Toma pun kemarin pernah mengalami nasib seperti kamu.” Lanjut Zia.

“Memangnya kalian berdua pernah mendapat komentar apa dari Cilla?” Tanya Riza heran.

“Kemarin sewaktu ada PR matematika, aku belum selesai mengerjakannya. Lalu aku berangkat lebih awal supaya bisa mengerjakannya di sekolah.” Kata Toma.

“Ee … baru aja mau buka buku, tiba-tiba Cilla berkomentar juga. Hari gini belum mengerjakan PR, apa kata dunia! Dia komen begitu sama aku. Untung bu guru belum datang.” Lanjut Toma.

“Dia bilang begitu sama kamu, Tom? Tanya Riza terlihat semakin jengkel.

“Lalu kamu dikomentari apa Zia?” Tanya Riza pada Zia yang dari tadi keheranan melihat jengkelnya Riza pada Cilla.

“Kalau aku sih, kemarin waktu habis jajan aku membuang bungkus jajan sembarangan. Dia komentar, 2014 kok nyampah! Seperti itu komentarnya.” Kata zia.

“Untung aku segera mengambil kembali dan memasukkannya ke tempat sampah. Karena waktu itu bu guru kebetulan piket keliling. Coba kalau tidak segera kuambil, bisa kena hukuman aku!” Lanjut Zia.

Saat mereka bertiga sedang asyik membicarakan Cilla, terlihat Bongka dari kelas berlari menghampiri mereka.

Sambil ngos-ngosan. “Hosh…hosh…. Kalian bertiga belum pulang ya…dari tadi aku cari kemana-mana, ternyata kalian ada di sini. Pasti sedang membicarakan Cilla, tu kelihatan muka jengkel Riza.” Celetuk Bongka.

“Sudah tidak usah dipikirin, memang dia kalau bicara ceplas-ceplos, tapi dia baik hati kok. Yuk, kita pulang bersama!” Ajak Bongka.

***

            Di hari berikutnya, sebelum pelajaran berlangsung, rutin diadakan Jum’at bersih. Karena di sekolah ini sudah membudaya slogan Jum’at bersih, Sabtu hijau, Minggu sehat.

            “Riza, kerja bakti belum selesai sudah buang sampah sembarangan!” Terdengar suara bu guru nyaring.

“Ayo, cepat ambil!” Lanjut bu guru yang dari awal ikut kerja bakti sambil membimbing anak-anak kelas VI.

            Sambil tertunduk malu, Riza lalu memungut kembali sampah bungkus minuman ringan yang dia buang sembarangan.

Bongka yang sedang menyapu di dekat Riza menimpali, “Makanya, lain kali kerja yang benar. Lagian buang sampah sembarangan!”

“Kamu tu ya, bisanya ngeledek, harusnya tadi kamu beritahu aku kalau ada bu guru!” Kata Riza kepada Bongka.

“Coba kalau ada Cilla, mungkin lain ceritanya.” Kata Riza lirih.

Bongka yang mendengar sahabatnya bergumam hanya tersenyum. “Nah…akhirnya ingat Cilla juga kan? Cie..cie…Makanya jangan jengkel sama teman sendiri. Komentar, walau terkadang menyakitkan harus tetap diterima.”

Sambil meresapi apa yang dikatakan Bongka. “Oiya, dimana Cilla.” Kata Riza dalam hati.

Beberapa saat kemudian Riza ingat, kalau tadi di awal pelajaran ada surat izin di meja guru. “Mungkin itu surat izin Cilla.” Pikir Riza.

Dalam hati Riza membenarkan apa yang dikatakan Bongka, komentar walaupun terkadang kritik yang menyakitkan  memang ada gunanya

“Cilla, kutunggu komentarmu!” Teriak Riza dalam hati.

Dan sejak saat itu, Riza yang tadinya mukanya selalu cemberut akibat komentar Cilla sekarang menjadi lebih terlihat ceria serta berusaha untuk merubah kebiasaan buruknya supaya terhindar dari komentar lebih pedas Cilla.